
Lea langsung jatuh cinta pada apartemen yang akan ditempatinya sementara waktu ini.
Apartemen itu memiliki ruang tamu mungil yang sudah terisi dengan dua sofa empuk berwarna hijau lumut, senada dengan warna dinding. Kesannya begitu damai dan nyaman. Ada TV flat yang tergantung di dinding tepat di hadapan sofa tadi, tidak jauh dari pintu masuk.
Pada bagian dalam, ada ruang makan berdampingan dapur yang dipisahkan oleh partisi model potongan kayu yang didesain secara vertikal. Kamar tidur hanya tersedia satu, tapi bagian dalamnya begitu luas untuk disebut sebagai kamar tidur dari sebuah apartemen. Seperti gabungan dari dua kamar apartemen sekaligus. Ada furnitur lemari kaca besar sebagai pemisah antara tempat tidur dan ruang kecil untuk berganti baju di depan pintu kamar mandi. Serta ada balkon luas yang menghadap keluar apartemen dari dalam kamar tersebut, bersambungan dengan balkon dari ruang tengah. Bahkan di balkon itu, tersedia lagi dua kursi teras panjang yang bisa digunakan berselonjoran untuk berjemur di bawah sinar matahari. Gedung apartemen ini jelas untuk golongan berduit.
Lea menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya yang empuk begitu selesai mengatur barang-barang bawaannya. Beberapa koper pakaian dibiarkan begitu saja di sisi ranjang karena belum sanggup memasukkan semua isinya ke dalam lemari.
Lea menatap langit-langit kamarnya. Ia mulai merasa lelah, seluruh badannya pegal-pegal semua. Sedari pagi-pagi sekali, ia sudah bergerak meninggalkan rumah orang tuanya, membawa pakaian hampir satu lemari, memenuhi tiga koper besar sekaligus. Kemudian menggunakan taksi online untuk bisa sampai ke apartemen yang letaknya di batas kota ini. Ia tak sempat pamit pada ibu ataupun ayahnya, karena keduanya masih tertidur pulas. Atau lebih tepatnya, Aleana memang tidak ingin berpamitan. Ia cuma meninggalkan sepucuk surat di atas tempat tidurnya. Isi suratnya hanya mengatakan bahwa ia sedang ingin sendiri dan tak perlu repot-repot mencarinya di mana.
Well, bisa dibilang Aleana tengah kabur dari rumah. Keputusan besar yang pertama kali diambilnya selama hidup.
“Now what?" ia seolah-olah bertanya pada langit-langit tersebut. Ia bingung harus berbuat apa selanjutnya. Tubuhnya sudah meminta istirahat sejenak, namun Lea tidak sanggup menutup mata. Lalu ia mendadak duduk kembali begitu menyadari sesuatu.
“Astaga, aku belum telepon Rachel!"
Ia lalu bangkit dari tempat tidur, dan meraih tas ranselnya dari atas kursi kecil depan meja rias. Dikeluarkannya ponselnya dan mulai menghubungi sahabatnya, Rachel Mathias.
“Yuhuuu...," sapa Rachel riang di telepon.
“Rae, sori karena aku baru sempat telepon,” Lea berbicara di telepon sambil berjalan pelan menuju balkon.
Hari sudah menjelang senja, pemandangan langit luar begitu indah. Meskipun saat ini sudah jelang musim panas, tapi udara terasa cukup dingin.
“Aku sudah tiba di apartemen siang tadi. Uh, Rae…, terima kasih banyak karena kamu sudah sangat membantuku,” Lea menatap di kejauhan. Pikirannya tidak sepenuhnya berada bersamanya saat ini. “Entah aku harus tinggal di mana setelah memutuskan pergi dari rumah… Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu."
“Hey, kamu bicara apa? Santai saja," balas Rachel, terkekeh. “By the way aku mau minta maaf, kunci apartemenku ternyata hilang. Aku baru menyadarinya semalam, hahahaha… jadi, kamu di lantai mana?”
“Paling atas... hiks," Lea pura-pura menangis. “Untung apartemen ini cuma ada 17 lantai. Yang aku khawatirkan bagaimana kalau tiba-tiba lift-nya macet? Aku selalu trauma kalau ingat kejadian itu pas di lift...".
“Tenang saja, petugas di sana sigap kok… selalu ada alarm ketika terjadi kerusakan, teknisi juga siap 24 jam. Aku jamin," Rachel menenangkan Lea. "Sepupuku orangnya perfeksionis, dia paling tidak bisa toleransi kalau ada kerusakan sedikit di gedung apartemennya. Soalnya para penyewa ‘kan juga bukan orang sembarangan, kebanyakan rekan-rekan bisnis yang ingin menikmati liburan di batas kota."
“Oke, aku percaya kok. Pokoknya aku merasa terbantu sekali saat ini, Rae."
__ADS_1
“Jadi? Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja kan?” Rachel mendadak terdengar serius.
