Pulau Karang

Pulau Karang
Pantai - 2


__ADS_3

Galuh mengejar Danu yang sudah terlebih masuk ke dalam air dengan membawa kacamata snorkling, sementara Warsa memilih untuk duduk di bawah pohon rindang di pantai tersebut dan menikmati pemandangan yang ada. Sinar matahari yang terik menyinari laut biru tanpa batas menjadi pemandangan yang sangat indah siang hari itu.


 


Nadia dan Vera memilih untuk mencari spot spot foto yang bagus, terutama untuk diupload ke media sosial mereka. Vera melepas selendangnya dan mulai berpose di depan aliran ombak biru tepi pantai. Nadia lebih banyak mengambil gambar dibandingkan menjadi subjek foto siang itu. Setelah puas mengambil gambar di tepi pantai, mereka pun berjalan lagi sedikit lebih jauh dari tempat awal untuk mencari lokasi lain.


 


“Ke sana yuk Nad” tunjuk Vera ke arah ujung pantai lebih dalam


 


“Hayuk, manatau ada tempat yang lebih bagus, ya kan” Nadia mengangguk setuju


 


“Oii, guys kita ke sana dulu yahh!” Teriak Vera dari kejauhan


 


“Ah, mana dengar mereka itu Ver, lagi ngobrol biasa aja suka budek, apalagi di dalam air” kata Nadia melihat Danu dan Galuh yang tidak merespon panggilan Vera


 


“Ha Ha Ha, ya udah yok kita jalan aja!” Vera menarik tangan Nadia untuk berjalan ke arah bagian pantai yang lebih jauh


 


Nadia dan Vera mengambil foto foto pada berbagai tempat di pantai itu, awalnya mereka mengambil gambar di dekat laut, kemudian di dekat pepohonan tepi hutan, dan mereka berjalan semakin jauh ke pinggir pantai dari tempat Danu, Galuh, dan Warsa berada.


 


“Sini Nad foto di sini bagus kayanya” kata Vera sambil bepose di pinggir jajaran bebatuan yang terbentuk di pinggir pantai


 


“Oke, udah ya, satu .. dua ..” Nadia mengarahkan kamera handphonenya ke arah Vera yang berdiri di depan bebatuan tersebut.


 


“Nad . . . Oi Nad udah belum?” Vera memanggil Nadia yang kelihatannya terdiam melihat ke arah pepohonan di belakang Vera


 


“Ver, bentar deh Ver, gw kaya ngelihat sesuatu” Nadia meletakkan handphone ke dalam tas jinjingannya dan menatap ke arah pepohonan lebih tajam lagi


 


“Lihat apaan Nad, di mana?” Jawab Vera dengan wajah kebingungan


 


“Itu kayanya ada orang yang ngelihatin kita dari balik pohon sana deh” Nadia beranjak perlahan ke arah pepohonan


 


“Ah yang bener lah Nad, udah ayo kita balik aja ke tempat cowo cowo” Vera mengajak Nadia untuk kembali ke tempat Galuh, Danu, dan Warsa


 


“Benar benar Ver ..” Nadia terus beranjak masuk, mendekat ke arah pepohonan


 


“Bener kan!! Oi siapa lu, keluar!” Nadia berteriak sambil berlari ke arah pepohonan


 


“Nadia! Mau kemana Lu, Nadiaa!” Vera berteriak ketika melihat Nadia berlari masuk ke dalam pepohonan


 


Vera memanggil nama Nadia berulang ulang ketika Nadia masuk berlari ke dalam pepohonan. Nadia tiba tiba saja mempercepat langkahnya sambil berteriak marah ke arah pepohonan. Vera yang bingung pun berlari kembali ke tempat Galuh, Danu, dan Warsa berada. Dengan cepat ia pun sampai di sana dan mendapati mereka sedang beristirahan di bawah pohon.


