Ranjang Tuan Muda Lumpuh

Ranjang Tuan Muda Lumpuh
Bab 1 : Sebuah Rencana


__ADS_3

Setelah ayahnya meninggal, hidup Elena berubah drastis. Dia harus banting tulang untuk menghidupi saudara tiri beserta ibunya yang kini masih tetap tinggal di rumahnya. Jika tidak mengingat pesan sang ayah, Elena sudah mengusir lama dua orang yang selama ini menjadi bebannya. Bagaimana tidak, dua orang yang masih diberikan akal dan kesehatan itu sama sekali tidak mau bekerja dan selalu mengandalkan Elena.


“El, uang bulanan udah habis.” Rosemaya, ibu tiri Elena mengadu.


Elena yang saat ini sedang sarapan langsung mendongak untuk menatap ibu tirinya yang duduk didepannya. “Habis? Bukankah uang bulanan baru saja Elen berikan satu Minggu yang lalu. Kenapa cepat sekali habisnya?”


Sejenak Rosemaya terdiam, karena tidak mengatakan yang sesungguhnya kemana perginya uang bulanan yang diberikan oleh Elena.


“Elen sudah tidak punya uang lagi, Bu. Lagian Elen gajian hanya satu kali dalam satu bulan,” lanjut Elena sambil menghela napas panjang.


“Bohong jika kamu tidak punya uang lagi. Bukankah sebelum meninggal ayahmu memberikan tabungannya untukmu. El, kamu jangan jadi anak durhaka, ya! Meskipun aku hanya ibu tirimu, tapi aku yang merawat dan membesarkanmu. Aku harap kamu tidak melupakan jasaku.”


Lagi-lagi Elena hanya bisa membuang napas kasarnya. Memang dia tidak lupa akan jasa ibu tirinya yang telah merawatnya sejak Elena berusia tiga tahun.


“Aku tahu dan aku tidak akan lupa tentang jasa ibu, tapi tabungan itu untuk masa depanku, bukan untuk Ibu.”


“Elen! Kamu jangan lupa, didalam tabungan itu ada bagian milik Kevin! Jangan serakah kamu!” hardik Rosemaya kesal, karena Elena bersikeras tidak ingin memberinya uang lagi.


“Aku tahu dan aku tidak akan mengambil bagian milik Kevin. Aku akan memberikan bagian miliknya saat dia benar-benar membutuhkannya. Sudahlah, jika ibu butuh uang lebih, suruh anak ibu untuk bekerja. Jangan hanya makan tidur saja di rumah ini!”


Karena Elena malas berdebat lama dengan ibu tirinya, dia memilih untuk meninggalkan meja makan, sekalipun sarapannya belum habis.


“Elenn!” teriak Rosemaya saat Elena berlalu begitu saja. “Dasar anak kurang aja!”


Karena Rosemaya sebelum mendapatkan uang dari Elena dia berusaha mengejar anak tirinya itu, karena jika Elena benar-benar tidak memberikan uang kepadanya maka habislah dia hari ini. Namun, saat Rosemaya sampai di teras ternyata Elena sudah tidak mendapatkan keberadaan Elena.


“Sial! Ini tidak bisa dibiarkan! Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan uang itu hari ini juga. Kalau tidak—” Rosemaya bergidik ngeri ketika membayangkan tubuh para rentenir yang selalu mendatangi rumahnya.


“Kevin!” teriak Rosemaya memanggil anaknya.


Satu jam kemudian ...

__ADS_1


Bersama dengan Kevin, Rosmaya nekat mendatangi kantor tempat Elena bekerja, karena hari ini dia harus bisa mendapatkan uang dari Elena. Namun, saat berada di parkiran tak sengaja Rosemaya mendengar sebuah percakapan. Diam-diam dia mendengarkan percakapan itu kemudian terbesit dalam hati untuk mengambil sebuah kesempatan emas yang ada di depan matanya.


Tiba-tiba ... Bruuukk


Rosemaya sengaja menyenggol lengan seorang wanita tua yang ada di depannya dan langsung terjatuh ke tanah.


“Aduh ... sakit.” Rosemaya meringis, seolah sedang kesakitan.


“Anda baik-baik saja?” Seorang pria bertubuh tegap di samping wanita tua itu berusaha membantu Rosemaya untuk bangkit.


“Aku tidak tahu, tapi kakiku terasa sangat sakit. Mungkin kakiku terkilir. Aduh .... ” Rosemaya meringis sambil memegangi kakinya.


“Nyonya, bagaimana ini? Sepertinya kaki wanita ini terkilir.”


