Rainbow And Shield

Rainbow And Shield
Support Sistem


__ADS_3

Hari ini Bu Sinta guru fisika sedang mengajar di kelas XII MIPA 3, mood guru itu sedang sangat tidak baik hari ini. Sejak awal masuk tadi guru muda cantik itu sudah bicara degan nada tinggi seperti penyanyi kelas atas.


Dan moodnya bertambah tidak baik lagi setelah melihat ada beberapa muridnya yang tidak berada di kelas.


Guru itu benar - benar murka, dan sudah pasti sangat tahu siapa - siapa saja oknum yang tidak berada di kelas.


"Alvian, Rasta, Gandi, Bastian. Ada yang tahu mereka kemana?!" bentak Bu Sinta, emosinya sudah berada di Ubun - ubun sekarang.


"Kenapa gak ada yang jawab?!" bentak Bu Sinta lagi.


Kiara yang melihat amarah Bu Sinta yang begitu memuncak segera menyenggol bahu Tania yang ada di sebelahnya.


"Tan, lo gak tahu apa Alvian kemana?" tanya Kiara.


Tania tahu lelaki itu dimana, tapi tidak mungkin dia membeberkannya disini karena bisa panjang urusannya nanti.


Tania tidak habis pikir, ternyata Alvian benar - benar bolos hari ini padahal sudah Ia larang tadi.


"Gue tau dia bolos, tapi mau gimana lagi? Anaknya bebal,


Kiara menggeleng heran, lelaki itu tidak pernah henti - hentinya membuat masalah. "Heran banget gue, selalu aja buat masalah kerjaannya! Cobak chat deh Tan!"


Tania mengangguk, gadis itu sudah berusaha menghubungi Alvian sedari tadi. Tapi yang membuat Tania kesal karena Alvian hanya membaca darinya. pesan.


"Kenapa sih suka banget cari masalah Al?" gumam Tania pelan yang hanya bisa didengar olehnya seorang.


Dan hari itu kelas XII MIPA 3 tidak mendapatkan pelajaran fisika, melainkan ceramah panjangan lebar dari Bu Sinta yang sudah sangat marah dengan tingkah laku murid - muridnya itu.


Sedangkan Tania hanya menggeram dalam hati, kenapa tidak pernah sehari saja Alvian mendengarkan ucapannya. Itu juga demi kebaikan lelaki itu.


"Al, Al Batin gadis itu kesal.


***


Tidak tinggal diam, setelah jam istirahat berbunyi Tania bergegas keluar dari kelasnya.


Tujuan gadis cantik itu sekarang hanya Alvian, cowok itu biasanya membolos di warung kecil belakang sekolah yang sering di bilang Wade atau Warung Dewi.


Tania tahu benar ada yang tidak beres dengan Alvian, dari cara bicara dan moodnya yang berantakan saja cewek itu sudah hapal betul bahwa Alvian sedang tidak baik-baik saja.


Sesampainya di wade gadis itu sedikit terkejut saat melihat betapa ramainya tempat ini, di dominasi oleh murid laki-laki yang tidak hanya berasal dari SMA Pelita saja.


Asap rokok mengepul di seluruh penjuru, aroma nikotin dan suara gelak tawa yang menggelagar juga menghiasi warung kecil milik wanita cantik bernama dewi itu.


Tania jelas menjadi pusat perhatian ketika dirinya masuk kedalam warung ini, karena ia adalah satu-satunya wanita yang datang kemari.


Tatapan genit dan nakal dari buaya-buaya darat yang ada disini juga membuatnya risih bukan main.


"Aduhh neng geulis! Cari apa kesini?"


"Cewek, pwiuitt!!!"


"Cantikk, kalau ada cewek yang dateng kesini katanya harus jadi ibu dari anak-anak aku di masa depan loh!!"


Godaan itu terus berdatangan silih berganti, membuat kuping Tania panas hingga ingin melempar para lelaki tidak tahu sopan santun ini dengan sepatunya sendiri.


Tempat ini memang terkenal di isi oleh lelaki brengsek dari berbagai sekolah yang ada di Jakarta, dan anak-anak dengan latar belakang yang tidak baik.


