Pistol, Sejarah IVAC : Suara Dari Tomi

Pistol, Sejarah IVAC : Suara Dari Tomi
Chapter 4 : Lamunan Pagi


__ADS_3

Pagi buta ini aku terbangun karena ingin membuang air kecil. Aku mengingat jam 6 sorelah waktuku tertidur.


Kulihat jam ditembok menunjukkan pukul 5 pagi. Aku juga ingin mandi untuk segera melakukan ibadah pagiku.


Setelah selesai, aku kembali menyalakan smartphone. Aku melihat beberapa notifikasi pesan chat dari Mutia, Hapis, Grup BBC dan Grup IVAC.


Mutia adalah kekasihku dia mengetahui aku kerja dua sif kemarin.


"Mot, jangan lupa makan ya."


"Kalo udah sampe rumah langsung mandi dan tidur." Isi pesan Mutia.


Dan aku harus membalasnya sekarang, aku ingin menjemput dan mengantarkannya ketempat kerjanya.


"Sarapan bareng yok Mut." Balasku pada chatnya.


Tak berapa lama, dia langsung membalasnya.


"Yoklah, jemput jam 7 ya Mot."


Mutia memanggilku Mot dan aku memanggilnya Mut. Aku hanya menuruti keinginannya saja untuk memiliki nama panggilan sayang. Layaknya orang pacaran pada saat ini.


Aku pun melanjutkan membaca pesan dari Hapis.


"Bang, pesawatku landing jam 9. Kita ketemu di rumah setia budi aja."


"Capek kali nanti abang jemput aku, Tongkar sama Birong udah jemput aku di bandara." Isi pesan Hapis.


Aku tersenyum melihat pesannya dia tak ingin merepotkanku. Memang dia tak pernah memintaku menjemputnya, hanya saja aku terlalu bahagia menyambut kepulangannya.


Salah satu adik angkatku menjadi orang yang cukup sukses. Di usianya yang sangat muda dia berani merantau ke luar negeri.


"Ok, kita ketemu dirumah Usong. Hati-hati dijalan." Balasku melalui chat.


Aku sendiri tak mengerti apa yang dilakukannya disana, banyak sekali kejanggalan tentang pekerjaan Hapis. Dia sukses dalam waktu yang cukup singkat, bekerja bersama Koh Acuan.


Aku hanya ingin terus berprasangka baik terhadapnya, karena dia sudah kuanggap adikku sendiri.

__ADS_1


Hanya dalam 4 tahun masa merantau pertamanya, dia mampu membeli 3 rumah mewah seharga 1 milliar per rumah.


Mungkin aku hanya bisa bermimpi untuk memiliki rumah semahal itu. Dan dia memberikan salah satu dari ketiga rumah itu untukku. Surat kepemilikan rumah itu juga atas namaku.


Secara hukum pistol sudah bukan warga negara Maranesia lagi, dia lebih memilih menjadi warga negara Kucingpore.


Kembali dari perantauan dan membawa banyak uang dalam sekejap dia merubah IVAC dari komunitas musik menjadi organisasi masyarakat bawah tanah.


Dia juga merekrut Tongkar, Birong dan Usong menjadi jendral IVAC. Sementara aku dan Aji memilih tidak aktif dalam organisasi dan fokus bekerja layaknya orang normal.


Namun Hapis tak ingin kami menjauh dari IVAC hingga dia meminta kami menjadi penasehat utamanya. Tapi kenyataannya tidak demikian, aku kembali menjadi ketua dan Aji menjadi jendral utara.


Lalu dia pergi lagi ke Kucingpore selama 2 tahun. Diperantauannya yang kedua inilah dia menjadi warga negara Kucingpore dan menjadi sangat sukses karena berhasil menjadi orang kepercayaan Koh Acuan.


Dan seperti kepulangan pertamanya, dia tak betah tinggal lama di Named. Kemudian Hapis pergi menemui bang Denis di ibukota negara.


Aku pernah bertanya pada bang Denis apa yang dilakukannya di Jegardah ?


Bang Denis menjawab secara rumit, karena memang cukup rumit untuk dijelaskan. Namun intinya Hapis ingin mencuci uangnya disana. Dia mendirikan beberapa perusahaan dan yayasan diibukota.


Aku sendiri bingung, dari mana Hapis yang tidak pernah bersekolah berani dan mampu membuat banyak perusahaan.


Takdir memang tak bisa ditebak, aku selalu berprestasi disekolah. Kini hanya menjadi buruh pabrik, sedangkan Hapis seorang yatim piatu yang ku pungut dari jalanan Named saat ini jauh lebih sukses dariku.


