
PART OF VILLAN
(gambar: Burak Deniz as Villano Millers)
Beberapa jam sebelumnya di tempat lain. Adalah seorang Villano Tristan Millers tengah berjalan keluar dari ruangan kantornya, diikuti oleh seorang ajudan pribadinya. Langkahnya tegap, sesekali mengangguk kepada pegawai yang menyapa dengan segan saat melewatinya. Beberapa harus menghindarinya karena tak mau berhadapan dengannya. Sosoknya terkenal angkuh, sinis dan kejam.
"Hey, you!" sahabat sekaligus rekan kerjanya di kantor, Roan Abrory, muncul saat ia hendak berbelok, dan menghentikan langkahnya. "Temani aku ke klub malam ini, oke?" Roan menepuk bahunya perlahan seraya mengedipkan matanya nakal.
Villan menggelengkan kepalanya tegas. Ia terus berjalan tanpa melirik Roan yang berusaha mengimbangi langkahnya. "Tidak. Aku harus pulang segera. Aku mau ke apartemen batas kota. Besok ada jamuan makan siang bersama kolega perusahaan di sana. Kondisiku harus prima."
Roan menelengkan kepalanya, menatap Villan dengan pandangan: kamu menyebalkan.
"Oh, come on buddy... Sebentar saja... lagipula besok weekend. Aku kebetulan sudah janji akan mengenalkanmu dengan seorang teman," Roan mencoba membujuk lagi. "Teman yang cantik dan super seksi," bisiknya dengan ekspresi menggoda. "Jika kau suka, aku akan mengundangnya datang ke pesta bujangku nanti."
Villan tidak berkata apa-apa. Ia terus saja melangkah tanpa memedulikan Roan. Tapi Roan tidak putus asa, dia sangat mengenal sahabatnya yang meskipun sikapnya acuh namun tidak akan pernah mengabaikannya.
Lalu Villan mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap ke Roan. "Stop mengenalkanku dengan teman-teman perempuanmu, Roan," kata Villan, tanpa senyum. Sorot matanya menatap Roan dingin. "Sudah cukup. Mereka tidak berguna dan sudah sangat mengganggu privasiku. Lebih baik kau kenalkan dengan bos yang lain saja."
Roan tersenyum menyeringai. "Oke oke, ini gadis yang terakhir. Berhubung aku sudah terlanjur janji. Pokoknya kamu harus ikut aku malam ini", bujuk Roan lagi. Padahal ini permintaan ayahmu sendiri, Villan, sambung Roan kecut dalam hati.
Ayah Villan meminta bantuan Roan untuk mengenalkan putranya dengan perempuan yang bisa memikat hatinya. Villan sudah terlalu lama menyendiri tanpa pendamping. Terutama semenjak kematian ibunya. Menurut ayahnya, itu tidak bagus untuk kehidupan putra semata wayangnya, calon pemimpin perusahaan Millers Group. Villan membiarkan dirinya jauh larut dalam kesibukan bekerja dan tak pernah memikirkan untuk menjalin hubungan sama sekali. Sementara media gosip terus berlomba-lomba memberitakan yang tidak-tidak tentang kehidupan asmaranya, bahkan terakhir mengenai penyimpangan seksualnya karena selalu terlihat bersama teman lelakinya.
Villan kembali berjalan hingga tiba di depan halaman kantor. Seorang petugas parkir memberikan kunci mobilnya yang sudah tersedia di tempat drop off depan kantor. Jhon, ajudan pribadinya, maju meraih kunci mobil tersebut lalu membukakan pintu mobil untuk Villan.
"Oke, kita ke klub. Tapi tak lama," kata Villan, menyerah dan memutuskan menerima tawaran Roan.
"Ayay, capt!" seru Roan tersenyum riang, senang karena Villan akhirnya bersedia ikut dengannya. Ia lalu ikut masuk ke dalam mobil Mercedes-Benz milik Villan.
***Villan***
Musik di klub malam itu terdengar kencang dan mengusik telinga. Seorang DJ dengan lincah mengeksplorasi nada-nada musiknya, membuat para pelanggannya tetap asik bergoyang di bawah lampu disko bersama-sama.
