Puber Kedua??

Puber Kedua??
Surat Panggilan dari Sekolah


__ADS_3

Sesampainya di bengkel, Cakra langsung ditemui Bang Ali anak buahnya.


Bang Ali menyerahkan sebuah surat kepadanya, ternyata setelah di buka isinya, surat itu adalah Surat Panggilan dari Sekolah untuknya.


Cakra membaca dengan teliti perihal pemanggilan pihak sekolah kepadanya.


Ternyata putra pertamanya Aksara Hari Mukti lah yang sudah berbuat ulah.


Sebagai Ayah yang ingin memperbaiki kesalahannya, Cakra ingin menjadi Ayah yang baik dan bertanggung jawab, maka segeralah dia berangkat ke sekolah putranya.


Sesampai di pintu gerbang sekolah Aksa, di SMA Negeri 1 Revolusi, Cakra melapor ke Satpam bahwa dia mendapat Surat Panggilan dan di suruh menemui Wali Kelas Aksa, dan setelah di izinkan masuk Cakra segera memarkirkan mobilnya.


Sesampainya di depan pintu Ruang Guru, Cakra mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum,, Selamat Pagi Bu. Saya Cakra Dirgantara Orangtua dari Aksara Hari Mukti, saya ingin bertemu dengan Wali Kelasnya Aksara. "


"Waalaikumsalam wr, wb.. Selamat pagi juga Pak Cakra, silahkan duduk. Saya Wali Kelas Aksara, nama saya Kemala Mustika. Terima kasih sudah datang memenuhi Surat Panggilan kami. " Jawab seorang Guru wanita di depan Cakra.


"Ya.. Bagaimana Bu, boleh saya tahu, apa saja yang sudah dilakukan putra saya, sehingga saya harus dipanggil kesini? " tanya Cakra.


"Hmm.. Baiklah, saya akan jelaskan kepada Bapak tentang perilaku Aksara selama di sekolah.


Begini Pak, Aksara putra Bapak, semenjak saya menjadi Wali kelasnya di kelas X ini, menurut laporan Guru mata pelajaran yang lain, khususnya pelajaran Bahasa Indonesia dan PKn, Aksara sudah 4 kali bolos tidak mengikuti pelajaran.


Aksara juga ikut terlibat tawuran bersama teman-teman nya, selain itu kemarin siang, saya juga menemukan 1 bungkus rokok di dalam tasnya.


Ketika saya tanya, berapa sering Aksara merokok, dia menjawab bahwa kemarin adalah untuk pertama kalinya dia merokok, Aksara penasaran ingin mencoba karena ajakan dan ikut-ikutan teman-temannya.


Saya sangat menyayangkan ini terjadi, padahal setahu saya Aksara adalah murid yang pintar.


Pada pelajaran Matematika yang saya ajarkan, Aksara selalu cepat menjawab, dan jawabannya selalu benar.


Dia juga suka olahraga, menurut Guru Olahraganya, Aksara sudah mulai terlihat bakatnya, dia jago basket Pak.


Menurut Guru Agamanya, Aksara murid yang baik, mengajinya bagus, suara adzannya juga merdu.


Saya hanya takut, kebaikan-kebaikan dari Aksara, tertutupi oleh sedikit kenakalan nya. " Jelas Bu Kemala.

__ADS_1


"Maaf Bu,, mungkin sayalah orang yang patut disalahkan disini.


Saya mengakui, bahwa selama ini saya kurang memberikan perhatian dan kasih sayang kepada putra saya.


Saya tahu, sejak kecil Aksara adalah anak yang pintar, dia selalu juara kelas.


Tapi semenjak Ibunya meninggal dunia karena kecelakaan, dia dan adiknya diasuh oleh kakek dan neneknya dikarenakan saya yang masih berduka dan kehilangan.


