Playboy Pensiun

Playboy Pensiun
BAB 5


__ADS_3

"Johan ditunggu tuh sama Bambang, cepat ke sana soalnya dia marah-marah mulu. Hati-hati ya," Aletta memeragakan seakan sebentar lagi Johan akan dimakan serigala. Johan hanya tersenyum tanpa ada niat ingin membalas.


"Minta nomermu boleh, letta" pinta Johan sembari menyodorkan ponselnya.


"Tentu," Tanpa pikir panjang Aletta langsung mengetik nomernya diponsel Johan.


"Nanti pasti kuhubungi, tinggal dulu ya," Aletta hanya menganggukkan kepalanya. Johan berdiri lekas menjauh dan menuju keruangan Bambang.


****


Sementara itu Bambang merasa sebentar lagi kehidupannya akan berubah. Surga dunia yang selama ini ia rasakan akan berakhir secepatnya. Ia merasa belum siap tapi mau bagaimana. Percakapannya dengan kakek tadi pagi sudah memperjelas alasan kenapa sahabatnya kini menjadi aneh. Wanita yang terobsesi dengan dirinya.


Geli rasanya tapi mau bagaimana lagi jika sudah seperti ini otaknya menjadi buntu memikirkannya.


Bambang menatap lalu lalang jalan raya yang padat dari jendela ia memasukkan kedua tangan kesakunya sembari menyandarkan tubuhnya ke tembok.


Ketika pintu diketuk dan melihat wajah Johan sudah menduganya Johanlah oranglah.


"Hai boy, ngelamun saja," sapanya.


"Ada apa kesini?" tanpa basa basi Bambang langsung ingin tahu apa tujuan sahabat yanh sudah lama tidak berjumpa dengannya.


Johan memang tetangga Bambang, berpisah beberapa tahun mereka akhirnha dipertemukan sebagai rekan bisnis. Tak butuh lama bagi mereka langsung akrab.

__ADS_1


"Ehm ini," Johan menyerahkan selembar surat undangan yang seketika membuat Bambang tak percaya.


"Apa ini benar?" Bambang membacanya berulang-ulang lalu mencoba memastikan apa yang dibacanya benar.


"Ya mama menyuruhku mengadakan acara ulang tahun. Sebenarnya aku gak suka sudah sebesar ini dikiranya anak kecil kali ya. Mama ingin memilihkan salah satu temanku atau teman anak mama untuk jadi istriku," jelas panjang lebar Johan seketika membuat Bambang tertawa terbahak-bahak.


"Kalau mama gak mohon-mohon aku gak mau acara semacam itu. Ini salah satu bentuk bakti pada mama."


"Makanya jangan jomblo mulu, sayang wajah tampan lo mubazhir. Mending kayak gue gak tampan-tampan sangat tapi jangan salah cewek-cewek bertekuk lutut dihadapan gue," Bambang menyombongkan dirinya sembari tertawa lebar dia gak menyangka teman begitu cuek dengan cewek, padahal ia kira Johan sama-sama buaya daratnya.


"Jangan-jangan selama ini gak suka cewek, lo gay yah," Bambang menunjukkan telunjuknya kearah Johan dan pura-pura menjauh.


"Gue masih normal," teriak Johan tak terima.


"Lo pasti datangkan, ajak Aletta juga ya," seru Johan sembari mengeluarkan ponselnya.


"Kenapa gak lo undang sendiri saja?" Bambang mengeryitkan dahinya padahal baru saja ia bertemu kenapa harus dirinya yang mengajaknya.


"Soalnya kalau lo yang ngajak Letta gak pernah sanggup nolak," ucap Johan dengan santai padahal ia ingin sekali mengundang sendiri tapi dia tak yakin Aletta punya seribu jurus cara menolak undangannya.


"Sok tahu lo, Bro."


"Gue pamit pulang dulu, awas gak datang gue hajar lo," canda Johan.

__ADS_1


"Siap bos gue pasti datang, cuma gak jamin datang sama Aletta," Bambang hanya berpikir bagaimana dia bisa mengajak sahabat yang terus terang ingin bersamanya, mulai saat itu ia merasa aneh dengan sahabatnya.


Bambang merasa tenggorakannya haus ia mengambil air yang ada dimeja seketika pikirannya menyuruhnya keluar. Alangkah terkejutnya ketika dikursi sekretaris yang biasanya diisi Amira sekretarisnya justru sekarang yang ada Aletta yang duduk manis menghadap kompeternya.


"Sudah gue bilang, lo gue tolak jadi sekretaris sekarang silahkan keluar," cetus Bambang sudah tak kuasa menahan emosinya. Aletta sesaat menatap Bambang seakan tak mempedulikannya. Bambang berjalan menuju kearah Aletta.


"Lo tak dengar?" ucapan terasa mengerikan.


"Maaf tuan, yang menerima saya disini pak Hadiwiguna jadi yang berwenang memecat saya ya hanya pak Hadiwiguna," bantahan Aletta sangat membuat Bambang kesal ia hanya menggenggam tangannya erat ingin rasanya memukul kearahnya. Tapi ia masih sadar tak mau berurusan dengan cewek tangannya yang dikepal ia pukul kearah apapun yang bisa ia pukul.


"Disini bosnya gue, lo gak usah seformal ini ke gue buat gue risih," bentak Bambang yang membuat Aletta terkejut.


"Ada yang bisa saya bantu tuan!" Aletta pura-pura tak mendengar, Bambang memajukan wajahnya tinggal beberapa centi jarak mereka berdua. Hembusan nafas Bambang terasa diwajah Aletta wajahnya yang merah padam membuat Alletta memilih menjauh. Tapi sebelum itu tangan Aletta dicengkeram erat ia sama sekali tak bisa bergerak.


"Dengarnya baik-baik gue gak mau ulangi ucapan gue, lo gak usah jadi sekretaris gue atau bermimpi jadi istri gue kalau hidupmu gak mau menderita," seketika Aletta terasa sesak, butiran air mata sudah mengenang dimatanya sekuat tenaga ia ingin menahannya.


"Sekali lagi maaf saya hanya menurut jika anda pak Hadiwiguna," sekali lagi Aletta justru menantang Bambang.


"Untuk kali permisi tuan sekarang sudah waktunya istirahat," lanjut Aletta ia lebih memilih menjauh dari Bambang dan tak memedulikan sahabat yang berubah menjadi monster gara-gara hal sepele.


"Ok kali gitu jangan katakan gue Bambang jika gak bisa mengabulkan apa yang gue mau."


Bambang lekas pergi dengan menahan amarah, baru kali ini ia merasa sekesal ini pada Aletta padahal biasanya ia biasa-biasa saja bahkan cenderung tak mampu marah jika bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2