“Hmmm, iyaahh…, " nada suara Lea terdengar kurang yakin. Gadis itu tanpa sadar menggigit bibir. “Aku… aku belum mengabari satupun anggota keluargaku. Tapi surat pengunduran kerjaku sudah masuk dari beberapa hari lalu, dan tidak ada komentar apapun dari ayahku. Entah beliau sudah tahu atau belum tahu sama sekali. Mungkin saja beliau sudah tahu. Lagipula aku sudah membuat masalah besar. Aku sudah melakukan perbuatan terbodoh dalam hidupku."
Rachel menimpali. “Dari pertama aku melihat tunanganmu, percayalah, aku sudah tidak suka. Aku juga sudah curiga akhirnya bakal seperti ini... Sudahlah, pria macam dia tak perlu dipikirkan. Kamu beruntung bisa lepas darinya sebelum ada ikatan pernikahan. Dia adalah pria tolol yang sudah memanfaatkan ketulusanmu…”.
“Bukan… Bukan dia yang aku pikirkan,” sahut Lea jengah. “Aku tidak memikirkannya sama sekali. Eh, oke –mungkin sedikit– memikirkannya... tapi aku lebih… memikirkan kedua orang tuaku. Aku harap mereka berdua bisa memaklumiku. Maksudku, entahlah... Aku tidak yakin mereka setuju dengan keputusanku," suara Lea terdengar gamang. Ia menghela nafas panjang. Pelupuk matanya mulai berair. Tenggorokannya tercekat karena mencoba menahan isaknya.
“Mereka harus setuju. Astaga, mana mungkin mereka membiarkanmu menikah dengan lelaki macam itu? Setelah dia mengkhianatimu…?” seru Rachel, bersungut-sungut di seberang sana.
Lea tersenyum tipis. “Kamu seperti tidak mengenal ayahku, Rae... Jangan lupa, pertunangan ini ide dari ayahku. Pertunangan ini tentang bisnis. Lagipula David juga memegang jabatan penting dalam perusahaan," suara Lea bergetar. Pandangannya mendadak kabur karena air mata. "Aku memang bodoh! Bodoh, bodoh, bod–..."
“Ssstt... sissy, keputusanmu untuk pergi termasuk keputusan yang berani setelah selama ini. Kau berhak menentukan jalan hidupmu sendiri. Aku mendukungmu,” hibur Rachel di seberang. “Aku ingin sekali ada di sana sekarang, mendampingimu. Cuma sudah terlanjur janji sama anak-anak mau liburan ke New Zealand…maafkan aku, ya? tapi yang perlu kamu sadari adalah kamu sudah jauh dari mereka saat ini. Tak akan ada yang berusaha menekanmu untuk sementara ini. Aku minta maaf karena tak bisa ada di sisimu sekarang.”
“No, it’s okey, Rae!" potong Lea mengelak. “Oh, God... ini saja sudah luar biasa. I’m so lucky to have you."
“Aku bukan orang lain untukmu, Lea," kata Rachel. Kemudian setelah terdiam sejenak, ia kembali menyahut: “...ck, aku lupa menghubungi Villano. Dia harus segera dihubungi jika ada teman yang menginap di apartemen pribadinya," Rachel tertawa. “Dia sudah mengklaim apartemen lantai atas miliknya semua. Jadi dia bebas kapan saja untuk masuk di kamar manapun. Tapi setahuku dia jarang ada di sana… waktunya dihabiskan sepenuhnya di perusahaannya."
Mata Lea membulat. Ia mendadak sedikit panik. “Sepupumu, Villan? J-jadi bagaimana jika dia tidak membolehkanku memakai lantai atas?" tanyanya.
Lea jadi mendadak cemas. Ia mencoba mengingat-ingat bagaimana rupa Villan, sepupu Rachel, si workaholic itu. Wajah lelaki itu sebenarnya sering muncul di majalah bisnis dan teknologi, bahkan sering jadi sampul di tabloid gosip. Sayangnya Lea tidak pernah memperhatikan.
Rachel tertawa lagi. “Nanti aku telepon om Rob. Sebenarnya dia belum resmi jadi pemilik apartemen itu, si Villano itu. Gedung itu masih di-handle oleh om Robert, kok. Cuma Villan kadang over kekuasaan, suka mengaku sebagai pemilik utama. Tapi jika om Rob sudah mengizinkan, dia bisa apa?”
“Haduh, aku tunggu kabarmu segera ya, Rae," Lea meringis. Ia tidak sanggup membayangkan dirinya suatu hari diusir dari apartemen itu dengan tidak hormat karena dianggap penyewa gelap.
“Iyap. Dan ohya, aku mau beritahu beberapa hari ke depan mungkin nomorku tidak aktif," sahut Rachel lagi. “Aku, suami dan anak-anak dalam perjalanan. Mungkin kami akan pindah-pindah tempat. Tapi segera kukabari kok jika aku sudah stay dan dapat jaringan. Kita masih bisa video call atau menelepon dengan aplikasi ponsel."
“Oke, don’t worry, I’ll be fine. Aku juga perlu menyusun rencana ke depannya. Segera."
“Jangan terlalu memaksa dirimu sendiri. Aku tak ingin kau kembali st–..."
