Princes Vampire

Princes Vampire
#Sakit hati


__ADS_3

Perasaan Veronika kian tak karuan, apalah daya cintanya selama ini jikalau orang yang ia harapkan harus bersanding dengan saudarinya sendiri. Tak bisa ia bayangkan dirinya jika hal itu sampai terjadi.


Veronika sungguh tak terima, bagaimana bisa Brian di paksa menikahi Zheranika. Yang sebenarnya Veronika yakin bahwa Brian juga pasti menaruh hati padanya.


“Ayah!!” ucap Brian yang mencoba membujuk.


“Sudahlah Brian, ayah tau kau menaruh hati pada Zheranika saat kau masuk istana pertama kali, kau memang orang yang lebih pantas bertanding dengannya!!” jelas Ayahnya lagi seolah mengingatkan Brian bahwa ia menyukai Zheranika.


Masih di depan pintu, Veronika tertegun mencerna apa yang baru saja ia dengar. Jelas terdengar di telinganya bahwa Brian menaruh hati pada Zheranika dan bukan dirinya.


“Kau menaruh hati pada Zheranika! Menaruh hati pada Zheranika!” ucapan itu seakan bergema dalam pikiran Veronika.


Sakit hati jelas menyerbunya seolah mencabik perasaan yang selama ini ia pendam. Ekspresinya berubah seketika, yang tadinya berusaha tampak kuat sekarang seolah ingin roboh.


Tampak Lena dan Lucy yang juga terkejut saat setelah mendengar ucapan itu. Dan tentu saja yang menjadi khawatirnya adalah tuan putri yang berada di depannya yang tampak tak bisa mengontrol diri.


“Brian, keputusanku sudah bulat, kau harus bisa menikah dengan Zheranika” desakan ayahnya lagi yang membuat Brian hanya terdiam tak membantah, seolah mengatakan bahwa Zheranika memang pujaan hatinya selama ini.


“Ayah, sejak kapan kau” sahut Brian yang tampak terkejut karena memang benar bahwa ia menyukai wanita sepeti Zheranika yang banyak di idamkan bangsawan di luar sana.


Mendengar ucapan dari mulut Brian yang tak membantah perkataan itu lagi, Veronika sungguh merasa hancur. Tegapnya mulai goyah, tampak Lena dan Lucy seolah merasakan apa yang di pendam Veronika.

__ADS_1


Wajah kesal mulai terpampang di wajah Lena, ia meraih lengan Veronika dan berusaha Veronika bahwa ia harus kuat.


“Tuan putri, haruskah kita kembali saja!!” bisik Lena yang ingin mengawalnya kembali karena tau bahwa Veronika pasti terguncang akan apa yang baru saja ia dengar.


Perasaan bagai langit runtuh berusaha Veronika tahan, dengan nafas dalam ia membuat dirinya tampak stabil, ia hanya menggelengkan kepala menolak ucapan Lena, ingin ia bertemu dengan Brian sebelum kembali karena nantinya belum tentu ia ingin bertemu lagi.


Roby juga mulai tak bisa berbuat apa-apa, takut dirinya jadi serba salah jika membuka pintu secara langsung yang memotong pembicaraan dua sosok tangguh dalam ruangan itu.


Tapi melihat Veronika yang berusaha menahan diri membuatnya tak ingin menunggu lama. Ia tahu bahwa Veronika menyukai tuan muda yang selama ini menjadi atasannya. Hanya saja mendengar obralan dari dalam ruangan itu membuatnya menduga bahwa Veronika merasa sakit hati dan terguncang sekarang.


Dengan sedikit gugup, Roby memberanikan diri mengetuk pintu, seraya menyahut memberi kode kehadirannya.


“Maaf mengganggu tuan muda, tuan putri Veronika datang berkunjung!” sahutnya sopan memberitahu yang membuat kedua orang dalam ruangan itu diam terkejut dan saling menatap heran.


Dengan perasaan gundah Veronika berusaha menjaga image anggunnya, yang sebenarnya menyembunyikan kekecewaan besar dalam hatinya, bahkan wajah pucatnya tak bisa ia sembunyikan.


Sambil menarik nafas dalam, Veronika melangkah memasuki ruangan saat setelah Roby membuka lebar-lebar pintu yang tertutup rapat sebelumnya. Mata melekat memandangnya, di dapatinya sosok Brian yang menghampiri dengan ayahnya yang tampak tak berselera dengan wajah masam menyambut tuan putri yang satu ini.


Brian melirik Ayahnya seolah memberi kode, di harapnya Veronika tak mendengar apa yang baru saja mereka obrolkan.


Dengan senyum paksa Veronika menyambut sapaan Brian. Ia menghampiri ayah kebanggaan Brian dengan memberi hormat akan kedatangannya. Wajahnya kian tampak pucat yang berusaha menahan gejolak perasaan yang bercampur aduk.

__ADS_1


“Selamat sore tuan Albert!!” ucapan sopan yang keluar dari sela bibir kaku Veronika dengan tertunduk dalam memberi hormat.


“Sore.. Kalau begitu kalian mengobrol saja, aku masih ada urusan” sahut Albert yang tak lain adalah ayahanda dari Brian yang tak ingin berada dalam satu ruangan dengan tuan putri yang terkenal arogan ini.


“Brian, kita lanjutkan pembicaraan di lain waktu!!” lanjutnya sebelum beranjak dari tempatnya kemudian menghilang di balik pintu besar tempat Roby dan dua pelayan Veronika berdiri.


Suasana hening seketika, ingin sekali Veronika menyembur Brian dengan luapan perasaan kesal dan amarah yang tengah bercampur dalam dirinya, tapi tak ingin ia menjadi pusat gosip di kediaman yang terkenal dermawan ini, walau kedatangannya memang selalu jadi pusat perhatian.


“Heiii, apa yang membawamu kemari!!” sahut Brian akhirnya yang sedari tadi terdiam mencari topik pembicaraan.


“Aku hanya berkunjung, waktu itu aku belum sempat berbicara denganmu sebelum kau kembali!!” ucap Veronika yang juga berusaha tersenyum pahit.


“Kau tidak perlu berlebihan seperti ini, bukankah lebih baik kau mengirim surat perintah saja agar aku bisa menemuimu di istana, seperti yang selalu kau lakukan saat kita kecil dulu!!” ucap Brian santai yang kian membahas masa lalu seraya menyodorkan secangkir teh hangat pada Veronika yang tampak pucat di salah satu sofa.


“Apa kau baik-baik saja, wajahmu terlihat pucat Vero!!” lanjutnya seraya mendaratkan punggung tangan kanannya pada dahi bidang Veronika dengan tatapan polosnya.


Sontak Veronika terkejut hebat, saat seperti ini masih saja Brian berlaku baik padanya yang membuatnya tak bisa membuat keputusan, yang sebenarnya sedih di depan mata.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2