
Suasana SMA Pelita siang ini benar- benar ricuh, banyak murid berkerumun menonton dua remaja yang tengah berkelahi di tengah lapangan basket. Sorak - sorak terdengar mendukung salah satu pihak namun tidak ada yang berniat memisahkan keduanya, lebih tepatnya tidak berani. Kedua remaja itu benar - benar kuat dan brutal, jika ada yang memisahkan bisa - bisa ikut babak belur karena terkena tendang atau pukul.
BUGH!!
BUGH!!
Kedua remaja itu masih saling melempar pukulan ke wajah masing- masing, tidak peduli kalau keduanya sudah babak belur. Salah satu dari remaja itu menendang perut lawannya hingga tersungkur di tanah, dengan segera remaja itu menduduki tubuh lawannya yang sudah lemah tidak berdaya itu.
"Cuma segini kemampuan lo, Rafael?!" bentaknya pada remaja lelaki yang kini duduk diatas tubuh lelaki bernama Rafael yang sekarang sudah kehabisan tenaga di bawahnya.
BUGH!!
Remaja lelaki itu kembali menyerang Rafeal dengan pukulannya, kali ini Rafael sudah kehabisan tenaga untuk melawan. Wajahnya sudah di penuhi luka lebam, keringat sudah membasashi di hampir sekujur tubuhnya.
Sudut bibir Rafael juga sudah sobek dan mengeluarkan darah akibat pukulan lelaki yang menduduki tubuhnya itu, pandangan Rafael mengabur di ikuti kesadarannya yang sebentar lagi akan habis. Namun lelaki itu sekuat tenaga masih mencoba meronta agar di lepaskan.
"Mati Lo, anjing!!!!" Teriak lelaki yang masih menduduki tubuh Rafael yang hampir tidak sadarkan diri.
BUGH!!
BUGH!!
"Al Ampun! Gue ngaku kalah!" ucap Rafael sembari mengangkat kedua tangnnya ke udara pertanda menyerah, pada lelaki yang kini masih menduduki tubuhnya dengan sisa kesadarannya.
Namun yang diteriaki masih tidak peduli dan tetap melamparkan pukulan pada lawannya secara membabi buta.
"Gue gak peduli!"
Lelaki brutal itu adalah Alvian Regananta, semua orang mengenalnya dengan panggilan Al.
Alvian si lelaki tampan dengan kharisma yang luar biasa kuat, sangat terkenal di SMA Pelita sebagai trouble maker. Sikapnya yang dingin, cuek dan sedikit bicara membuat banyak orang ingin menganggunya.
Mungkin niat orang - orang itu hanya bercanda dan mencari perhatian si dingin tapi Alvian akan selalu menanggapinya dengan serius.
Catatan kenakalan Alvian sudah sangat menumpuk di ruang BK, bahkan sepertinya ruang BK adalah salah satu ruangan favorit Alvian disekolah. Karena setiap hari pasti saja ada ulah lelaki itu yang membuatnya harus di geret ke ruang BK. Entah itu membolos, tidur saat jam pelajaran, tawuran dan segala macamnya.
Alvian tidak pernah kapok dengan yang namanya hukuman, seberat apapun akan lelaki itu jalani namun tidak ada kata jera dalam kamus Alvian. Meskipun tahu konsekuensinya besar, Alvian akan tetap mengulangi perbuatan itu demi kesenangannya.
"Cuma segini kemampuan lo?!" tanya Alvian dingin pada Rafael yang kini tergeletak tidak berdaya di bawahnya.
"Cih, gue gak akan lepasin lo! Sampai lo mampus!" ucap lelaki itu kemudian kembali menyerang Rafeal dengan pukulannya yang beringas.
Para murid yang menonton perkelahian itu hanya bergidik ngeri saat Alvian memukuli Rafael dengan membabi buta tidak peduli jika Rafael sekarang hampir tidak sadarkan diri. Namun tetap tidak ada yang berani memisahkan mereka.
"Alvian stop! Gilak anak orang udah mau mati Al!" tiga orang lelaki berlari menghampiri Alvian yang saat ini masih memukuli Rafael yang sudah tidak berdaya.
