
“WAAAAAAAAAAAA !!!!” teriak keras Danu dari haluan kapal seraya tertawa terbahak bahak.
“Oii jangan gila dulu Lu!” Galuh menimpali teriakan sahabat baiknya sambil melempar kaleng bir dingin ke arahnya.
“Healing nih bosss, jarang jarang kan kita ngumpul gini lagi” Danu menjawab setelah menangkap kaleng tersebut sambil berjalan menghampiri Galuh dan Warsa yang sedang duduk di dekatnya.
“Bukan jarang emang gak pernah akhir akhir ini” jawab Galuh sambil meneguk kaleng bir dingin di tangannya.
“Biasa sibuk terus dah, kerja mulu, kaya kagak” Danu beranjak duduk di antara Galuh dan Warsa
Udara panas terik siang itu tidak menggaggu percakapan mereka di atas sebuah kapal pinisi berukuran kecil yang berwarna putih. Angin pelan berhembus di tengah laut sebelah utara Jakarta mengalun dengan warnanya yang biru dan tenang.
“ahhh .. hoki banget gak sih kita dapet kapal ini” kata Danu menghela napas sehabis meneguk habis langsung sekaleng bir.
“Yo i, lebih murah lah dibanding yang lain haha” jawab Galuh
“Pas banget buat kita kita budak budak korporat gaji UMR ya”
“Jangan gitu lah sedih amat sih”
“Kenyataan memang pahit bos hahaha, by the way, lu dah liat liat belum pulau yang kira kira bagus buat kita datengin nanti Luh?”
“Udah Nu, gw kemaren liat di internet ada banyak pulau pulau bagus, pulau Tidung, pulau Semak Daun, Pulau Bira, apa lagi yaaa, kayanya ada mirip mirip deh semuanya, bagus bagus dah di fotonya gua liat”
“hmm kemaren lu ada baca gak pulau karang namanya Luh ? tadi kan kita tanya tanya sama pak kapalnya, katanya nanti mau di bawa ke pulau karang dulu, kebetulan dia kenal deket sama pemiliknya nya, boleh liat liat dulu, kalo suka lanjut kalo enggak cari yang lain sih katanya”
“Pulau karang ya ? umm, kayaknya gak ada deh, apa ada ya ? duh lupa gua ? coba gw liat akh” jawab Galuh sambil mengambil handphone dari saku celananya
“Hadeh, dasar kakek kakek, kebiasaan suka lupa”
“Jir, namanya juga baru baru baca ya masa langsung inget semua naman ama pulau professor Danu ?” jawab Galuh dengan nada menyindir
“Hahahaha, gimana ada gak luh ?”
“Ga bisa nih prof, gak ada sinyal, maaf prof” Galuh kembali menjawab sambil mengangkat handphonenya mencoba untuk mencari sinyal
“Ya udah kita pantau dulu Luh, kalo emang enak kita gas aja lah di sana”
“Siap profesor !” Galuh memberi hormat kepada Danu
“Sue, apa dah hahaha, oiii Warsa, lu ngapain diem diem bae, sakit perut lu ?” Danu menepuk punggung orang yang berada di samping kirinya
“Kagak anjir, gw paling takut beginian ni, di tengah alam bebas, ada apa apa lagi di tengah laut gini”
“Hahahaha, mana ada apa apa anjir, kebanyakan nonton film lu”
“Serius guaaa ini” Jawab Warsa dengan muka pucat
“Ya udah sante aja kali Sa, nih minum dulu biar segeran lu” Galuh memberikan sekaleng bir dingin kepada Warsa
“Oohhhhh iya! Jangan lupa coy” teriak Danu lantang
“Lupa apaaan ?”
“Foto foto dulu lah kita, ntu cewe cewe pada dimana sih? Suruh ke sini lah biar foto foto dulu kita nih di atas kapal”
“Kayanya pada ngadem tuh di sana, pada gak mau gosong, oii Nadiaa, Veraa sini lah, ngapain di sana” teriak Galuh
“Ih, gak mau, nanti gosong gua” teriak Vera dari bawah atap di tengah kapal tersebut
“Ayo ke sini lah, biar foto dulu kita berlima”
“Eh, foto yah, kalo foto gua mau deh, sabar, sebentar gue ke sanaaa” jawab Vera sambil mengoleskan sun block tebal di kedua tangannya
“Haduh kalo foto aje luu cepet Vera!” Nadia bergumam di samping Vera
“Nih lu mau pake juga gak ?” Vera menyodorkan sunblock ke Nadia
“Gak akh, tadi kan udah pake”
“Ya udah, ayo cepet Nad!” Vera berlari sambil menarik tangan Nadia menuju ke arah Galuh, Danu, dan Warsa
“Oke ambil posisi, satu, duaa, tigaa”
Sebuah potret foto bersama mengawali liburan Galuh, Danu, Warsa, Nadia, dan Vera. Sahabat yang sudah bersama sejak SMA meski masing masing memiliki pekerjaan yang berbeda, namun mereka selalu menyempatkan diri untuk berlibur bersama. Galuh dan Danu merupakan sahabat karib sejak kecil. Mereka tinggal dalam sebuah kompleks perumahan yang berdekatan, sementara Warsa, Nadia, dan Vera adalah teman yang mereka temui ketika berada di SMA yang sama. Nadia dan Galuh memiliki hubungan yang dekat sejak SMA, namun baru menyatakan perasaan mereka ketika kuliah.