Di dalam ruangan khusus tamu VIP, Roan dan Villan tengah duduk sambil menikmati jamuan minuman yang Roan pesan sebelumnya. Di sebelah Roan, juga duduk dua orang wanita yang mencoba mengajak ngobrol keduanya dengan tatapan-tatapan genit.
"Minumannya tambah, man?" tanya Roan seraya mengangkat gelas minuman kosong milik Villan yang tengah duduk santai di sofa. Masih dengan wajah kaku tanpa ekspresi.
Villan menggelengkan kepalanya dengan bosan. Lewat sudut matanya, ia memandang sengit pada Roan yang membuat Roan malah tergelak. Dua perempuan yang duduk tidak jauh darinya juga terkikik seraya melemparkan ekspresi menggoda.
Villan membuang muka dengan ekspresi pura-pura mengantuk. Ia agak jengah dengan gadis yang duduk di sisinya yang sedari tadi mencoba merapat ke tubuhnya. Pakaian yang dikenakannya begitu terbuka dan minim membuat Villan berpikir: apa gadis itu tidak sedikitpun kedinginan?
"Come on, Villan... Kita bersenang-senang sedikit. Jangan pikirkan yang lain dulu," sahut Roan seraya menoleh ke teman wanitanya. "Bagaimana, cantik? Kamu setuju?". Yang ditanya malah mendesah penuh hasrat.
Villan melirik arlojinya yang menunjukkan hampir jam 11 malam. Ia sedikit merasa pening.
"Antar aku pulang, Jhon," lalu seakan-akan perintahnya tidak ingin dibantah, ia langsung berdiri dan bergerak melangkah menuju pintu. Jhon dengan sigap membukakan pintu untuknya. Roan sedikit menggerutu namun tetap mengikuti kemauan sahabatnya.
"Honey... Kamu belum lama di sini, untuk apa pulang cepat?" gadis yang tadi duduk di sisi Villan dengan berani berdiri menghalangi langkahnya. Tangannya diletakkan di bahu Villan, mencoba mengusap-usapnya dengan lembut. Gadis itu terkejut ketika Villan langsung menepis tangannya dan menatapnya tajam.
"Apa yang kamu campur dengan minumanku tadi?" tanya Villan dingin. Gadis itu mendadak mundur mendengar ucapannya.
"A? eh aku... aku tidak mencampur apa-apa?" elaknya agak panik dan menoleh ke Roan seakan-akan meminta bantuan.
__ADS_1
"Kepalaku pusing, sialan..." gumam Villan dengan gigi bergemeretak. Ucapannya terdengar pelan tapi terdengar mengancam. Tatapannya begitu menusuk ke perempuan di depannya membuat gadis itu berdiri gemetaran. Gadis itu serta merta menoleh ke Roan kembali mencari pembelaan. Tapi Roan pun bahkan memandangnya dengan curiga.
"Kamu mencampur minuman sahabatku dengan sesuatu, Helen?" Roan bertanya dengan nada tak percaya.
Villan mendecak sebal. Kepalanya mulai agak pening, dan tubuhnya sedikit terasa panas dan bereaksi aneh. "Roan, ayo pulang, sebelum aku bikin kacau di tempat ini," ia mencoba bertahan untuk berdiri tegak. Jangan sampai ia pingsan di tempat ini. Media gosip akan melahapnya habis-habisan.
"Helen, aku bertanya!" Roan mendadak melepas lengannya yang dipeluk oleh teman wanitanya. Ia lalu berdiri menghadapi Helen yang berdiri gentar. "Apa mau ku cek di cctv?"
"A-eh... Bukan apa-apa, hanya ramuan a-aphrodisiac... itupun cuma sedikit saja," elak Helen. Lalu ia menatap Villan dengan sebal. "Tapi aku melakukannya karena kau terlalu kaku!" Helen balas menyindir dengan pongah. Wajah cantiknya begitu emosi.
Roan geleng-geleng kepala mendengarnya. Ia lalu menoleh ke Villan dan sedikit cemas melihat lelaki itu berdiri tegang, mencoba bertahan untuk tidak berseru marah ke Helen.