 


“Galuh! Galuhh!” Teriak Nadia dari kejauhan sambil berlari menghampiri mereka


 


“Lah Vera, kenapa Ver kok lari lari?” Tanya Galuh bingung


 


“Luh.. Luh .. itu itu ..” Vera mengambil nafas panjang


 


“Itu, Itu apa? Nadia mana Ver?” Tanya Galuh yang semakin bingung apalagi melihat Nadia yang tidak bersamanya


 

__ADS_1


“Nadia .. Nadiaa ..”


 


“Iyaa, Nadia kemanaa?” Galuh menaikkan nada bicaranya


 


“Nadiaa, Luh! Dia Lari!!” Vera berteriak kencang


 


“HAH! Lari kemana?” Galuh terkejut dan segera berdiri dari posisi duduknya


 


“Katanya dia liat orang di balik pepohonan, jadi dia ngejar ke sana Luh!”


 


“AH! Yang bener Ver! Aduh! Pohon mana, ayo ke sana!” Galuh mengajak Vera untuk kembali ke tempat Nadia pergi


 


Mereka pun bergegas kembali ke tempat Nadia pergi. Sesampainya di sana ternyata Nadia sudah tidak ada lagi di sana. Galuh pun memutuskan untuk mengejar masuk Nadia ke dalam pepohonan rindang tersebut. Danu hendak masuk bersama dengan Galuh, namun Galuh melarangnya dan meminta mereka untuk tetap berada di pantai ini sampai Galuh dan Nadia kembali.


 


Galuh pun bergegas, berlari masuk ke dalam pepohonan. Di balik rindangnya semak semak yang menutupi langkahnya ternyata terdapat jalan setapak kecil yang mudah untuk dilalui. Di jalan terebut galuh melihat bekas bekas langkah kaki seseorang, yang ia yakini sebagai jejak kaki Nadia. Galuh memutuskan untuk tetap mengikuti jejak kaki tersebut.


 


Terik panas matahari, udara yang lembab, dan semak semak yang rindah tidak menghalangi langkah lari Galuh siang hari ini. Keringat mengucur dari dahinya, nafasnya terengah engah, ia mencoba berlari secepat mungkin untuk menemukan Nadia. Perlahan demi perlahan rindangnya pepohonan dan semak semak mulai berkurang seiring Galuh semakin masuk ke dalam.


 


Tiba tiba dari kejauhan Galuh melihat seseorang sedang berdiri di balik pepohonan di depannya. Tidak salah lagi, dari pakaiannya ia menyadari jika itu adalah Nadia yang sedang berdiri di balik pohon tersebut. Galuh segera mempercepat langkah kakinya untuk segera menuju ke arah Nadia.


 


“Gila kamu tuh ya!!” Galuh menepuk pundak Nadia dari belakang


 


“Ha!” Nadia terkejut dan menoleh ke belakang sambil melompat kecil


 


 


“Gila, malah marah lagi, kamu tuh jangan aneh aneh deh, udah di samperin malah marah marah, ngapain sih masuk ke dalam hutan gini sendirian!” Galuh menjawab dengan nada yang tinggi


 


“Sttt!, jangan keras keras, sabar, nanti dia denger” Nadia menenangkan Galuh sambil menutup mulutnya


 


“Mmmphh, awas, apaan sih!” Galuh menarik tangan Nadia


 


“Ihh dibilangin, jangan keras keras ngomongnya! Tadi tuh aku ngelihat orang yang merhatiin kita dari balik pepohonan pas foto sama Vera, kayanya itu orang yang sama deh”


 


“Hah, orang yang sama gimana?”


 


“Kan aku sering bilang ke kamu, kayanya ada yang ngelihatin kita sejak pertama kita sampai di pulau ini kan?”


