
Dua orang laki-laki yang mengikuti Nessa keluar. Mereka menatap Nessa tajam.
"Mulutmu berani. Tapi kita lihat, apakah nyalimu sama beraninya?" kata seorang laki-laki
Nessa tahu bahwa ia tak memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni. Ia akan memilih berlari dan mencari jalan pintas untuk sampai ke rumahnya.
"Satu, dua, tiga!". Nessa berlari kencang. Keahlian yang paling ia kuasai adalah berlari cepat. Beberapa kali ia mengikuti tournamen lari untuk perwakilan sekolahnya. Dua laki-laki yang sepertinya preman itu sudah dipastikan tidak dapat mengejarnya. Mereka terlihat tidak bugar.
Dengan nafas ter engah-engah. Ia sampai di gang sempit dan sepi. Nessa terus mengamati ke arah jalan untuk melihat keadaan.
Tiba-tiba--
Seorang menarik jaket Nessa dan membekap mulutnya. Nessa di beri isyarat untuk diam. Dua preman itu berhenti tepat di gang Nessa berada. Mereka yang kelelahan terus melihat ke sekeliling untuk mencari Nessa. Sampai akhirnya mereka pergi entah kemana. Laki-laki yang membekap mulutnya seketika melepaskan Nessa.
"Siapa kau!?" tanya Nessa
"Aku? Kenzio," jawabnya
"Apa kita pernah bertemu? Wajahmu sepertinya tak asing," kata Nessa
"Kita satu sekolah, beda kelas. Kau Nessa kan?"
"Bagaimana kau tahu namaku?"
"Gadis culun yang mendadak berubah. Bukankah hal itu cukup untuk membuatmu tenar seketika?” katanya
"Owh, karena itu. Aku pikir tak se heboh itu," kata Nessa malu
Kenzio lalu pergi. Ia sebenarnya ingin bertanya alasan preman tadi mengejar Nessa. Tapi ia lupakan dan segera pergi.
"Terimakasih," kata Nessa
"Tidak usah berterimakasih, itu hanya kebetulan," kata Kenzio
__ADS_1
Anak laki-laki itu kemudian berjalan dan melambaikan tangan pada Nessa. Kali ini ia menyelamatkan Nessa dan mungkin suatu saat Nessa bisa juga membalasnya.
Saat berjalan menuju rumah Bibi Alleta. Nessa melihat seseorang yang telah berdiri diatas jembatan dan sepertinya hendak bunuh diri. Seseorang yang sepertinya tak asing.
"Kak Tera! Apa yang sedang Kakak lakukan?" tanya Nessa
Tera yang tengah berdiri diatas jembatan seolah tak mendengar apa yang dikatakan Nessa. Lagi-lagi ia bertemu dengan Kenzio yang sepertinya memang sedang berjalan-jalan di daerah itu.
"Apa orang ini sudah gila!”. Kata Kenzio menarik tangan Tera yang membuatnya jatuh ke bagian tengah jembatan.
Tera kemudian menangis sejadi-jadinya. Ia tak memberikan kesempatan orang lain bertanya ataupun berbicara padanya. Setelah agak tenang, Nessa mengantar Tera ke rumahnya. Ibunya yang sangat khawatir kemudian memeluk Tera.
"Aku tak menyangka, gadis tomboy seperti dia ternyata sangat rapuh," bisik Kenzio pasa Nessa
"Aku heran. Kenapa ada laki-laki pandai bergosip seperti mu. Lebih baik kita pergi sekarang, aku juga tidak ingin ikut campur urusan orang lain terlalu dalam,". Kata Nessa membalik tubuhnya hendak pulang.
"Tunggu! Kalian lebih baik makan dulu di sini," kata Tera
Kenzio dan Nessa saling berpandangan. Mereka ingin menolak tapi merasa tidak enak pada Tera. Akhirnya mereka pun makan malam di rumah Tera. Awalnya semua diam merasa canggung dengan apa yang terjadi sebelum nya. Sampai akhirnya Ibu Tera memecahkan keheningan dengan bertanya terlebih dahulu.