"Oh, okey fine... Kita pulang," buru-buru Roan berdiri, mencoba menyelamatkan situasi sebelum memburuk. "Aku akan ikut mengantarmu, Villan. Kemana tadi? Apartemen yang di pinggir kota itu? Ayo, aku akan mengantarmu..."
Villan tidak menyahut. Ia lalu melangkah -berusaha tetap tegak- dengan gusar dan keluar dari ruangan remang-remang itu. Jhon membukakan pintu untuknya. Roan menghela nafas, sempat melayangkan tatapan kecewa pada Helen, sebelum akhirnya mengejar sahabatnya.
***
"Dasar perempuan gila," keluh Roan. Ia tengah duduk di sisi Villan, mengantar sahabatnya ke tempat tujuan. "Sori Villan, aku tidak menyangka Helen bisa berbuat sejauh itu. Dia memang sangat menyukaimu, dan sudah lama memintaku untuk mengenalkanmu padanya. Tapi aku tak percaya dia akan melakukan hal semacam itu. Reputasinya cukup baik selama ini."
Villan masih tidak menyahut. Matanya terpejam namun Roan tahu ia tidak sedang tertidur.
"Kau baik-baik saja? Apa perlu kita ke klinik terdekat?" tanya Roan lagi, merasa bersalah.
"Tidak perlu," Villan akhirnya bersuara, dan membuka matanya. "Aku hanya butuh istirahat," sahutnya sekenanya. Ia merasa tubuhnya panas dingin dan agak sesak di dalam. Mungkin ia harus menyiram kepalanya dengan air hangat jika sudah tiba di apartemen nantinya.
Brengsek perempuan itu!, Villan mengutuk dalam hati. Ia tidak mau mengeluh kepada Roan karena tidak mau sahabatnya merasa tambah bersalah. Ramuan apa tadi? Aphro...disiac? Apa sih yang ada di pikirannya?
"Tapi sebenarnya ada apa dengan dirimu? Dari tadi mukamu suntuk sekali sejak keluar kantor," lanjut Roan mengeluarkan uneg-unegnya setelah mereka terdiam cukup lama.
"Monita mencoba untuk mendekati ayahku..."
"Oh, Monita sekretarisnya Mr. Harryson Rumeen?" tanya Roan dengan ekspresi tidak percaya.
"Aku tak pernah tahu ada Monita yang lain!" Villan menggeram, tak sabar.
"Loh? Bukannya dia tergila-gila padamu? Kenapa... dia malah mendekati om Rob...?"
"Makanya dia mendekati ayahku dengan tujuan agar dia bisa juga mendekatiku, damned! Dia pikir dia bisa jadi pasanganku jika ayahku setuju padanya!" kata Villan mulai emosi. Ia benar-benar terdengar gusar. "Gadis itu benar-benar sudah kelewatan. Tidak, bukan cuma dia. Tapi Monita yang paling kelewat batas!"
Roan terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Oh, come on Villan... Menurutku, kamu sangat beruntung bisa disukai gadis cantik yang jadi idola di kantor kita. Si Monita itu...", lanjutnya dengan serius. "...kalian pasangan serasi. Semua orang di kantor mengidolakan kalian. Aku yakin om Rob juga setuju. Stop bersikap kaku. Kamu mau membujang sampai kapan? Aku bosan dituduh gay karena selalu ada di sisimu, dasar bujang lapuk!".
Villan tersenyum tipis, lalu tertawa jahat tiba-tiba. "...Sampai-sampai pernikahanmu harus tertunda gara-gara gosip murahan itu," bicaranya mulai ngawur.
"Persetan! Undangan akan aku sebar beberapa bulan ke depan, kawan. Gosip itu akan segera terpatahkan," Roan juga ikut tertawa. Lalu kemudian mendadak serius lagi ketika bertanya: "...tapi itu bukan jawaban pertanyaanku, bro! Ayolah, sampai kapan kamu mau begini menjauh dari kaum hawa? Kamu benar-benar mau 'belok'?"
"Jangan campuri urusan pribadiku!" sahut Villan, kembali ke sikap dinginnya.
