Rainbow And Shield

Rainbow And Shield
Sisi Rapuh


__ADS_3

Pukul 08 : 30 PM WIB


Tania tengah duduk di meja belajarnya sembari berkutat dengan buku - buku tebalnya, kaca mata bulat sudah bertengger di hidung gadis itu. Pensil yang la pegang sudah berputar - putar di tangannya, otaknya berputar memikirkan rumus - rumus untuk memecahkan satu soal. Tangannya bergerak lincah mencoret - coret kertas demi menemukan jawaban yang tepat untuk soal yang sedang ia kerjakan.


Tania Lamarouzen dikenal sebagai gadis dengan otak super jenius. Kepintaran dan kecerdasannya sudah tidak dapat di ragukan lagi. Berbagai jenis olimpiade dan perlombaan sudah pernah gadis itu menangkan, bahkan juara satupun selalu dapat gadis itu raih sejak masih SD.


Sepertinya jika dilihat maka Tania adalah contoh gadis yang hampir mendekati kata sempurna, sudah cantik, pintar, berbakti, dan terkenal akan sopan santunnya.


Namun jika di gali lebih dalam lagi nyatanya tidak seperti itu, Tania tetap memiliki kekurangan dalam dirinya.


"Hfttt."


Terdengar helaan napas yang begitu panjang dari Tania, gadis itu meletakan pensilnya dan menutup buku tebalnya. Gadis itu bangkit dari duduknya menuju dapur untuk mengambil minum.


Saat sudah selesai mengambil air minum, gadis itu hendak kembali ke lantai dua tepatnya menuju kamarnya.


Namun sebelumnya itu Tania menyempatkan diri untuk mengamati sekeliling rumahnya yang begitu sepi, Bundanya belum pulang dari butik.


Helaan napas panjang kembali terdengar dalam hening nya ruangan, gadis itu tersenyum lirih.


Semuanya sudah tidak sama seperti dulu lagi.


Suasana ini sudah biasa semenjak beberapa tahun yang lalu, saat sang ayah pergi meninggalkan gadis itu untuk selamanya.


Tania jadi sering ditinggal di rumah sendirian oleh Bundanya yang sering sibuk dengan urusan butiknya yang begitu padat dengan deadline.


Kadang suasana sunyi dan sepi ini Tania gunakan sebagai waktu belajar, namun lambat laun kehidupannya yang monoton itu ternyata membosankan juga.


Tania merasa hidupnya begitu - begitu saja, tidak ada sesuatu yang berwarna sama sekali.


Dengan senyum lirih yang masih menghiasi wajahnya, Tania akhirnya memutuskan kembali masuk ke kamarnya dan duduk di meja belajar. Hendak melanjutkan lagi jam belajarnya namun rasa bosan sudah menghampirinya.


Biasanya jika sedang sendirian dirumah begini ada yang memani Tania, hanya untuk sekedar teman ngobrol atau bercanda.


Siapa lagi kalau bukan Alvian, sahabat sekaligus tetangga Tania sejak kecil.


Tok!


Tok!


Baru saja Tania katakan, sudah terdengar suara ketokan di pintu kamarnya.


Gadis itu sudah hapal yang datang malam-malam begini kerumahnya hanyalah Alvian, terkadang hanya untuk menemaninya atau mengganggu ketenangan belajarnya.


Bangkit untuk membuka pintu, Tania kemudian tersentak kaget saat pintu terbuka dan menampakan sebuah bantal dengan ukuran yang cukup besar berbentuk bungkus coklat favoritnya.


"Woah!" gadis itu berdecak kagum melihatnya.


"Suka gak?" Alvian kemudian menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya, ia menahan tawa saat melihat mata berbinar Tania yang melihat ke arah bantal coklat cadbury yang sedang di bawanya.


Tania hanya terkekeh pelan, dan merebut bantal itu dengan semangat. "Suka lah! Coklat favorit guet Dapet dari mana?"


Lelaki itu tidak menjawab, dan dengan seenak jidatnya ia masuk kedalam kamar Tania dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk gadis itu.

__ADS_1


"Sebagai permintaan maaf, soal yang tadi siang." Ucap Alvian dengam mata yang terpejam.


