
Ahir pekan tiba. Hari yang ditunggu Nessa dan Finn untuk bertemu dengan ayahnya. Seperti biasa Bibi Alleta akan mengatur tempat dan waktu dimana mereka bertemu. Kali ini di sebuah ruang VIP sebuah club malam. Alleta membawa dua keponakannya dan menunjukan identitas khususnya agar bisa masuk ke dalam. Meski sudah di dandani seperti orang dewasa, Finn dan Nessa adalah anak dibawah umur yang belum bisa masuk dengan bebas ke dalam club malam. Identitas mereka masih dibawah umur, itulah kenapa Alleta selalu berperan menjadi pelindung mereka.
Saat tiba disana. Agler Balin sudah menunggu. Ia menyuruh semua pengawalnya untuk keluar, ruangan itu kini menjadi tempat pertemuan keluarga.
"Anak gadis ayah sekarang makin cantik, bagaimana sekolah mu, Nessa? apakah semua berjalan dengan baik?”
"Apa kau tahu, setelah aku bersusah payah membuat ia tak dikenali, hari ini seorang perundung di sekolahnya membuat Nessa harus terungkap wajah aslinya," kata Alleta kesal
"Hahahaha, terimakasih atas kerja kerasmu mejaga anak-anak ku selama ini Alleta. Tapi kali ini, biarkan mereka menjalani kehidupan yang nyaman dan menyenangkan, jangan membuat mereka seolah-olah selalu terancam setiap hari," kata Agler Balin
"Kak Balin apakah kau sudah melupakan kejadian pada Kak Emily? aku tidak mau keponakan ku berakhir sama, itu terlalu menakutkan untuk dibayangkan," kata Alleta yang kemudian meneteskan air mata
Semua terdiam. Membiarkan Bibi Alleta menuntaskan rasa sedihnya yang belum juga selesai meski telah lebih dari 10 tahun lamanya.
"Hal semacam itu tidak dapat terus kita hindari, Bi. Aku justru berpikir, sebaiknya ayah membimbing kami untuk bisa menjaga diri, agar kami bisa saling menjaga dalam keadaan seburuk apapun," kata Finn
"Aku setuju apa yang dikatakan, Finn. Setidaknya ajari kami bagaimana menjadi lebih kuat. Bisakah itu dilakukan?” tanya Nessa
"Jika kalian ingin menjadi lebih kuat, ayah bisa membimbing kalian," kata Agler Belin
"Apa kalian sudah gila! aku benar-benar tidak ingin ada yang terluka lagi," kata Bibi Alleta yang belum juga bisa membunuh kekhawatiran
Nessa diam untuk beberapa waktu. Ia kembali mengulang apa yang ibunya alami saat itu. Dengan jelas ia melihat seseorang telah menusuknya dari belakang lalu ia jatuh tersungkur. Jari tangan ibunya memberi isyarat pada Nessa untuk diam saat di kolong meja.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar ruangan. Alleta dan Agler Balin bersiap siaga dan menyuruh Nessa dan dan Finn untuk berada di belakang mereka.
Alleta mengeluarkan pistol. Membuat Nessa seketika terkejut jika bibinya sudah sangat siap untuk baku tembak. Seluruh badannya bergetar.
Agler Balin melihat ke atap dan mencari jalan alternatif untuk menyelamatkan anaknya. Sayangnya ia tak menemukan pintu atau jendela yang ada disana kecuali yang ada di depan mereka.
__ADS_1
Suara gaduh semakin dekat. Itu artinya orang-orang yang menyerang mampu mengalahkan anak buah Agler Balin yang berjaga diluar ruangan.
Seseorang mendobrak pintu ruangan VIP dan secara tiba-tiba menembakan pistol. Finn jatuh tersungkur dengan darah di dadanya.
"Finn!" Teriak Nessa yang hampir menangis
Nessa melihat Finn yang menahan sakit. Wajahnya sudah begitu pucat. Adiknya hanya bisa memegangi luka tembak itu dengan baju berharap darahnya bisa berhenti keluar.
Bibi Alleta segera menembaki orang-orang itu. Begitu juga Agler Balin yang dengan cepat menghabisi mereka. Dengan sigap ia menggendong Finn setelahnya lalu berlari keluar.
