
Aletta bernyanyi ria seperti anak kecil padahal baru saja ia ditolak. Tapi tak sedikitpun ada raut-raut kecewa, mungkin ia sudah tahu sahabatnya itu pasti syok dan sulit menerima ungkapan cintanya. Melihat ada mobil yang tak asing dimatanya Aletta mengerutkan dahi.
Ada apa ya Aletta merasa sebentar lagi ada hal buruk terjadi dalam hidupnya.
"Permisi kek, ada apa kakek Wiguna disini?" tanya Aletta dengan sedikit was-was.
"Saya mau memajukan persyaratan kuharap minggu depan kamu bisa menaklukkan Bambang dan secepatnya menikah," Hadiwiguna berdiri dan berjalan mendekati Aletta
"Maksud kakek,"
'Ada apa ini, mengapa kakek Bambang ngebet banget gue nikah sama Bambang gumam Aletta'
"Hidupku tak akan lama lagi Letta, dan aku tak akan pernah nyaman meninggalkan dunia ini sebelum melihat hidup cucuku benar-benar bahagia. Aku yakin kamulah satu-satunha wanita yang bisa membuat Bambang bahagia". Kakek Hadiwiguna memegang tangan Aletta serasa memohon. Sifat kedingingannya seakan luntur hal ini yang membuat Aletta merasa tak enak hati.
"Lebih baik kita masuk kedalam dulu kek," Aletta memapah kakek Wiguna keruang tamu dan ia segera duduk disamping kakek. Banyak pertanyaan yang sekarang mengusik pikirannya.
"Ada apa kek, kakek sakit?" Aletta melihat wajah kakek Wiguna yang pucat sedangkan kakek Wiguna yang ditanya diam tak bergeming.
"Kamu mau kan menikah pada Bambang,"
Aletta hanya diam ia tak kuasa menolak permintaan laki-laki yang sudah dianggap seperti kakeknya sendiri. Apalagi kakek Wiguna telah banyak berjasa buat dirinya. Diterima bekerja di perusahaannya dan beberapa kali kakek telah membantu pengobatan Ibu Aletta Alma.
Hening tampak hening tak ada sedikit suara walaupun ini yang diharapkan Aletta tapi ini terlalu cepat.
"Aletta pasti mau pak Wiguna nikah sama Bambang, dari dulu dia cintanya cuma sama Bambang," Ibu Aletta tiba-tiba mengatakan tersebut yang membuat Aletta mendengar tak suka. Alma lalu meletakkan minuman itu dimeja lalu duduk disebelah Aletta.
"Ibu,"
"Ini pak Wiguna silahkan diminum airnya," pintu Alma yang segera dianggukkan kakek Wiguna.
"Benarkan kata ibu lagipula kamu sudah waktunya menikah," Aletta benar-benar merasa terpojokkan seakan tak ada alasan untuk menolak Bambang. Padahal cinta saja mana cukup buat pernikahan, apalagi hanya cinta sepihak.
__ADS_1
"Baiklah Aletta mau menikah sama Bambang, tapi biarkan Aletta sendiri yang mengatakan pada Bambang," akhirnya dengan penuh pertimbangan Aletta memutuskan hal tersebut, kakek dan Alma tersenyum senang ia bahagia mendengar itu. Bagi Aletta ini sudah cukup melihat mereka bahagia walaupun ia sendiri tak tahu bagaimana nanti nasib pernikahannya dan Bambang.
***
Kepala Aletta sedikit pening ia memutuskan memanggil sahabat-sahabat karibnya tak perlu waktu lama sahabatnya kini telah duduk didepan Aletta memandanginya seksama.
"Tumben diam, ada apa?" sapa Rani yang sejak kedatangan sepuluh menit lalu sahabatnya Aletta ini berubah jadi patung.
"Gue dijodohin sama Bambang dan tak ada kesempatan menolak," Aletta memanyunkan mulutnya merangkul boneka Doraemon kesayangannya.
"Selamat ya," Rani mengulurkan tangannya sembari tersenyum manis.
Aletta malah melihat dingin dan tak suka mendengar perkataan Rani.
"Selamat apanya?" tanya Aletta dengan berteriak.
"Ya lo sebentar lagi jadi istri Bambang, bukanlah lo suka sama Bmabang?"