Wanita tua yang tak lain adalah nenek dari sang pemilik perusahaan itu membenarkan kacamatanya untuk memperhatikan Rosemaya yang masih meringis kesakitan. Dia adalah nenek Amora. Meskipun usia sudah menginjak diangka 70 tahun, tetapi dia masih terlihat seger bugar.


“Bawa dia ke ruanganku!” titahnya.


“Baik, Nyonya.” Reno segera membantu Rosemaya untuk bangkit.


Senyum di bibir Rosemaya mengembang luas ketika dia telah berada di ruangan nenek Amora. Tidak sia-sia hari ini dia mendatangi kantor tempat Elena bekerja, karena dia bisa bertemu langsung dengan nenek Amora, Nyonya besar pemilik perusahaan itu.


“Ren, segera hubungi dokter Armada untuk kesini!” titahnya pada Reno.


“Baik, Nyonya.” Lagi-lagi Reno patuh.


“Em ... tunggu! Tidak usah repot-repot. Aku baik-baik saja. Ini hanya terkilir saja. Nanti juga sembuh.” Rosemaya sedikit ketakutan. Dia takut jika dokter memeriksanya dan menemukan jika dia hanya berpura-pura saja.


“Benarkah? Baiklah jika itu maumu. Tapi jangan menuntut jika kelak terjadi sesuatu dengan kakimu!”


“Tidak. Tidak akan!” Rosemaya segera menggeleng dengan pelan. “Em ... Nyonya.” Rosemaya mencoba memberikan diri untuk memanggil nenek Amora.

__ADS_1


Wanita tua yang terlihat sedang banyak pikiran itu langsung menatap Rosemaya dengan tajam. “Ada apa?”


“Em ... maaf, apakah Anda sedang mencari seseorang untuk Anda nikahkan dengan cucu Anda yang lumpuh itu?”


“Apakah kamu tadi menguping pembicaraanku?”


“Maaf, aku tidak sengaja. Jika baner, aku bisa membantu Anda untuk menemukan wanita itu. Aku bisa menjamin jika wanita itu sesuai dengan kriteria yang Anda cari. Bagaimana?”


Reno yang berada tidak jauh dari tempat duduk nenek Amora langsung mendekat. “Tunggu, Nek! Jangan asal percaya dengan orang asing. Bisa saja dia adalah orang suruhan dari nyonya Amber,” cegahnya.


“Benarkah?”


Dengan cepat Rosemaya langsung menggelengkan kepalanya untuk menepis tuduhan Reno.


“Tidak! Itu tidak benar. Ya, kuakui aku salah karena tidak sengaja mendengar percakapan kalian berdua. Tapi aku benar-benar ingin membantu untuk mencarikan wanita yang sesuai dengan kriteria itu. Jika berkenan, aku ingin mengajukan putriku untuk menikahi cucu Anda, Nyonya. Semua kriteria yang anda sebutkan tadi dimiliki oleh putri saya. Jika Anda tidak percaya, Anda boleh membuktikan sendiri karena dia bekerja di perusahaan ini.”


Nenek Amora pun langsung menatap Reno penuh arti, tetapi tidak dengan Reno yang masih tidak mempercayai ucapan Rosemaya.


“Nyonya, tolong percayalah kepadaku jika aku tidak membohongimu. Aku terpaksa mengajukan putriku karena aku ingin saat aku tidak ada nanti, dia telah mempunyai keluarga. Jadi dia tidak akan merasa sendirian di dunia ini.”


“Apa maksudmu?”


Tidak ingin membuang kesempatan, Rosemaya segera bercerita kepada nenek Amora jika saat ini dia sedang mengidap penyakit kanker dan usianya tidak akan lama lagi.


“Ren, coba selidiki wanita yang bernama Elena. Aku tidak ingin salah langkah dalam mengambil sebuah keputusan.”


“Siap Nyonya.” Reno pun berlalu pergi meninggalkan ruangan nenek Amora.


Aku yakin jika nenek tua ini pasti akan menerima Elena, karena memang semua kriteria yang disebutkan ada pada Elena. Dia cantik, sabar, penurut bahkan dia bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Jangankan hanya mengangkat kursi roda, mengganti genting yang bocor saja Elena bisa.


Rosemaya tersenyum kecil, karena sebentar lagi dia akan mempunyai besan kaya raya. Tentu saja setelah ini dia bisa langsung melunasi hutang-hutangnya pada rentenir itu.

__ADS_1


...~To Be Continue ~...


__ADS_2