Ranjang Tuan Muda Lumpuh

Ranjang Tuan Muda Lumpuh
Bab 3 : Penolakan Zeen


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama, mobil yang dinaiki oleh nenek Amora dan juga Elena telah sampai disebuah rumah besar yang berusaha putih layaknya sebuah istana. Dada Elena kian berdebar saat pintu mobil dibuka.


“Ayo turun!” ajak nenek Amora. “Tidak usah takut, aku tidak akan menyiksamu asalkan kamu patuh.”


Perlahan Elena pun menurunkan kakinya meskipun rasanya terlalu berat.


“Sam, bawa koper Elena dan berikan pada pelayan.”


Pria yang dipanggil Sam segera mengambil alih sebuah koper yang saat ini sudah dipegang oleh Elena. “Baik, Nyonya.”


Sebelum nenek Amora mengajak Elena untuk masuk kedalam rumah yang bak istana, terlebih dahulu dia menjelaskan jika di rumah itu juga tinggal om dan tante Zeen. Nenek Amora juga memberi peringatan agar Elena berhati-hati dengan dua orang itu.


“Abaikan saja Sheila dan Verdi. Meskipun Sheila adalah anakku, tetapi dia sangat berbahaya untuk Zeen. Jangan pernah takut padanya. Jika dia mengancammu, segera beri tahu. Tugas kamu hanya fokus pada Zeen dan segera berikan anak agar Shela tidak semakin menjadi-jadi.”


Elena masih terdiam tanpa kata. Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga nenek Amora, tetapi Elena yakin nenek Amora bukanlah orang jahat.


Baru saja maju satu langkah, tiba-tiba seorang wanita cantik menghadang keduanya.


“Ibu, siapa dia? Apakah dia perawat Zeen yang baru?”


“Dia bukan perawat Zeen, tapi calon istrinya.”


Mendengar ucapan ibunya, Sheila langsung membulatkan matanya dengan lebar, karena terlalu terkejut. “Apa? Calon istri? Jangan bercanda, Bu! Zeen itu lumpuh! Siapa yang mau menikahi pria lumpuh.” Sheila tertawa sinis saat melihat Elena. “Kecuali orang yang hanya mengincar hartanya saja.”


“Sheila, cukup! Tidak semua orang gila harta! Sudahlah, Ibu masuk dulu. Elena, ayo masuk!” Tangan nenek Amora menuntun Elena untuk masuk kedalam rumah.


“Ingat apa yang aku katakan tadi! Meskipun dia adalah anakku, tetapi abaikan saja ucapannya. Dia memang seperti itu.”


Kali ini Elena sudah berada di dalam sebuah kamar yang begitu besar dan mewah. Terlihat juga ada dua pelayan yang siap untuk melayaninya.


“Kalian ngapain masih disini?” tanya Elena heran karena dua orang pelayan tak kunjung meninggalkan kamarnya.


“Kami akan melayani Anda, Nona.”


“Melayani?” cicit Elena. “Tapi aku tidak butuh untuk dilayani.”


“Tapi ini adalah perintah dari nyonya besar. Maaf, kami akan tetap melayani Anda.”

__ADS_1


Elena hanya bisa membuang napas kasarnya. “Terserah kalian ajalah. Aku capek, mau mandi dulu.”


Dengan cepat salah satu pelayan itu langsung masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air mandi Elena. Sedangkan yang satu lagi segera mencarikan pakaian yang akan dikenakan oleh Elena.


***


Malam ini nenek Amora sengaja mengumpulkan semua anggota keluarga yang ada di rumah itu, tak terkecuali dengan Zeen yang turut hadir dalam. Pria yang terlihat dingin itu tak lepas pandangannya pada sosok Elena yang duduk di samping neneknya. Dalam hati dia hanya membatin jika wanita itu adalah perawat baru untuknya.


“Mungkin ini terlalu cepat.” Nenek Amora menghela napasnya. “Tapi lebih cepat lebih baik.”


Verdi yang baru saja pulang dari kantor menatap penuh arti kepada istrinya. Dia tidak tahu dengan maksud ucapan ibu mertuanya. Mungkinkah sang ibu mertua akan mengesahkan harta warisan serta menyerahkan perusahaan kepadanya? Bibir tersenyum kecil, karena sebentar lagi semua ambisinya akan segera tercapai. Begitulah yang Verdi pikiran saat ini.


“Nenek sudah memutuskan jika lusa Zeen dan Elena akan melangsungkan pernikahan,” ujar nenek Amora.


Seketika bola mata Verdi langsung membulat dengan lebar karena terlalu terkejut dengan ucapan sang ibu mertua. Begitu juga dengan Zeen yang tak kalah terkejutnya.


“Apa? Menikahi?” Zeen tersenyum sinis.


“Iya. Keputusan Nenek sudah bulat dan Nenek sudah menemukan wanita yang tepat untukmu. Kelak segera beri Nenek cicit agar ada yang meneruskan perusahaan milik ayahmu,” jelas nenek Amora.


