Rainbow And Shield

Rainbow And Shield
Lapangan Basket


__ADS_3

Alvian kini sedang berada di lapangan basket untuk berlatih bersama ketiga temannya yang lain, lelaki itu sedang melakukan latihan rutin yang selalu diselenggarakan mengingat semakin dekatnya pertandingan basket antar sekolah yang sebentar lagi dilaksanakan.


Alvian Regananta, selain terkenal sebagai tukan rusuh di SMA Pelita lelaki tampan itu juga dikenal sebagai kapten Tim Basket utama di sekolah ini.


Kemampuan lelaki itu dalam permianan basket sudah tidak bisa di raguan lagi, dan semua orang sudah mengakui itu. ekskul Basket di SMA Pelita juga memang di kenal sebagai salah satu Ekskul paling terkenal dan didominasi oleh anak - anak yang tampan dan juga terkenal.


Prestasi yang sudah di hasilkan ekskul ini juga bukan main. Apalagi saat Alvian yang menjabat sebagai ketuanya, karena hal itu jugalah tim sekolah perlu berfikir lebih lanjut untuk men-DO Alvian.


Langit mulai berwarna jingga terang, matahari sudah dapat di pastikan sebentar lagi akan tenggelam dan meninggalkan bumi dalam kegelapan. Bel pulang sekolah sudah berdering sedari beberapa jam yang lalu, tapi mereka masih asik dengan permainan basketnya, hingga melupakan bahwa waktu sudah mengharuskan mereka untuk pulang.


Namun hari ini sekolah masih saja ramai, karena kebanyakan ekskul yang ada di SMA Pelita memang dilaksanakan pada hari ini. dan biasanya ekskul memang menyita waktu yang cukup lama, jadi tidak heran kalau masih banyak murid yang berada di sekolah.


"Bas oper sini!" teriak Rasta pada Bastian yang mendribble bola basketnya serakah, lelaki tinggi itu tidak membiarkan teman temannya yang lain kebagian bola.


"Ogah! Istri gue gak boleh di oper!" jawab Bastian seenak jidat.


Itulah Bastian. Saking cintanya lelaki itu pada permainan bola basket, maka setiap latihan la akan serakah dan tidak membiarkan siapapun kebagian bola. Katanya bola itu adalah istrinya, hanya dia yang bisa memilikinya.


"Dih si anjir, oper bego!" Gandi yang sejak tadi mencoba sabar pun sudah tidak bisa, pasalnya la hanya berdiri memandangi Rasta dan Bastian yang sibuk rebutan bola tiada henti.


"Kagak mau! Noh bola cadangan masih banyak, ambil aja sono!" teriak Bastian masih kukuh mempertahankan bola ditangannya.


"Bastianjing kita lagi latihan satu Tim Bego!" Rasta mencoba mengejar Bastian, dan merebut bola itu dari tangan Bastian.


Namun dengan cekatan Bastian melakukan Pivot hingga ia akhirnya bisa kembali berlari menjauh sembari membawa bolanya.


"Dih, gak mau gasuka gelay gue se tim sama lo!!" Bastian berlari mendekati ring basket bersiap melakukan Shooting.


"Wah lo bener - bener mancing keributan sama gue ya, Bas!" Gandi yang sudah kesal mulai melangah maju menghampiri Bastian dan menjambak rambut lelaki itu.


"Aw! Aw! Anjing!" pekik Bastian kesakitan, bola basket yang ada ditangannya pun sudah lepas.


Melihat hal itu membuat Rasta dan Gandi seketika saling toleh, lalu tersenyum penuh arti.


"Ras, Serang!!"


"Siap bos qu!"


Dan terjadilah kekerasan publik disana, dimana Gandi yang setia menjambak sembari memegangi kedua tangan Bastian dan Rasta yang sibuk menggelitiki lelaki itu tanpa ampun hingga matanya berair karena kegelian.


Sedangkan Alvian kini hanya berdiri dengan wajah cengo saat melihat tingkah teman - temannya yang seperti anak kecil itu, ia hanya memandangi ketiga manusia bodoh itu dengan pandangan datar.


Alvian menghela napasnya berat tidak berniat ikut campur sedikitpun urusan para monyet itu, kemudian Alvian memilih berlari kecil pergi kepinggir lapangan untuk istriahat dari pada meladeni ketiga temannya yang gila itu.


Setelah sampai di pinggir lapangan, Alvian memilih duduk di kursi tribun. Lelaki tampan itu menyugar rambutnya yang basah karena keringat kebelakang, seluruh tubuh bahkan baju basket lelaki itu juga sudah dibasahi peluh.