Kapal berlayar pelan seirama dengan angin siang itu. Matahari mulai bergerak ke arah Barat, Galuh, Danu, dan Warsa masih asik bersenda gurau di bagian dengan kapal, sementara Nadia dan Vera kembali berteduh ke bagian tengah kapal. Tiba tiba Bapak pemilik kapal berteriak bahwa mereka akan segera tiba di pulau Karang. Mendengar teriakan itu Danu segera berdiri dan melihat ke arah depan.
Sebuah pulau berpasir putih dikelilingi dengan pohon pohon kelapa dan air yang tenang biru membentang sepanjang mata memandang. Ketika kapal berhenti, Danu langsung meloncat turun dan berlari lari mengitari pantai tersebut, sementara Galuh membantu Nadia dan Vera untuk turun.
‘Byar’ Danu mencipratkan air kepada Galuh dan Nadia ketika sedang mencoba turun dari perahu
“Oyyy Danuuuuuuu !!!” teriak Nadia marah ketika pakaiannya menjadi basah
“Hahaha, lama banget sih turunnya, bilang aja pengen pegang pegangan dulu, ayo cepet”
“Bukaann tauu susah ini!”
“Bisa ga sayang? Pake sendalnya, lumayan banyak karang nih, jadi agak sakit kaki” Tanya Galuh sambil memegang tangan Nadia
“Bisa kok ini, makasi ya sayang” Nadia akhirnya berhasil turun dari kapal tersebut
“Oi Warsa ayoo turun, sampe kapan mau duduk duduk di kapal lu ?” teriak Galuh
“Iyaa nih gua mau turun ..” Warsa akhirnya beranjak dari kapal tersebut
“Bisa sendiri kan lu? perlu gua bantu?”
“Enggak, bisa kok” jawab Warsa yang terlihat sedikit mabuk laut
“Vera kamu bisa gak turun ?” tanya Warsa yang sudah berhasil turun
“Bisa kok Sa, tenang tenang”
“Sini aku bantu pegang tasnya” Warsa mengambil barang bawaan Vera yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka
“Makasi ya Sa” Vera akhirnya berhasil untuk turun dari kapal tersebut
Setelah mereka semua berhasil turun, bapak pemilik kapal pun turun sambil tertawa melihat tingkah mereka di pantai tersebut. Ia pun menunjukkan jalan yang harus mereka tempuh agar dapat sampai ke lokasi penginapan yang berada di tengah pulau tersebut. Sebuah jalan setapak kecil nampak dari kejauhan adalah satu satunya jalan menuju ke sana.
Danu yang mengetahui hal tersebut langsung berlari ke sana sambil mengajak teman temannya untuk berlomba menuju ke penginapan. Dengan cepat Danu sudah tidak terlihat dari pandangan sementara teman temannya masih sibuk mengurus ransel yang mereka bawa. Galuh mencoba berteriak untuk menghentikan Danu, namun sudah terlambat.
Setelah barang bawaan beres, Galuh, Warsa, Nadia, dan Vera pun berjalan menyusul Danu. Walaupun siang hari, namun jalan tersebut nampak agak gelap, karena pepohonan rindang yang menutupi sinar matahari yang masuk. Galuh berjalan di depan menuntun jalan.
__ADS_1
“Luh.. “
“Luhhhh..”
“Galuhh ..” Nadia menarik lengan baju
“kenapa Nad .. ?”
“Kamu lihat gak itu kaya ada orang yang ngelihatin kita dari dalam hutan pas jalan deh” tanya Nadia dengan cemas
“Ah dimana Nad ? perasaan gak ada deh”
“Ada tadi loh tadi di belakang sana”
“Masa sih, mana” Galuh memalingkan wajahnya ke belakang dan melihat ke kiri dan ke kanan
“Gak ada kok sayang, tuh kosong”
“Ahh, iyaa, aku oleng kayanya”
“Ya udah, ayoo kita lari, kejar si Danu” Teriak Galuh sambil mulai berlari
“Ihh sabar, tungguin”
Galuh yang sedang berlari tiba tiba menabrak Danu yang sedang berdiri mematung. Mereka pun terjatuh ke tanah berguling. Galuh segera berdiri dan menarik Danu yang masih asik tiduran di bawah seperti patung.
