Puber Kedua??

Puber Kedua??
Tak ada penolakan


__ADS_3

Tibalah hari yang dinantikan itu, hari dimana Cakra ditagih janji untuk memperlihatkan keseriusannya dalam hal memperbaiki hubungannya dengan anak-anak nya.


Hari peringatan Ibu yang dirayakan di sekolah Askala Bumi Mahesa berjalan dengan lancar, aman dan terkendali


Tak tampak ada kecanggungan dari Ayah dan anak-anaknya dalam mengikuti lomba, semua terlihat natural tak ada tekanan.


Walaupun pertama kalinya mereka melakukan kegiatan bersama, tapi mereka berusaha menikmatinya. Hal itu ditunjukkan dengan piala kecil yang Aksa bawa di tangan ketika mereka berhasil


mendapatkan juara dari lomba yang mereka ikuti.


Bukan juara pertama, juara harapan pun sudah cukup membahagiakan.


Sepulang dari sekolah Aska, jam sudah


menunjukkan pukul 4 sore. Setelah shalat Ashar ditunaikan, Ayah dan 2 anaknya itu mampir sebentar ke Depot Es di sebelah taman untuk menghilangkan dahaga.


Tersisa 1 meja panjang dengan 4 bangku yang saling berhadapan di dalamnya, karena cuaca yang panas mengakibatkan banyaknya pelanggan yang juga ingin minum di depot es itu.


Segera mereka bergegas untuk mendudukinya, takut nggak kebagian.


Setelah pesanan disajikan mereka pun mulai menyantap hidangan.


"Ehh.. itu seperti Bu Kemala."


Aksa tiba-tiba nyeletuk sambil menunjukkan jari tangan ke arah depan depot es.


Dia tiba-tiba berdiri dan mendekati guru idolanya itu meninggalkan separuh sisa es teler yang tadi dia pesan.


Entah apa yang dia bicarakan, sehingga berhasil mengajak sang guru idola duduk bersama mereka.


"Bu Kemala.. duduknya di samping Ayah Aksa ya.. " Aksa mulai membuka obrolan mereka.


"Ya.. terimakasih Aksa, tapi nggak apa-apa ya ini?? Nggak ganggu kalian??? " Kikuk Kemala bertanya


"Ya,, silakan, tidak apa-apa, tidak mengganggu.. " dengan canggungnya Cakra yang menjawab.


Ada perasaan kaget, nervous, dan senang, campur aduk jadi satu.


"Ibu siapa?? " sekarang giliran Aska yang bertanya.


"Beliau Bu Kemala Dek.. Bu Gurunya Abang. "


Aksa yang menjawab.


Kemala tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan, tanda setuju dengan jawaban Aksa.


Aska kemudian menelisik sosok wanita yang duduk dihadapannya, yang sedang duduk disamping kiri sang Ayah.


"Oo... Bu Gurunya cantik, udah pantas jadi Bunda kita kan Yah??" sekonyong-konyong tanpa ada aling-aling Aska membuat pertanyaan atau mungkin pernyataan kepada Ayahnya.


Bagai di sambar gledek di siang bolong, kagetnya Cakra, matanya melotot, mulutnya terbuka, tubuhnya mendadak kaku seketika mendengar ucapan Aska. Untunglah es degan pesanannya tadi sudah habis diminum, kalau tidak pastilah dia akan tersedak.


Begitu pula dengan Kemala, keringat dingin membasahi tangannya, tak mengira dia akan pertanyaan yang dilontarkan anak laki-laki tanggung di hadapannya.


"Ehh... A..a..a.. anu...."

__ADS_1


"Ini pesanan es nya Bu.. "


Interupsi pelayan depot membantu kepanikan Cakra dan Kemala sedikit berkurang, mereka bisa mengambil napas sejenak.


"Terimakasih.. Bang. " jawab Kemala kepada si pelayan.


"Iya.. Dek. Udah pantas kok.


Adek mau punya Ibu lagi kan?"


Aksa mulai memprovokasi adiknya, senyum kecil tersungging di bibirnya. Otaknya mulai bekerja keras, mencari cara agar misinya berhasil.


"Mau.. Adek mau punya Ibu lagi kok Bang. " Aska menyambut dengan gembira usul sang kakak.


Bengek lah jadinya kedua orang dewasa di hadapan mereka itu. Bingung mau jawab apa, canggung tak terkira.


"Adek kenapa ngomong begitu?


