
Harta telah membuat Liu Wei lupa jika Liu Annchi adalah darah dagingnya sendiri. Putri yang selalu ia lindungi selama delapan belas tahun lamanya. Akhirnya harus menjadi taruhan bisnis yang tengah ia jalani.
Menjadikan Poseidon sebagai alibi adalah salah satu jalan yang ia bisa ambil untuk menutupi keserakahan nya. Pagi yang indah berubah menjadi pagi yang kelam.
Bibir mungil yang biasanya selalu menyunggingkan senyuman manisnya. Kini tidak lagi menyunggingkan senyuman nya. Yang ada hanyalah rengutan yang menghiasi wajah cantik sang pemilik senyuman manis itu.
"Ibuuuu.... hiksss.... hikssss..... " menangis di dalam pelukan ibunya.
"Cuppp..... cuppp.... " Mengusap pipi putri kecilnya.
"Aku... tidak mau menikah hiksss...... " Menangis tersedu-sedu.
"Berhenti menangis dan pergi lah bersiap -siap. Tuan Arthur akan segera datang kemari " Dingin.
"Tidak mau" Bentak.
"CEPATTT"
"Pergilah bersiap-siap nak. Pakai pakaian yang bagus yah. Pakai juga parfum aroma mint Tuan Arthur menyukai nya " Ucap Liu Shuawan penuh kelembutan.
Apa yang tengah putrinya jalani saat ini ia juga pernah menjalani nya dulu. Menikah dengan orang yang tidak pernah kita cintai mungkin tidak kita sama sekali. Atau hanya pernah melihat nya di majalah koran atau di siaran TV digital. Adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan di dunia ini.
Apalagi jika harus mempertahankan rumah tangga tersebut hingga akhir hayat. Pasti akan sangat berat dan sulit rasanya. Tapi Liu Shuawan tetap melakukannya ia tidak ingin jika anak-anak yang ia lahirkan bernasib malang seperti dirinya. Hidup tanpa kasih sayang seorang ibu atau juga kasih sayang seorang ayah.
Lagi pula suaminya adalah pria yang sangat penyabar dan penyayang. Pertengkaran kemarin pagi hanyalah bumbu dalam rumah tangga mereka. Tidak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan oleh Liu Wei selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
Liu Wei dan Liu Shuawan bertemu empat puluh tahun yang lalu. Saat itu Liu Wei muda masih berusia 20 tahun dan sedang menempuh pendidikan ekonomi bisnisnya di Shanghai. Sedangkan Liu Shuawan saat itu masih berusia 5 tahun.
Flashback On
Sore itu Liu Wei terpaksa pulang ke apartemen nya dengan menumpang kendaraan umum karena mobil Lamborghini yang ia kendarai mengalami pecah ban. Dengan penuh semangat Liu Wei berjalan menuju halte bus dekat kampus tempat ia menempuh pendidikan.
Mungkin hari itu adalah hari sial nya. Belum ia mendapatkan bus yang menuju ke arah apartemen nya hujan turun dengan deras nya.
Tiga jam telah berlalu namun belum ada bus yang menuju Shanghai Centre Serviced Apartement lewat sana. Dengan terpaksa Liu Wei menunggu lebih lama karena dari awal ia sudah berniat untuk mencoba naik kendaraan umum yang satu itu. Karena selama bertahun -tahun ia hidup, ia belum pernah naik bus sama sekali
"Hikssss.... hiksssss... "
"hiksss... Maamaa.... hikssss..... "
"Maa... maaaa.... "
__ADS_1
Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan anak kecil. Lantas saja Liu Wei langsung mencari sumber suara tangisan itu. Begitu terkejutnya Liu Wei ketika melihat seorang gadis mungil yang sedang menangis dan menggigil di tengah guyuran air hujan yang dingin ditambah lagi dengan dinginnya udara malam gadis mungil itu pasti sangat menderita. Begitu pikir Liu Wei saat pertama kali melihat gadis mungil itu.
Tanpa berpikir panjang Liu Wei menghampiri gadis mungil itu membawanya berteduh di halte bus. Dengan sigap Liu Wei menyelimuti gadis mungil itu dengan jaket yang ia gunakan. Agar rasa dingin yang dirasakan gadis mungil itu berkurang.
Setelah beberapa saat berlalu Liu Wei mulai mengajak gadis itu berbicara. Begitu terkejut nya Liu Wei saat mendengar jawaban polos dari bibir mungil gadis itu.
"Siapa namamu cantik? " Tanya Liu Wei lembut.
"Liu Shuawan"
"Nama paman siapa? " Bertanya balik.
"Liu Wei"
"Marga kita sama" Tersenyum riang.
"Oh iya, Kamu kenapa malam-malam disini? Di mana rumah mu Liu muda? " Tanya Liu Wei pelan berniat mengantar gadis mungil itu pulang ke rumahnya.
Siapa tahu saja jika gadis mungil itu terpisah dari ibunya saat berbelanja atau berjalan-jalan santai tadi sore. Orang tua gadis mungil itu pasti sedang panik mencari putri mereka sekarang batin Liu Wei.
"........... " Hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Tahun lalu saat mama pergi dari rumah bersama pacar nya " Jawabnya polos.
"Jadi orang tuamu sudah berpisah? "
"ya"
"Sekarang kamu tinggal bersama siapa papa atau mama? " Tanya Liu Wei lagi dengan niat baiknya.
"Papa"
"Dimana rumah papa? Biar paman mengantar mu pulang, okay? "
"Di seberang sana" Menunjuk sebuah mansion termahal di kota Shanghai.