"Al udah stop!" ucap Rasta salah satu teman Alvian, sembari menarik tubuh Alvian agar menjauh dari Rafael namun gagal karena Alvian sangat kuat.
"Bas! Bantu gue sini!" panggil Rasta pada Bastian, lelaki itu mengangguk kemudian membantu Rasta untuk menarik tubuh Rafael agar menjauh dari Alvian.
__ADS_1
Jika Rafael tidak dijauhkan terlebih dulu itu bisa jauh lebih berbahaya. Lelaki itu membawa Rafael ke sudut lapangan yang lumayan jauh dari jangkauan Alvian.
"Bubar lo semua, ini bukan topeng monyet njir! Ngapain pada nontonin sih!" teriak salah satu lelaki lagi. Lelaki itu bernama Gandi.
Lelaki itu bertugas membubarkan kerumunan murid sebelum ada guru yang datang ke lapangan ini.
Saat ini para guru sedang rapat, jadi kejadian ini akan sedikit terlambat sampai ke telinga para guru.
Murid - murid yang mendengar teriakan Gandi pun akhirnya sedikit demi sedikit mulai meninggalkan lapangan dengan perasaan kecewa karena tidak bisa menyaksikan perkelahian antara Alvian dan Refael.
"Udah sana bubar! Bubar! Gue colok juga mata lo ntar!" Sedangkan Rasta dan Bastian masih kesusahan untuk menarik tubuh Alvian, lelaki itu terus memberontak membuat teman - temannya kebingungan sendiri menenangkan Alvian.
Rasta kemudian beralih menatap Gandi yang tugasnya membubarkan para murid sudah selesai, dan sekarang lelaki itu malah asik bermain tiktok tanpa ada niat membantu temannya yang sedang kesusahan menenangkan Alvian.
"Eh monyong! Lo bantuin kita napa! Malah main tiktok anjir!" ucap Rasta kesal.
"Ogah ah, entar gue ikut kena tonjok! Bahaya muka ganteng gue entar!" jawab Gandi.
Lebih baik dirinya bermain tiktok dari pada ikut terkena pukulan salah sasaran dari Alvian.
"Lepasin guel" desis Alvian tajam pada Rasta yang masih menahan tubuhnya.
"Diam anjing! Itu anak orang udah mau matil" ucap Rasta pada Alvian, namun lelaki itu masih memberontak.
***
Seorang gadis cantik dengan rambut sedada berwarna coklat, dan jas almater berwarna biru gelap yang melekat ditubuhnya tengah berjalan di lorong kelas XII bersama seorang temannya.
"Ini kenapa rame banget di lapangan?" tanya gadis beralmater biru tua itu pada temannya.
"Gue juga gak tahu Tan!" jawab Kiara, teman gadis itu.
Tania Lamarouzen gadis cantik beralmater biru gelap dengan manik mata kecoklatan yang berkilau, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Tania.
Gadis dengan predikat siswi paling pintar di SMA Pelita. Terkenal dengan segela prestasi dan juga kecantikannya. Olimpiade, dan banyak sekali pertandingan saince yang sudah gadis itu menangkan.
Gadis itu juga mempunyai mata yang indah sebagai ciri khasm begitu manawan. dan juga senyumannya yang begitu menawan.
"Dek! Dek!" panggil Tania pada adik kelas yang tidak sengaja lewat di depannya.
"Ada apa kak?" tanya adik kelas itu terburu - buru karena tidak mau terlewat tontonan menarik di tengah lapangan.
"Ada apa dilapangan, rame bener?" tanya Tania.
"Itu Kak Alvian sama Kak Rafael berantem lagi!" ucap Adik kelas itu kemudian bergegas berlari kelapangan untuk menyaksikan pertengkaran itu, meninggalkan Tania dan Kiara begitu saja.
Seketika bola mata indah milik Tania membulat saat mendengar ucapan adik kelasnya itu. Tania menggeleng heran karena ternyata tebakannya sedari tadi benar. Pasti jika ada sesuatu yang heboh di sekolah Alvian lah pelakunya,
Tania hafal betul dengan itu. gadis itu sekarang hanya bisa menggeleng. Tidak paham dengan sikap arogan milik lelaki bernama Alvian itu.
