
Tiga hari telah berlalu, Veronika sudah merasa lebih baik. Sejak terakhir kali ia bertemu sosok Vampire yang masih melekat dalam pikirannya, membuatnya penasaran akan ucapan yang sempat membuat dirinya bimbang.
Hari itu juga Veronika telah bertanya mengenai hal itu pada sang raja. Tapi sampai sekarang raja tak memberi jawaban yang logis bahkan ia tampak sedang menjauh dari pembahasan itu.
Kehidupan normal istana pun juga kian membaik, walau sepertinya Veronika merasa aneh dengan dirinya yang terakhir kali mengalami insiden yang tak terduga.
Belakangan ini ia sering merasa haus. Air yang selalu di minumnya bahkan belum bisa menghilangkan dahaganya yang kian memuncak. Kalau bukan obat yang sering di minumnya mungkin ia juga akan menyelam ke lautan. Dirinya seolah tak bisa ia kontrol, setiap malam matanya mulai berdenyut hebat yang mengganggunya dari lelapnya dunia mimpi.
Setiap malam pula ia masih bermimpi hal-hal buruk. Walau sosok Vampire itu tak pernah kembali ke kamar Veronika, tapi sepertinya ia telah menjadi beban pikiran bagi Veronika sendiri.
Belakang ini ia juga sering merasa khawatir. Pikirnya situasi sekarang layaknya tenang sebelum badai menyambar.
Ayahnya juga selalu sibuk dengan Zheranika yang entah membahas apa. Bahkan pengumuman perjodohan Zheranika harus di undur karena masalah yang harus lebih dulu di selesaikan pihak istana.
Beberapa hari ini pula, Veronika mulai bosan berdiam diri di dalam kastel raja. Sore ini ia berniat mengunjungi Brian di kediamannya. Mengingat Brian datang waktu itu dan belum sempat menyapa atau mengobrol dengannya.
Seperti biasa Veronika di ikuti Lena dan Lucy.
Mereka menuju ke diaman bangsawan Brian, dengan maksud mencari suasana yang lebih baik daripada berdiam diri di kastel istana yang hanya menatap dari balik jendela kemakmuran negeri Victoria yang damai membentang hingga ke barat.
Tiba di kediaman Brian, di sambutlah Veronika degan wajah masam, seolah penghuni kediaman itu tak menginginkan kedatangan tuan putri arogan ini.
__ADS_1
Salah satu pelayan kediaman itu menyambut Veronika dengan hormat yang tak lain adalah pelayan setia dari Brian. Bahkan Veronika juga sudah akrab dengannya, yang selalu di sapa dengan sebutan Roby.
“Tuan putri, anda kemari kenapa tak mengabari dulu, saya bisa menyambut anda lebih baik dari ini!!” sapa Roby yang menghampiri Veronika dengan banyak tatapan tertuju padanya.
“Tak apa, aku hanya mampir melihat kalian!!” balas Veronika pula yang membuat alasan.
“Baiklah, ikuti hamba tuan putri saya akan mengajak anda bertemu tuan muda Brian!!” ucapnya mempersilahkan seraya menuntun jalan Veronika.
Denga senyum kecilnya, Veronika membalas ucapan Roby dengan anggukan pelan. Ia berusaha tak peduli akan tatapan masam yang masih tertuju padanya.
Selama ini juga begitu, tak banyak yang menyukai dirinya, bahkan terkadang tak ada yang menyambutnya dengan sopan jika berkunjung ke kediaman bangsawan keluarga Brian yang terkenal dermawan.
Di kediaman ini, Brian memiliki dua saudara lelaki dan satu saudari perempuan yang sangat di sayanginya. Saudara pertamanya sudah menikah tiga tahun lalu. Dan saudara keduanya sibuk dengan bisnis bunganya, saudara Brian yang kedua ini memang suka sesuatu yang indah terutama bunga.
Dari salah satu sudut jendela, tampak para gadis berkerumun menatap sosok Veronika yang masih berjalan dengan anggun. Salah satu dari gadis itu tak lain adalah adik perempuan kesayangan Brian, yang lebih akrab di sapa Felisha.
“Dia datang!! Apa tidak ada gadis lain selain dia yang akrab dengan kakakku, aku tidak setuju jika nantinya dia bersama kakak!!” ucapnya yang seolah tak senang akan kehadiran Veronika.
Kembali lagi dengan Veronika yang masih lekat menatap sekelilingnya, mengingat waktu kecil ia biasa bermain dengan Brian di taman sudut-sudut tempat itu. Wajah datar yang berusaha di tunjukkannya tak bisa menahan senyum tipis yang terlukis di bibirnya jikalau mengingat masa lalu.
Dari belakang, Lena dan Lucy seolah tahu apa yang di pirkan tuan putrinya itu. Perasaan Veronika seolah terpancar di wajahnya yang anggun, tampak ia berseri yang sepertinya sudah tak sabar ingin bertemu sang pujaan hati.
__ADS_1
Langkah demi langkah telah berlalu, tibalah Veronika pada salah satu ruangan yang dimaksud Roby tentang keberadaan Brian. Veronika mempersiapkan diri bertemu sosok yang di nantinya dengan senyumnya yang siap menyapa.
“Ayah, apa aku harus menikah dengan Zhera!!” bentak Brian yang tak terima jika ayahnya menjodohkan ia dengan Zheranika.
“Brian, kau memang harus menikah dengan Zheranika.. Aku sudah menulis namamu dalam daftar calon menantu raja” sahut Ayahnya yang juga kain memaksa.
Berbuka sontak terkejut setelah mendengar ucapan samar-samar itu dari balik pintu, yang membuat ia menghentikan langkahnya yang juga kian penasaran, mengapa ayah Brian mendesak ingin menjodohkannya dengan Zheranika, saudarinya.
“Ayah, bagaimana bisa kau begitu egois!!” balas Brian yang terdengar tak terima akan ucapan ayahnya itu dengan nada yang tampak pasrah, karena tahu bahwa keputusan ayahnya tak mungkin di ganggu-gugat lagi.
“Aku egois, bukannya kamu!! Aku sudah menjelaskannya padamu, seharusnya kau harus mengerti Brian, ini demi kebaikan mu dan keluarga kita, kau harusnya ingat hanya kau harapanku saat ini!!” balas ayahnya lagi yang sedang mendesak Brian seolah memohon agar Brian setuju.
Dari depan pintu sosok Veronika sedang menyimak pembicaraan, bukan dia saja melainkan orang yang juga bersamanya. Penasaran sudah pasti, terkejut apalagi.
Perasaannya mulai campur aduk, tubuhnya seolah membeku hatinya bagai tertusuk berlatih. Bukan karena patah hati, tapi desakan yang baru saja ia dengar yang di tujukan untuk Brian.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.