
PART OF LEA
(Pic from google. Artis Turkey "Hande Erçel")
Beberapa jam setelah tangisnya mereda, Lea terdiam menatap langit-langit kamarnya kembali. Pikirannya kosong. Sampai detik ini ia terus-terusan menyesali kata-kata yang ia lontarkan pada ibunya. Seharusnya tadi ia bertahan. Ia tahu ibunya sangat mencintai ayahnya, dan akan melakukan segala permintaan ayahnya, dengan harapan ayahnya kelak bisa balas mencintai ibunya.
Usia pernikahan kedua orang tuanya sudah hampir 26 tahun. Namun hingga detik ini, sepertinya sang ayah tetap tak memiliki rasa cinta pada sosok yang telah melahirkan Lea.
Dan harapan ibunya akan kembali menjadi sia-sia. Lea tidak bisa memenuhi permintaannya untuk menikah dengan lelaki yang telah memiliki wanita lain.
Lea mungkin masih bisa menerima jika lelaki itu tidak mencintainya. Tapi tidak dengan hati yang telah diisi sosok wanita lain. Lea tak punya kepercayaan diri dan tak yakin bisa bertahan seperti ibunya. Lagipula Lea sendiri harus berempati dengan wanita tersebut. Bagaimana jika sebaliknya Lea yang berada di posisinya? lelaki yang ia cintai dan juga mencintainya, ternyata harus menikahi perempuan lain yang bukan dirinya?
Sedari dulu sejak mengerti artinya 'mencintai seseorang', Lea bertekad akan menikah dengan pria yang mencintainya. Tak masalah jika ia dijodohkan, asal pria itu tak memiliki wanita lain di hatinya. Ia tidak mau menjalani kehidupan pernikahan seperti yang dialami ibunya. Tetap menerima ayahnya meskipun ayahnya sempat meninggalkan ibunya dan berselingkuh dengan wanita lain, lalu menikah dan memiliki anak dari selingkuhannya itu. Padahal saat itu, Hana (ibu Lea) juga tengah hamilkan Lea.
Karena itu, awalnya dia menyetujui bertunangan dengan David Larsons. Ia mengenal David sebagai salah satu manajer di perusahaan ayahnya sekaligus atasannya di kantor. Sikap David juga awalnya baik sekali padanya. Terlihat begitu menyayangi Lea. Lea pun jadi sedikit menyimpan rasa suka terhadapnya. Tapi kemudian menjadi hancur ketika pada suatu hari dia mendapati David tengah berciuman mesra dengan seorang perempuan yang dikenalnya sebagai salah satu bawahan David di kantor, sekaligus sahabat dekat lelaki itu.
Lambat laun, Lea pun mendapat informasi kalau sebenarnya David dan perempuan itu sudah menjalin hubungan, jauh sebelum Lea bertunangan dengannya.
Aleana menghela nafas panjang. Harinya begitu berat, entah sampai kapan ia harus mengalaminya. Masalah ini sepertinya akan berbuntut panjang dan Lea tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Suara jarum jam dinding membuyarkan lamunannya. Lea lalu melirik ke arah jam tersebut. Sudah pukul sembilan malam. Lea memutuskan untuk bangkit berjalan menuju kamar mandi.
"Aku tidak boleh begini terus. Aku harus segera mencari jalan untuk menyelesaikan semua ini," katanya berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Ia menyiapkan peralatan mandinya. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan berendam nyaman dalam air hangat berselimutkan busa sabun wangi khas moringa yang disukainya.
Setelah agak lama berendam, ia pun keluar dari kamar mandi dengan perasaan segar. Sempat bingung akan memakai piyama yang mana, lalu tiba-tiba sehelai pakaian jatuh dari dalam lemari ketika ia tengah mencari-cari.
Lea menggigit bibir. Pakaian yang jatuh itu adalah gaun lingerie yang beberapa bulan lalu dihadiahkan oleh salah seorang teman wanitanya di kantor. Lingerie itu berwarna hitam, dengan potongan dada tidak begitu rendah namun tetap akan terlihat seksi saat dikenakan. Pinggirannya dihiasi renda pita-pita sebagai pemanis. Lea langsung merasa cocok dengan gaun itu. Lingerie tersebut dihadiahkan oleh salah seorang rekan kerjanya saat hari pertunangannya dengan David. Beberapa khayalan nakal sempat terpikirkan kala itu sebelum pada akhirnya pupus dengan tragis.