Selama 7 tahun ini, saya tidak lagi mengikuti tumbuh kembangnya anak-anak, saya sibuk bekerja, menghabiskan waktu di bengkel.


Tapi.. sekarang saya sudah sadar, bahwa apa yang sudah saya lakukan itu tidak benar. Saya sudah berperilaku egois kepada mereka.


Saya sudah berusaha mencoba memperbaiki diri, sekarang anak-anak sudah ikut saya Bu, kami sudah serumah lagi." jawabku.


"Baiklah Pak, semoga kedepannya kejadian ini tidak terulang lagi, dan saya harap Pak Cakra lebih memperhatikan dan lebih sayang lagi terhadap anak-anaknya.


Saya juga turut bersedih mendengar cerita Bapak tentang Ibu mereka, tetap sabar ya Pak, tetap semangat buat anak-anak.


Semoga Allah SWT selalu memberikan kebahagiaan buat Pak Cakra sekeluarga, dan semoga cepat dapat pengganti Ibu mereka. " Tanpa sadar Kemala salah bicara.


"Hmm.. Anu,, anu Pak. mm,, maksud saya bukan begitu, mm,, maaf kk, kalau kata-kata saya sudah buat Pak Cakra salah paham, maksud saya semoga Pak Cakra tidak bersedih lagi atas kepergian almarhumah istri Bapak. " Dengan gugup Kemala menjawab, sadar sudah salah ngomong.


"Ya udah Bu, sudah selesaikan? Tidak ada lagi kan yang perlu kita bicarakan? Saya pamit undur diri.


Assalamu'alaikum. " bergegas Cakra keluar dari Ruang Guru, tanpa mendengar sahutan salam dari Kemala.


"Ww,, waalaikum salam wr, wb. " dengan perasaan takut, grogi, campur heran Kemala menyahut salam Cakra.


Padahal masih ada yang ingin Kemala sampaikan, mengenai hukuman untuk Aksara yang di skorsing 3 hari, diliburkan di rumah.


Apalah daya, Cakranya sudah pergi.


"Heran deh tu Bapak-Bapak, main pergi aja.


Padahal belum selesai aku ngomongnya, udah di tinggal aja.


Apa dia marah ya??

__ADS_1


Gara-gara ni mulut lemes banget, jadi salah paham tu Bapak Duda.


Jangan-jangan entar dikiranya aku kecentilan lagi, mau daftar jadi istrinya.


Lagian tu Duda sensi amat, kayak cewek lagi PMS aja.


Untung ganteng,. " omel Kemala


Cakra buru-buru menuju parkiran mobilnya, sepanjang jalan dia ngomel.


"Apaan tu Guru Aksara, Pake do'a begitu.


Emang gampang melupakan Ibunya anak-anak.


Cepat dapat pengganti, enak banget ngomongnya.


Ini aja buktinya 7 tahun aku menduda, ga ada pikiran buat cari pengganti.


Untung ngomongnya di sekolahan, kalo diluar udah aku bungkam deh tu mulut, aku **** bibirnya, gigit, isap..


Eehh.. Astaghfirullah.. mikir apa sih aku??


Gara-gara ngeliatin bibirnya Kemala, kok tiba-tiba aku jadi gini??


Cakep sih tu Bu Guru, kayaknya juga masi muda, hidungnya mancung banget tadi, sebelas duabelas sama hidungku.


Matanya ku suka, kulitnya putih, pipinya mulus banget enak banget tuh kalo di cium.


Alisnya lebat, bulu matanya lentik, yang bikin gagal fokus ya itu Bibirnya yang tipis, merah warnanya.


Mana dia pake gigit-gigit bibir lagi tadi pas grogi,


Aduuhh.. aku kok jadi gini.


Bisa gila aku kalo lama-lama di sekolah, mendingan cabut aja biar cepat nyampe bengkel. "


Bapak Duda udah mulai terpesona, Bu Kemala sudah terpesona juga nggak ya??? 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2