Rainbow And Shield

Rainbow And Shield
Sahabat Katanya


__ADS_3

"Bisa tidak sekali saja, kamu tidak membuat masalah Alvian?!" begitulah bentakan Pak Dadang, salah satu guru bimbingan konseling yang setiap harinya di buat pusing oleh tingkah Alvian.


Setelah mendengar ada keributan yang terjadi lagi dan lagi antara Alvian dan Rafael, Pak Dadang segera memanggil kedua pembuat remaja itu untuk datang ke ruangannya.


Perkelhian antara keduanya tidak terjadi sekali ataupun dua kali, perkelahian dua murid populer itu seolah sudah rutinitas terjadi di SMA Pelita.


Alvian memandang Pak Dadang dengan tatapan tidak terima, "Kenapa selalu saya yang di bilang buat masalah? Sedangkan dia selalu di bela?" lelaki itu menunjuk Rafael, dirinya tidak terima jika terus disalahkan.


"Rafael mah anak baik, dia gak mungkin ngalawan kalau kamu gak mulai duluan!"


"Bapak ngomong kaya gitu hanya karna dia anggota OSIS kan? Bapak pilih kasih! Coba lihat juga dari sudut pandang saya Pak. Jangan belain dia terus!" ucap lelaki itu mendebat Pak Dadang.


Sungguh Alvian bosan, setiap Rafael memancing amarahnya dan berakhir keributan pasti selalu dirinya saja yang di salahkan.


Rafael selalu di anggap lemah dan dibela hanya karena jabatannya sebagai anggota OSIS, padahal itu hanya bentuk pencitraan.


"Tapi lo mukul gue duluan!" ucap Rafael membela diri.


Alvian menatap lelaki itu dengan tajam, "Lo yang mancing gue duluan. Jangan playing victim lo!"


"Sudah-sudah cukup!! Ampun eyke pusying kalau begini terus!" Pak Dadang melerai keduanya yang kembali adu mulut dengan gaya lemah gemulainya yang khas.


Guru itu lantas memijat pelipisnya pelan, kepalanya yang sudah botak bisa tambah mengkilat kalau terus meladeni dua orang keras kepala ini.


"Alvian sudah! Cepat minta maaf sama Rafael!" ucap Pak Dadang.


Alvian menggeleng, lelaki itu melipat kedua tangannya di dada. "Saya gak akan pernah minta maaf kalau saya gak salah,"


"Alvian! Mau saya buatkan surat pemanggilan orang tua?!"


"Terserah, tapi saya tetap gak mau merendah untuk orang yang derajatnya lebih rendah dari saya. Apa lagi untuk minta maaf, jangan harap." Ucapan tajam itu terlontar begitu saja dari mulut Alvian.


Lelaki itu lantas keluar dari rungan itu tanpa peduli apapun lagi. Wajahnya jelas terlihat menahan amarah, sekolah dan semua guru disini sangat menyebalkan menurutnya.


Mereka hanya melihat dari satu sudut pandang tanpa mau berfikir secara rasional. Langsung menghamiki siapa yang salah dan benar, tanpa mau tahu secara rinci.


Namun raut wajah lelaki itu berubah drastis saat melihat seorang gadis tengah menunggunya di luar ruang guru sembari menyandarkan tubuhnya di dinding.


Senyuman Alvian tertarik dan segera menghampiri kesayangannya itu.


"Nunggu'in gue?" suara Alvian membuat gadis itu menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Tania, gadis itu sudah dua puluh menit menunggu disini. Rasa khawatir dan marah sejak tadi menghantuinya.


Khawatir karena takut Alvian akan di skors atau diberi hukuman yang berat, marah karena lagi dan lagi lelaki itu membuat masalah.


"Manurut lo gimana? Gue disini nunggu Pak Dadang?" tanya gadis itu ketus membuat Alvian tertawa.


"Gemes banget kalau galak. Kaya singa betina." Lelaki itu hendak mencubit pipi Tania, namun gadis itu segera menghempasnya dan menatap lelaki itu tajam.


"Gak usah sentuh! Gue lagi marah ya!"


Alvian memajukan bibir bawahnya, "Kok gitu?"


"Al, kemarin udah janji loh gak bakal berantem lagi. Tapi sekarang apa? Jadi di panggil Pak Dadang lagi kan. Nanti kalau di DO gimana? Pikir untuk ke depannya kalau mau bertindak Al!"


Tania sudah berkali-kali memperingati Alvian, namun lelaki itu tetap saja bebal dan membuatnya geram sendiri.