Lea lagi-lagi menghela nafas. Sadar kalau dirinya tak akan pernah memiliki kenangan manis dengan lingerie itu.
Pakai ini saja, lalu nanti pakai bedcover biar tidak kedinginan, pikir Lea polos. Ia lalu segera menggunakan lingerie-nya. Rasanya nyaman ketika gaun berbahan silk itu meluncur, menyelimuti tubuh telanjangnya. Tak sabar rasanya ingin segera kembali ke tempat tidur. Namun mendadak Lea teringat lagi akan sesuatu.
Lea lalu beranjak menuju tempat tidur dan meraih tas ransel mungilnya dari atas bufet samping ranjangnya. Dikeluarkannya botol obat dari dalam tas itu.
__ADS_1
"Huft, untung aku tak lupa bawa obat ini...," desisnya lega melihat botol obat tidur dalam genggamannya.
Lea yakin insomnia-nya akan kambuh lagi malam ini. Terlebih lagi segudang penyesalan menerpanya setelah berkata tidak sopan pada ibunya. Hal yang tak pernah dilakukannya selama ini.
"Dosisnya aku tambah... khusus malam ini saja. Aku tidak mau terbangun karena mimpi buruk," ia mengoceh sendiri sebelum menelan beberapa pil obatnya.
Tak lama kemudian, setelah membereskan pakaian yang tadi dipakainya serta menjemur jubah mandinya di gantungan handuk, Lea mematikan lampu remang-remang di bufet sisi ranjang lalu jatuh tertidur dengan damai. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa malam itu ia akan mengalami kejadian tak terduga yang mengubah seluruh hidupnya.
***Aleana***
.
.
.
.
PART OF VILLAN
Tubuh Villan gemetar karena sekuat tenaga menghalau hasrat yang begitu besar dalam pikirannya. Kepalanya sangat pening, namun ia masih kuat untuk melangkah.
"Ah, betul-betul perempuan itu. Kalau obat ini masih berefek hingga esok, aku akan buat perhitungan dengannya!"
Villan memasuki apartemennya yang gelap dan sunyi. Yang terdengar hanya dengung lembut AC dari dalam kamar. Mungkin sengaja dinyalakan untuknya.
Pelan-pelan ia melangkah ke dapur dan membuka kulkas untuk minum beberapa teguk air putih agar bisa sedikit pulih. Tadinya ia ingin mandi air hangat namun kepalanya terasa begitu berat, seolah-olah meminta agar ia segera berbaring. Ia memutuskan untuk mencuci muka saja di wastafel dapur.
Villan pun lalu masuk ke dalam kamar tidur. Ia melepas seluruh pakaiannya. Jas dan kemeja putihnya dilempar serampangan begitu saja di lantai. Ia lalu membuka pantalonnya hingga tubuhnya tak tertutupi kain sehelai pun.
Villan menghirup aroma segar yang menyerbak entah dari mana di dalam kamar. Wangi itu malah makin memancing otaknya berpikiran liar. Membuatnya makin gerah walau AC kamar telah dinyalakan sebelumnya. Ia lalu terkekeh aneh melihat ketegangan yang begitu besar di tubuh bawahnya. Kemudian kembali bersumpah serapah penuh emosi. Tanpa ragu-ragu lagi, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.
Villan tiba-tiba terkesiap ketika hendak masuk ke dalam bedcover. Ia mendadak menyadari ada kulit hangat yang menyambutnya dari dalam sana. Ada tubuh lain yang tengah berbaring di atas tempat tidur dan tengah menggunakan selimutnya.
Villan bergidik tanpa sadar. Buru-buru dia menyalakan lampu tidur di meja bufet dan serta merta menarik bedcover-nya. Nafasnya langsung tertahan demi mendapati sosok yang tengah tertidur pulas di balik selimutnya.
__ADS_1
"What the f**king hell!!," teriaknya gusar. "Siapa... astaga?!"
