
"Vero.. apa kau baik-baik saja?". Tanya Rames yang khawatir sambil mengelus rambut putrinya dengan lembut dalam pelukan Lucy.
"Ayah.. vampire.. ada vampire yang ingin menghisap darahku". Ucap Veronika yang masih sedikit takut.
"Darling? tidak ada vampire di sini.. kau aman.. beristirahatlah dan tenangkan pikiranmu..". Suruh Rames sambil membaringkan tubuh putrinya pada bidang datar empuk miliknya.
"Aku akan menjagamu.. tenang.. kau akan baik-baik saja sayang, percaya pada ku". Lanjutnya dengan nada sendu menggenggam tangan Veronika dengan kedua tangan nya.
Tok.. tok..
"Yang mulai.. ada surat untuk anda". Ucap Seseorang yang tak lain adalah salah satu pembawa pesan kepercayaan istana. Ia mendekat menghampiri raja yang tengah merawat putrinya kemudian tertunduk sopan menyodorkan surat yang di bawanya.
"Surat?". Ucapnya heran mengambil surat dari tangan pengawal itu dengan rasa penasaran akan informasi dari balik kertas yang terlipat nampak rapi.
Perlahan Rames membuka kertas dengan kaku, mata Veronika yang tengah terbaring juga tertuju padanya yang membuat ia merasa sedikit gugup.
Kertas menampakkan tinta hitam pekat di dalamnya, tertulis beberapa kata di sana. Rames sedikit terkejut saat setelah ia membaca tiap jejeran kata yang tertulis dengan mata yang membulat sempurna memancarkan keterkejutannya.
Ia terdiam sejenak seraya mengepal kertas itu, kemudian menatap Veronika yang juga tengah menatap padanya. Dalam diamnya, Veronika bertanya dengan penasaran apa gerangan yang tertulis dalam surat itu yang membuat ayahnya nampak gelisa.
"Ayahanda..". Sahut seseorang dari belakang yang baru saja memasuki ruangan, tak lain adalah Zheranika yang datang mengunjungi Veronika dan di ikuti salah satu pelayan pribadinya Mio.
"Ada apa Zhera?". Balas Rames terkejut sambil menyembunyikan salah satu tangannya yang menggenggam erat kertas yang telah di bacanya.
"Aku datang menjenguk vero ayah". Balasnya seraya mendekat pada Veronika yang terbaring nampak lemah dan di temani kedua pelayannya di sampingnya.
"Kakak..". Ucap Veronika dari bidang datar empuk tempat ia berbaring seraya menatap Zheranika yang kian mendekat padanya dan berusaha bangkit dari baringnya.
"Apa kau baik-baik saja vero..". Tanyanya langsung meraih tangan Veronika dan mengengamnya lembut.
__ADS_1
"Aku tidak baik-baik saja..". Balasnya ketus.
"Haihh.. kau ini.. makan obat mu dulu baru kau tidur..". Sahut Rames yang mendekat pada kedua putrinya menatap tabib Lan yang baru saja masuk membawa nampan obat di tangannya.
"Ayah.. apa sekarang aku harus minum obat.. obat itu sungguh pahit.. aku masih.". Rengek Veronika yang ingat akan obat yang biasa ia minum.
"Ini untuk kebaikan mu sayang..". Ucap Rames sambil mengambil obat dari nampan dan menyodorkannya pada Veronika.
"Minum obat mu?". Suruh Zheranika yang menatap tegas pada Veronika.
"Tapi.. tapi kenapa aku harus meminum obat itu.. aku memangnya sakit apa.. sudah bertahun tahun aku meminumnya ayah bahkan tak memberi tahu tentang penyakitku..". Ucapnya tak bersemangat yang menolak suruhan ayahnya seraya menarik selimut menutupi seluruh badannya.
"Tidak ada tapi vero.. demi kebaikan mu.. apa kau ingin melihatku bersedih karena hal kecil seperti ini..". Bujuk Rames sendu seraya menyodorkan segelas obat dan duduk di tepi ranjang menatap Veronika dengan menarik perlahan selimut yang menutupi tubuh putrinya itu.
"Baiklah kalau ini akan membuat ayah senang..". Ucapnya pasrah kemudian meraih obat dari tangan ayahnya yang selalu membuat ia merasa penasaran akan obat itu dan juga penyakitnya.
"Kalau begitu kau istirahat lah.. aku masih ada urusan.. dan ya.. Zhera bisakah kau ikut dengan ku..". Ucap Rames yang ingin berpamitan pada Veronika seraya mengajak Zheranika bersamanya.
"Surat?". Gumam Zheranika heran.
"Aaaa.. itu hanya surat laporan dari perbatasan". Jawabnya santai yang sedang berbohong.
"Istirahatlah Vero.. Zhera ayo". Ajak Rames yang melangkah lebih dulu menuju pintu yang terbuka lebar.
"Baiklah ayah.. kalau begitu aku pergi dulu vero.. kalian jaga dia baik-baik!!". Ucap Zheranika yang bangkit dari duduknya seraya memberi perintah pada Lucy dan Lena.
"Baik tuan putri..". Jawab Lucy dan Lena serempak seraya tertunduk memberi hormat dengan tangan yang melekat di dada.
Sosok Brian yang juga sedari tadi berdiri di samping Lena juga ikut memberi hormat pada Rames dan Zheranika yang perlahan meninggalkan ruangan dengan sopan.
__ADS_1
"Hmm.. kapan aku bisa berdua dengan Zheranika? aku ingin membicarakan banyak hal dengannya". Batin Brian kesal dengan tatapan berharap menatap kepergian Zheranika.
"Brian..". Sahut Veronika dari samping yang membuat Brian sedikit terkejut akan panggilannya yang agak lemah.
"Heii.. apa kau baik-baik saja.. apa ada yang luka..". Tanyanya seraya mendekat dan duduk tepat di samping Veronika.
"Aku baik-baik saja.. bukankah kau juga mendengar tabib berbicara dengan ayahanda..". Tanya veronika.
"Aaa.. itu.. ya kau memang baik-baik saja.. istirahatlah agar saat bangun kau merasa lebih baik..". Usul Brian seraya membantu Veronika membaringkan badannya.
"Baiklah.. sekarang aku juga mengantuk..". Balas Veronika dengan senyumnya yang tertahan yang masih menahan sakit dari telingannya.
"Kalau begitu selamat beristirahat.. aku akan..". Ucap Brian yang ingin berpamitan tapi terhenti karena tangan Veronika yang mengegam tangan Brian.
"Bisakah? bisakah kau temani aku sampai tertidur". Ucap Veronika sendu seolah memohon dengan tangan yang mengengam lengan kanan Brian, menahannya agar tak bangkit dari duduknya.
"Hmm.. baiklah-baiklah.. aku akan di sini". Ucapnya pasrah dengan menggenggam tangan Veronika.
Lena dan lucy hanya menatap Brian dan Veronika dalam diamnya yang tak tau harus berkata apa. Takut membuat Brian canggung, mereka berdua meninggalkan ruangan memberi waktu agar Veronika bisa berdua dengan pujaan hatinya.
"Semoga saja hubungan mereka lancar". Bisik Lena tertunduk seraya berjalan beriringan dengan Lucy dengan maksud ingin menunggu di luar ruangan.
"Hmm..". Gumam Lucy mengangguk mengiyakan ucapan dan harapan Lena.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.