Jelas, karena mereka sedang latihan di lapangan outdoor di cuaca sore yang lumayan terik. Alvian mengambil handuk kecil dalam tasnya dan mulai mengelap keringatnya.


Pemandangan itu dapat di pastikan menjadi tontonan yang sangat indah dan memanjakan mata yang sudah lelah bagi para siswi yang tidak sengaja lewat di pinggir lapangan basket, lagi pula siapa sih yang tidak tahu seberapa tampannya Alvian.


Lelaki itu bahkan dinobatkan sebagai pangeran sekolah karena ketampanannya yang dinilai mengalahkan jabatan pangeran sekolah sebelumnya.


Pesona Alvian benar - benar memabukan, membuat siapapun betas memandangi wajah lelaki itu seharian.


Saat sudah selesai mengelap keringatnya Alvian hendak merapikan barang- barangnya dan bergegas pulang, namun ia dikagetkan oleh sebotol minuman yang disodorkan ke hadapannya.


Alvian mendongak menatap siapa yang memberi minuman itu. Dan terlihatlah seorang gadis cantik yang tersenyum begitu manis ke arahnya.


"Nih kak, minum dulu! Kakak pasti haus kan?" ucap gadis itu semangat, harap - harap Alvian mau menerima minum darinya.

__ADS_1


Gadis cantik itu Revanya Genandy yang sering disebut sebagai siswi paling cantik di kelas XI SMA Pelita.


Dengan kata lain adik kelas Alvian, Vanya adalah salah satu dari sekian banyak siswi yang dengan berani memperlihatkan rasa sukanya pada Alvian.


Jika siswi lain cepat gak kuat dengan sikap dingin Alvian jika didekati, maka lain dengan Vanya gadis itu pantang menyerah.


Manik mata legam Alvian bergulir malas, lelaki itu sama sekali tidak ada niatan untuk menjawab apa lagi menerima pemberian Vanya.


Dari yang Alvian tahu gadis ini sangat percaya diri dan juga over dalam segala hal, nanti takutnya kalau Alvian terima malah dikira ngasih harapan kan repot.


Memilih tidak peduli, Alvian melanjutkan kegiatannya untuk merapikan beberapa barangnya. Hendak pergi sesegera mungkin dan menjauh dari radius bahaya gadis ini.


Melihat Alvian yang hendak pergi menjauhinya dengan segara Vanya menahan tangan Alvian dengan berani.


"Kak tunggu!"


Hal itu membuat Alvian menatap Vanya dengan tajam lelaki itu paling tidak suka di sentuh sembarangan, dan sekarang gadis itu sudah terlalu lancang padanya padahal mereka tidak terlalu dekat ataupun akrab. Kenal pun hanya sebatas tahu nama dan wajah saja.


"Lepas," ucap Alvian tajam namun masih dengan wajah datarnya.


"Enggak sebelum kakak ambil minum dari aku!"


Alvian menggeram marah, gadis ini terlalu ingin mengatur hidupnya dan berani menantangnya.


"Lepas, sebelum gue bertidak kasar."


Vanya masih bersikeras, "Ambil dulu kak, Ihh!!"


"Udah deh, adik manis adik cantik! Lepasin kakak Alviannya, sini sama abang aja!" Gandi tiba - tiba saja datang menghampiri Alvian dan Vanya di pinggir lapangan.


"Apaan sih lo, najis gue liat muka lo!" Sentak Vanya tak suka, lalu kembali menoleh ke arah Alvian dengan pandangan memohon.


"Ya udah." dengan berat hati Alvian mengambil minuman yang ada di tangan gadis itu, Vanya jelas tersenyum.


Namun sedetik berikutnya senyuman gadis cantik itu luntur saat melihat Alvian melempar minuman itu pada temannya.


Vanya mendelik tidak terima, "Kak, kok gitu sih?"


Alvian hanya menaikan bahunya acuh, lalu menjauhkan tangannya dari Vanya. "Yang penting udah gue ambil kan? Lo cuma nyuruh gue ambil btw, bukan suruh gue minum." Ucap Alvian dengan wajah datar yang amat menyebalkan bagi Vanya.


Lelaki itu lalu memilih pergi keluar lapangan basket dengan berlari kecil, tidak peduli dengan Vanya yang masih memanggilnya sembari menggerutu kesal.


"Makanya kalau gak mau jangan dipaksa!" ledekan itu datang dari Rasta yang sudah selesai dengan aksi bodohnya menggelitiki Bastian yang sudah terlentang tidak berdaya ditengah lapangan basket karena kegelian.


