Playboy Pensiun

Playboy Pensiun
BAB 4


__ADS_3

Aletta berlari ia tak melihat kanan kiri yang ada dalam pikirannya saat ini untuk naik dilantai sepuluh dan menemui Bambang secepatnya.


Brak


Aletta menabrak seseorang dan terjatuh.


"Maaf, maaf aku tak sengaja," Aletta merapikan bajunya sebelum berdiri ia bengong menatap laki-laki yang ditabraknya. Sepertinya Aletta merasa kenal dengan laki-laki itu.


"Kamu Aletta ya," seru laki-laki itu. Sedang Aletta hanya menganggukkan kepalanya. Terkesima dengan wajah tampan yang ada didepannya. Ia langsung berdiri ketika laki-laki yang ada didepannya ingin membantunya berdiri.


"Siapa ya, sepertinya aku pernah kenal tapi lupa," Aletta mencoba mengingat-ingat nama lelaki didepannya yang wajah tak asing lagi.


"Johan tetanggamu dulu, sepuluh tahun lalu kita sering main petak umpet sama Bambang. Aku pindah ke Surabaya semenjak ayahku meninggal. Sekarang sudah ingat," senyuman laki-laki yang bernama Johan ternyata teman kecil Aletta benar-benar memukai bisa membuat cewek-cewek takluk. Sangat disayangkan bagi Aletta hanya Bambang lah yang paling tampan.


"Oww, sekarang berubah makin ganteng hampir saja gue lupa wajahmu," Aletta berusaha basa basi.


"Kamu bisa saja Letta, kamu juga tambah cantik cuma sifat terus terang gak berubah," Aletta berjalan disamping Johan mendengar itu ia hanya tersenyum sembari menunjukkan gigi gingsul ya yang tampak manis.


"Oh ya kamu kesini mau bertemu siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan si Bambang."


Aletta hanya beroh ria, lalu tersadar dia juga ingin bertemu Bambang.

__ADS_1


"Kalau begitu kita ke ruangan Bambang bersama saja soalnya aku juga ingin bertemu Bambang.


Disepanjang jalan Aletta dan Johan bernostalgia menceritakan soal masa kecilnya bahkan saat didalam lift mereka berdua bercerita seakan tak ada habis-habisnya. Aletta yang sudah sampai didepan ruangan Bambang langsung membuka pintu lupa tidak mengetuk pintu.


Ia seketika langsung terkejut, bahkan tiba-tiba ada perasaan sesak didalamnya. Johan yang ada disebelahnya pun hanya diam


Entak kenapa tiba-tiba Aletta memilih memejamkan matanya. Mungkin adegan yang baru saja dilihat sudah selesai.


Letta membuka matanya pelan-pelan bukannya selesai ciuman Bambang semakin dalam dengan wanita seksi didepannya.


"Ehm ehm" letta berusaha menyadarkan mereka dia sakit hati seperti orang yang tak dianggap.


Wanita itu segera berdiri dari pangkuan Bambang dan Bambang menahannya ia melirik sebentar dan tak menghiraukannya lagi.


"Hai disini ada orang bukan setan," Aletta mencoba berteriak sambil berkacak pinggang entah kenapa tiba-tiba ia ingin marah .


"Seharusnya yang marah itu gue, salah sendiri tidak ketuk pintu. Kalau bukan sahabat sendiri gue pecat leta," teriak Bambang entah kenapa semenjak kemarin ia ingin sekali marah-marah.


Aletta memilih diam ia sadar memang dirinyalah yang salah, tapi bukankah adegan tak pantas itu juga tak patut dilakukan apalagi saat jam kantor.


Bos mah bebas, dasar Bambang batin Aletta.


"Kalau begitu saya permisi tuan maaf mengganggu kegiatanmu tadi silangkan dilanjutkan," Aletta menundukkan kepalanya dan ingin menarik gagang pintu untuk menutupnya.

__ADS_1


"Tunggu, siapa suruh kamu pergi. Kemari," Bambang menatap Aletta tajam.


"Nona silahkan anda pergi,"


"Tapi, baiklah," wanita seksi disebelah Bambang kecewa ia ingin menolak tapi melihat tatapan yang berubah tajam dan kejam langsung ia pergi. Didekat Aletta wanita itu menunjukkan tatapan tak suka tapi Aletta tak memedulikannya sama sekali.


"Kenapa tetap diam saja, tetap duduk disini," Aletta langsung mendatangkan bokongnya tepat dikursi yang ditunjuk Bambang.


"Ada apa?" tanya Bambang sarkastis.


"Ehm ehm," Aletta tiba-tiba lupa dengan tujuannya mulutnya merasa kering sulit sekali untuk mengatakan sesuatu.


"Ini ambil minumnya," sadar teman sekaligus rekan kerjanya kehausan Bambang langsung menyodorkan gelas berisi air kearahnya. Tak menunggu lama Aletta langsung meminumnya. Bambang hanya menatap dengan seksama.


"Jangan bilang mau melamarku ,aku tak suka," langsung saja Aletta menggelengkan kepalanya dan ia sedikit terkejut ketika mendengar Bambang mengatakan aku tak biasanya ia seformal ini pada dirinya.


"Terus," Bambang tak mengalihkan pandangannya dari Aletta.


"Kakek memintaku menjadi sekretaris pribadimu. Bagaimana apa bisa?" tanya Aletta dengan sedikit ketakutan mengglayuti dirinya.


"Aku tolak kamu jadi sekretarisku, sekarang silahkan keluar pintunya ada disana dan panggilkan Johan kemari," Aletta bengong ia hanya ingin mencerna perkataan sahabatnya dan setelah paham bahwa sahabatnya sedang marah pada dirinya ia memilih keluar.


Apa dia marah gara-gara gue nyatakan cinta, tapi kan dia yang nolak gue. Seharusnya yang marah itu gue. Dasar orang aneh. Gerutu Aletta kesal sembari berjalan keluar pintu dan secepatnya memanggil Johan.

__ADS_1


__ADS_2