
Mereka pun memutuskan untuk berjalan ke arah cahaya lampu tersebut, berharap bahwa itu adalah lokasi penginapan mereka. Galuh berjalan di posisi depan sedangkan Danu mengikutinya dari belakang. Cahaya yang minim membuat mereka sedikit kesulitan untuk mencapai ke sana. Jalanan yang mereka lalu masih sama dengan sebelumnya, pepohononan rindang di sebelah kiri dan kanan yang tinggi hingga menutupi sinar cahaya bulan.
Setelah mendekat, ternyata sumber cahaya tersebut berasal dari dalam sebuah gubuk kecil yang terletak sendiri di tengah hutan tersebut. Tidak ada rumah yang terlihat berdiri di sekelilingnya. Gubuk tersebut memiliki dinding terbuat dari kayu berwarna kecoklatan dengan beratapkan genteng yang berwana merah muda. Lumut lumut tumbuh di sebagian dindingnya mengelilingi gubuk tersebut. Rumput rumput ilalang tumbuh tinggi di depan gubuk tersebut hingga ke bagian terasnya.
Galuh dan Danu berhenti di balik pepohonan rindang dekat dengan gubuk tersebut. Galuh mengernyitkan dahinya, ia menatap Danu dengan tatapan curiga. Danu tidak bergeming, ia pun berdiri, dan hendak berjalan ke arah gubuk tersebut. Galuh menarik tangannya, ia menggelengkan kepalanya kepada Danu. Danu mengangkat kedua bahunya, bingung, ia pun melepaskan tarikan tangan Galuh dan mencoba untuk kembali berjalan.
“Danu, Nu!” Galuh kembali menarik tangan Danu dan berseru kepadanya
“Kenapa sih Luh!” kali ini Danu mendengarkan dan akhirnya kembali berdiam di balik pepohonan
“Stt.. jangan keras keras ngomongnya!” Galuh menutup mulut Danu dan berbisik ke telinganya
“Kenapa sih ?” Danu mulai mengecilkan suaranya
“Lu gak ngerasa aneh, rumah kecil, ditengah tengah hutan, depannya gak keurus, sekelilingnya gak ada orang, gua ngerasa gak enak, mending kita cabut ke jalan yang satunya lagi deh”
“Mungkin warga sini Luh, rumah di pedesaan kan biasa jauh jauhan, kaya gak tau aja lu akh!” Danu sedikit kesal melihat ke-parno-an temannya itu.
“Gak yakin gw, udah kita balik aja Nu, kita ambil jalan satu lagi nya” Galuh berbalik badan mencoba untuk kembali ke jalan sebelumnya
“Sabar Luh, gua gak mau balik ke sana, gelap banget, gak kuat lagi gua, bisa pingsan kali” Danu mencegah Galuh yang beranjak untuk pergi kembali ke jalan sebelumnya
“Terus mau gimana? Menurut gw gak bener sih kalo kita ke sana? feeling gw bener bener gak enak”
“Hahhhh!” Danu menghembuskan nafasnya dalam dalam
“Okey gua aja yang nanya, lu ikutin gw aja deh, gimana? setuju gak?” seru Danu dengan nada terpaksa
“Yakin lu, katanya lu gak berani begini beginian”
“Iyaa, yakin gw, mending gw nanya orang disini deh, daripada harus balik gelap gelapan di sana” jawan Danu
Danu membalikkan badannya dan mulai berjalan perlahan menuju pintu gubuk tersebut. Sesekali ia menoleh ke belakang, ke arah Galuh, Galuh menemani ia berjalan perlahan ke depan menuju ke teras gubuk tersebut. Danu harus menyibak beberaoa ilalang ilalang tinggi yang menghalangi jalan untuk masuk ke depan rumah tersebut.
Mereka pun tiba di depan pintu gubuk tersebut. Danu melihat ke arah Galuh yang berdiri di sampingnya. Galuh hanya menatap balik dan mengarahkan Danu untuk mengetuk pintu tersebut. Danu menelan air ludahnya, tangannya sedikit gemetar, mengepal, naik ke arah pintu kayu tua di hadapannya.
‘Tok Tok’
Suara ketukan pintu
__ADS_1
‘Ngik . .’
Pintu tersebut terbuka dengan sendirinya
…
‘lah gak ditutup’ seraya Danu bergumam dalam hatinya
“Pe .. Permisi? Apakah ada orang?” Danu berucap sambil mengintip ke dalam gubuk tersebut, namun tidak ada jawaban dari dalam gubuk tersebut.
“Gimana ni Luh? Gak ada orang kah?” Tanya Danu ke arah Galuh
“Kan tadi udah gw bilang kita balik aja, lu gak mau denger” Galuh menjawab dengan ketus
“ya ma ..