"Lo pikir lo cantik begitu, hah? Caper sana sini gak tau malu!" begitulah Rasta, orang - orang malas mencari masalah dengan lelaki itu karena memiliki mulut pedas yang siap melontarkan kata - kata menyakitkan.


Vanya menggeram kesal, "Apasih lo, najis!"


Gadis itu segera pergi dengan emosi yang sudah diubun - ubun karena ucapan tajam Rasta dengan kaki menghentak dan tangan mengepal kuat.


"Mulut lo keterlaluan," Gandi menggelengkan kepala merasa heran dengan temannya yang satu ini memiliki mulut yang begitu pedas dan berbisa.


"Biar sadar diri,"


Gandi hanya memutar matanya malas, kemudian lelaki itu menengok ke arah tengah lapagan dimana terdapat Bastian disana yang tergeletak lemah dengan napas terengah-engah karena ulah mereka.


"Itu anak orang gak mau ditolongin?" Rasta hanya mengangkat bahunya cuh,


"Biarin aja, entar dijemput maut. Kita enak bisa makan gratis pas melayatnya,"

__ADS_1


Gandi hanya menggelng heran, Rasta tetaplah Rasta si lelaki dengan mulut tajam dan berbisa.


***


Lain dengan Alvian, setelah berhasil melepaskan diri dari jeratan Vanya tadi lelaki itu segera berlari menuju parkiran.


Senyum lelaki itu merekah tidak sabar bertemu seseorang yang sudah menunggunya di parkiran. Alvian sudah tidak sabar untuk bertemu orang itu, karena orang itu sudah seperti obat pengembali mood untuknya.


Saat sampai di parkiran sudah dapat Alvian lihat seorang gadis dengan almater biru yang melekat di tubuhnya, berdiri sembari bermain ponsel menunggunya di depan mobil hitam milik Alvian. Dengan langkah semangat, lelaki itu menghampirinya.


"Udah lama nunggunya Zy?" tanya Alvian ramah pada gadis itu. Nada dan logatnya langsung berubah lembut, tidak seperti saat bicara dengan Vanya tadi.


"Udah dari tahun lalu!" bukan Tania yang menjawab, melainkan gadis di sebelahnya.


Teman Tania, Kiara.


"Gue nanya Tania," ucap lelaki itu malas.


"Yang bilang lo nanya Mbah mijan siapa?!" Kiara sudah sangat kesal.


Hari ini ia harus pulang cepat karena perintah ayahnya. Namun tetap saja jadi terlambat karena harus menunggu Tania ada yang di tebengin dulu.


"Ra, udah sana katanya tadi mau pulang! Gue udah ada tebengan!" ucap Tania entang.


Hal itu membuat Kiara memandang tak percaya ke arah Tania. Tidak tahu terimakasih sekali, sudah rela Kiara menunggu dan sekarang malah diusir?


"Okay, Bye!" pamit Kiara kesal


Kemudian Kiara melenggang pergi menuju mobilnya. Sialannya, jika tahu begini tadi Kiara tidak mau menemani Tania menunggu Alvian selesai latihan.


"Nih, minum!" Tania menyodorkan sebotol minuman dingin pada Alvian, gadis itu tahu kalau Alvian pasti belum minum apapun setelah bermain basket tadi.


Alvian tersenyum cerah, senyum yang tidak akan ditunjukannya pada siapapun keculi Tania-nya.


"Makasih sayang," Alvian menerima minuman itu kemudian menegaknya hingga habis.


Setelahnya meremas botol plastik itu dan melemparnya ketempat sampah. Tania memutar bola matanya malas,


"Sayang - sayang ndas mu!"


"Simulasi sebelum jadi pacar hehe," lelaki itu terkekeh geli.


Tania malas dan mendengus tidak suka, "Emang gue mau sama cowok nakal kaya lo?"


Alvian menaikan sebelah alisnya, "Kalau gak mau, ya tinggal gue paksa lah kok ribet."


Gadis itu terkekeh mendengar jawaban Alvian.


"Dasar."


Tania mengusap pelan rambut Alvian yang masih basah sembari tersenyum geli karena tingkahnya sendiri.


Alvian beralih menggengam tangan Tania dan mengecupnya singkat, kemudian merangkul bahu Tania dengan sayang.


"Udah sore yuk pulang. Tapi Al mau dibuatin nasi goreng ya," ucap lelaki itu antusias.


"Iya.


"Yey!" pekik lelaki itu kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2