"Ayo Nessa, cepat kita harus pergi!" kata Bibi Alleta sembari menarik Nessa
"Tapi, Bibi. Bagaimana dengan Finn?” tanya Nessa
"Tenanglah Nessa, Finn akan baik-baik saja, dia bersama ayahmu. Lebih baik kita segera pergi, sebelum orang-orang dari kelompok penyerang datang lebih banyak," kata Alleta meyakinkan Nessa
Nessa berlari mengikuti bibinya. Saat di tempat parkir ia melihat Finn yang baru saja pergi dengan mobil bersama ayahnya. Lalu ada banyak mobil lain masuk ke tempat itu sepertinya dari kelompok penyerang seperti yang dikatakan bibi Alleta.
Alleta melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak langsung kembali ke rumah. Ia pergi ke sebuah Villa yang ia pesan saat di perjalanan. Sesampainya di Villa, ia mengajak Nessa untuk turun dan memeluknya. Spontan membuat gadis itu menangis sejadi-jadinya.
"Tidak apa-apa, ada Bibi Alleta disini," kata Alleta yang memeluk erat dan menepuk punggung Nessa
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Finn?" tanya Nessa yang masih sesenggukan
"Berdoa saja, Finn lelaki kuat, dia akan baik-baik saja," kata Bibi Alleta menenangkan
Mereka pun bermalam di Villa. Suasana masih mencekam. Alleta mencoba menghubungi Agler Balin namun sia-sia. Ia pasti mematikan ponselnya agar tidak dilacak oleh musuh-musuhnya.
"Siapa penyerang itu, Bi?" tanya Nessa tiba-tiba saat mereka duduk di ruangan Villa
__ADS_1
"Bibi tidak tahu, terlalu banyak musuh di dunia semacam itu. Kita hanya perlu menjaga diri dan menjadi lebih kuat," kata Alleta
"Aku baru tahu Bibi Alleta pandai bertarung dan menembak," kata Nessa
"Apa kamu pikir Agler Balin ceroboh dengan menitipkan anaknya pada sembarang orang?" kata Alleta yang kini dengan wajah bangga
"Kalau begitu ajari aku bertarung dan menembak, aku tak bisa selamanya bergantung pada bibi. Aku ingat, Ibuku Emily juga petarung yang tangguh, jika bukan karena kelicikan seseorang, dia pasti bisa mengalahkan semua orang saat itu," kata Nessa
"Ya. Aku juga mengaguminya, dia bisa menerima Agler Balin dengan segala keburukannya," kata Alleta
Saat mereka mengobrol. Alleta melihat mobil yang mendekati arah villa dimana mereka menginap. Dengan sigap dia menarik tangan Nessa untuk mengikuti nya. Hawa mencekam kembali datang, mereka belum bisa tidur nyenyak.
"Kenapa, Bi?” tanya Nessa
"Aku pikir ada yang membuntuti kita, sebaiknya kita bersiap saja. Ini ambilah!" kata Alleta sambil memberikan satu pistol lain yang dipakainya
"Bibi, apakah aku juga harus menggunakannya?"
"Tentu saja, kau harus menjaga dirimu sendiri," kata Alleta sambil membereskan barang dan segera menuju pintu belakang Villa
Mereka menunggu pemilik mobil itu turun dan memastikan bahwa mereka berdua aman. Nessa menarik nafasnya, ia berharap itu adalah bagian dari mimpi saat tidurnya.
Saat mengamati dari jauh. Nessa seperti mengenal postur tubuh itu. Wajah yang tak asing. Hanya temaram lampu jalanan yang menyinari orang-orang itu. Membuat Nessa tak sepenuhnya bisa melihat dengan jelas.
"Bi, aku pikir mereka bukan sedang mencari kita, mereka terlihat seperti sedang melakukan transaksi," bisik Nessa
"Kau benar, tapi lebih baik kita kembali ke kamar setelah memastikan bahwa mereka telah pergi," jawab Alleta
Senja melihat pistol ditangannya. Ia tak bisa membawa senjata semacam itu kemanapun ia mau, sedangkan ia tahu jika tak semua tempat aman buatnya.
__ADS_1
Mereka akhirnya pergi setelah seperempat jam berada di depan Villa. Hal itu membuat Nessa dan Alleta bernafas lega.
"Kamu sangat mirip Emily. Dia memiliki insting yang bagus, ayok kita harus segera tidur. Besok pagi kita harus segera kembali ke kota," kata Alleta di ikuti anggukan oleh Nessa