"Ayo paman antar"
"Tidak, aku tidak mau. Papa akan marah jika aku pulang"
"Kenapa? kenapa dia marah? seharusnya dia menyambut kehadiran putri kecilnya dengan bahagia" Ucap Liu Wei sambil tersenyum meyakinkan Liu Shuawan.
__ADS_1
"Kata papa aku bukan putrinya "
Dengan penuh keyakinan dan ketulusan hatinya Liu Wei membawa gadis mungil itu kembali kerumahnya. Liu Wei tidak pernah menyangka jika kedatangan pertamanya ke rumah keluarga Liu klan Ling akan disambut dengan sangat buruk. Terlebih lagi ketika ia membawa putri mereka bersamanya. Bagian terburuknya adalah mereka mengusir putri kecil mereka sendiri dari rumah dan tidak mengakuinya sebagai putri mereka lagi.
"Hiksss..... pamannn.... aku takut... hiksss.... " Liu Shuawan menangis di dalam pelukan Liu Wei.
"Cupp.... Cupp.... jangan menangis okay. Tuan Liu akan segera keluar dan menyambut putri nya " Mengusap kepala Liu Shuawan.
Dinggg...... Dongggg..... Dingggg..... Donggg...
Liu Wei menekan tombol lonceng mansion mewah tersebut.
"Tuan muda klan lang? Ada keperluan apa anda kemari? Apakah bisnis keluarga kalian mengalami masalah? " Seorang pria berusia tiga puluh tahunan membuka pintu utama mansion tersebut.
"Heumm... Kakak... saya kemari karena ingin mengantarkan putri anda. Saya bertemu dengan nya di halte bus secara tidak sengaja ketika saya sedang menunggu bus tadi. Karena ia masih kecil jadi saya putuskan untuk mengantarkan nya pulang " Ucap Liu Wei sopan sembari menurunkan Liu Shuawan dari gendong nya secara perlahan.
"Apa urusan mu dengan keluarga ku? " Bentak nya.
"Maaf kakak, saya tidak punya urusan apapun dengan keluarga anda. Tapi saya mempunyai niat yang baik. Saudari Liu kecil kehujanan di luar sana jadi saya membawanya kemari" Membungkuk setengah badan.
"JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN KELUARGA ORANG LAIN!!!!!PERGI KAMU DARI ISTANAKU!!!!! KAMU BOCAH SIALAN PERGI DARI RUMAHKU. MULAI HARI INI KAMU BUKAN LAGI PUTRIKU DAN AKU BUKAN LAGI AYAHMU. KAMU JUGA BUKAN ANGGOTA KELUARGA LIU LING!!! PUTRA LANG JIKA KAMU MEMANG BENAR-BENAR PEDULI KEPADA BOCAH SIALAN INI. BAWA DIA PERGI BERSAMAMU!!! DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI KE ISTANAKU!! " Bentak Tuan Liu berapi-api.
Saat itu juga Liu Wei langsung pergi dari sana dan membawa Liu Shuawan bersama nya. Walaupun ia belum tahu pasti apakah klan Lang akan menerima gadis kecil itu di keluarga mereka. Atau sama saja seperti Klan Ling yang menolak kehadiran gadis berusia lima tahun itu.
Liu Wei tidak pernah menyangka jika ayah dan ibunya akan menerima Liu Shuawan di rumah besar mereka. Liu Wei pikir kedua orang tuanya akan menolak gadis malang dari klan Ling . Selama ini kedua orang tua Liu Wei tidak pernah mau menerima titipan anak dari keluarga mereka sendiri. Keduanya selalu beralasan sibuk dan tidak ada kamar yang tersisa di mansion mereka .
Namun nyatanya kedua orang tua Liu Wei menyambut kehadiran Liu Shuawan dengan penuh kebahagian. Sudah sejak lama Tuan Liu dan Nyonya menginginkan anak perempuan hingga mereka memiliki lima orang anak laki-laki . Tapi apa boleh buat garis takdir mereka di tentukan oleh sang ilahi. Mereka tidak bisa merubah ketentuan sang ilahi.
Mereka hanya bisa memilih garis takdir kedua mereka, jika ingin memiliki anak perempuan.Garis takdir kedua mereka adalah mengadopsi anak perempuan dari marga atau klan yang berbeda dari mereka. Jika anak yang mereka adopsi berasal dari marga dan klan yang sama maka anak tersebut akan membawa kekacauan besar dalam keluarga mereka. Begitulah petuah yang disampaikan oleh pendeta yin (buddha)dan pendeta kylix (kultus).
Namun karena kesibukan bisnis yang mereka jalani. Mereka terpaksa menitipkan Liu Shuawan kepada nenek buyut mereka di Yunani, nenek Minerva.
Flashback Off
Liu Shuawan sadar jika yang dilakukan oleh suaminya memang salah. Namun semuanya dilakukan demi putri mereka. Mereka ingin putri kecil mereka memiliki pendamping yang bisa menggantikan posisi mereka berdua walaupun tidak sesempurna mereka berdua tapi setidaknya kehidupan putri mereka telah terjamin. Putri mereka tidak akan merasakan apa itu yang namanya kelaparan, kedinginan, kehujanan, ataupun kepanasan. Begitulah harapan yang digantungkan oleh Liu Shuawan.
"Aku tidak mau tahu. Pria itu sudah tua pasti akan ada banyak keriput dan kerutan di wajah nya " Tolak Annchi dengan beragam alasan.
Please Like, Comment, Share, Follow, dan Hadiah nya ya guyssss.......
See you next Part Guyssss....
__ADS_1