“Oi buset ngapain sih lu matung gitu” Galuh ngedumel sambil menarik Danu untuk berdiri
“…”
“Oiii Danuuu, bangun oii !!”
“gii ..”
“gii ..”
“GILAAA KEREEN BANGET !” teriak Danu
“Apaan sih ?”
“Liat itu” Danu menunjuk ke arah depan
“Gila keren abis !“ teriak Galuh
“Oi, ada apa teriak teriak ?” tiba tiba suara Nadia menyusul di belakang sambil terengah engah bersama dengan Vera dan Warsa.
“Sttt…” jawab Galuh sambil meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya
“Hah kenapa ?”
“Sttt, diem dulu nih liat kedepan ..
“O M G” mereka terkejut melihat pemandangan tersebut
Mereka pun berjalan masuk perlahan ke dalam melewati sepetak jalan yang terletak di samping kolam, menuju ke bagunan besar di ujung jalan yang nampaknya merupakan bagunan utama dari penginapan tersebut.
“Permisi !” seru mereka ketika masuk ke dalam
Galuh dan Nadia beranjak masuk ke meja depan sambil menekan bell yang terletak di atasnya sementara Warsa dan Vera segera duduk di atas kursi rotan di bagian depan gedung tersebut.
‘TING TING TING’
Galuh menekan bel tersebut tiga kali namun belum ada orang yang menjawab
‘TING TING TING’
Galuh kembali menekannya dengan sedikit lebih cepat
“Iyaaa .., sebentar” suara pelan menjawab dari arah belakang ruangan tersebut
Keluar sesosok wanita tua pendek berambut putih dengan mengenakan sebuah kebaya bermotif bunga berwana merah tua dari belakang. Dengan perlahan ia berjalan menuju ke arah Galuh sambil tersenyum lebar ke arah nya. Galuh yang melihat nenek tersebut pun langsung membalas dengan senyum ke arahnya.
“Apa yang bisa di bantu nak ?” tanya Nenek tersebut sambil meletakkan buku yang ia bawa ke atas meja
“Permisi nek, maaf kami mengganggu, apakah nenek yang menjaga penginapan ini ?”
“Iya betul, nenek yang menjaga di sini, apakah kalian baru sampai ?”
“Betul selali nek”
“Selamat datang nak, ini namanya pulau karang” jawab nenek tersebut sambil tersenyum kembali ke arah Galuh
“Terimakasih Nek”
“Apa kalian berencana untuk menginap di sini? Kebetulan sedang banyak ruangan kosong nak, ini bisa di lihat harganya” tanya Nenek sambil membuka buku tersebut
“Gimana guys ?” tanya Galuh sambil berbalik badan ke arah Vera dan Warsa yang sedang duduk di belakangnya
“Aku sih oke Luh” jawab Warsa
“Aku juga lah, udah pegel nih” Vera menimpali
__ADS_1
“Luh, kita gak mau liat yang lain dulu kah? Kayanya agak sepi yah disini” Nadia berbisik ke telinga Galuh sambil menariknya agak menjauh dari meja
“Cari pulau lagi maksud kamu sayang ?”
“Iya, soalnya kurasa kok agak sepi yah tadi di depan kaya gak ada orang deh”
“Bukannya di kepulauan gini emang sering sepi yah, mana belum tanggal merah kan sekarang ?”
“Iya sih ..” Nadia menjawab dengan nada menyerah
“Apa perlu kita tanya mereka lagi ?”
“Haduh kalo si Vera ma Warsa mah pasti iya iya aja sayang, kaya gak tau aja kamu”
“hahaha, iya juga ya, ya udah si Danu, mana sih si Danu ini”
“oii Sa, si Danu mana sih ?” teriak Galuh
“Lagi main air di kolam depan kayaknya deh”
“Haduhhh !! ya udahlah kalau dia kita anggap iya aja lah, udah berendem di depan pasti dia” Galuh menepuk jidatnya
“Gimana sayang ? Kita di sini aja dulu yah tiga hari dulu gimana sambil test the water, gimana ?”