“Bu ... kenapa mendadak seperti ini?” protes Verdi yang merasa tidak terima jika Zeen menikah dan mempunyai anak. Tentu saja semua harta warisan itu akan jatuh kepada anaknya Zeen.


“Bu—” Verdi ingin memprotes, tetapi tangannya langsung dipegang oleh istrinya. Seolah sang istri memberi isyarat agar Verdi diam.


“Nek, aku tidak mau menikah!” Kini suara penolakan keluar dari mulut Zeen.


“Nenek tidak butuh jawabanmu, karena disini Nenek yang berkuasa. Jika kamu benar-benar menyayangi Nenek, ikuti saja jalan yang Nenek berikan untukmu. Semua ini juga untuk kebaikanmu.”


Zeen yang tidak terima akan jalan yang diberikan oleh neneknya memilih untuk pergi meninggalkan ruang tengah, tanpa ingin meminta bantuan dari siapapun. Bahkan saat seorang pelayan ingin mengantarkannya, Zeen langsung menepis tangannya.


“Aku bisa sendiri!” ketusnya dingin.


Nenek Amora hanya bisa menghela napas panjangnya. Dia tahu jika sang cucu pasti tidak akan setuju dengan keputusannya.


“Elen, tidak usah kamu pikirkan ucapan Zeen. Setuju atau tidak setuju, Zeen tetap akan menikah denganmu,” ucap nenek Amora kepada Elena.


Elena hanya mengangguk pelan. Rasanya terlalu canggung saat dirinya seperti tidak diinginkan untuk oleh anggota keluarga yang lainnya. Akan tetapi Elena masih percaya kepada nenek Amora jika wanita tua itu akan melindunginya. Terlebih saat ini nenek Amora sudah memberikan sejumlah uang untuk ibu tirinya.

__ADS_1


“Iya, Nek.”


***


Di dalam kamar, Zeen terus mengepalkan genggaman tangannya, karena tidak terima dengan keputusan sang nenek. Bagaimana bisa sang nenek menyuruhnya untuk menikah dengan wanita asing yang sama sekali tidak dikenal. Bagaimana jika wanita itu hanya memburu hartanya saja, karena wanita normal tidak akan mungkin akan tulus merawat pria cacat. Apalagi sampai seumur hidup.


Tok ... tok ... tok


“Zeen, ini aku. Aku disuruh nenek untuk mengantarkan obatmu.”


Genggaman tangan semakin mengeras ketika mendengar siapa pemilik suara itu. Zeen memilih untuk mengabaikan panggilan dari luar, bahkan dia enggan untuk membuka pintunya.


“Zeen, buka pintunya!” Elena masih berusaha memanggil Zeen.


Sebenarnya Elena sendiri paling tidak suka diabaikan oleh seseorang, tetapi untuk saat ini dia harus pasrah dengan keadaan. Dia harus merendahkan demi sebuah rumah peninggalan sang ayah yang penuh kenangan dan demi ibu tirinya agar tidak mengungkit kisah tentang ibu kandungnya.


“Ada apa?”


Elena tersentak dengan suara dari belakangnya. Siapa lagi jika bukan nenek Amora yang menegurnya.


“Em ... ini, Nek. Zeen tidak merespon. Apakah dia sudah tidur?”


“Benarkah?” Nenek Amora mengernyit. “Jum ambilkan kunci cadangan untuk pintu kamar Zeen!” teriaknya pelayan yang bernama Jum.


Dengan tergopoh wanita tengah baya itu langsung mendekat kearah nenek Amora untuk menyerahkan kunci cadangan pintu kamar Zeen. “Ini, Nyonya.”


Baru saja nenek Amora ingin membuka pintu kamar Zeen dengan kunci cadangan, tiba-tiba saja pintu telah dibuka dari dalam.


“Sudah Nenek duga! Zeen, jangan seperti anak kecil! Nenek melakukan semua ini demi kebaikanmu dan juga demi masa depan kamu,” ujar nenek Amora sambil menghela napas kasarnya.


“Kebaikan dan masa depan apa, Nek? Aku sudah tidak punya masa depan. Nenek jangan mau ditipu oleh wanita itu! Bisa saja dia hanya ingin mengincar harta, karena tidak akan mungkin ada seorang wanita yang benar-benar tulus menerima pria cacat sepertiku.”


“Tapi itu tidak berlaku dengan Elena. Nenek sudah menyelidikinya, jadi Nenek yakin jika Elena bisa merawatmu dengan tulus, bahkan bisa menerimamu apa adanya,” jelas nenek Amora lagi.


“Tapi Nek—”


...~To Be Continue~...

__ADS_1


Terima kasih untuk yang sudah singgah ke novel ini, semoga novel bisa selesai dengan sempurna, tanpa hiatus.


Salam hangat ~teh ijo~ ( Boru Regar )


__ADS_2