Huu ..hu .. huuuu .. hu ..
Tiba tiba terdengar suara orang menangis dari dalam gubuk tersebut
“Suara apa aitu Luh? Kaya ada yang nangis” Danu menjadi penasaran
“Kayanya suara orang nangis ya Nu?” Jawab Galuh yang juga mendengar suara tersebut
Tanpa disadari, Danu melangkah masuk dengan sendirinya ke dalam Gubuk tersebut, mencoba mencari tau darimana asal suara tangisan yang begitu sedih tersebut. Galuh awalnya tidak mau mengikuti kelakuan Danu, tapi rasa penasaran pun mengganjal dari dalam dirinya. Mereka pun masuk perlahan ke dalam gubuk tersebut.
Terdapat tiga buah kursi kayu dan sebuah meja bundar berwarna hitam pada ruang tamu gubuk tersebut. Mereka berjalan perlahan ke arah dimana suara tersebut berada. Dari ruang tamu mereka beranjak ke bagian tengah hingga tampak dapur di sebelah ujung, dan sebuah pintu menuju ruangan lain yang kemungkinan adalah kamar tidur.
Galuh dan Danu kembali mengikuti suara tersebut yang dirasa berasal dari kamar di ruang tengah antara lorong menuju daput. Danu bejalan perlahan di depan, sementara Galuh mengikuti dari belakangnya. Ternyata pintu kamar tersebut tidak tertutup. Suara tangisan semakin keras terdengar dari dalam kamar tersebut.
Danu menolehkan kepalanya perlahan ke arah dalam kamar. Nampak seseorang sedang terduduk di atas sebuah kursi kayu yang terletak persisi di tengah kamar yang kosong tersebut. Orang itu memiliki rambut setinggi bahu berwarna kehitaman dan sedang menatap ke luar kamar melalui jendela kaca sambil menangis tersedu.
Danu penasaran, ia semakin mengamati orang tersebut, Galuh yang berada di belakangnya rasanya juga ingin melihat ke dalam kamar tersebut. Galuh pun memegang pundak Danu, meminta untuk bertukar posisi, Danu menghentak sedikit terkejut, ia pun melihat ke arah Galuh memintanya untuk menunggu sebentar lagi.
__ADS_1
Danu kembali menoleh perlahan ke dalam kamar tersebut
Tetapi orang tersebut ternyata sedang menatap balik ke arah Danu dengan mata yang membelalak. Danu terkejut mengentak ke belakang melihat tatapan mata orang tersebut yang ternyata adalah seorang laki laki.
Tiba tiba orang tersebut berdiri dari bangkunya dengan tubuh menghadap ke arah Danu. Bajunya nampak lusuh berwarna kehitaman dengan mengenakan celana pendek berwana coklat. Tingginya hampir setinggi galuh. Ia berdiri tegap sambil menatap Danu. Danu terdiam seakan mematung.
‘Ngiet’
Suara langkah kaki pria tersebut yang perlahan mencoba mendekati Danu
Danu terkejut, pria tersebut mulai bergerak mendekat, Danu pun perlahan berjalan ke belakang seirama dengan langkah kaki pria tersebut, hingga ia menabrak Galuh yang berada di belakangnya.
“lah kenapa Nu?” Galuh berbisik melihat temannya yang berjalan mundur menjauhi kamar tersebut. Galuh pun mau tidak mau mengikuti Danu yang berjalan mundur.
’Ngiet’
‘Ngiet’
Suara langkah kaki pria tersebut semakin mendekat ke arah pintu masuk kamar
“kita keluar Luh, kita keluar” Danu berjalan lebih cepat menuju ke arah pintu depan
“kenapa sih Nu?” Galuh menjadi bingung, namun ia tetap mengikuti Danu menuju ke pintu depan
“nanti gw ceri..”
‘BRAK BRAK BRAK !!’
Tiba tiba pria tersebut berlari keluar dengan cepat mengejar Danu dan Galuh
“Anj*, lari Luh!!!” Danu segera berlari keluar dari rumah tersebut tanpa melihat lagi ke belakang. Galuh pun mengikutinya dari belakang. Mereka belari dengan cepat keluar tanpa melihat lagi ke belakang
“Nu ada apaan sih!” Galuh berteriak ke arah Danu sambil belari dengan kencang keluar dari rumah
“Udah lari dulu, nanti gua certain!” Danu membalas dengan nafas tergesa gesa
Mereka pun berhasil keluar dari pekarangan rumah tersebut melewati ilalang ilalang rimbut dan terus berlari ditengah kegelapan hutan malam itu sambil menyalakan sinyar lampu flash dari handphone. Galuh dan Danu terus belari dalam kegelapan malam hingga akhirnya mereka tiba di persimpangan jalan yang sebelumnya mereka lalui
__ADS_1