 


“Hmm, kamu yakin tadi ngelihat orang?” Galuh menjawab dengan ragu


 


“Iya, aku lihat jelas orangnya tadi, aku teriakin dia, eh dia malah kabur, langsung aku kejar deh”


 


“Haduh, Nadia, lain kali panggil aku dulu kek, kamu tuh cewe loh”


 


“Iya terus kenapa emang kalau cewe? Gak boleh?” Nadia bertanya sambil menaikkan alisnya


 


“Bukan gitu Nad, kamu tuh cewe aku, aku takut lah kamu kenapa kenapa” Galuh menjawab sambil memegang kedua pundak Nadia dan menatap pada wajahnya

__ADS_1


 


“I .. iya .. maaf ya ..” Nadia menjawab sambil melihat ke bawah


 


“Ya udah, lain kali kalau ada apa apa kasi tau aku dulu yah”


 


“Iyaa, sayang ..”


 


“Nah gitu dong, hahahaha” Galuh tertawa melihat tingkah Nadia


 


“Ihh, apa sih, udah akh”


 


“Iyaa iyaa, yok balik ke tempat orang itu kita?” Tanya Galuh mengajak Nadia untuk kembali ke pantai


 


“Tunggu dulu Luh, aku masi penasaran sama orang itu deh, tadi aku lihat dia masuk ke dalam sana” Nadia menolak untuk kembali dan menunjuk ke arah balik pepohonan tersebut


 


“Waduh, kayanya rumah itu .. hmm ..” Galuh seperti pernah melihat rumah yang ditunjuk oleh Nadia


 


“Kenapa Luh? Kenapa rumahnya?”


 


“iya itu rumah kayanya rumah yang pernah aku ceritain ke sana bareng Danu deh, cuma ini belakangnya kayanya”


 


“Ah yang bener kamu?”


 


“Iyaa bentukannya mirip loh, tadi kamu lihat dia masuk ke dalam ini?”


 


“Iya dia masuk ke dalem, udah ayok coba kita lihat ke sana” Nadia mengajak Galuh menuju ke arah rumah tersebut.


 


“Yakin kamu? Udalah kita balik aja? Gak baik rumah orang” Galuh menolak dan membujuk Nadia untuk kembali ke pantai


 


“Ih, udah nanggun yok lah akh” Nadia pun berjalan perlahan sambil menunduk menuju ke arah rumah tersebut


 


“Nad! Nad! Lu ni yah, haduh!” Galuh memanggil manggil dengan suara kecil dari belakang pohon, namun Nadia tidak menghiraukannya. Ia tetap berjalan perlahan menuju ke rumah tersebut, Galuh pun mengikutinya dari belakang secara perlahan.


 


Nadia berjalan perlahan ke rumah tersebut hingga ia tiba pada pinggir temboknya. Galuh yang mengikuti nadia pun akhirnya sampai di sampingnya. Mereka pun meletakkan punggung bersandar pada tembok luar rumah tersebut yang terbuat dari kayu. Nadia merangkak perlahan dan bergerak menuju ke arah jendela rumah tersebut.


 


“Sini luh” panggil Nadia mengajak Galuh mendekat ke arah jendela rumah tersebut


 


Mereka pun mendekat ke arah jendela rumah. Nadia mengangkat sedikit kepalanya berusaha melihat ada apa di dalam rumah tersebut. Ia melihat sebuah ruangan yang nampaknya adalah kamar di sana. Sebuah tempat tidur dan kursi yang terletak di dalamnya. Pintu kamar tersebut ternyata tidak tertutup, Nadia mengamati lebih dalam lagi, dan terlihat ada seseorang sedang berdiri di dekat pintu kamar tersebut.


 


“Luh, kayanya itu orang yang ngamatin kita deh” panggil Nadia ke arah Galuh untuk mengajaknya melihat ke arah dalam jendela tersebut


 


“Ah, mana Nad” Galuh mengangkat kepalanya dan mencoba melihat ke arah dalam rumah tersebut


 


“Itu luh, itu loh, yang deket pintu itu Luh” bisik Nadia


 


“Galuh pun mengecilnya kelopak matanya, berusaha untuk melihat masuk ke dalam rumah tersebut”

__ADS_1


__ADS_2