Pistol, Sejarah IVAC : Suara Dari Tomi

Pistol, Sejarah IVAC : Suara Dari Tomi
Chapter 5 : Mutia


__ADS_3

Aku sudah rapi, aku ingin langsung pergi ke rumah Usong setelah mengantar Mutia.


Kemeja hitam polos dan celana jeans hitam kupakai untuk menghadiri rapat kami nanti.


Ku nyalakan motorku dan kudiamkan sejenak untuk memanaskan mesinnya. Hanya 5 menit waktu yang kutempuh menuju rumah Mutia.


Dia tinggal bersama orang tuanya di Named utara kelurahan Martuga. Komplek perumahan rakyat yang dibangun pemerintah.


Ayahnya seorang pegawai negara yang bertugas di kantor pencatatan penduduk. Sedangkan ibunya tidak bekerja.


Masih jelas kuingat 2 tahun yang lalu ayahnya masih menolakku, karena aku hanya buruh pabrik biasa yang menurutnya tak punya masa depan yang jelas.


Tapi dia tak tahu gajiku lebih besar darinya. Dan sekarang pun aku bisa membeli 2 rumah di komplek yang mereka tinggali dengan cara ku cicil dari gajiku.


Memang menjadi buruh pabrik tidak sekeren menjadi pegawai negara yang menggunakan seragam. Tapi itu tidak menjamin kesejahteraan, buktinya setiap pegawai negara yang kaya pasti selalu dicurigai masyarakat dan sesama pegawai negara.


Kedua orang tua Mutia kurang menyukaiku, karena aku tidak kuliah dan terlibat gangster. Meskipun berkali-kali sudah kujelaskan BBC bukanlah gangster.


Hanya karena citra buruk sebagian anggota yang akhir-akhir ini dipertontonkan ke masyarakat, membuat mereka tidak percaya padaku.


Lagipula itu mungkin hanya alasan mereka, mencari-cari celah untuk menolakku. Yang jelas aku bukan ingin menikahi orang tuanya, aku ingin menikahi Mutia dan aku telah berusaha berbuat yang terbaik.


Hubunganku dengan Mutia juga tak berjalan mulus, kami berkali-kali putus sambung. Aku pernah berada di titik merelakannya dan mulai mendekati wanita lain.


Restu orang tuanya sangat sulit untukku, aku melepaskannya. Tapi orang tuanya juga yang memanggilku kembali.


Saat itu aku meminta nasehat bang Denis, dia malah menyuruhku ke ibukota. Dan memulai perjalanan baru disana, bukannya memintaku untuk berjuang dan bertahan untuk Mutia.


Sama dengan Mutia, aku juga tak mudah melupakannya begitu saja. Mungkin hubungan kami memang berada dikondisi seperti ini.


Kalau bang Denis bilang. Benci tapi rindu, marah tapi cinta. Aku mungkin tak seperti dia yang mudah untuk berpaling dari satu wanita ke wanita lainnya. Dan menganggap semuanya baik saja dan bisa berteman seperti biasa setelah putus berpacaran.


Katanya aku baper, susah move on, lemah, takut istri. Dan istilah masa kini yang tak ingin ku pahami. Aku tak peduli selagi kalimat itu keluar dari mulut bang Denis.


Aku sendiri bingung kenapa selalu curhat padanya, ku anggap dia lebih pengalaman tentang asmara. Dia orang yang bisa dipercaya dan menjaga rahasia.


4 tahun sudah aku berpacaran dengan Mutia, sejak dia kuliah tingkat 2 sampai kini dia bekerja di gudang distributor makanan sebagai admin gudang.


Aku mengenal beberapa karyawan disana, teman-teman kantor Mutia jelas mengenaliku. Aku pengurus BBC, pendiri IVAC, murid pak Udin dan keponakan om Ateng. Named tidak terlalu sulit untuk ku takhlukan.

__ADS_1


Meski hanya buruh pabrik biasa, orang-orang cukup mengenalku. Setidaknya itu yang kurasakan, tanpa bermaksud menyombongkan diri.


Namun selama 4 tahun ini setidaknya 2 kali Mutia menyelingkuhiku. Sekali dengan teman kuliahnya dan sekali dengan pria yang dikenalkan oleh ibunya.


Mereka berdua jelas ku singkirkan dengan kekerasan. Nanda si mahasiswa kuhajar didepan kampusnya. Agar semua temannya tahu dan tak berani mencoba menggoda wanita pengurus BBC dan ketua IVAC.


Sementara Budi si karyawan perusahaan pembiayaan yang merasa cukup kuat karena dilindungi VV. Di pukuli Aji hingga babak belur didepan perumahan Mutia.