"Bisa aja lo nyogoknya! Padahal rencannya gue mau marah dua minggu sama lo," Alvian merubah posisinya menjadi duduk, dan menatap gadis itu dengan gemas.


"Marah kok di rencanaain, aneh lo."


"Ya habisnya kalau gak gitu, lo gak bakal kapok!" Tania menaruh bantal berbentuk coklat cadbury itu di rak khusus boneka yang ada di kamarnya, mengamati bantal lucu itu dengan mata yang berbinar senang.


"Kan udah di kasih bantal, habis ini berarti gak boleh marah lagi ya?" lelaki itu bangkit, menghampiri Tania dan berdiri di sebelah gadis itu. ia kemudian mengusap pelan puncak kepala kesayangannya.


Tania hanya menaikan bahunya, "Tergantung sih kalo lo bandel lagi, ya gue marah pasti."


Alvian tertawa pelan, kemudian menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapan hangatnya. Tania tidak menolak, gadis itu juga membalas pelukan hangat Alvian, menghirup aroma yang tercium begitu harum dari sahabatnya ini.


"Lo wangi," gumam Tania yang terendam dalam dada bidang Alvian.


Lelaki itu hanya tersenyum, kemudian melepaskan pelukannya. Menatap wajah Tania yang begitu cantik, tangannya tergerak untuk membelai lembut pipi gadis itu.


"Lo juga cantik," pujinya dengan tulus. Keduanya kemudian tertawa kecil saat sadar apa yang dilakukan, ya begitulah keduanya. sudah terbiasa bersama sejak kecil membuat mereka mengerti satu sama lain, selalu merasa nyaman di saat berdua meski tetap tahu batasan apa yang boleh di lakukan dan tidak.


"Dah ah, gue mau lanjut belajar dulu." Ucap Tania kemudian menjauhkan dirinya dari Alvian.


"Lanjutin aja, gue tunggu'in disini sampai selesai."


Gadis itu hanya mengangguk, Tania lantas kembali duduk di meja belajarnya dan berkuatat dengan rumus-rumsu yang harus dipelajarinya.


Jika kalian bertanya Alvian, jangan harap ia akan ikut belajar ataupun menyentuh buku-buku keramat itu.


Alvian memiliki alergi khusus terhadap perlajaran, dan jika ada yang memaksanya untuk belajar maka ia bisa demam seharian.


Beberapa menit berlalu, Alvian yang sedang asik dengan rokok dan pikirannya kini mulai merasa ketakutan saat mendengar suara gemuruh dari langit dan angin yang sedikit berhembus kencang pertanda hujan akan segera datang.


Iris mata kecoklatannya bergerak gelisah, saat mendengar suara semakin ribut yang bersahutan dengan suara tetesan hujan yang mulai berjatuhan di bumi secara perlahan.


Lelaki itu mencengkram tiang pembatas balkon, dadanya bergemuruh hebat namun masih coba untuk ia tahan.


"Sialan," batin lelaki itu.


Lelaki dengan rambut kecoklatan itu menarik napasnya dalam mencoba menormalkan debaran jantungnya yang begitu cepat hingga membuat tubuhnya terasa lemas, saat melihat dari arah langit dimana hujan yang turun semakin deras di ikuti angin yang lumayan kencang.


Napas Alvian mulai terengah - engah saat melihat itu, seolah pasokan udara ditempat ini benar - benar ditekan membuatnya susah untuk menarik udara.


Tubuh Alvian mulai bergetar hebat, diikuti dengan keringat dingin sudah membasahi wajahnya. Alvian hendak masuk ke dalam kamar Tania dan menutup pintu balkon rapat-rapat dari kursinya hendak, namun tidak bisa kakinya sudah lemas tubuhnya semakin tidak bisa dikontrol, lelaki itu akhirnya tergeletak di lantai sembari memeluk tubuhnya sendiri.


Rasanya sungguh sulit dijelaskan.


"Zyzy!" panggil lelaki itu agar Tania mendengarnya.


Alvian sangat membenci jika hal ini terjadi.


Mendengar Alvian yang sedikti menjerit dari arah balkon membuat Tania tersentak, gadis itu kemudian bangkit dari kursinya dan berlari menghampiri lelaki itu.


