
Aletta berlari-lari menuju taman disekitar kompleksnya. Sejak kemarin malam ia sudah berjanji pada Bambang untuk ikut lari pagi bersama. Selain itu ia akan berusaha terus terang tentang apa yang menusuk-nusuk pikirannya.
Aletta mematutkan wajahnya pada cermin cantik ternyata aku gumamnya. Ia menguncir rambutnya dan mengambil handuk kecil dilemari untuk diletakkan dilehernya. Pukul enam kurang sepuluh menit itulah waktu yang terpampang di kamarnya.
Waduh jika terlambat bisa gawat batin Aletta.
Ia bergegas keluar kamar sedikit berlari, rumahnya memang tak terlalu jauh dari taman hanya membutuhkan waktu lima menit jika naik mobil, tapi jika lari sepuluh menit paling sudah ngos-ngosan.
Tak sedikit cowok yang melihat Aletta melirik dan memberikan kode-kode mengajak kenalan sayangnya Aletta tak menggubrisnya. Mungkin sampai kapanpun hatinya telah tertutup dengan Bambang Hadiwiguna.
Aletta berusaha mempercepat larinya mengatur nafas sebentar ketika ia sudah sampai ditempat tujuan. Sembari menatap sepanjang arah dan mencari sesosok lelaki yang mungkin ia kenal.
"Hai," sapa Aletta kepada lelaki sawo matang yang duduk di bangku taman.
"Lo telat sepuluh detik harus dihukum," lirikan mata Bambang berhasil buat jantung Aletta berdetak.
"Apaan sih?" Aletta tak terima ia hanya telat beberapa detik saja.
"Hukumannya lo cium gue, haha" Bambang tersenyum senang.
"Dasar enak di lo rugi gue," Aletta memanyunkan mulutnya yang berhasil membuat Bambang sedikit gemas. Ia mencubit pipi Aletta.
Jantung Aletta berdetak kencang entah Bambang bisa mendengarnya atau tidak yang jelas ia sangat malu.
" Ayo jalan keburu siang, kali ini gue barbaik hati," Bambang mencoba mengalihkan pembicaraannya.
Sembari jalan dibelakang Bambang Aletta tampak berpikir dan mencoba menenangkan degab jantungnya yang berdentang kencang gara-gara rayuan Bambang.
Walapun pagi ini belum terik, keringat Aletta sudah membanjiri tubuhnya. Menyamai langkah kaki Bambang sama saja membuatnya kehilangan banyak tenaga.
"Begitu saja sudah capek," Bambang menghentikan jalannya dan melangkah mendekati Aletta yang tertinggal beberapa langkah darinya.
__ADS_1
"Lo sih jalannya cepat banget, kita berhenti ya sekarang," Aletta hanya duduk dibawah pohon yang rindang sesekali merilekskan otot-ototnya.
"Ya terserah lo."
"Gue mau ngomong jujur sama Lo bang?" Aletta mau bicara terus terang ia tak mau lagi menunda-nunda waktunya.
"Apa?" Jawab Bambang singkat
"Janji ya jangan ditolak!" pinta Aletta dengan sedikit memohon
"Tergantung," jawab Bambang penuh selidik lalu ia memutuskan mengalihkan pandangannya dan melihat pemandangan sekitar siapa tahua ada cewek cantik bisa dijadikan mangsa.
Melihat itu Aletta hanya bisa bergidik, apa benar ia harus menikah dengan cowok yang mengganggap cewek adalah mainan. Tapi ya sudahlah.
"Bambang kalau selama ini aku cinta kamu gimana," seru Alesha tiba-tiba. Ia mengatakan itu sembari menutup matanya, tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Bambang. Beberapa saat kemudian terasa hening apa Bambang tak mendengar atau ia sudah pergi mengajak cewek-cewek tadi kenalan. Dengan keberanian ia membuka matanya dan terkejut ketika Bambang melihatnya dingin.
"Kok bisa," hanya dua patah kata keluar dari mulut Bambang.
"Ha ha ha lo pasti bercanda ya," Bambang tertawa kencang yang membuat Alesha kebingungan, matanya tetap berkeliaran melihat cewek-cewek seksi yang sedang lari pagi.