Mereka berdua jelas mundur, cara lama memang selalu efektif. Malam itu Aji yang terlalu bersemangat hingga membuat Budi harus dirawat dirumah sakit.


Mutia marah padaku hingga kami putus dan cukup lama tak berkomunikasi. Aku tak menyalahkan Aji, dia hanya ingin membantuku. Justru aku menyalahkan Mutia karena lebih memilih Budi, pria yang baru dikenalnya beberapa hari.


Aku ingin melupakannya dan kembali membuka hati untuk orang lain. Aji, Fitri, Ryan dan bang Boy mengenalkanku pada beberapa gadis yang lebih cantik dari Mutia.


Fitri bahkan menjodohkan sepupunya yang cantik padaku. Hanya saja aku belum berjodoh dengan pilihan mereka semua.


Mutia kembali, meminta maaf dan berjanji akan berubah. Kami berbaikan, hanya bang Boy dan bang Denis yang berani menertawakan drama percintaanku.


Aku tiba dirumah Mutia, dia sudah duduk manis di bangku teras rumahnya. Sepeda motor ayahnya sudah tidak ada, sedangkan ibunya mungkin didapur.


Senyum manisnya menyambutku.


"Ibu mana ?" Tanyaku.


"Bu, pergi dulu ya." Ucapku keras.


Mutia langsung memakai sepatunya dan berjalan kearahku.


"Tia, berangkat bu." Ucap Mutia pada ibunya yang masih belum menampakkan wujudnya.


Saat Mutia naik ke motorku, barulah ibunya muncul dihadapan pintu.


"Hati-hati ya, jangan ngebut. Jangan lupa sarapan." Ucap ibunya sambil melambaikan tangan pada kami.


"Iya bu, permisi bu." Jawabku sambil menarik tuas motor tipis-tipis agar melaju perlahan.


Mutia langsung saja memelukku, aku akan membawanya ke warung soto pagi yang terkenal di Named utara.


"Makan soto apa lontong aja mut ?" Tanyaku basa basi.

__ADS_1


"Apa aja Mot terserah, aku laper." Jawabnya.


"Iya, soto aja ya yang dekat." Ucapku.


Kemudian kurasakan Mutia membenamkan wajahnya dipunggungku. Dia memelukku sangat erat, aku bahagia sekali.


Sudah 4 hari kami belum bertemu, rasanya aku ingin membawanya ke kontrakan dan menyuruhnya bolos kerja.


"Mut masih ngantuk ya ?" Tanyaku lagi.


"Mot ngapain aja sih, dihubungi susah, dichat balasnya lama." Ucapnya manja.


"Kangen ya ? Hahaha," balasku. Sangat tidak romantis.


"Udah ah, kekeh ya. Senang kali kek gitu." Jawabnya semakin manja.


Saat tiba di warung soto langsung saja kupesan soto dua beserta nasi putihnya. Teh manis hangat sebagai minumnya. Setidaknya kami punya waktu 40 menit untuk makan dan mengobrol setelahnya.


Mutia memilih meja paling belakang, aku menarik dua bungkus kerupuk yang tergantung di gerobak soto.


"Mot jadi mau jemput Hapis ?" Tanya Mutia dengan wajah penasaranya.


"Gak dia udah dijemput sama anggotaku," jawabku singkat.


Entah kenapa aku tak menyukai Mutia terlalu banyak mengetahui dan terlibat dengan kegiatanku di IVAC.


"Cantik banget sih Mut pagi-pagi, mau kerja aja pake dandan ginian." Aku mencoba mengalihkan perhatiannya.


"Nanti sore ya, sekarang kerja dulu." Balasnya singkat.


"Yee cuma bilang cantik kok, perasaan kali ya. Ya memang pagi-pagi kerjalah mau ngapain lagi. Hahaha," aku menggodanya.


"Oh sok ok Mot ya, awas ya kalo nanti sore minta jatah. Mut mau pulang aja, gak usah belok-belok ke kontrakan." Jawab Mutia menyolot.


Teh manis datang dan membuat kami terdiam. Tak mungkin kubalas ancamannya tadi didepan abang pengantar minuman ini.


Kemudian makanan kami pun datang, aku melempar senyum pada Mutia. Yang langsung dialihkannya dengan menggeser gelas teh manis.


"Makasih bang," ucapku pada abang pengantar makanan.

__ADS_1


Aku terus menatap Mutia, dia memang cantik sekali pagi ini. Wajahnya berseri, senyumnya indah sekali.


Dia juga memakai tas yang di belikan Hapis dari negara Kucingpore dan memakai cincin yang kuberikan.


__ADS_2