Tijik banget anjir, mana mukanya kaya badut ancol semua. Batin Tania risih, dirinya harus cepat menemukan Alvian sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Tania memilih tidak acuh, dan memutuskan tetap melangkah masuk kedalam wade. Tapi sialan, jalannya di hadang oleh seorang cowok bertubuh tambun dengan wajah mesum seperti kakek Sugiono nya.

__ADS_1


Gadis itu jelas risau, bagaimanapun tempat ini termasuk zona merah untuk perempuan dan dengan beraninya ia malah datang kemari seorang diri.


"Hai manis, minta nomor WAnya dong," ucap lelaki itu dengan kedipan genitnya.


Tania mengernyit jijik, "Ogah,"


"Oh, kalau gitu gak boleh lewat." Lelaki bertubuh tambun itu semakin melangkah maju, membuat Tania refleks mundur untuk menjaga jarak.


"Minggir gak?!" Tania menatap cowok itu dengan tajam, namun yang di tatap malah tertawa.


"Kalau gak mau, gimana?"


"Gue teriak?!"


Cowok bertubuh tambun itu menyeringai, "Teriak aja, gak bakal ada yang peduli sama lo disini."


Tania semakin dibuat risih dan takut saat lelaki itu semakin mendekat ke arahnya, bahkan sekarang beberapa lelaki lain juga ikut menghampirinya.


Tania tidak bisa lari, karena sekarang sudah dikelilingi sekitar empat orang laki-laki.


Sial! Ternyata pilihannya untuk datang ke tempat haram ini sangat salah.


"Lo semua gak waras ya?!" tanya Tania jengah saat merasa posisinya semakin berbahaya.


Namun lelaki bertubuh tambun itu semakin tertawa puas, "Tenang aja manis, kita gak ngapa-ngapain kok."


Brak!!


"Berani nyentuh cewek gue, berarti lo bakal mati di tangan gue!" suara bariton yang begitu familiar terdengar dari arah belakang, membuat semua pandangan tertuju ke sumber suara.


Terlihat Alvian yang beru saja datang ke wade dengan kondisi wajah babak belur dan seragam yang acak-acakan, tatapan lelaki itu terlihat dingin dan menusuk ke arah teman-temannya yang berani mengganggu Tania-nya.


Alvian berjalan mendekat, dan menarik Tania yang terlihat ketakutan untuk berdiri di belakangnya.


Cowok tambun yang di ketahui bernama Bimo itu nampak gelagapan, "0-ohh, itu cewek lo toh Bos. G-gue gak tahu, Sorry hehe,"


"Pilih rumah sakit atau mau kuburan langsung?" Alvian memicingkan matanya tajam, bahkan hal itu sudah bisa membuat keringat dingin mengucur dari dahi Bimo.


Bimo menggeleng keras, "Ampun Bos, gue beneran gak tau kalau dia cewek lo. ampun!"


Alvian mengepalkan tangannya begitu erat, bahkan buku-buku jarinya terlihat jelas sekarang. Mood lelaki itu benar-benar sedang tidak baik, dirinya perlu pelampiaan untuk segala emosinya.


Saat lelaki itu hendak melangkah maju dan menghantam Bimo dengan pukulannya, Tania sudah lebih dulu menahan bahu Alvian.


"Udah Al, jangan main kasar."


Hanya dengan suara lembut itu saja, amarah Alvian sedikit menguap rasanya. Tepukan di bahunya juga membuatnya sedikit tenang dan bisa berfikir dengan baik.


Alvian menghembuskan napasnya pelan, kemudian beralih menggenggam tangan Tania.


"Kali ini lo masih selamat, tapi lain kali jangan harap."


Setelahnya lelaki itu menarik Tania untuk pergi dari tempat ini, tidak baik seorang gadis seperti Tania berada di sini terlalu lama.


Alvian membawa gadis itu ke UKS sekolah, oh ralat tadi Tania yang meminta kemari karena ingin mengoleskan obat merah pada beberapa luka lebam di wajah Alvian yang entah lelaki itu dapatkan dari mana.


Keduanya kini tengah duduk di salah satu bangkar UKS, dengan Tania yang masih telaten membersihkan sisa darah dan mengompres beberapa luka lebam di pipi dan sudut bibir sahabat nakalnya itu.


"Berantem sama siapa sih, bego?! muka lo bonyok kaya ayam tiren gini anjir, jelek banget!" Tania sejak tadi terus berdecak kesal, apalagi saat melihat wajah Alvian yang bonyok seperti ini.