__ADS_1
"Heran deh gue sama itu anak. Berantem mulu kerjaanya!" ucap Kiara pada Tania.
Tania hanya menaikan bahunya acuh, itu memang sifat Alvian. Lelaki itu memang emosional dalam hal apapun Tania tahu betul itu.
"Kemana lo Tan?" panggil Kiara pada Tania yang sudah berjalan meninggalkannya.
"Nyamperin Al!" jawab Gadis itu sembari berlari kecil menuju lapangan.
"Dih, bucin!" ledek Kiara pada Tania yang sudah menjauh darinya.
Kiara tahu betul, jika dikeadaan seperti ini hanya Tania yang bisa meredam seketika emosi Alvian.
***
Alvian masih berusaha memberontak, dan meronta mencoba melepaskan rubuhnya dari Rasta yang saat ini sedang menahannya.
Rasta yang kini sedang menahan tubuh Alvian pun sudah sangat kewalahan. Tenaganya tidak cukup untuk menahan Alvian jika sudah semarah ini.
Saat ini dalam pikiran Rasta hanya ada satu nama yang bisa meredam amarah Alvian. Seorang gadis.
"Alvian!" panggil seorang gadis dari arah berlawanan.
Alvian tahu betul siapa pemilik suara indah itu. Emosinya yang tadi sangat memuncak tiba - tiba saja lenyap entah kemana saat mendengar panggilan itu.
Nah kan, baru juga Rasta katakan sudah datang orangnya. Rasta yang tadi sangat kewalahan menahan tubuh Alvian agar tidak kembali mendekati Rafael yang sudah tersungkur di pinggir lapangan bersama Bastian, akhirnya bisa bernapas lega karena Alvian tak lagi memberontak minta dilepaskan.
"Ada pawangnya baru tenang," bisik Rasta yang hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar.
Bastian dan Rasta bisa bernapas dengan lega. Jika sudah ada Tania maka mereka aman, karena semarah apapun Alvian jika Tania sudah datang maka lelaki itu akan langsung luluh dengan sendirinya.
Bucin! Sedangkan Gandi lelaki itu masih bertiktok ria di ujung lapangan, asik sendiri seperti seekor monyet yang tangah mencari induknya.
"Zyzy," panggil lelaki itu lembut, berbeda dengan nada kasar dan membentak yang tadi lelaki itu gunakan saat berhadapan dengan Rafael atapun teman - temannya.
Tatapan tajamnya pun langsung berubah menjadi hangat saat menatap wajah Tania. Dengan segera lelaki itu mengehempas tangan Rasta yang menahan tubuhnya, dan berlari kecil menghampiri Tania-nya yang baru saja memasuki lapangan.
Setelah berada di hadapan Tania, lelaki itu tersenyum manis. Senyuman yang tidak akan ia tunjukan pada gadis manapun kecuali Tania-nya.
Namun saat sudah berada di depan gadis itu, senyuman manis Alvian tiba - tiba saja luntur, dan berubah menjadi wajah cemberut, lengkap dengan puppy eyes yang sangat menggemaskan.
Karena kini Alvian sedang ketakutan saat melihat Tania yang menatapnya dengan wajah datar dan bersidekap dada. Sungguh ini adalah hal yang Alvian takutkan.
"Zyzy," jangan heran, Zyzy atau Anzy adalah panggilan khusus Alvian untuk Tania. Sahabatnya.
"Berantem lagi?" Tanya Tania pada Alvian dengan nada dingin. Hal itu langsung membuat Alvian gelagapan seketika, lelaki itu paling takut jika Tania marah padanya.
"E-enggak Al gak berantem," jawab lelaki itu sembari menunduk dan memainkan jari - jemarinya.
"Jangan harap gue mau ngomong sama lo habis ini, Al!" ucap Tania,
__ADS_1
kemudian gadis itu pergi meninggalkan Alvian yang masih menatapnya dengan wajah cemberut.
"Tuhkan marah," batin Alvian lirih.