Bu Kemala kaget tuh dengar pertanyaan Adek.


Nanti suami sama anaknya Bu Kemala marah lo?? "


Cakra berusaha main aman, tak ingin salah langkah.


"Ehh.. Sss,,, saya belum menikah, belum punya anak. "


Cepat Kemala menjawab, mengklarifikasi perkataan Cakra.


Enak aja pikirnya, orang masih gadis, body masih gemoy dibilang udah punya anak.


"Alhamdulilaaaah.. " jawab ke 3 bapak anak itu serempak.


Eitsss.. maksudnya apaan ni.


Kompak banget nyahutnya, Kemala mulai jaga-jaga, juice alpukat pesanannya belum lagi sempat diminum, daritadi baru diaduk-aduk doang.


"Yaaa... berarti Ayah masih ada kesempatan kan Bu, buat deketin Ibu?


Ayah orangnya baik kok Bu.. tampan, mapan dan dermawan.


Ibu mau kan jadi Bunda kita? "


Aksa mempromosikan sang Ayah, gercep, tanpa basa-basi, langsung menuju sasaran.


Cakra cuman bisa melongo, nyawanya masih belum terkumpul. Masih memikirkan kata-kata apa yang pantas dikeluarkan dari mulutnya.


Aska mendekati Kemala, "Mau ya Bu?? " pintanya pelan, penuh harap.


"Adek.. Bu Kemala biar habiskan minumannya dulu nak, Adek sabar dulu ya.. "


Akhirnya Cakra bersuara, tak enak dengan Kemala.


"Iya Ayah.. " jawab Aska pelan kembali duduk ke bangkunya.


Dengan perlahan Kemala menghabiskan minumannya, juice yang tadinya manis sekarang hambar terasa di tenggorokannya.

__ADS_1


Hening seketika, tak ada lagi yang bersuara.


Baru kali ini dia berada di situasi menegangkan seperti ini, ditatap ke 3 laki-laki berusia berbeda membuatnya seperti ingin menghilangkan diri.


Apa yang harus dilakukannya?


Jawaban apa yang mesti dia berikan kepada anak-anak polos dihadapannya ini, yang tampak sekali dari sorot mata mereka menunjukkan harapan yang besar kepadanya.


Haruskah dia melaksanakan mimpi yang datang 3 malam ini berturut-turut didalam tidurnya?


Baiklah.. sekarang waktunya memberi jawaban dan mengambil keputusan monolog nya dalam hati.


Bismillah.. jika ini sudah takdir-Nya, seperti apapun dia menghindar, tak akan pernah bisa ia merubah keadaan.


"Saya sudah selesai,, saya permisi duluan ya.. " kok malah ini yang keluar dari mulut Kemala.


"Nanti dulu Bu, saya mohon bertahanlah sebentar.


Kita selesaikan dulu masalah tadi. "


Cakra tak mau ditinggalkan, sekarang waktunya mengabulkan permintaan sang anak.


"A.. a.. anu Pak, sudah sore.


Takut kemalaman, saya nggak bawa motor, tadi dari Panti naik ojol ke sini."


"Saya antar pulangnya Bu sama anak-anak. " pungkas Cakra cepat tak terbantahkan.


"Ya.. Bb,, bagaimana? Ss,, saya mesti apa?" bingung Kemala menjawab.


"Yaitu tadi.. Ibu mau nggak jadi calon Bunda nya anak-anak saya? " kata Cakra, kedua anaknya fokus memperhatikan percakapan kedua orang dewasa di depannya.


"Hah.. Kk.. kita kan baru kenal? Mana bisa seperti itu?"


"Yah.. kita pacaran dulu biar bisa seperti itu. "


Kemala cuman bisa cengo, asemm banget nih Duda, ngebet banget pengen punya bini anyar.


"Saya nggak nerima penolakan, saya anggap sekarang kita adalah pasangan.


Lagian anak-anak sudah setuju, Bu Kemala juga jomblo, jadi nggak punya alasan buat nolak saya. "


Nggoookkk.. Kemala mau pingsan.


Kurang akhlak ni duda..


Darimana dia tau kalo Kemala jomblowati??


Apa dia cenayang???


Emang sih dia jomblo, nggak pernah pacaran malahan, tapi nggak segitunya juga kali..


Gak gitu caranya nembakkk Paijoo...


Keselll.... Aselii kesellll banget Kemala sama ni duda.

__ADS_1


Apa-apaan ini coba??


__ADS_2