POLIANDRI

POLIANDRI
Poliandri 4


__ADS_3

Sepulang sekolah hesty di ejek teman2 nya ia didorong jatuh ke tanah sampai baju seragam putih nya bernoda.


" huu dasar ya so cantik ngapain juga dekat2 kak ardi centil lu " ucap rara si tukang iri


" eh udah-udah jangan ngebully gitu " rasya menengahi teman2 nya ini


" yih siapa juga yang sok cantik centil lo kali gue mah ngak " sahut hesty masih dengan posisi terduduk sembari menatap bengis ke arah rara si tukang iri.


" ich gue tampol lu " rara mengacungkan pukulan ke arah hesty namun..


" eh apa-apaan ini main keroyok " ardi menahan tangan rara ia menatap tajam dan rara beserta teman lain nya ketakutan


"ngak ada kok kak hee, kita cabut dulu ya" ucap rara ia pun pergi melarikan diri bersama temannya mereka takut kalau ardi balik marah dan ngak suka sama mereka ntar gagal deh pdkt nya secarakan sejak kelas 1 rara sudah menyimpan rasa sama ardi.


" kenapa sih men " tanya ardi pada rasya


" oh itu si rara ngak sengaja nabrak tubuh hesty ia kan hes " ujar rasya sembari bermain mata ke arah hesty

__ADS_1


" mana ada ngak sengaja mereka tuh ya kerjaannya suka ngebully " ucap hesty ia pun bangkit berdiri dan menepuk-nepuk pakaian bernoda nya.


" udah deh ayok balik noh si rabi udah nongol pake acara pulang duluan lagi huu dasar belagu" ujar ardi ia tak suka hesty main pulang duluan untung aja ia segera mengejar hesty kalau ngak uh..ardi tau kalau hesty tadi kena bully si rara tapi yah ia tak mau ikut campur maklum saja rara masih satu kelas dengan nya sama-sama kelas 5A sedangkan hesty baru kelas 4B beda lagi dama rabi ia baru kelas 3A..


" yih lo ya boro-boro bantuin malah cuek kayak gitu yih dasar " hesty membuang kasar nafas nya ia kesal sekali dengan sikap ardi ini yah walau pun hesty kesal karna bulian tadi tapi ia makin bertambah kesal buh si ardi


" yang tadi emang apaan coba gue nolongin lo juga kan dasar ngak bersukur blee" ardi malah mengejek hesty sembari melangkahkan kakinya di kejauhan sana nampak rabi tengah berlari mendekati mereka berdua sesekali ia menaikan bahunya untuk memperbaiki tali tas yang hendak melorot maklum saja rabi membawa tas yang cukup besar berwarna biru hitam.


" yihh ardiii " teriak hesty makin sebel


" wooi kalian yah kok ningalin gue sih huf tega ya huf " ucap rabi dengan nafas tersengal tangan memegangi kedua lututnya dengan posisi membungkuk


" yih apaan sih mangka nya kalau bel udah bunyi langsung pulang inih malah asikan main, sadar dong 2 hari kedepan ngak ada yang antar kita kesekolah, yih semua ini gara-gara pak budi huh " hesty sebal dan menghentakkan kakinya ke tanah lantas berjalan cepat


" jangan nyalahin orang dong kasian tau pak budi gitu-gitu beliau baik loh " ucap ardi sembari berjalan menyajarkan diri dengan hesty dan kedua tangannya masuk dikocekan celana panjangnya.


" iya betul tu jangan nyalahin pak budi ya kasian " timpal rabi

__ADS_1


" yih kalian ya sama buuue " jawab hesty kesal ia memblekan bibirnya.


Lumayan juga jauhnya rumah ke sekolah menempuh waktu 2 jam dengan berjalan kaki di tambah cuaca yang begitu teriknya


" yih capek uhu ngak mau jalan lagi ah huu" keluh hesty jalan nya melambat sambil menampilkan ekspresi memelas dalam hatinya " andai ada yang ngegendongin huu" wajah nya lantas menunduk ke bawah ia capek sekali.


" ngeluh terus kerjaan tuh dasar huu " ardi berposisi hendak menampol hesty tapi cuman sekedar bercanda sebenarnya ia kasihan sama hesty secara si hesty ngak suka kalau bercapek-capean kek gini ia anak yang suka instan.


" sama hes gue juga capek pegal nih" jawab rabi kelelahan ia pun nampak sama seperti hesty


" huu kalian sama aja gimana coba kalau pak budi malah ngambil cuti lama bisa-bisa ngak masuk sekolah lu bedua


" yih sorry siapa juga yang ngak mau sekolah ih ini semua salah para papa juga coba ajah mereka sering pulang ke rumah " Hesty mulai sedih ia menampakkan ekspresi murung


" iya ya huuuh " ardi pun jadi murung secara ia sangat merindukan ayahnya itu


" huuh " rabi ikutan murung, mereka berjalan tanpa suara dengan perasaan sedih saat mengingat para papa tadi tak terasa mereka pun sampai di depan pagar besar tinggi rumah rabi atau kediaman feri gunawan daddy nya rabi, dengan sigap pak security membukakan pintu .

__ADS_1


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah dan langsung merebahkan diri di atas sofa empuk dengan wajah yang masih sama lemah tak bersemangat.


Next...


__ADS_2