Villan memicingkan mata agar bisa dengan jelas melihat sosok perempuan yang tertidur itu. Gadis itu benar-benar tertidur dengan pulas tanpa menyadari sosok Villan di sampingnya yang tengah duduk memandangnya dengan seksama, dengan pupil mata yang melebar.
Villan menelan ludah. Kali ini debar jantungnya seperti mendesak ingin keluar dari wadahnya. Ia bertambah sesak. Ia memandang rambut panjang gadis itu yang halus tergerai manis di atas bantal.
Apa warna rambut gadis itu? Maroon, cokelat emas, atau burgundy? Tidak jelas warnanya... Sial, kenapa aku malah memusingi hal itu? batin Villan panik. Ia tertawa seakan-akan sudah gila. Tubuh bawahnya mulai berdenyut dan makin menuntut. Menyakitkan.
Villan terhenyak ketika menyadari gadis itu hanya menggunakan gaun tipis berwarna hitam yang transparan. Menggambarkan dengan jelas seluruh lekuk-lekuk tubuhnya. Seluruh khayalan erotis langsung memenuhi otak kecil Villan. Padahal selama ini ia cukup berhasil bertahan dan mengesampingkan keinginannya yang satu itu.
Villan lalu pelan-pelan membungkuk, mencoba mengenali wajah gadis itu, memandangnya lebih intens. Namun ia yakin sekali, ia tidak pernah melihat atau bahkan mengenal gadis itu.
Samar-samar ucapan Roan terngiang kembali di telinganya: "...semoga kamu suka dengan hadiahnya...".
Brengsek! Apa ini hadiah yang Roan maksud tadi? Dia berani bertindak kurang ajar begini setelah kejadian tadi?! Padahal dia paling tahu aku paling benci hal seperti ini! Apa dia sebegitu putus asanya ingin lepas dari predikat media gosip sebagai sahabat 'intim'-ku? pikir Villan. Antara emosi dan geli mengingat Roan. Pemuda itu tetap mencoba bertahan dengan segala akal sehat yang tersisa.
Villan akhirnya berhasil mengetahui darimana aroma segar itu berasal. Ternyata dari perempuan yang tengah tertidur pulas ini. Aroma itu terus lanjut menghipnotis pikiran Villan hingga tanpa sadar wajahnya kian mendekat untuk mengamati.
Perempuan itu mendadak bergerak lebih dekat ke arah Villan. Tubuhnya gemetar kedinginan karena selimut telah diturunkan Villan sebelumnya. Villan juga menyadari kalau kelopak mata gadis itu agak bengkak seperti sudah menangis dalam waktu yang lama.
Brengsek kau, Roan! Kau memang ingin melibatkanku dalam masalah! Villan terus menyumpah-nyumpah dalam hati. Tadi Helen tidak berhasil menjebaknya, dan sekarang gadis ini..., Villan memejamkan matanya seraya bergerak menjauh.
Villan membuka mata ketika ia mendengar suara isak tangis pelan. Gadis itu menangis dalam tidurnya. Villan lalu menjadi terenyuh. Gadis itu begitu mungil, begitu ringkih... Apa gadis itu dipaksa melakukan hal ini? Berapa besar bayaran yang sudah diterimanya?
Tanpa sadar, jari Villan terangkat untuk mengusap bibir mungil gadis itu. Lembut. Entah kekuatan dari mana ia lalu terdorong untuk mengecupnya. Satu kali kecupan, isak gadis itu lalu berhenti perlahan.
DHUARRRR...!!!
Villan seperti mendengar ledakan besar di kepalanya, membuatnya tak lagi berpikir jernih. Ia menyerah dengan hasrat tubuhnya yang memuncak. Villan mabuk akan wangi tubuh gadis itu. Akal sehatnya sudah tak bersamanya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah kenyataan bahwa gadis itu memang sengaja disiapkan untuknya. Semacam pelayanan khusus untuk sebuah kesenangan. Ia tidak sanggup berpikir apa-apa lagi. Ia menyerah.
Tubuh Villan beranjak mendekat perlahan. Semakin dekat. Semakin dekat...
(source: twitter "bedroom")
\=\=ooOoo\=\=
__ADS_1