"Betul, kami satu sekolah dengan Kak Tera," jawab Nessa
"Maaf sudah merepotkan. Disini Ibu yang bersalah, karena memang sudah tidak ada lagi barang dagangan yang bisa dijual, jadi Ibu bilang mungkin Tera harus berhenti sekolah dulu," kata Ibu Tera
"Hwuaaa! Andai Bibi ku yang berkata begitu aku pasti sangat senang,". Kata Nessa yang langsung disenggol dengan siku oleh Kenzio
"Haha, ternyata untukmu itu menyenangkan? Mungkin Tera memang begitu bersemangat untuk sekolah, makanya itu membuatnya sangat putus asa," kata Ibu Tera
Tera yang biasanya terlihat kasar di sekolah, ternyata memiliki kepribadian yang berbeda saat dirumah. Sepengetahuan Nessa, sifat Tera lebih mirip Sofia yang jadi tukang Bully. Hanya saja ia tak pernah menyerang adik kelasnya. Ia merasa sudah cukup senior dan hanya ingin dihormati saja.
Nessa dan Kenzio mendengarkan bagaimana kehidupan Tera dan Ibunya. Sisi yang membuat Tera malu karena untuk pertama kalinya ada orang yang mengetahui kehidupan Tera dan keluarganya. Ibu Tera adalah orang tua tunggal, ayahnya meninggalkan rumah sejak Tera masih di usia sekolah dasar. Setelah itu, Ibu Tera berjualan keliling sampai ia bisa membuka kedai di daerah perkotaan. Namun, dua tahun terakhir, usahanya mengalami penurunan. Ia belum bisa mengatasinya, sehingga ia harus berhutang pada Bos Gengster Antoni.
Uhuk...
__ADS_1
"Tadi bibi bilang pinjam uang pada siapa?" tanya Kenzio
"Bos Antoni. Aku mendapatkan informasi itu dari preman wilayah sini, bunganya rendah dari yang lain. Sayangnya saat sulit begini, uang yang kecil itu sangat besar rasanya," kata Ibu Tera
Selama Kenzio dan Nessa mengobrol dengan ibu Tera. Tera menghabiskan waktu untuk duduk disofa sembari menatap kosong ke arah televisi.
"Bibi pikir, Tera berhenti sekolah dulu saja, sampai keadaan ekonomi Bibi membaik," kata Ibu Tera sedih
"Baiklah, baiklah, aku akan berhenti! Apa itu membuat ibu puas?!”. Kata Tera kemudian masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu.
Nessa menanyakan berapa hutang yang dimiliki Ibu Tera. Kemudian ia menyanggupi untuk menutup hutangnya.
"Ken, bisakah kau temani aku ke mesin ATM terdekat?" tanya Nessa
"Ayo. Kebetulan aku memang sedang tidak ada kerjaan," kata Kenzio
"Tidak usah merepotkan. Itu jumlah yang sangat banyak, bibi tidak mau Nessa akan mendapatkan masalah karena bibi," kata Ibu Tera
"Tenang saja, Bi. Tidak akan ada yang memarahiku. Lagipula uang itu pasti tidak seberapa untuk ayahku yang entah dimana sekarang,". Nessa lalu menghambur keluar menarik jaket Kenzio.
Kenzio melihat ke arah Nessa. Ia menatapnya aneh. Karena ia bukanlah keluarga Tera. Ia bahkan hanya sekedar tahu siapa Tera, tidak lebih dari itu. Namun Nessa mau bersusah payah menutup hutang Ibu Tera.
"Nessa. Bukankah kau tidak terlalu dekat dengan Tera? Kita pun tidak saling kenal. Apa kau tidak takut aku akan merampokmu?" tanya Kenzio
"Wajah seperti mu sama sekali tidak terlihat bisa merampok. Matamu itu, aku pikir lebih cocok dengan tukang main game," tanya Nessa
"Benarkah? Haruskah aku terlihat lebih galak," gumam Kenzio
Nessa mengantarkan uang pada Ibu Tera. Namun Tera tidak terlihat saat mereka datang kembali ketempat itu.
Hari sudah senja. Nessa langsung berpamitan pulang. Hari yang tak biasa dari hari-hari sebelumnya. Nessa merasa apa yang dilakukannya kali ini bermakna. Hatinya senang saat membantu orang lain. Ia berpisah dengan Kenzio di persimpangan. Tanpa Nessa sadari, Kenzio mengikuti langkahnya sampai Nessa masuk ke dalam rumahnya.
Di tempat lain...
__ADS_1
Dua laki-laki yang telah dikirim Sofia gagal membalas dendam pada Nessa. Akhirnya Sofia membuat rencana baru untuk membalas dendam pada Nessa. Ia mengumpulkan lebih banyak orang untuk membalaskan dendamnya.