Putri Yang Tersembunyi

Putri Yang Tersembunyi
4. Rindu


__ADS_3

Nessa dan Bibi Alleta kembali ke rumah mereka saat pagi menjelang. Ia masih memikirkan Finn, Nessa sangat takut kehilangan Finn karena malam tadi ia melihat darah begitu banyak keluar dari tubuh Finn.


"Haruskah aku sekolah?” tanya Nessa


"Apakah itu membuatmu tak nyaman? Kalau begitu, izin saja sehari atau beberapa hari sampai rasa takutmu hilang," kata Alleta


"Aku berangkat saja. Bi, bisakah Bibi mengajariku menembak?" tanya Nessa


"Tentu saja. Kau harus menguasainya, aku juga akan melatih fisikmu," kata Alleta


Nessa kemudian berangkat ke sekolah. Hari ini perasaanya kurang baik. Di pintu gerbang, ia bertemu Erika.


"Nes, apa kau tidak bersama Finn?" tanya Erika


Nessa hanya menggelengkan kepala. Hatinya sedih jika harus memikirkan lagi apa yang terjadi pada kakaknya itu.


Sampai di kelas. Nessa meletakan kepalanya diatas meja. Tanpa melepas jaket yang dipakainya, ia mencoba tenang dan memejamkan matanya. Ada rasa marah namun ia tak bisa menguraikan nya. Ia tahu apa yang dilakukan ayahnya punya resiko yang tinggi, termasuk mengorbankan keluarga.


Sofia datang ke meja Nessa. Dengan sengaja ia menyiramkan sebotol minuman jeruk yang sudah basi ke atas kepala Nessa. Erika yang melihatnya sangat terkejut dan sangat marah. Erika tahu jika Nessa tak melakukan apapun pada Sofia, tapi Sofia sangat ingin membuat Nessa marah.


Nessa bangun dan duduk. Matanya tajam menatap Sofia yang terus tertawa tidak terkendali. Nessa lalu berdiri, dengan geram ia kemudian menampar Sofia.


"Apa kau berani padaku!". Sofia menarik kerah baju Nessa dan Nessa mencengkram lengannya.


Nessa merasa sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Sofia setiap hari. Ia mencengkram satu tangan Sofia, menendang perutnya lalu menendang lututnya hingga Sofia terduduk.


"Apa kau pikir aku tidak bosan? Aku sangat bosan melihat wajahmu yang terus tertawa tanpa alasan yang jelas?" kata Nessa


Sofia mencoba menjambak rambut Nessa. Dengan cepat Nessa melingkarkan tangannya ke leher Sofia dan terus mencekik dengan lengannya. Seluruh siswa di kelas hanya melihatnya.


"Kemana Finn?Hahaha. Pangeranmu tidak datang menolongmu?". Kata Sofia terus berbicara meski ia sulit melakukannya.

__ADS_1


"Diam kau! Aku tidak suka kau memanggil namanya dengan mulutmu yang menjijikan!". Kata Nessa yang kemudian menjatuhkan Sofia ke lantai, ia melepaskan tangan Sofia dari rambutnya, lalu ia duduk diatas tubuh Sofia dan memukulinya membabi buta.


Pak Luis datang setelah mendengar keributan itu. Ia menahan tangan Nessa lalu menariknya untuk bangun. Sofia sudah babak belur kali ini.


"Kalian berdua ikut ke kantor," kata Pak Luis


Bibi Alleta datang sebagai wali Nessa. Ia melihat Nessa yang hanya sedikit memiliki lebam dan Sofia yang sudah babak belur karenanya. Ia menutup mulutnya dengan tangan untuk menutupi tawa kecilnya. Ia jelas bangga saat melihat keponakan perempuan nya bisa lebih unggul dari anak gadis yang selama ini mengganggunya.


"Saya tidak terima anak saya dipukuli. Apakah sekolah ini mengizinkan preman untuk masuk sekolah? Lihatlah ini, Pak Luis, apa anda pernah melihat wajah anak gadis seburuk ini?" kata Ibu Sofia


"Keponakan saya tidak memulai lebih dulu. Anak ibu yang sangat sopan itu menyiramkan minuman basi diatas kepala, apakah menurut Ibu, itu tidak setimpal dengan apa yang dilakukannya?" kata Bibi Alleta


"Ehm, saya mau preman ini di keluarkan dari sekolah! Apa anda tidak khawatir, jika semua anak nantinya akan dipukulinya?” kata Ibu Sofia


Pak Luis diam sejenak. Ia melihat dua anak didiknya yang kacau.


