
"Tuan putri.. tuan putri bangun!!". Seru sesorang dari samping yang membangungkan Veronika dengan menepuk pelan kedua sisi bahunya.
Tak ada respon sama sekali, Veronika masih terlelap dalam tidurnya. Wajahnya nampak pucat, keringat bahkan mulai mengenang di sela kulit wajahnya, efek dari obat yang sebelumnya ia minum. Karena Kahawatir, sekali lagi Lucy bermaksud membangunkan Veronika.
"Tuan putri.. bangun.. hari mulai gelap.. anda pasti lapar.. tuan putri.. apa anda baik-baik saja!!". Seru Lucy seraya di bantu Lena dari samping yang tengah melap keringat dari wajah pucat Veronika.
"Aaaaakk..". Teriak Veronika yang langsung membuka mata lebar-lebar.
Pandangannya nampak samar, matanya seolah berdenyut, telinganya mulai bergeming mendengar banyak pembicaraan, di ikuti nafas yang mulai memburu. Veronika berusaha menetralkan diri, ia memejamkan mata seraya mengatur nafas dalam-dalam.
Perlahan Veronika membuka mata, di pandangnya Lena dan Lucy yang nampak melotot terkejut menatap padanya dalam diam.
"Heii.. kalian kenapa?". Tanyanya seraya duduk dari baringnya yang masih berusaha menetralkan diri.
Lena dan Lucy masih terkejut kemudian saling menatap keheranan.
"Tidak.. tidak ada tuan putri". Ucap Lucy sedikit kaku.
"Malam mulai tiba.. apa tuan putri tidak lapar". Tanya Lena mengingatkan yang mengubah topik pembicaraan.
"Haih.. aku memang sedikit lapar". Ucapnya manja.
"Kalau begitu anda tunggu sebentar di sini.. saya akan ke dapur!!" Ucap Lena yang mulai bangkit dari duduknya seraya melangkah menuju pintu.
"Tuan putri, saya juga ingin membantu Lena.. tuan putri istirahatlah sebentar..". Ucap Lucy pula yang sepertinya ingin menghindar dari Veronika.
"Haihh.. baiklah". Ucapnya pasrah yang sedikit heran.
Sosok Lucy mulai menghilang dari balik pintu, ia hendak mengejar Lena yang masih terlihat berjalan menyusuri lorong istana.
"Lena..". Panggil Lucy yang membuat Lena membalikkan badan menatapnya.
__ADS_1
"Kau.. apa yang kau lakukan.. kenapa meninggalkan tuan putri!!". Ucap Lena yang terkejut akan kehadiran Lucy.
"Tenang saja.. aku bermaksud membantu mu!!". Jelasnya.
"Tapi.. apa kau melihat mata merah tuan putri tadi..". Lanjutnya yang masih tak percaya pada apa yang ia lihat sebelumnya yang membuatnya sempat terkejut.
"Eehh.. jadi aku tidak salah lihat? ku pikir aku berhalusinasi..". Ucap Lena yang juga terkejut.
"Mata merah tuan putri tadi?". Tanyanya heran.
"Husstt.. aku tidak tau!!". Balas Lucy.
"Tapi.. bukankah mata merah milik seorang vampire?". Ucap Lena menduga yang mulai menatap serius pada Lucy seolah menakutinya.
"Vampire? apa kau pernah bertemu vampir sebelumnya..". Tanya Lucy yang solah tak percaya akan ucapan yang baru saja di lontarkan Lena yang membuatnya sedikit tertegung.
"Aku sih tidak perna bertemu vampir, tapi semua orang kan tau mata merah itu menandakan seorang vampire!!". Seru Lena yakin seraya berjalan beriringan menyusuri lorong bermaksud mengambil makanan untuk Veronika.
"Tidak mungkin.. kau jangan sembarangan.. dia seorang tuan putri.. itu hanya efek mata saat baru bangun..". Ucap Lena yang berusaha membuat Lucy agar tak berfikiran aneh pada Veronika.
Di sisi lain, Veronika tertegung dalam diamnya di ruangan besar yang tak lain adalah ruangan pribadi ayahnya. Ia menunggu Lena dan Lucy yang akan mengantarkan makanan padanya.
Matanya masih berdenyut, sesekali ia memejamkan mata berharap matanya baik-baik saja.
"Apa kau baik-baik saja tuan putriku!!". Di dengarnya suara serak dan samar-samar yang membutnya terkejut.
"Siapa!!". Serunya pelan.
Matanya membulat, ia mencari sosok dari pemilik suara itu. Di tatapnya seluruh sudut ruangan, tapi sama sekali tak menemukan sesorang.
"Apa aku berhalusinasi lagi". Lanjutnya meyakinkan diri kemudian beranjak dari bidang datar empuknya.
__ADS_1
Tiba-tiba, sosok berbaju hitam berdiri tepat di hadapannya dengan mata merah dan senyum seringai menatap Veronika. Wajahnya yang pucat, rambut hitam pekat serta bibir yang semerah bunga mawar membuat Veronika terpesona sekaligus takut.
Sosok yang berdiri di hadapannya tak lain adalah orang yang ingin menghisap darahnya. Reflesk karena takut Veronika menjatuhkan tubuhnya, ia duduk menengada sosok itu dengan wajah yang mulai panik.
Veronika tak bisa mengucap satu kata pun, bibirnya keluh bersama lidahnya yang terasa membeku. Ia berusaha menghindar dari sosok itu.
"Apa kau takut dengan ku?". Ucap orang itu seraya berjongkok menatap lekat wajah panik Veronika dengan seringai tipisnya.
"Si.. siapa.. siapa kau? kau mau apa?". Ucapnya dengan nada membentak yang masih berusaha menghindar dari orang itu.
"Aku? bukankah hanya melihatku saja kau sudah tau!!". Balasnya yang masih setia menatap Veronika.
"Apa mau ku? tentu saja datang menjemput tuan putri ku ini!!". Lanjutnya dengan seringai tipis di bibirnya yang juga kian mendekat pada Veronika.
"A.. apa maksudmu menjemputku!! jangan mendekat atau aku akan berteriak". Ancam Veronika yang masih panik.
"Berteriaklah.. aku tidak peduli? tapi jika kau memang ingin tau maksudku sebaiknya kau tanyakan saja pada yang mulai raja!!". Ucapnya seraya bangkit dari jongkoknya kemudian berjalan membuka jendela dengan seringai tipisnya lagi sebelum melompat dari sana.
Melihat tindakan orang itu, Veronika terkejut hebat, perasaanya campur aduk. Sedikit legah karena orang itu tak menghisap darahnya, tapi ia juga terkejut akan orang itu yang berani melompat dari jendela, mengingat kastil yang di tempatinya cukup tinggi, dan lagi hanya ada lautan yang membentang luas di bawahnya.
Di pikirnya orang itu tengah bunuh diri. Veronika beranjak dari duduknya, ia menghampiri jendela seraya mencari sosok orang itu.
"Apa vampir itu sudah mati? tapi bagaimana bisa ia masuk istana..". Gumamnya heran yang masih panik.
"Tapi.. yang di katakannya apa maksudnya? apa lebih baik aku bertanya pada Ayahanda!!". Lanjutnya yang masih penasaran akan ucapan orang itu.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika tersapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.