Princes Vampire

Princes Vampire
#Ketakutan


__ADS_3

"Dimana.. dimana ini?". Gumam Veronika seraya membuka mata perlahan dan mendapati kegelapan di sekelilingnya.


"Kenapa gelap sekali.. padahal aku sudah membuka mata lebar-lebar..".


"Gelap.. apa ada orang di sini? seseorang tolong nyalakan lilin..". Teriaknya seraya meraba pijakannya dan berusaha berdiri.


"Hello.. Lena.. Lucy.. apa kau mendengarku".


"Ada apa ini.. kenapa gelap sekali.. aku tidak tau harus melangkah kemana..". Gumamnya.


"Seseorang.. apa ada seseorang di sini.." Lanjutnya berteriak.


"Kakak.. Lena.. Lucy.. dimana kalian..".


Veronika melangkah perlahan tanpa arah dalam kegelapan, tiba-tiba dari kejauhan, seberkas cahaya terang terlihat dalam kegelapan yang menyelimuti Veronika.


Tanpa pikir panjang, Veronika melangkahkan kaki menuju cahaya itu tanpa tau apa yang menunggunya di sana. Dari kejahuan Veronika menatap samar-samar cahaya itu dan mendapati seseorang yang tengah duduk santai seraya mamegang lilin di tangannya.


"Siapa.. siapa di sana.. Brian? apa itu kau..". Ucap Veronika penasaran seraya menduga.


"Siapa kau.. dan di.. dimana ini..". Lanjutnya lagi seraya mendekat pada orang itu yang sedari tadi terdiam.


Veronika berdiri tepat di hadapan orang itu, berharap orang itu akan membantunya keluar dari situasi yang dialaminya. Sedikit takut, Veronika memberanikan diri mendekati orang itu yang terlihat sedikit menyeramkan.


"Heii.. aku tanya siapa kau.. dan dimana ini, apa kau bisu..". Ucap Veronika yang mulai kesal karena orang itu sama sekali tak menaggapinya.


"Apa begini sikap mu sebagai tuan puteri.." Sahut orang itu ketus dengan menatap sinis pada Veronika.


Deg...


Veronika terkejut akan jawaban yang di lontarkan orang aneh itu, ia mulai merasa ada yang aneh akan tempat ini, perlahan Veronika berjalan mundur dari hadapan orang itu seraya membalas tatapan sinisnya yang seolah akan menerkamnya.


"Mengapa kau menjauh.. bukankah kau ingin tau diman ini..". Ucapnya seraya beranjak dari kursinya dan perlahan mendekat pada Veronika.

__ADS_1


"Akk.. ti.. tidak perlu..". Ucap Veronika terbata seraya memegang telinganya yang mulai terasa sakit.


"Hmm.. apa kau kesakitan..". Balasnya seraya menelapas kedua tangan Veronika dari kedua telinganya.


"Ti.. akkkk..". Ringis Veronika seraya memejamkan mata dan berusaha menahan sakit.


"Kau akan lebih baik setelah aku menghisap darahmu ini.. tuan putri ku..". Balasnya yang kian mendekat seraya tangannya perlahan menyentuh leher jenjang Veronika.


"Tidak.. menjauh dariku..". Bentak Veronika terkejut seraya mendorong orang itu sekuat tenaga karena merasakan hawa dingin dari tangan orang itu.


"Orang ini.. bagaiman bisa tangannya sedingin es..". Batin Veronika heran seraya berjalan mundur ingin menghindar.


"Atau kau lebih memilih untuk menghisap darahku..". Balasnya seraya menyodorkan tangan kanannya ke hadapan Veronika.


"Tidak.. singkirkan tangan kotormu dariku..". Bentak Veronika lagi seraya menepis tangan orang itu seraya berjalan mundur tanpa arah dalam kegelapan.


"Apa kau masih ingin lari dari takdirmu..". Ucap orang itu yang Veronika terkejut dan menghentikan langkahnya.


"Aku? aku adalah hidupmu..". Balasnya bangga dengan senyum liciknya seraya perlahan mendekat pada Veronika.


"Apa.. apa maksudmu..". Ucap Veronika terbata.


Orang itu berdiri tepat di hadapan Veronika dan perlahan menyentuh lengan veronika kemudian perlahan naik menyentuh leher Veronika yang membuatnya tergiur. Veronika terdiam kaku, ia serasa terhipnotis dan tak bisa menggerakkan badannya. Dilihatnya, Orang itu mulai memperlihatkan taring dari sele-sela bibirnya dan perlahan mendekat pada leher Veronika.


Terkejut, Veronika berusaha melawan, dalam diamnya ia berteriak, mulutnya serasa bungkam tak bisa bergerak begitu pun dengan lidahnya yang terasa kaku. Taring orang itu kian mendekat pada leher Veronika. Sekali lagi Veronika berusaha melawan dengan rasa sakit yang masih terasa di bagian telinganya.


"Akkk.. vampire.. dia seorang vampire.. aku tidak ingin mati di sini.. seseorang.. tolong aku.. menjauh darikuuu..". Batin Veronika berteriak seraya memejamkan mata karena mulai merasakan nafas dari orang itu yang kian menerpa kulit lehernya.


"Menjauh dariku.. tidakkk kumuhon jangan gigit akuuu..". Lanjutnya berteriak sambil mengepalkan tangan dan memejamkan mata.


*


*

__ADS_1


"Tidakkk..". Teriak Veronika seraya duduk dari baringnya yang mengagetkan Lucy dan Lena.


"Tuan putri.. anda sudah sadar.. apa ada yang sakit..". Ucap Lena panik yang menghampiri Veronika dan di ikuti Lucy di sampingnya.


"Aku.. huf.. huf.. vampire.. dia..". Ucap veronika panik seraya mengatur nafas dan merabah lehernya merasa darahnya telah di hisap vampire itu.


"Tuan puteri anda baik saja kan.. apa telinga anda masih sakit..". Tanya Lucy yang sebelumnya menyadari ringisan dari Veronika.


Dari luar pintu, Rames dan Brian tengah berbicara mengenai kesehatan Veronika dengan tabib istana kepercayaan raja yang tak lain adalah tabib Lancer.


"Apa kalian tak melihat seseorang di sini.. vampire.. vampire.. aku yakin dia vampire.. dia menunjukkan taringnya ke leherku.. dia ingin mengigitku..". Ucap Veronika yang masih panik seraya mengamati ruangan yang terasa sedikit asing baginya.


"Tuan putri anda tenang dulu.. tenang.. jangan pikirkan hal lain.. tak ada vampire di sini.. anda hanya bermimpi buruk saja..". Ucap Lena seraya mendekap Veronika berusaha menenangkannya dan di bantu Lucy yang menggenggam erat ke dua tangan Veronika yang sedikit gemetar.


"Tapi.. tadi dia sungguh akan menghisap darahku..". Balasnya yang masih takut seraya membalas dekapan Lena dengan erat.


"Tuan puteri.. tenang.. kami di sini bersama anda.. anda akan baik-baik saja..". Balas Lucy menghibur.


"Jangan tinggalkan aku.. aku takut..". Ucap Veronika yang masih gemetar ketakutan.


Krek..


Pintu terbuka, sosok Brian dan Rames mendekat dengan sedikit panik.


"Vero.. kau sudah sadar.. apa kau baik-baik saja..". Tanya Rames saat setelah duduk di bidang datar empuknya seraya tangannya membelai lembut rambut putrinya.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


__ADS_2