“I will not, trust me. Selamat berlibur, sayang," potong Lea tersenyum. Matanya berkaca-kaca lagi, menyadari masih ada orang yang tulus padanya. Ia pun mengantongi ponselnya kembali begitu panggilan berakhir. Lea menarik nafas dalam-dalam. Tatapan matanya kembali terarah jauh ke depan.
__ADS_1
Suasana di sekitar apartemen itu begitu damai. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. Belum lagi pemandangannya. Dikelilingi bukit dan hutan-hutan hijau. Cantik sekali. Wajar jika apartemen ini memang tidak terbuka untuk umum. Pemandangan mahal seperti ini tak akan bisa didapatkan di sudut kota manapun. Rachel telah bersikap benar dengan menyarankan Lea untuk menyepi di sana saat ini.
Lea masih berat meninggalkan balkon ketika mendadak ponselnya berdering kembali. Mungkin Rachel lupa menyampaikan sesuatu.
"Halo?" Lea langsung menjawab panggilan teleponnya.
“Aleana, kamu di mana? Mama sudah menghubungimu berulang kali," suara ibunya, Hana Sebastian, terdengar jelas dari ponsel. Lembut namun penuh tekanan. “Apa maksud surat di atas ranjangmu itu? Mama harap kamu pulang segera. Selesaikan masalah ini. Daddy begitu emosi sekarang...!!”
Lea menggigit bibir. “Halo, mom," sahut Lea menyapa pelan. Suaranya kembali bergetar. “Eh, a-aku... saat ini sedang di luar kota. Aku putuskan, aku butuh sedikit waktu untuk berpikir tenang." Sepertinya ibunya belum tahu menahu soal pengunduran dirinya dari perusahaan.
“Tapi kamu di mana sekarang? Mama coba hubungi teman-teman kamu tapi tidak ada yang tahu kamu dimana, Lea. Mama harap kamu tidak berbuat macam-macam. Mama akan minta supir menjemputmu."
Ada sedikit ancaman yang Lea tangkap dari kata-kata bundanya. Lea tersenyum getir. Teman-teman? Sejak kapan mama tahu dan mengenal teman-temanku?, sahutnya membatin.
“Mama tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Tak ada yang mengenalku di sini. Juga tak ada wartawan dimanapun. Maaf, aku tidak bisa memberitahu posisiku ada di mana sekarang," Lea menarik nafas panjang. “Aku... tekadku sudah bulat. Lea tidak akan lanjutkan pertunangan itu."
“Lea! Kamu bicara apa?! Apa sakitmu kambuh?!” tiba-tiba suara ibunya meninggi di seberang sana.
“Mom, aku bersedia bertunangan demi bisnis ayah. Tapi aku tidak bersedia jika David orangnya, David mencintai orang lain... bukan Lea... ," Lea merasa putus asa memberi penjelasan ke ibunya.
“Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa, Lea! David sama sekali tidak ada hubungan dengan perempuan itu! Kau keliru menilai hubungan mereka karena kamu selama ini tidak pernah punya hubungan dengan lelaki manapun. Kau itu terlalu polos! David sudah bilang ke Daddy kalau kau salah paham! Kau begitu hilang otak untuk hal ini... hanya karena masalah sepele ini kau memutuskan pergi dari rumah… kekanak-kanakan!” Ada nada sindiran keras yang ditangkap Lea dari ucapan ibunya yang cukup membuatnya sakit hati. Bagi keluarganya, ia tak pernah dianggap dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri. Bahkan di usianya yang sudah menginjak 23 tahun saat ini.
Lea memejamkan matanya. Ia melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon. “Mom, keputusan Lea sudah bulat."
“Aleandra sayang, mama mohon... Cobalah pakai akal sehatmu… apa kau telaten meminum obat? Mungkin kau sudah berhalusinasi yang tidak-tidak…” ibunya mencoba membujuk lagi.
Lea menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah-olah saat ini ia tengah berhadapan dengan ibunya langsung, bukan sedang berbicara melalui telepon.
“Lea tidak akan pernah menarik keputusan Lea. Jangan paksa Lea untuk hidup seperti mama. Lea tidak mau menikah dengan lelaki yang cinta sama perempuan lain. Sudah cukup buat aku, mom,” sahut Lea serak. Ia berusaha menahan tangisnya agar tidak meledak saat itu juga. Ia sama sekali tidak ingin mengatakan hal itu kepada ibunya. Ia tahu bahwa ibunya akan sangat sakit hati bila mendengar ucapannya barusan. Namun ibunya yang memaksa Lea untuk mengucapkannya. Kapan ibunya bisa mengerti posisinya?
“Aleandra!!” seru ibunya di telepon. “Kau... kau betul-betul menyakiti perasaan mama. Kau tidak menghargai pengorbanan mama untuk keluarga kita! Untuk hidupmu!” setelah itu mendadak panggilan terputus. Ibunya sudah menutup teleponnya.
Lea lalu melemparkan tubuhnya di tempat tidur kembali. Menenggelamkan wajahnya di bantal dalam-dalam. Bahunya terguncang. Suara isak tangisnya memenuhi kamar apartemennya.
__ADS_1
\=\=ooOoo\=\=