"Anak sekolah sebelah, gue lagi pingin berantem aja." Jawab lelaki itu santai.

__ADS_1


"aw! Aw! Sakit woe!" ringisan itu tidak bisa dihalau, saat dengan sengaja Tania menekan luka itu kuat-kuat.


"Lo tuh gila apa gimana sih? Gak bosen apa berantem mulu, nanti kalau mati gimana?"


Mendengar itu Alvian tidak bisa menahan senyumannya, "Mati ya tinggal mati, apa susahnya."


"Ngeselin lo," ucap Tania sembari memutarkan bola matanya malas, memang dasar tidak bisa diajak bicara serius.


"Kalau khawatir bilang aja,"


Tania mencebikan bibirnya, "Iya, gue khawatir. Puas?"


Alvian hanya tertawa pelan, sembari mengamati wajah Tania yang sedang mengobati beberapa luka di wajahnya. Senyumnya sejak tadi merekah tanpa bisa di tahan, sejak dulu hanya gadis inilah yang mengerti dan peduli padanya.


Melebihi orang tuanya sendiri.


"Maaf,"


Setelah lama dilanda hening, Alvian akhirnya berucap karena Tania juga sudah selesai mengobati luka di wajahnya.


Menatap wajah cantik itu dengan pandangan teduh, yang berhasil membuat jantung Tania berdegup tidak menentu.


"Hari ini mood gue hancur, sorry udah buat masalah bahkan bentak lo tadi siang."


Alvian ingat dengan jelas apa yang sudah dirinya perbuat, tapi itu di luar kontrolnya. Setiap orang tuanya datang, emosi Alvian selalu menjadi tidak stabil bahkan sulit untuk mengontrolnya.


Tania menghela napasnya, ia mengamati wajah Alvian yang ada di depannya dengan seksama.


Sebenarnya sejak tadi sudah terlihat ada bekas biru di sudut bibir lelaki itu, dan Tania tahu itu bukan luka baru.


Sudah Tania paham betul, apa yang terjadi dengan Alvian. Sedari kecil bersama membuatnya tahu seperti apa kerasnya hidup sahabatnya ini.


"Papa, Mama lo kemarin pulang ya?" tanya gadis itu tepat sasaran, membuat Alvian hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.


"Kalian ribut lagi?"


Alvian tersenyum lirih, kedua manik matanya pun sudah berkaca-kaca.


"Apalagi sih yang bisa di harapin kalau mereka pulang? kalau gak nyiksa gue, ya mau ngehina gue. Udah dua itu doang alasan mereka pulang kerumah."


Gadis dengan rambut legam itu menarik napasnya dalam, ia bahkan bisa merasakan kepedihan mendalam yang Alvian rasakan dari tatapan matanya saja.


Bergerak mendekat untuk menghapus jarak antara mereka, Tania kemudian memeluk Alvian dengan penuh kehangatan.


Alvian dengan senang hati membalas pelukan hangat itu, "Mereka gak mikirin perasaan gue sama sekali, mereka datang cuma buat gue semakin hancur. Mereka sama sekali gak peduli kalau gue juga kangen sama mereka, gue pingin rasain dipeluk Mama Papa.''


"Jangankan dipeluk, dapat perhatian orang tua aja gue gak tahu rasanya kaya gimana." Lirih lelaki itu dalam pelukan Tania.


Usapan lembut Tania selalu berikan di punggung sahabatnya ini, sejak dulu pelukan ini akan selalu Tania berikan ketika Alvian sedang bersedih ataupun mengungkapkan isi hatinya.


Dengan harapan bahwa pelukan ini bisa membuat lelaki itu kuat untuk bertahan.


"Gue emang anak yang gak berguna ya, Zy?"


Tania menggeleng dengan cepat, "Big No, jangan pernah berfikiran gitu! Lo itu berharga, dimata orang yang tepat. Gue contohnya,"


"Iya, gue berharga di mata lo doang,' ucap lelaki itu sembari terkekeh ringan.


"Jangan pernah merasa sendiri Al, jangan mencelakai diri lo sendiri. Gue gak suka lihatnya." Gadis itu masih terus menepuk punggung Alvian.


"Gue disini, selalu ada buat lo kapan pun itu."

__ADS_1


"Makasih, lo selalu bisa buat gue lebih baik." Ucap Alvian tulus.


__ADS_2