"Al astaga!" pekik gadis itu panik saat melihat kondisi Alvian.

__ADS_1


Dengan segera Tania menarik tubuh tegap Alvian yang sudah bergetar hebat ke dalam pelukan hangatnya, mendekapnya dengan hangat mencoba memberikan sedikit ketenangan untuk lelaki itu.


Sedangkan Alvian yang masih ketakutan dalam pelukan gadis itu. Alvian meremas kuat - kuat ujung kaos Tania untuk menyalurkan rasa takutnya.


"Al tenang." ucap gadis itu lembut sembari mengusap punggung Alvian untuk menenangkan.


"Gue takut," mendengar suara Alvian yang masih bergetar membuat Tania mengeratkan pelukannya.


Perlahan Alvian pun membalas pelukan Tania tidak kalah eratnya, menyembunyikan wajahnya di bahu sempit Tania dengan nyaman.


Ini adalah salah satu kelemahan yang paling Alvian benci dari dirinya, lelaki itu memiliki phobia yang di sebabkan oleh trauma masa lalu.


Ombrophobia atau traumatik terhadap hujan, ataupun tanda tanda akan datangnya hujan seperti mendung.


Hal ini terjadi dari beberapa tahun silam, dan hingga kini Alvian belum dapat mengontrol dirinya sendiri saat melihat hujan.


Jika sedang berada di tempat ramai akan sangat kesulitan bagi Alvian untuk mengendalikan dirinya, lelaki itu akan memilih bersembunyi di tepat yang gelap dan tertutup agar tidak dapat melihat apa lagi mendengar suara hujan.


Ini salah satu sisi lain dari si anak nakal dan pembuat onar itu, meskipun terkenal akan sikapnya yang dingin, nakal dan kasar di luar sana.


Namun sebenarnya lelaki itu adalah seorang yang sangat rapuh dan butuh perlindungan, hanya saja sikap Alvian yang seperti itu hanya di tunjukan untuk Tania seorang.


***


"Udah mendingan?" tanya Tania khawatir.


Kini keduanya tengah berbaring di kasur besar kamar Tania, dengan posisi Alvian yang masih memeluk Tania dengan erat. Dan Tania dengan senang hati mengusap rambut Alvian agar memberikan rasa nyaman pada sahabatnya itu.


"Dikit," jawab Alvian.


"Ya udah sekarang tidur disini, gue mau lanjut belajar. Hujannya juga udah reda tuh."


Namun saat gadis itu hendak bangkit dengan segera Alvian menahannya.


"Temenin dulu, masih takut." Ucap lelaki itu sembari menatap Tania dengan pandangan tidak suka, Tania hanya menghela napasnya pelan.


Lelaki itu menarik tangan Tania pelan membuat gadis itu kembali berbaring di sebelahnya dan langsung memeluknya erat.


Sejak dulu hanya Tania lah yang bisa menenangkannya di saat phobianya datang hanya gadis inilah yang mamapu membuatnya merasa nyaman dan terlindungi.


"Gue masih belajar,"


"Temenin," ucap lelaki itu tegas, seolah tidak ingin ditentang.


Tania memutar bola matanya malas, "Al." gadis itu mencoba memberi pengertian, namun sepertinya tidak berhasil.


"Gak mau tau," Tania menghela napasnya, pasti saja begini jadinya.


Alvian memang keras kepala, apapun yang lelaki itu inginkan harus dirinya dapatkan.


Tania sudah sangat hapal, seperti apa sifat dan watak dari sahabatnya ini.


"Yaudah iya gue temenin," Tania hanya bisa pasrah, mau mendebat pun akan kalah karna lelaki ini adalah Alvian si keras kepala.

__ADS_1


Alvian tersenyum penuh kemenangan dan mengeratkan pelukannya, Tania baginya sudah seperti pedang dalam medan pertempuran. Senjata yang membantunya melawan musuh ataupun rasa takut yang dalam hal ini adalah mendung dan hujan.


Hanya pada Tania, dirinya bisa memperlihatkan sisi terlemah yang ia miliki. Karena hanya Tania yang bisa mengerti dirinya, bahkan lebih dari keluarganya sendiri.


__ADS_2