Playboy Pensiun

Playboy Pensiun
BAB 1


__ADS_3

Aletta Wijaya gadis keras kepala berusia dua puluh tiga tahun. Menyandang status jomblo semenjak lima tahun yang lalu. Dimatanya saat ini tak ada yang jauh lebih tampan dari sosok Bambang Hadiwiguna seorang playboy kelas kakap. Walaupun wajahnya kata orang pas-pasan tetap saja pesonanya tak perlu diragukan terbukti dapat menaklukkan puluhan wanita dalam satu minggu. Patut diacungkan jempol bukan.


Bambang Hadiwiguna selalu mengganggap wanita hanyalah hiasan yang patut dibuang setelah bosan. Kelakuan semacam ini kadang membuat satu-satunya keluarganya Hadiwiguna sang kakek hanya mengelus dada.


"Gak capek apa kamu Bang, manfaatin wanita hanya untuk mainan," kata kakek yang memandangi cucu satu-satunya diruang makan.


"Tenang saja mereka senang-senang saja kek jadi mainan Bambang," jawab Bambang dengan pedenya. Ia terus memakan roti seleai coklat dengan nikmatnya.


"Gak takut kena karma kamu, perempuan juga manusia punya hati gak pantas buat kamu jadi mainan, nanti kalau kena karma baru nyesel kamu bang," ceramah Kakek Hadiwiguna panjang lebar tangannya mengepal ingin sekali menampar cucu satu-satunya yang sulit sekali diberi nasihat. Walaupun seperti tetap saja Bambang ya Bambang manusia dengan keinginannya sendiri.


"Jika kakek mau nikah lagi nanti Bambang kenalin cewek-cewek cantik, bisa jadiin nenek-nenek muda," canda Bambang tanpa ada sedikitpun merasa bersalah.


"Dasar bocah gemblung, kakek masih setia sama nenek kamu dia satu-satunya belahan hati kakekmu ini," Hadiwiguna hanya memegang jantungnya yang seakan terasa nyeri mendengar perkataan Bambang. Jika saat ini boleh meminta ia lebih baik menyusul istrinya tercinta.


"Jantung kakek sakit," Bambang menjadi cemas dan berlari menuju kursi sang kakek. Bagaimanapun juga jika ada apa-apa dengan kakek ia adalah orang pertama yang merasa bersalah.


"Iya makanya cepat nikah, cepat tobat buatkan cicit buat kakek."


"Sudahlah kek jangan bahas itu dulu. Kita berobat ke dokter atau aku panggil dokter Ananta kesini ya," Pinta Bambang sembari memapah kakek Hadiwiguna menuju kamarnya. Ia memapahnya pelan-pelan. Setelah sampai dikamar tidur Bambang membaringkan kakek sembari membari bantal dibelakang tubuh kakek.

__ADS_1


"Sudah gak apa-apa istirahat sebentar kakek juga sembuh yang penting carikan kakek menantu yang baik," pinta kakek yang tidak ada habis-habisnya.


"Sudahlah kek sudah lebih baik kakek pikirkan kesehatan kakek itu. Soal itu Bambang belum bisa wujudkan, jika sudah gak apa-apa Bambang pergi ke kantor dulu ya. Biar nanti Bi Inah buatkan kakek sup."


*****


Aletta menarik nafas gusur, sedikit menyunggingkan senyumnya.


Oh Tuhan ini musibah atau anugerah batin Aletta.


Kejadian beberapa detik lalu berhasil membuatnya sedikit bimbang membuat keputusan oh kakek.


"Bagaimana Aletta kamu setujukan menikah dengan Bambang dan kuharap tak ada penolakan," kalimat terakhir membuat Aletta berkedip ngeri.


Siapa sih yang gak akan suka dengan Bambang alias Babang Tampan. Parasnya memang tak setampan boyband-boyband Korea atau tak segagah artis India tetap saja pesonanya bisa membuat hati meleleh. Apalagi sosoknya yang humoris membuat siapa saja mudah dekat dengan dirinya.


Tapi ada masalahnya bagaimana menaklukkan sang player sejati yang tak ada sedikitpun memiliki komitmen pernikahan. Walaupun sadar Aletta adalah sahabat sejati Bambang tapi menyakinkan Bambang Hadiwiguna tak semudah itu.


"Bisakah kakek memberikan saya waktu?" Pinta Aletta dengan sedikit memohon.

__ADS_1


"Kenapa harus berpikir, kakek tahu sudah sejak lama kamu menyukai Bambang. Ini adalah kesempatan emas Aletta." Aletta hanya menelan ludahnya, ia berusaha tak gugup. Ya tentu saja kakek tahu sudah beberapa tahun Aletta dan Bambang berteman dan gerak-geriknya pasti bisa dibaca jika Alletta mencintai Bambang.


"Apa Bambang pasti akan menerima Aletta, kekasih Bambang ada banyak kek takutnya dia nanti akan marah sama Aletta dan kakek," Aletta gelisah walupun mencintai seseorang tetapi ia tak mau cintanya justru menjadi alasan bermusuhan. Dia bukan tipekal gadis egois.


"Itu urasanku cukup kamu katakan setuju saja kalian pasti akan menikah." Kali ini permintaan kakek seperti sebuah perintah ada kesungguhan dimata kakek Wiguna pasti ia benar-benar menginginkan Bambang dan dirinya menikah.


"Baiklah kek, saya setuju jika Bambang setuju. Izinkan saya waktu satu bulan agar Bambang mau menerimaku kek," sekali lagi Alellta terus memohon minuman kopi hangat yang dipesannya tak disentuh sedikitpun. Ia masih gugup dan meremas-remas tangannya.


"Baiklah kakek beri waktu satu bulan, jadi jangan sampai kamu mengecewakan saya mau pulang dulu," kakek Hadiwiguma memutuskan berdiri.


"Biar saya antar kek,"


"Gak usah kamu habiskan saja minumanmu," pinta kakek.


Kakek Hadiwiguna sebelumnya bukanlah orang yang dingin dia dulu adalah orang yang ramah dan mudah berbaur dengan semua orang. Bisa jadi ia berubah sejak istrinya meninggal delapan tahun lalu disusul putra satu-satunya dan menantu yang meninggal karena kecelakaan. Dia benar-benar dingin sedingin es beku yang tak akan pernah mencair itulah yang aku dengan Bambang.


Sekarang Aletta memikirkan nasibnya menikah dengan Bambang dan menjadi nyonya Hadiwiguna bisa jadi memang menjadi mimpinya. Sahabatnya yang selalu membuatnya nyaman dan tak berhenti tertawa. Tetap saja ada tapinya bagaimana laki-laki ba*****an itu mau menikah dengan Aletta seumur hidup, berapa kali Aletta nanti harus patah hati jika ia harus melihat Bambang setiap hari kencan buta.


Ia tak bisa membayangkan bagaimana bila sosok Bambang yang humoris itu tiba-tiba menjadi monster melahapnya sampai habis.

__ADS_1


Uh pusing kepala gue, Sepertinya selama satu bulan gue harus bisa buat Bambang jatuh hati sama gue dan bisa menaklukkan sifat keras kepalanya batin Aletta.


__ADS_2