Roan mendengus seraya tersenyum tipis mendengarnya. Ia memandang keluar jendela.
Suasana mulai gelap karena lampu penerang jalan sudah tidak sebanyak di jalan sebelumnya. Kendaraan yang lalu lalang juga mulai berkurang begitu Jhon dengan cekatan mengemudikan Mercedes Benz-nya melewati batas kota.
"Monita itu... beda dengan perempuan lain yang pernah kukenalkan padamu, Villan," sahut Roan lagi, melirik sekilas ke sahabatnya yang juga sedang memandang keluar jendela. "Dia sangat memujamu. Dia... juga perempuan yang cocok dijadikan calon istri. Terpelajar. Dari keluarga terpandang. Jago masak. Suka sama anak-anak. Maksudku, dia tidak hanya sekedar menyukaimu... Dia berusaha membuktikan bahwa ia sepadan dengan seorang Villano Millers... aku sering mendengar Mr. Rumeen memuji kecakapannya dalam bekerja. Dia tidak hanya sekedar berparas cantik... tapi punya otak."
__ADS_1
Villan tidak menanggapi selain mendengus. Pandangannya tetap terarah keluar jendela. Keadaan tubuhnya makin tidak bagus, perasaannya juga tidak karuan. Baru kali ini ia merasa seperti itu (Ya, karena sebelumnya dia tak pernah meminum ramuan apapun hanya untuk sekedar meningkatkan libidonya). Dia mencoba untuk tidak bersikap aneh. Rahangnya mengeras karena begitu kuatnya berusaha bertahan. Rasanya seperti... seluruh darah tengah berkumpul di kepalanya. Jantungnya mulai berdebar kencang. Seluruh panca indranya mendadak jadi lebih sensitif. Bahkan wangi cologne Roan, yang tercium samar-samar, terasa memabukkan. Villan seperti ingin berteriak, meledakkan seluruh keinginan dari kepalanya.
"Jhon, kemudikan mobilnya lebih cepat!!" pinta Villan kemudian. Otaknya mulai dipenuhi fantasi liar.
Tak lama mereka akhirnya tiba di gedung apartemen. Mereka disambut hangat oleh Sandi Alger, sang manajer. "Selamat datang, tuan Millers muda. Anda tidak memberi kabar hendak kemari?" sapa Sandi. Tampak khawatir melihat Villan, dengan wajah memerah dan berkeringat dingin, jalan sempoyongan di sisi Roan. "Anda baik-baik saja?"
Villan menolak dipapah oleh Jhon. Ia memilih menumpangkan lengannya pada sahabatnya. Roan memapah Villan yang mulai agak kesulitan berdiri tegak.
"Besok kabarnya ada jamuan makan siang di tempat ini. Jadi dia memutuskan untuk menginap di sini," jelas Roan.
Sandi hendak bergerak membantu memapah ketika Villan menyahut dengan suara tertahan. "...mana kunci utama? Aku lupa bawa kunci... kamarku." Villan mengulurkan tangan kanannya, meminta kunci.
Sandi buru-buru mengeluarkan kunci berbentuk kartu magnetic dari dalam laci tersembunyi pada meja panjang lobi. Namun tiba-tiba teringat akan sesuatu, yang membuatnya sedikit ragu menyerahkan kunci utama.
"Ohya, tuan muda Millers... apa anda sudah dihubungi Mrs. Mathias, sepupu anda? Salah seorang teman wanitanya menginap di lantai..."
Villan mengibaskan tangannya, meraih kunci di tangan manajer apartemennya dengan segera. "Ya ya ya..., Mr. Alger...", lalu dengan langkah terhuyung-huyung, ia dibantu Roan berjalan menuju lift.
Sandi memandang pimpinannya dengan pandangan khawatir namun tak mampu berbuat banyak. Baru kali ini ia melihat lelaki muda itu sempoyongan seperti itu.
Roan bernafas lega setibanya mereka di lift karena Villan memilih bersandar di sisi dinding dalam, menjauh darinya. Digerak-gerakkannya lengannya yang pegal setelah memapah Villan barusan.