"Saya akan melakukan tindakan disiplin kepada keduanya, karena sama-sama salah. Jadi, kami harap apapun yang kami lakukan pada anak-anak anda harap dipahami sebagai pendidikan yang kami berikan," kata Pak Luis


Setelah selesai hukuman. Bibi Alleta merangkul Nessa.


"Kenapa tak kau hancurkan saja giginya?" bisik Bibi Alleta


"Andai aku bisa melakukannya, Bi,"


"Hahaha. Ayo, kita makan siang diluar, setelah itu akan bibi antar ke tempat latihan," kata Alleta


"Benarkah, Bi?". Kata Nessa sangat senang sembari memeluk erat bibi nya.


Di cafe sederhana tak jauh dari sekolah. Seorang terlihat sedang ditagih hutang. Hal yang memalukan terjadi ditempat umum. Keributan kecil itu membuat orang di dalam cafe terdiam dan melihat ke arah yang sama. Namun, seorang laki-laki berbadan besar berteriak dan meminta semua orang yang ada disana untuk tak melihat ke arahnya. Pemilik cafe pun terlihat bingung, badannya yang kurus kerempeng tak mungkin bisa mengatasinya. Ia bahkan tak bisa menelepon polisi karena seorang lain berada tepat sisi telepon itu berada.


Bibi Alleta hendak bangkit dari duduknya. Nessa mencegahnya dan menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia tak setuju jika bibi nya harus ikut campur urusan orang lain saat itu.

__ADS_1


Akhirnya sebuah kesepakatan dibuat. Orang yang berhutang memberikan kunci mobil dan membolehkan mobil yang ia pakai ke cafe itu untuk di bawa pergi.


"Aku benar-benar muak melihat adegan seperti itu. Apa mereka tidak punya perasaan?" grutu Bibi Alleta


"Hehehe, apa Ayah tak pernah melakukan hal semacam itu?" tanya Nessa


"Ntahlah. Aku tidak pernah melihatnya, jadi aku anggap ia tidak melakukannya. Walaupun mungkin hal yang dilakukan ayahmu bisa jadi lebih buruk," kata Bibi Alleta


"Tenanglah, Bi. Andai aku jadi bagian orang yang kuat, aku mungkin akan memilih jalan yang paling baik yang bisa dilakukan saat itu. Meski sama-sama melukai, tapi aku yakin selalu ada pilihan terbaik diantara pilihan yang buruk," kata Nessa


"Kenapa kamu terdengar begitu bijak? Sejak kapan keponakan bibi menjadi dewasa?” kata Bibi Alleta


Nessa sangat termotivasi menjadi kuat. Ia sangat ingin bertemu ayahnya juga yang artinya ia harus siap berhadapan dengan dunia mafia yang kejam. Jika ia tak kuat maka ia mungkin tak bisa sehari saja bertahan dengan ayahnya.


Hari-hariNessa makin terasa membosankan. Ia sangat merindukan Finn yang sering menemaninya kemanapun Nessa pergi. Sejak kematian ibunya, Finn adalah keluarga terdekat Nessa. Karena kehidupan dengan Bibinya belum lama terjadi.


"Bi, apakah aku bisa keluar untuk membelanjakan uang dari ayah?" tanya Nessa


"Tentu saja. Dan ingat! Kau harus tetap berhati-hati," kata Bibi Alleta


Nessa memilih untuk pergi ke pusat perbelanjaan bersama Erika. Mereka menghabiskan banyak uang dari kartu kredit yang diberikan ayah Nessa.


"Nes, apa orang tua mu tak memarahimu? Kau belanja untukku begitu banyak," tanya Erika


"Tenang saja. Aku justru berharap ayahku muncul dan memarahiku," kata Nessa dengan nada sedih


Erika menepuk pundak Nessa dan memeluk temannya itu. Ia tahu jika Nessa sangat merindukan Finn dan ayahnya.


Pulang dari pusat perbelanjaan. Nessa mengantar Erika terlebih dahulu. Ia sebenarnya sadar ada orang yang mengikuti nya sejak tadi. Nessa sengaja mengulur waktu sampai ia merasa tak membahayakan Erika.


"Keluar kalian!" kata Nessa pada orang yang mengikuti nya

__ADS_1


__ADS_2