"Enggak benar kok gue suka lo, walaupun sudah tahu loy itu playboy kelas kakap tetap saja gue mau kok jadi pacar lo," Alesha mencoba menyakinkan Bambang bahwa apa yang diucapkannya benarlah hal jujur walaupun terlihat konyol. Ia menatap dalam netra Bambang mencoba mencari jawaban didalamnya.
"Maaf, gue gak terbiasa ditembak cewek. Lagipula lo teman gue, gue gak mau hubungan kita hancur gara-gara status yang gak jelas," jawab Bambang panjang lebar ia lebih baik mengatakan sesuatu yang menyakitkan tapi kebenaran. Daripada harus mempermainkan perasaan sahabat sedari kecilnya. Lagipula ia masih bingung apa yang ada di kepala kawannya tiba-tiba minta hal konyol itu.
"Apa gue kurang cakep ya bang," tiba-tiba Aletta merasa sedikit malu cintanya ditolak.
Dengan secepat kilat Bambang menggelengkan kepalanya.
"Lo cakep kok, imut pula pasti diluar sana banyak yang suka sama lo," kali ini Bambang mendadak serius.
'Ini anak maunya apa sih sudah tau hobi gue mainin cewek malah daftar jadi mainan gue, haduh untung gak tega batin Bambang.'
__ADS_1
"Tapi gue maunya lo, benar-benar gak ada kesempatan lo buat buka hati untuk gue ya."
Aletha yang terus memaksa Bambang membuka hatinya hanya diam melihat Bambang menggelengkan kuat benar ia tak ingin menyakiti sahabatnya maupun harus setia pada satu wanita.
"Mau jadi simpanan gue," kata spontan Bambang dan tiba-tiba ia perjalannya.
"Lo sakit ya tiba-tiba omongan lo ngawur semua, apa perlu bawa periksa ke dokter,"
"Enggak lah tapi gue benar serius suka sama lo dan yakin bisa merubah lo untuk suka dan setia sama gue saja," dengan penuh keyakinan Aletta mengucapkan itu semua.
Apa sih yang gak bisa bagi Aletta walaupun hari ini harus mengelilingi lapangan tujuh kali untuk cintanya ia tak akan pernah menolak. Jika dikatakan gila mungkin iya. Benar cinta memang membutakan mata.
"Memang lo bisa sulap atau punya kantong doraeman yang bisa mewujudkan impian apa saja. Lebih baik lo gak berharap sama gue daripada sakit hati." peringat Bambang.
"Tapi," belum sempat melanjutkan pembicaraannya Bambang melanjutkan jalan pagi dengan sedikit berlari seolah-olah tak mendengar perkataan Aletta.
"Ah ditolak ini jadinya" batin Alletta.
Tetap tenang Aletta Lo masih punya kesempatan, cayo semangat. Sebelum janur kening melengkung semua pasti bisa berubah
"Dasar baru nyadar gue punya sahabat gila. Ngejar-ngejar gue pula mana tega gue jadiin dia cewek simpanan. Bisa hancur muka dan masa depan gue" Bambang disepanjang perjalanan berbicara seperti orang gila. Ia melihat kebelakang dan tak melihat Aletta.
Mungkin gadis itu sudah sadar dengan perkataan khilafnya kali.
Padahal Aletta sedari tadi mengikuti Bambang seperti detektif yang sedang menyamar. Ia memastikan sahabat sekaligus cintanya itu pulang kerumah atau nyangkut digerombolan cewek-cewek.
Memandangi Bambang yang bergerutu kesal ia tersenyum senyum. Aletta sudah sadar plus yakin disumpah serapahi Bambang. Setelah yakin Bambang pulang kerumah iapun juga kembali kerumahnya yang letaknya sekitar lima ratus rumah.
Aletta bernyanyi ria seperti anak kecil padahal baru saja ia ditolak. Melihat ada mobil yang tak asing dimatanya ia mengerutkan dahi.
Ada apa ya kira Aletta merasa sebentar lagi ada hal buruk terjadi dalam hidupnya.
__ADS_1
"Permisi kek, ada apa kakek Wiguna disini?" tanya Aletta dengan sedikit was-was.