Aku berkali-kali berdiskusi dengan bang Denis dan kak Nadita melalui panggilan telepon, tentang bisnis Hapis dan sepak terjangnya.


Bagi bang Denis dan kak Nadita, Hapis adalah adik yang ambisius dan cerdas. Selama perilakunya tidak membahayakan dan merugikan keluarga besar, bang Denis tidak mau ambil pusing soal bisnis Hapis.


Dia menganggap Hapis sudah sangat dewasa dan mengerti semua resiko tindakannya. Lagipula kami semua menyayangi Hapis seperti adik sendiri.


Dia bagian dari keluarga kami, meskipun Ali sangat tidak menyukainya. Ali tetap mengakui Hapis sebagai saudaranya. Meskipun selalu berbeda, baik Ali maupun Hapis tak pernah memulai keributan dihadapan kami semua.


Aku sependapat dengan bang Denis, lagipula aku yang merawatnya sewaktu dia sakit parah akibat kecanduan narkoba.


Biaya rumah sakitnya kucicil selama 5 tahun ke pak Udin. Meskipun pak Udin dan Bu Sri ingin membagi dua biaya pengobatan Hapis.


Aku tetap tak ingin membebani mereka, anak kandungnya berprestasi dan tak pernah membuat masalah. Sangat membanggakan.

__ADS_1


Tapi karena ulahku membawa Hapis ke pak Udin dan Bu Sri, mereka harus terlibat mengurus dan mendidik Hapis si over dosis narkoba dan tak bisa diharapkan. Sangat memalukan, anak angkat tak tahu diri pas disematkan pada Hapis.


Aku tak punya alasan membencinya, dia tetap adikku yang pintar. Aku yakin suatu saat nanti dia akan berubah.


Semua manusia pasti berubah. Tak ada keburukan yang abadi, karena kita terlahir suci.


Waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 pagi, aku harus segera mandi dan menjemput Mutia.


Suara orang beraktifitas pagi juga sudah mulai ramai terdengar. Kontrakan yang tadi sunyi sepi kini mulai menunjukkan tanda kehidupan.


Semenjak bekerja, aku jarang sekali mandi pagi. Bukan karena aku malas mandi, tapi karena aku jarang sekali mendapat sif pagi.


Rico lebih mengutamakan rekanku yang sudah menikah dan punya anak untuk bekerja di sif pagi. Dan yang masih lajang di sif sore atau malam.


Aku tahu itu terdengar tak adil, tapi jujur saja aku menyukai bekerja sif malam. Karena situasi dipabrik tidak terlalu ramai saat malam dan kami pun bekerja lebih santai.


Tidak ada admin dan orang-orang kantor yang sok tahu dan gila hormat. Mereka semua masuk pagi, sedangkan malam hari hanya ada orang produksi dan kadang ekspedisi.


Sebenarnya aku diminta menjadi supervisor sebelum Rico naik jabatan. Hanya saja situasi saat itu tak memungkinkan. 2 tahun lalu aku masih sibuk membantu Hapis membangun IVAC.


Lagipula aku juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai kurator museum milik keluarga Viktor. Om Ateng yang memberikan pekerjaan itu padaku. Kini dia salah satu orang kepercayaan Viktor Edi.


Aku sendiri tak tahu apa itu kurator, hanya saja aku ditugaskan membantu merawat dan menjaga museum beserta isinya.


Aku memang tak sendirian, Aji juga ikut bekerja disana. Meskipun tidak setiap hari, karena kami hanya diminta bekerja 4 hari dalam seminggu untuk mengurus dan membersihkan barang-barang antik dan benda pusaka milik keluarga Viktor.


Terutama diakhir pekan, karena hari kerja lain ada rekan kami yang bekerja disana. Gajinya cukup lumayan, meskipun kami hanya pekerja lepas.


Salah satu ritual wajibku saat pagi adalah buang air besar sambil menghisap rokok dan sesekali melamun.


"Serhhh jebar jebur", ternyata dingin sekali.


Sudah lama aku tak merasakan kesegaran seperti ini. Astaga, sepertinya aku harus segera menikahi Mutia agar ada yang menemaniku mandi dipagi hari.


Lalu dia membuatkan kopi dan sarapan untukku, pasti nikmat sekali. Tapi karena sekarang masih lajang, aku kembali membakar rokok untuk menghangatkan tubuh.


Astaga aku malah memikirkan Mutia, sudah lama kami tidak berdua dikontrakan ini. Aku berniat akan melamarnya tahun ini, setelah aku keluar dari IVAC dan memulai hidup baru.

__ADS_1


__ADS_2