
Halo teman-teman terimakasih telah membaca buku ini.
Kalau diurutkan buku ini adalah sambungan dari Kabut Tengkorak dan Pistol x Hantam. Yang memang beralur mundur, sengaja aku tulis demikian untuk mencegah para plagiat mencopy cerita ini.
Dan ada beberapa buku yang nanti akan aku terbitkan secara eksklusif di platform lain atau diterbitkan secara berbayar.
Cerita Jagad Marah Project tak hanya berhenti di tokoh ini saja. Masih ada puluhan villain dan superhero lain yang akan aku perkenalkan satu persatu ke kalian semua.
Langsung aja pada ceritanya, selamat membaca.
-----
Chapter 1 : Tomi Efendi
06.00, Rabu 1 maret 2017 itulah yang pertama kali kulihat dilayar smartphone saat mematikan alarm pagi ini.
Aku harus bergantian menjaga dan mengawasi mesin, kini giliran Parjo yang tidur.
Kehidupan sangat membingungkan, kenapa ruang loker ini nikmat sekali digunakan untuk tidur walau hanya dua jam.
Beralaskan kardus bekas yang dilapisi karpet spons plastik yang kami beli 20.000 secara patungan di toko peralatan rumah tangga.
Serta jaket sebagai alas kepala pengganti bantal. Ruang sempit ini panas tak ada kipas, ventilasinya juga sangat kecil.
Belum lagi aroma khas minyak kelapa sawit mentah yang sangat menyengat. Tapi aku selalu merindukan tidur di ruang loker ini.
Sementara di kontrakan yang kasurnya empuk dan banyak bantal aku malah susah tidur. Dunia memang aneh.
"Cuci muka dulu bang, biar seger. Aku ada kopi ni mau gak ?" Ucap Parjo menawarkan.
"Gak lah, ntar maagku kumat." Jawabku.
"Makan papmie sana bang, di lokerku ada 2 tuh." Parjo masih belum menyerah menawarkan bantuan.
"Maksa gak ni, ayo paksa lagi lah." Ledekku.
Parjo hanya tersenyum merespon candaanku.
"Aku gak bisa kali di paksa kek gini, yaudahlah kalo kau maksa. Hahaha," ucapku sambil membuka lokernya dan mengambil papmie.
Mie instan cup adalah sahabat sejati buruh sif malam dan anak kost.
Parjo adalah salah satu rekan kerjaku yang paling menyenangkan. Dia selalu ceria dan tak pernah perhitungan dengan teman. Bulan ini aku sering berada di sif yang sama dengannya.
Sebagai sesama operator mesin, kami saling membantu dan bekerja sama dengan sangat baik demi kelancaran produksi minyak makan.
Pabrik terus berjalan tanpa henti, produksi harus selalu terpenuhi. Ada 12 operator mesin di pabrikku yang terbagi menjadi 3 sif. Kami biasa saling bertukar sif dan waktu libur.
Sebenarnya aku lelah sekali harus bekerja 2 sif hari ini. Tapi karena aku ingin libur 3 hari, jadi aku harus mengambil sif berikutnya agar bisa bertukar waktu libur dengan yang lainnya.
__ADS_1
Waktu masih panjang, pertukaran sif baru jam 8 nanti. Aku harus absen untuk pulang dan masuk lagi jam 8 sampai jam 4 sore nanti.
Membosankan sekali, mungkin jam 2 siang nanti aku bisa curi waktu untuk tidur kembali.
Sudah 13 tahun aku kerja disini, dari buruh harian lepas sampai jadi buruh tetap. Hingga sekarang jadi operator mesin.
Besok pagi saat libur aku ingin menjemput Hapis di bandara Tomu. Kami ingin membuka rapat IVAC sorenya di markas sungai mati.
Banyak yang harus ku bicarakan dengan Hapis. Semoga dia sudah berubah selama belajar bisnis sama bang Denis di Jegardah.
Baru setahun ikut bang Denis merantau, menurutnya perkembangan Hapis sangat bagus.
Dia mampu belajar komputer dengan cepat, belajar keuangan dan perbankan. Serta belajar tentang hukum.
Meskipun tak pernah sekolah, tapi bang Denis cukup yakin dengan kemampuan belajar Hapis.
Aku ingin menyerahkan kepemimpinan IVAC ke Hapis. Lelah sekali setiap hari harus bersembunyi menjadi pemimpin ormas bawah tanah. Perilaku kelima jendral juga sangat sulit dikendalikan, hanya Aji yang masih berpikir waras.
Mustahil bagiku mendamaikan IVAC dan VV. Lebih sulit lagi melarang mereka berbisnis narkoba.
Biarlah Hapis menjalankan ormas IVAC sesuai kemauannya. Lagipula mau sampai kapan dia terus mengandalkanku ?
Walaupun tak menentangku secara terang-terangan, tapi jelas Hapis mendukung anggota IVAC berbisnis narkoba dan senjata api.
Mau sampai kapan juga aku terus melarang mereka ? Anggota juga perlu makan dan menghidupi keluarga mereka.
Mereka hanya butuh perlindunganku dari serangan ormas VV. Untung aja selama ini om Ateng tak menyadari aku adalah pimpinan IVAC.
Tapi om Ateng juga ada batasnya, anggota IVAC tak mungkin terus berbisnis narkoba di kota yang dikuasai VV puluhan tahun. Meskipun kami beraktifitas secara sembunyi-sembunyi, pasti lambat laun akan ketahuan.
Om Ateng adalah adik ibuku, dia menjadi salah satu petinggi ormas VV di Named utara. Bisa dibilang dia salah satu preman yang disegani disini.
Aku tak ingin berkonflik dengan keluarga sendiri, apalagi hanya karena klub motor yang kami dirikan.