"Badanmu tambah berat saja", keluh Roan.
"Ini terakhir kali kamu ajak aku ke diskotik", dengus Villan. Ia mengusap keringat dingin di dahinya. "Dan ini juga terakhir kali kau mengenalkanku dengan wanita manapun, Roan. Do you hear me, hah?? TE-RAK-HIR KA-LI!" katanya penuh penekanan seraya menunjuk-nunjuk bahu Roan, membuat pemuda itu meringis sedikit kesakitan.
Pintu lift membuka, tak lama kemudian. Roan dengan sigap kembali memapah Villan menuju kamarnya. Villan, dengan keengganan yang aneh, melepas Roan di depan pintu kamarnya.
"Ngh... kamu... tak sekalian menginap? Ini sudah larut malam..." wajah Villan merona seperti orang mabuk berat dan nafasnya agak terengah-engah.
Roan bergidik. Antara geli dan merasa aneh melihat tingkah sahabatnya seperti itu. "Tidak, aku pulang saja. Bisa-bisa terjadi sesuatu kalau aku menginap...," selorohnya lalu tertawa. Tapi dia berhenti tertawa demi memandang Villan yang balas menatapnya dengan tatapan nakal. Tangan Villan tiba-tiba terangkat dan memegang pipi Roan, mengusapnya lembut.
Roan menepis tangan Villan dengan jijik. "F**k! Kamu sudah bosan hidup, ya? Sial!" serunya gusar. "Astaga, kamu harus segera siram kepalamu, man! Dasar Helena, aku akan menuntutnya jika besok kau masih aneh seperti ini," Roan terus bersumpah serapah.
Villan memberi seringai menggoda. "Aneh bagaimana? tak tertarik untuk mencoba dulu?"
"DEMI TUHAN!" Roan melangkah mundur cepat dengan kesal. Dia sempat menoleh cemas pada Jhon yang berdiri tak jauh dari mereka, merasa risih dengan kejadian itu. "Kamu tidak sadar dengan ucapanmu, Villan... Aku mau pulang dulu. Astaga, untung tidak ada satupun pengunjung lain yang mengikuti kita sampai ke sini... huft... bisa-bisa gosip itu dibenarkan. Tunanganku bisa melarikan diri dariku."
Villan tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Akal sehatnya sepertinya sudah mulai menguap dari kepalanya. Jhon pun ikut khawatir melihat Villan, namun lelaki berusia kepala tiga itu berusaha tetap bersikap professional dengan tidak ikut mencampuri urusan majikannya jika tidak dipinta dan jika tidak berada dalam bahaya. Villan hanya terlihat sedikit mabuk. Sudah pasti efek dari minuman tadi.
"Baiklah... Jhon akan mengantarmu pulang," sahut Villan kemudian, tersenyum manis. Lalu tertawa lagi. Tawanya begitu keras membuat dinding ikut bergetar memantulkan tawanya. Lelaki itu menggesek kunci kartunya dan pintu kamar apartemennya pun membuka. Ia terus tertawa terbahak-bahak karena merasa berhasil menggoda Roan.
Roan melangkah mundur menuju lift, disusul Jhon di belakangnya setelah memastikan majikannya masuk dalam kamar dengan aman.
Lalu Roan mendadak teringat sesuatu. "Villan, eh, aku titip hadiahmu ya! Semoga kamu suka... Anggap saja itu permintaan maaf dariku wakili Helen!" serunya, tiba-tiba memberitahu sesuatu.
Pintu lift perlahan menutup.
Villan keluar kembali ke pintu apartemennya karena mendengar seruan Roan. Ia mengernyitkan keningnya, bingung.
"Hadiah apa?" balasnya teriak. Pintu lift sudah menutup sebelum Roan sempat memberi jawaban.
Villan menghembuskan nafas berat, merasa lelah yang amat sangat. Ia melangkah masuk ke dalam apartemennya dengan perlahan. Jantungnya terus berdebar kencang. Pikiran liarnya makin menjadi-jadi. Ia bersumpah serapah ketika menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Dasar, perempuan gila!" raungnya.
\=\=ooOoo\=\=