“Ya udah, boleh deh, nanti kalo enak kita perpanjang full lima hari”
“nahh okee”
Galuh dan Nadia pun beranjak kembali ke meja depan
“Nek, kami rencana menginap tiga hari dulu, kalau betah nanti kami perpanjang”
“Nanggung sekali nak kalau lima hari, nanti kalau langsung lima hari nenek kasih harga murah nih, jadi potong segini” jawab nenek tersebut
“Wah serius ni nek, diskon 30 persen”
“Iya, betul lah nak, masak ibu bohong, nanti dapat makan pagi gratis juga”
“Waduh gimana Nad, murah banget ini”
“ya udah deh sayang kalo gitu lima hari aja”
Akhirnya Mereka pun memutuskan untuk menginap selama lima hari, Galuh segera mengeluarkan uang yang sudah mereka kumpulkan sebelum berangkat yang akan digunakan untuk biaya kapal, penginapan, dan makan sehingga tidak sulit untuk menghitung pengeluaran bersama lagi. Nenek memberikan kunci kamar kepada mereka sambil berjalan ke depan menunjukkan lokasi penginapan mereka.
“Gimana udah di pesen belum ?” Tiba tiba Danu muncul di pintu depan gedung tersebut
“Udehh udehh, lu kemana aja sihh” Galuh menjawab ketus
“Hihihi, asikk, abis liat liat lah bos ku kemana lagi”
“Ya udah ayo, bantuin itu bawaan si Vera banyak banget”
“Eh, Vera mana sih aku bantu bawaain tas nya, kasian berat kayanya”
“Ihhh, udah ga usah, tadi udah dibantu si Warsa .. udah sana”
“Kok gitu sih Beb, abang bantuin sini” Danu menarik tas yang kelihatan berat dari tangan Vera
“Beb Beb, bebong ?” kata Vera ketus
Mereka pun tertawa bersama sambil berjalan menuju Villa penginapan mereka yang terletak di sebelah kiri dari depan gedung utama, persis di depan kolam. Villa tersebut meski terlihat agak tua namun masih terawat dengan baik.
Di dalam Villa tersebut terdapat dua kamar tidur kamar mandi masing masing dalam kamar tidur disertai ruang tamu dan dapur. Mereka pun segera meletakkan barang barang bawaan masing masing. Vera dan Nadia di kamar depan, sementara Galuh, Danu, dan Warsa di kamar belakang. Setelah mengucapkan terima kasih kepada nenek tersebuh, Galuh mengunci pintu depan dan segera loncat ke tempat tidur.
“AHHHH, pegel bet guaa” teriak Galuh
“AHHHH, gua jugaa” Danu juga melompat ke atas tempat tidur
“Haduh gua tidur dimana ini …” Warsa terlihat bingung melihat keduanya asik melompat lompat di tempat tidur
“Nahh nanti lu di bawah ya Sa” kata Danu sambil tertawa
“Di lantai maksud lu ???” Warsa menjawab dengan nada sedikit melengkikng
“Hahahaha, engga lahhh, muat kok ini bertiga nanti, gede gini tempat tidurnya jir” Galuh mencoba menenangkan Warsa yang memang mudah panik
“ehh, tadi gua sempet ngecek ke belakang gedung tegah, ternyata ada jalan ke bukit belakang lohh, kayanya asik tuh nanti kita tracking ke sana” Danu menyela di tengah
“Baru sampe udah mau tracking, udahh nanti dulu, nikmati dulu bos, kita kan lima hari di sini”
“iyeee iyeee nanti nanti kan bisa, gua ngingetin doang tau”
“oh iyaa, kita belum ngabarin bapak kapal loh, kalo kita jadi tinggal di sini, waduh ke pantai lagi dong kita” Galuh teringat tentang bapak yang mengemudikan kapal mereka, ia pun beranjak dari atas tempat tidur menuju ke ruang tengah
“ehh tunggu, kita ikut juga deh, kan enak nih sembari ngeliat sunset .. iya gak Sa ?”
“Waduh gua skip dulu deh kalau harus jalan ke pantai lagi, udah sakit betis gua”
“Haduh kegemukan sih luu Saa .. sayang banget, ya udah deh tapi besok lo harus ikut ya” Danu menepuk nepuk perut buncit Warsa
“iyaa iyaa, udah sanaaa ..!”
“Nadiaa, Veraa, mau ikut gak ke pantai mau ngabarin bapak kapal kalau kita nginep di sini, sembari pada mau liat sunset nih, si Warsa gak ikut sih sakit betisnya katanya” Teriak Galuh ke arah kamar depan, sambil berjalan ke luar bersama dengan Danu
“Kami juga gak ikut dulu deh Luh, masih beres beres barang ini, tau sendiri kan barang cewe gimana ..” Nadia membalas dari dalam kamar
“Hadeh, ya udah deh .. kami jalan yaah”
Galuh dan Danu pun beranjak menuju ke arah pantai melewati jalan setapak sambil berbincang bincang di jalan. Lima belas menit tak terasa berlalu akhirnya mereka pun tiba di pantai tersebut
“Luh Luh. .” Dan menepuk Pundak Galuh
“nape coy”
“lihat dah kapal kita kok udah gak ada yah ?”
__ADS_1