Om Ateng juga yang menyuruhku tinggal di kontrakan milik temannya. 15 tahun aku menjadi anggota VV, bahkan aku menjadi pimpinan salah satu cabang.
Sejak usia 12 tahun aku sudah bersekolah di Named, sementara orangtuaku tinggal dikampung sawit gading kabupaten Gansred yang berjarak 80 kilometer bagian barat kota Named.
Tidak terlalu jauh memang, namun Gansred adalah salah satu kabupaten terbesar di Provinsi Sumarea. 70 persen wilayahnya terdiri dari perkebunan sawit dan karet.
Orangtuaku adalah pekerja pekerbunan sawit. Hanya adik perempuanku yang tinggal di Gansred menemani mereka.
Sementara aku disekolahkan dan dititipkan ke om Ateng di kota Named untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Pembangunan dan kualitas pendidikan kota Named cukup maju.
Hasil bumi dari kabupaten Gansred akan diolah dan diperjual belikan di Named. Pelabuhan internasional diutara kota Named adalah pelabuhan terbesar ketiga di negara Maranesia.
Sudah menjadi tradisi bagi keluarga di Gansred yang cukup mapan untuk menyekolahkan anak-anaknya dikota Named. Seperti kebanggaan dan prestasi tersendiri bagi para orang tua dikampungku untuk meneruskan pendidikan anaknya di ibukota provinsi Sumarea.
Named adalah kota metropolitan yang sempurna untuk para perantau. Tak hanya dari provinsi Sumarea, perantau juga datang dari provinsi tetangga, kepulauan lain, bahkan dari luar negeri.
__ADS_1
Sejak sekolah di Named, om Ateng memasukkanku bergabung dengan VV agar aku tidak mendapat bullyan dari anak lain disekolah. Masyarakat menghormati VV sebagai ormas milik keluarga Viktor, penguasa abadi Sumarea.
Aku merasa lebih aman dan mudah bergaul dengan anak-anak asli Named. Tidak seperti perantau lainnya yang dikucilkan dan dianggap udik atau kampungan karena berasal dari Gansred.
Ryan juga tak jauh berbeda, hanya saja ibunya asli orang kelahiran Named. Dan keluarga besarnya tinggal di kampung pahlawan kota Named bagian utara.
Aku dan Ryan adalah sepupu dari pihak ayah. Ayah Ryan adalah adik ayahku. Ibu Ryan memiliki rumah di kampung pahlawan, jadi dia tidak tinggal dikontrakan seperti aku.
Dari pergaulan dengan Ryan-lah aku bertemu dengan bang Denis dan lainnya. Aku juga ikut perguruan karate pak Udin untuk mengisi waktu luangku.
Sementara om Ateng tak mau aku tinggal dirumahnya. Karena terlalu banyak anak buahnya yang berkumpul disana setiap hari. Om Ateng tak mau aku rusak karena bergaul dengan anak buahnya yang pemabuk dan pecandu narkoba.
VV adalah ormas besar, namun perilaku anggotanya tak lebih baik dari gengster. Mereka bisnis narkoba dan prostitusi, kebanyakan anggota VV cuma menjadi tukang parkir, kurir narkoba dan preman jalanan. Yang lebih bernyali biasanya menjadi centeng pengusaha atau pejabat.
Tak terasa sekarang sudah hampir jam 4 sore. Aku harus pulang, mengigat masa lalu membuat waktu berjalan sangat cepat.
Aku sangat bahagia dimasa mudaku bisa mengenal banyak orang di Named. Mereka juga selalu mendukung dan membantu.
Dikampung sawit gading aku belajar silat sejak kecil, aku tak kesulitan untuk belajar karate dengan pak Udin yang juga memiliki kemampuan silat.
Om Ateng juga bangga aku bisa menjadi murid salah satu atlet karate nasional sekaligus tokoh masyarakat Named. Posisiku berada dalam perlindungan 2 orang yang cukup kuat.
Aku lelah sekali, 16 jam kerja dipabrik ini seperti mengambil setengah nyawaku. "Hoaaamh" aku tak kuat lagi menahan kantuk.
Parjo jelas sudah pulang saat pertukaran sif jam 8 pagi tadi. Aku ingin segera pulang dan berpamitan dengan Rico supervisorku, untuk memastikan jadwal libur 3 hariku besok.
Aku mendatangi bilik ruangan tempat para supervisor bekerja.
"Sore pak, ini absen saya. Besok libur 3 hari udah disetujui kan ya." Tanyaku.
Rico melambaikan tangannya, memanggilku. Saat mendekatinya kulihat kertas formulir cutiku belum ditandatanganinya.
Ingin sekali rasanya kutampar wajahnya, apa dia ingin menguji kesabaranku ?
Kulihat tanda tanganku dan namaku jelas terpampang dibawahnya. "Hormat saya, Tomi Efendi." Dan dia memberi sedikit catatan di sebelah tanda tanganku.
Rico mendekatiku dan berbisik.
"Kau jadi mau bikin ormas lagi Tom ?" Tanya Rico balik.
"Kau gak usah aktif di ormas lagi, nanti kau dipecat. Bos besar gak suka karyawan terlibat ormas. Takut didemo." Sambung Rico.
"Justru aku mau keluar dari semua ormas ko, aku juga udah lama keluar VV. Aku mau kawin dululah." Jawabku.
Atasanku ini memang pelupa, ormas IVAC sudah berumur 5 tahun saat ini. Dia tahu aku dan Hapis membentuk IVAC.
Rico adalah teman sekolah Ryan, dia juga masih anggota BBC sampai sekarang. Hanya saja dia tak terlibat menjadi pengurus aktif di BBC.
-----
__ADS_1