Prahara Hati

Prahara Hati
SIAPA PEREMPUAN ITU?


__ADS_3

Part of Villan


Beberapa jam sebelumnya dalam kamar tidur Aleandra, Villan yang tengah terlelap mendadak terbangun ketika mendengar alarm ponsel berdering lembut dari meja bufet sisi tempat tidurnya. Ia meraba dan berhasil meraih ponsel tersebut yang terus berdering dan mematikan alarmnya.


“Jam 5 pagi…? Ugh, siapa yang pasang alarm sialan ini? tidurku belum cukup," gerutunya. Ia masih terkantuk-kantuk ketika menyadari bentuk ponsel yang dipegangnya berbeda dengan miliknya. “Punya siapa ini?" desisnya heran. Ia letakkan kembali ponsel tersebut di atas bufet seraya mengacak-acak rambutnya. Pening.


Lelaki itu menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal dan kaku.


Dan lagi-lagi ia terkesiap ketika tanpa sengaja menyentuh tubuh hangat yang terbaring di sampingnya. Villan langsung bangun duduk dengan kaget. Dikucek-kuceknya matanya agar pandangannya jauh lebih jelas. Lalu berbalik ke samping kirinya. Kantuknya mendadak lenyap.


"Dammit!!" desis Villan kaget. Ia langsung menyadari tubuhnya sendiri yang tidak memakai pakaian sehelai pun. Pakaiannya sudah teronggok begitu saja di atas lantai, yang ia ingat semalam ia lempar serampangan. Tubuh di sampingnya pun hanya mengenakan lingerie tipis yang sebenarnya juga tidak sepenuhnya mampu menutupi seluruhnya. Villan terus menyumpah-nyumpah. Tak habis pikir kenapa dia yang tak mau berurusan dengan wanita, mengalami hal semacam ini. Villan mengusap wajahnya sendiri, dan lanjut semakin mengacak-acak rambutnya dengan kesal. “Apa yang sudah aku lakukan?!”


Sekali lagi ia menoleh tak percaya ke sosok di sampingnya yang tertidur begitu lelap. Mata Villan membulat, menyadari dengan canggung ketika melihat lebam-lebam di leher dan bagian dada atas gadis itu. Itu bekas kegilaannya semalam. Jantung Villan berdebar, menyadari ketegangan yang muncul kembali di tubuh bawahnya.


“Roan, kau sudah libatkan aku terlalu jauh dalam permainanmu! Awas saja kau nanti!"


Villan memutuskan untuk segera pergi dari kamar tersebut sebelum gadis itu terbangun dan menuntut meminta pertanggung jawabannya. Menjebaknya dengan hal-hal yang tak masuk akal. Ia harus segera menyusun rencana menghadapinya. Ini bukan perkara sepele.


Villan tidak mampu tidur kembali setibanya di kamarnya apartemennya yang lain. Dia terus-terusan bergerak gelisah di atas tempat tidurnya.


Lama kemudian ia akhirnya memutuskan untuk mandi. Perasaannya pun lumayan menjadi segar setelahnya. Namun pikirannya belum bisa lepas akan sosok gadis itu. Ia mencoba berpikir dengan tenang. Mungkin semalam ia terlalu gegabah mengambil kesimpulan.


Kenapa gadis asing itu bisa berada di apartemenku? Meskipun dia anggota keluarga, tapi dia pasti meneleponku untuk meminta izinku? Lagipula dia siapa? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya... Masa’ iya dia kenalan Roan? Apa Roan berani bertindak sejauh ini hanya untuk mencoba membuatku tertarik pada perempuan? Bahkan jika memang Roan ada campur tangan di balik kejadian semalam, dia tetap tidak memiliki akses untuk memasukkan perempuan asing di apartemen lantai ini. Aku harus menanyakan ini pada Sandi. Brengsek!


Villan menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk. Sesekali dilirik ponselnya siapa tahu ada pesan masuk. Ia sudah mencoba menghubungi Roan tapi tidak berhasil. Ponselnya tak aktif. Seperti sudah diatur sebelumnya. Benar-benar permainan kotor.


Tak lama kemudian, ponselnya berkedip-kedip. Villan buru-buru meraihnya dan melihat yang muncul di layar hp-nya adalah pengingat jadwal hari ini: barbeqyu lunch.


“Sial, hari ini ayah juga kemari untuk jamuan makan siang!", gerutunya. "Suatu kebetulan yang sempurna. Apa lagi yang mau terjadi sekarang?"


Kepalanya jadi sakit memikirkan masalah barunya. Ia sangat tidak menyukai perempuan. Bagi Villan, perempuan itu sama saja artinya dengan pembawa masalah. Mereka suka menempel kemana-mana, bertingkah manja seperti anak kecil, dan hobinya hanya menghabiskan uang.

__ADS_1


Villan juga meyakini bahwa tiap perempuan yang mendekatinya hanya ingin menikmati kekayaan atau ketenarannya. Tidak ada yang tulus. Kecuali ibunya… kematian ibundanya pun disebabkan karena seorang perempuan dan Villan sama sekali tidak bisa menoleransi hal itu. Kejadian itu membuatnya trauma. Kehilangan ibunya membuat separuh hidupnya juga seakan-akan lenyap.


Mendadak ponselnya berdering lagi. Buru-buru Villan menjawab tanpa melihat nama yang muncul di layar.