"Ya gue suka sama Bambang, suka sekali malah, tapi gak mau dijodohin sama Bambang," Aletta tiba-tiba menangis sedangkan Rani tampak bingung dengan sahabat ajaibnya ini.
"Diakan player, barusan cinta gue saja ditolak,"
jawab terus terang Aletta.
"Terus,"
"Nanti kalau sudah nikah tiba-tiba dia selinguhin gue bagaimana?" tanya Aletta. Padahal ketika pagi ditolak Bambang ia merasa baik-baik saja. Tiba-tiba saja ada ketakutan dalam hatinya jika tak bisa merubah Bambang dan ialah yang justru akan tersakiti. Bagaimanapun juga ia juga masih sayang dengan dirinya, tak mau ia menyakiti dirinya sendiri hanya gara-gara seorang laki-laki.
"Gampang, tinggal lo minta cerai saja," tanpa berpikir panjang Rani langsung bicara seketika ia langsung menutup mulutnya, rasanya apa yang dikatakan tadi menyakiti hati sahabatnya.
"Kok lo doain sahabat sendiri cerai sih," Aletta merasa menyesal mengundang Rani sahabatnya. Bukannya menghibur justru membuatnya semakin sedih.
__ADS_1
"Maaf-maaf, terus rencanamu apa sekarang?" Rani mengambil tisu dan menghapus air mata Aletta. Inilah persahabatan walaupun kadang suka berantem tapi tak akan pernah bisa bertahan lama mereka berdua sangat dekat bak saudara kandung.
"Ya menikah sama Bambang, gak ada kesempatan untuk menolak."
"Sebenarnya gue juga gak suka lo menikah sama Bambang. Walaupun kalian berdua sama-sama heboh perbedaannya banyak bagai kutub Utara dan kutub selatan. Terus. . ." Rani tiba tiba menggantungkan perkataannya yang membuat Aletta penasaran sekaligus kesal.
"Terus apanya?"
"Dikasih maghnet biar kutub utara sama kutub selatan saling tarik menarik," kali ini Rani menjelaskan sesuatu hal yang membuat Aletta hanya bisa mengernyitkan dahi.
"Jangan membuat gue semakin bingung dengan perkataan lo, Ran."
"Tenang dong Aletta, maksudnya begini kalian berdua kan memiliki perbedaan dia player kalau kan gak pernah pacaran. Terus gue dan Lo sendiri juga tahu tipe-tipe cewek kesukaannya Bambang, jadi Lo bisa merubah penampilanmu sedikit lah," Ranj seolah-olah bahagia ia telah menemukan ide untuk membantu sahabatnya yang sedang dilanda kebingungan.
"Ogah ah gue jadi cewek-cewek yang pakai pakaian kurang bahan," Aletta merasa ide sahabatnya konyol dengan merubah diri seperti ia merasa akan menjadi orang lain bukan dirinya sendiri.
"Terus mau lo bagaimana?" Rani memilih membaringkan diri dikasur Aletta dia kecewa idenya ditolak. Dibanding merasa bingung dengang kelakuan sahabat karibnya ia memilih tidur.
"Kok tidur sih, gue minta Lo datang kesini buat kasih gue solusi," Aletta melemparkan boneka Doraemonnya ke wajah Rani.
"Ide gue sudah Lo tolak, gue ngantuk numpang tidur ya dikasurmu yang empuk ini," Aletta hanya diam saja sepertinya ia sendirilah yang harus menyelesaikan masalahnya.
***
Aletta sesekali melirik jam yang melingkar pada tangannya kebiasaan telat bangunnya belum berubah. Padahal hari ini ia bermaksud bertemu Bambang kembali mengutarakan niatnya kembali dan tentunya bisa menaklukkan pria sok ganteng itu.
Gara-gara Bambang nafsu makanku berkurang gumam Aletta. Ia masih mengingat bagaimana ibunya diruang makan terus memuji-muji Bambang laki-laki yang baik, setia dan apalah yang membuatnya mendengar itu muak.
Aletta berlari ia tak melihat kanan kiri yang ada dalam pikirannya saat ini untuk naik dilantai sepuluh dan menemui Bambang secepatnya.
Brak
__ADS_1
Aletta menabrak seseorang dan terjatuh.
"Maaf, maaf aku tak sengaja," Aletta merapikan bajunya sebelum berdiri ia bengong menatap laki-laki yang ditabraknya. Sepertinya Aletta merasa kenal dengan laki-laki itu.