"Gue gak akan mulai kalau dia gak mancing,"


"Tapi kan gak harus pukul-pukulan sampai masuk BK kan?"


Alvian menggeleng, "Mulut sampah kaya dia harus di pukul. Nanti kalau di biarin malah ngelunjak."


Tania menghela napasnya lelah, Alvian dengan kepala batunya memang susah jika diberi pencerahan.


Setelahnya Tania pergi meninggalkan Alvian dan kembali kekelasnya.


Melihat itu bukannya takut Alvian malah menarik senyumannya, tidak masalah gadis itu marah Alvian akan meminta maaf nanti. Yang penting hari ini dirinya puas, karena bisa menghajar mulut sialan Rafael yang berani menghina kesayangannya.


"Kalau dia gak ngehina lo mungkin gue gak bakal marah. Tapi tadi dia udah ngehina kesayangan gue. Jadi gue gak bisa toleransi itu," gumam Alvian sembari menatap punggung Tania yang kian menjauh.


lya, Tania kesayangan Alvian. Oh! Ralat, sahabat kesayangan Alvian maksudnya.


***


"Zyzy, tungguin dong!" Alvian mencoba mengejar Tania.


Dirinya sudah memaanggilnya berkali-kali, namun Tania tidak mau menyahut ataupun menghentikan langkahnya.


Lelaki itu akhirnya memilih berlari kecil dari ujung kodidor untuk mengejar langkah Tania, dan setelahnya menarik tangan gadis itu agar berhanti melangkah dan menoleh ke arahnya.


Alvian tersenyum manis, tangannya tergerak untuk menggenggam tangan Tania dengan erat.

__ADS_1


"Udah dong main india-india'annya, Al capek."


"Yang nyuruh ngejar gue, siapa bego!"


"Habisnya dari tadi udah nungguin mau ngajak pulang bareng, Eh lo malah kabur," ucap lelaki itu polos membuat Tania gemas sendiri.


Namun ia harus tetap terlihat cuek agar lelaki ini tahu bahwa dirinya masih marah.


"Gue masih marah ya, mau pulang sendiri aja. Males sama lo!"


Tania menatap Alvian galak, dan mencoba melepaskan tangannya yang di genggam oleh lelaki itu namun tidak bisa. Alvian jauh lebih kuat.


"Iya-iya Al minta maaf. Jangan marah terus dong. Al ngaku salah. Besok janji deh gak berantem lagi," lelaki itu bicara layaknya anak kecil, namun Tania justru berdecih.


"Halah, sekarang janji besok juga di ingkar'in." Cibirnya kesal.


Alvian terkekeh pelan, kemudian merangkul bahu kesayangnnya. "Tau aja, deh."


"Udah hapal gue sama isi otak lo,"


Keduanya lantas berjalan menuju parkiran setelah beberapa drama tadi, dengan Alvian yang masih merangkul bahu Tania dengan hangat dan celotehan Tania yang menasehati Alvian ini dan itu.


Keduanya terlihat sangat dekat dan serasi hingga banyak yang mengira mereka adalah sepasang kekasih walaupun tidak begitu adanya.


"Makan dulu yuk di warung pecel lele deket stadion, gue laper. Lo juga belum makan dari siang kan?" tanya Alvian, sedangkan gadis itu hanya mengangguk.


"Boleh, gue juga laper." Ucap Tania seadaanya.


Lelaki itu menarik senyumannya lebar, dan semakin mengeratkan rangkulannya. "Berarti udah gak marah lagi ni?"


"Masih ya! jangan harap cuma di traktir makan gue bakal maaf'in ya! Enak aja!" Tania menatap Alvian dengan sinis, sedangkan yang di tatap hanya tersenyum.


"Kesayangan Al gak boleh marah lama-lama, nanti jelek tau." Lelaki itu mencolek dagu Tania dengan jahil, membuat gadis itu ingin mutah sekarang juga.


"Kesayangan sih, tapi sayangnya cuma sebatas sahabat!" sindir Tania jahil membuat Alvian tertampar akan kenyataan.


Setelahnya gadis itu melepas rangkulan Alvian, dan berjalan lebih dahulu menuju parkiran.


Alvian hanya tertawa kecil dan mengejar Tania, "Wah!! Ngode minta di serius'in Neng? Mau kawin kapan? Abang mah ayo aja!"


"Emang gue mau sama lo? Wlee!!"

__ADS_1


"Harus mau lah. Kalau gak mau nanti Al paksa!"


Ingat, mereka hanya sahabat. Iya, sahabat yang bertingkah layaknya pasangan suami istri. Aneh memang.


__ADS_2