"Halo!" sapanya dengan suara tegasnya seperti biasa. Namun mendadak ia menghembuskan nafas sebal dan ekspresi mukanya menjadi kecut lagi. Ia sudah menyadari siapa yang meneleponnya. Monita..., sahutnya dalam hati gusar.


“Ahh... Halo, Villan,” Monita menyahut di seberang dengan suara yang diserak-serakkan. Entah mungkin dia mengira suaranya terdengar seksi dengan bertingkah begitu, padahal Villan seperti mendengar radio rusak.


“Maaf aku menelepon, apa kamu ada… kegiatan hari ini?”


“Kenapa?”


“Aku mau minta tolong… salah seorang teman berulang tahun, dan dia mengadakan pesta di hotel… apa dirimu bisa mendampingiku ke pestanya?”


Kenapa kau yakin sekali aku akan setuju, Mon? Villan ingin sekali berkata seperti itu pada Monita. Namun dia berusaha untuk tetap sopan menghadapi gadis itu. Setidaknya itu yang pernah diajarkan kepada ibunya.


“Tolong jangan hubungi aku jika bukan soal kerjaan di kantor, Mon,” jawab Villan dingin.


“Mon, maaf ada telepon masuk,” potong Villan lalu mematikan ponselnya tanpa menunggu tanggapan Monita. Tidak ada gunanya memperpanjang pembicaraan dengan gadis itu. Monita hanya mencari-cari alasan untuk bisa menghubunginya.


“Ini semua gara-gara Roan memberi nomor ponsel pribadiku! Kenapa bukan nomor Jhon saja yang dia beri?” Villan berjalan membuka lemari, mencari pakaian yang tersimpan yang bisa dipakainya untuk acara makan siang sebentar.


Ponselnya bordering lagi. Dan Villan jadi kehilangan kesabaran ketika melihat nama ‘MONSTERNITA’ muncul di layarnya. Kepalanya pening. Dengan kasar ia menekan tombol reject lalu memilih untuk menonaktifkan handphone-nya.  Kepalanya sakit karena merasa waktu tidurnya kurang. Ditambah lagi dengan perihal gadis yang belum ketahuan siapa.


“Aaarrghhhh! F**k off! Dasar perempuan pengganggu!" makinya seraya mengacak-acak pakaiannya di dalam lemari dengan kesal.


Beberapa saat kemudian, Villan sementara berpakaian. Ia tengah menatap dirinya di cermin, mematut penampilannya yang tak ada cela, meski raut wajahnya tak bersahabat. Ia bersiap-siap keluar untuk mendampingi ayahnya melayani kolega bisnisnya di perjamuan barbekyu. Ia sama sekali tidak dalam keadaan goodmood. Villan menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk menata perasaan dan pikirannya.


Villan lalu membuka pintu kamarnya dan jantungnya seakan hendak melompat melihat sosok gadis yang semalam bersamanya berdiri di depan kamarnya. Gadis itu memandangnya, juga ikut terkejut.


__ADS_1


Sudah kuduga, bukan? Dia pasti langsung mencariku. Dia mau menjebakku dengan kejadian semalam, pikir Villan dingin. Coba saja kalau berani…


“Mau apa?” hardik Villan.


Gadis itu tersentak mendengar pertanyaannya, ia terlihat kebingungan menjawab, “A eh… b-baju kaos ini jatuh depan pintu jadi…”


Villan mengernyit heran ketika melihat kaos putihnya dipegang gadis itu erat-erat depan dadanya. Astaga, itu kaos dalamku. Pasti terjatuh tadi waktu aku buru-buru masuk kamar… tapi kenapa dia mendekap kaosku seperti itu? Apa itu isyarat? Apa dia diam-diam mengancam?


Villan menarik kaosnya kasar hingga terlepas dari pegangan gadis itu. Ditatapnya gadis itu kembali dengan curiga. “Apa lagi? Aku tak tertarik dengan apapun yang kau jajakan!” katanya gusar.


Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan sorot mata sedikit ketakutan. Villan mendengus lalu membanting pintunya hingga menutup.


“Berani sekali dia mendatangiku!” seru Villan penuh emosi dari balik pintu. Ia membanting baju kaos dalamnya ke lantai dengan emosi. Belum pernah ia bersikap kekanak-kanakan begini. Apalagi hanya karena seorang perempuan tak jelas begitu. Hilang sudah usahanya untuk tetap bersikap sopan dan menghargai wanita.


Ia mengeluarkan ponselnya kembali dari dalam kantong celana panjangnya. Ia mengaktifkannya karena hendak menghubungi Roan. Namun belum sempat ia menelepon Roan, ponselnya sudah lebih dulu berdering dan nama Sandi Alger muncul pada layar.


Villan menarik nafas panjang, mencoba stabilkan emosinya. “Ya, halo, Sandi?”


Sandi meneleponnya untuk memberitahu bahwa ayahnya sudah tiba dan sudah menunggunya di pesta kebun belakang. Villan mengatakan bahwa ia akan turun sebentar lagi.


“Dan, ohya… aku juga akan menanyakan hal penting padamu. Nanti saja kalau kita ketemu” katanya sebelum mematikan ponselnya dan bergegas keluar dari kamarnya. Belum pernah ia merasa segeram ini. Seorang wanita muda berani mempermainkannya!


***Villan***


.


.


(gambar : Burak Deniz as Villano.)


mohon support, vote dan comment-nya ya... 🥺🥰

__ADS_1


__ADS_2