Puber Kedua??

Puber Kedua??
Rencana dadakan di Perayaan Hari Ibu


__ADS_3

Aksara bergegas menuju bengkel ayahnya, sesampainya disana Aksara langsung menuju ruangan pribadi yang terletak di lantai 2.


Ayahnya ternyata sudah menunggu, rasa bersalah sekaligus rasa takut menghampirinya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


Aksa memang salah dan harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah dilakukannya.


"Aksa.. kamu pasti tau kenapa Ayah panggil kamu kesini kan?


Sekarang.. beritau Ayah alasannya, kenapa kamu bolos, merokok dan ikut tawuran?" tegas Cakra berbicara, matanya menatap Aksa dengan tajam.


"Tidak ada alasan apa-apa Ayah, Aksa cuman pengen aja.." jawab Aksa tenang.


Cakra sontak terkejut, pikirnya kok bisa anaknya sesantai itu menghadapinya.


Ingin rasanya dia marah, tapi dengan sekuat tenaga dia tahan, dia harus bersikap bijaksana dalam menghadapi Aksa.


"Baiklah.. kalau itu maumu, Ayah bisa apa?


Ayah marah pun tak ada gunanya, percuma, semua sudah kejadian juga.


Ayah cuman bisa berharap, kamu tidak mengulanginya lagi.


Jika kamu sampai mengulanginya sekali lagi, maka Ayah akan menghukummu.


Ayah akan ikut ke sekolah, kalau perlu Ayah ikut juga masuk ke dalam kelas dan duduk di samping bangkumu.


Ayah gak peduli omongan orang, masa bodo lah.


Semua juga demi kebaikanmu. "


Ancam Cakra, yang tentu saja membuat gusar Aksa yang mendengarnya.


Dia pikir ayahnya akan marah, memukul atau membentaknya, tapi ini apa??


Konyol sekali pikirnya..


"Baiklah.. Aksa janji, gak akan mengulanginya lagi.." jawab Aksa.

__ADS_1


Bunyi adzan terdengar, Cakra kemudian mengajak Aksa ke mesjid sebrang bengkelnya.


Ada yang lebih penting dari perdebatan mereka menurutnya, masalah Aksa masih bisa diselesaikan nanti.


Cakra akan pelan-pelan menasehati, berusaha menjadi teman untuk anaknya, tak ingin terburu-buru dan melibatkan emosi.


Berharap air wudhu dan shalat bisa menenangkan dirinya.


Setelah shalat, Cakra mengajak Aksa untuk menjemput Aska di sekolahnya.


Sudah waktunya Aska pulang sekolah.


Aska yang duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar, memang seminggu ini diantar jemput olehnya, berbeda dengan Abangnya Aksa yang menggunakan motor sendiri.


Mereka ke sekolah Aska dengan mengendarai mobil, sedangkan motor Aksa dititip dulu di bengkel karena mereka berencana makan siang bersama.


Sesampainya di sekolah Aska, ternyata Aska sudah menunggu di pos satpam, kemudian Ayah dan 2 anak itu menuju ke rumah makan yang menyediakan menu bakar-bakaran sesuai permintaan Aksa dan Aska.


Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia walaupun ada yang kurang yaitu sosok Ibu..


"Yah.. besok lusa di sekolah Aska kan ada perayaan Hari Ibu, Aska gak usah ikut aja ya, Yah..


Matanya berkaca-kaca karena mengingat sosok Ibunya yang sudah tiada.


Aska masih duduk di bangku TK A, ketika Ibunya meninggal dunia.


Masih terlalu kecil untuk merasakan kehilangan kasih sayang dan kehangatan keluarga.


Untungnya masih ada Kakek dan Neneknya yang mau mengurus dia dan Abangnya.


Terakhir kali Aska ikut perayaan hari Ibu ketika dia duduk di kelas 1, dia bingung dan sedih karena saat itu tidak ada yang mendampinginya ikut lomba entah lomba baca puisi, melukis dan memasak bersama Ibu.


Sedangkan teman-temannya dengan penuh suka cita didampingi Ibu dan Ayahnya atau keluarganya masing-masing.


Neneknya saat itu sedang sakit, sehingga kakeknya harus merawat sang Nenek, sedangkan Ayahnya tak ada kabar berita.


Perayaan Hari Ibu di sekolahnya itu menjadi pertama dan terakhir bagi Aska mengikutinya.

__ADS_1


Ditahun-tahun berikutnya, Aska menolak ikut serta.


Dia minta izin ke Neneknya supaya tidak turun ke sekolah, dan Neneknya selalu mengizinkannya.


Tapi berbeda dengan tahun ini, karena dia sudah tinggal bersama Ayahnya, maka Aska memutuskan untuk meminta izin Ayahnya dan berharap Ayahnya memberikan izin seperti tahun-tahun sebelumnya.


"Kenapa Nak, kok Aska nggak mau ikut??


Kalau kamu nggak turun ke sekolah apa nggak di cariin gurumu? " Tanya Cakra lembut, mendekatkan badannya dengan Aska kemudian mengusap kepala anaknya dengan sayang.


"Aska kan nggak punya Ibu yah..


Nggak bisa ikut lomba. " Jawab Aska pelan dan kemudian terisak-isak, pilu sekali hati yang mendengar ucapan polosnya.


Cakra memeluk hangat putranya, tepukan pelan di punggung dia berikan, berusaha menyalurkan ketenangan dan kekuatan untuk dirinya sendiri dan untuk putranya.


"Kalau Adek ditemani ke sekolah mau?


Kita bertiga sama-sama ikut lomba, Abang kan masih libur, bisa ikut ke sekolah Adek.. "


Tiba-tiba Aksa nyeletuk, memberikan usul kepada adiknya.


"Beneran Bang??


Serius???


Abang nggak lagi bohongin Adek kan???? " Tanya Aska kaget sekaligus senang, wajahnya yang sendu mendadak berubah ceria.


"Iya.. beneran Adek.


seeeriuuusss... Nggak lagi bohong ini..


Ayah.. Ayah juga mau kan nemenin Adek???


kita ikut lomba sama-sama. " Aksa meminta persetujuan sang Ayah.


"Ya.. Ayah mau. " jawab Cakra singkat.

__ADS_1


Mungkin inilah cara yang ditunjukkan Tuhan kepada Cakra untuk kembali mendekat kepada anak-anak nya..


__ADS_2