Ranjang Tuan Muda Lumpuh

Ranjang Tuan Muda Lumpuh
Bab 5 : Hanya sebuah Alasan


__ADS_3

Malam pertama berlalu begitu saja, karena sang pengantin memilih untuk tidak di kamar terpisah. Setelah melakukan perdebatan dengan Elena, Zeen semakin yakin jika wanita itu hanya mengincar hartanya saja.


“Dia pikir setelah berhasil menikah denganku bisa menguasai harta keluargaku? Terlalu bermimpi!”


Dalam kesunyian malam, mata Zeen belum bisa terpejam. Lagi-lagi dan lagi penyakitnya kambuh karena dia sengaja tidak meminum obatnya. Rasa gelisah melanda sehingga dia tak bisa tidur.


“Sial! Ternyata aku masih tetap ketergantungan dengan obat!” umpatnya.


Karena tidak bisa tidur, Zeen berusaha untuk mencari obat yang dibawa oleh Elena beberapa jam yang lalu. Dengan kekuatan yang dimilikinya, Zeen untuk meraih kursi roda yang berada tak jauh dari ranjang tempat tidurnya. Meskipun kedua kakinya tidak bisa digerakkan, tetapi Zeen masih bisa untuk bangkit sendiri, semua itu karena dia sudah terbiasa.


“Astaga!” Zeen menepuk jidatnya saat mengingat jika obat yang diberikan oleh Elena telah dia lempar keluar. “Bodoh sekali!” gerutunya.


Zeen sengaja membuang obat pemberian Elena, karena dia sudah merasa sangat bosan harus terus menerus mengkonsumsi obat-obatan. Sejenak Zeen terdiam. Tidak mungkin dia akan melewati malam panjang tanpa tidur. Dan satu-satunya cara adalah meminta bantuan Reno untuk mengantarkan obat untukmu.


“Ren, bawakan obatku!” perintah Zeen setelah Reno mengangkat panggilannya.


[ Maaf Tuan Muda, saya sedang keluar kota bersama dengan Nyonya besar. Tadi selepas acara, tiba-tiba saja Nyonya besar mendapatkan kabar jika gudang yang ada di luar kota terbakar ]


“Terbakar? Lalu mengapa tidak memberitahuku? Kalian sungguh keterlaluan!”

__ADS_1


[ Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak memberitahu Anda, karena atas perintah nyonya besar, tapi Anda tidak usah khawatir karena saat ini keadaan sudah membaik ]


Rasanya sangat kecewa karena tidak diberitahu jika sedang ada masalah yang serius. “Mereka semua sungguh keterlaluan! Apakah karena aku lumpuh sehingga tidak mau melibatkanku!”


Rasa yang berkecamuk dalam hati membuat Zeen memilih untuk meninggalkan kamar, sekalipun waktu masih pukul dua dini hari. Entah dorongan darimana sehingga membawanya kedepan sebuah kamar lain. Tanpa pikir panjang, Zeen segera mengetuknya dengan keras.


Sang pemilik kamar yang baru saja ingin terlelap terpaksa harus bangun ketika ketukan pintu terus tanpa henti. Terlebih semakin lama semakin keras.


“Astaga ... siapa sih? Enggak tahu waktu banget, sih?” gerutu Elena dengan helaan napas kasarnya. Terpaksa dia harus bangkit untuk membuka pintu.


Rambut panjangnya dibiarkan begitu saja, karena tidak sempat untuk mengambil ikat rambut. “Iya, tunggu sebentar!” ucap Elena menahan rasa kesal.


“Ada apa?” tanya Elena terheran.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya Zeen, tetapi pria itu langsung menyerobot masuk begitu saja membuat Elena hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Apakah kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Elena yang kemudian mengejar pelan kursi roda suaminya.


“Aku lapar.” ucap Zeen dengan ketus.

__ADS_1


“Lalu apa hubungannya denganku?”


Zeen menatap Elena dengan sorot mata tajamnya. "Kamu jangan lupa jika kamu itu perawatku. Jadi sudah menjadi tugasmu untuk merawat dan melayaniku!” ucap Zeen tanpa rasa bersalah.


“Hah?” Elena menautkan kedua alisnya. “Tapi ini jam satu malam, Zeen. Tidak bisakah kamu menahan rasa laparmu itu! Aku capek dan aku ngantuk berat.”


“Aku tidak mau tahu alasannya yang aku tahu aku lapar dan aku harus makan!”


Elena mendengkus kasar dengan keinginan konyol pria lumpuh yang ada di depannya. Jika tidak terpaksa, Elena tidak akan pernah mau untuk menikah dengannya.


“Malah bengong disitu! Cepat bautkan aku makanan, karena aku tidak terbiasa makan makanan laur!”


Tuhan ... cobaan apa lagi ini? Baru saja ingin beristirahat, tapi harus melayani pria sombong ini.


Dengan terpaksa Elena meminjam dapur yang ada di hotel itu untuk membuatkan makanan untuk Zeen. Padahal bisa saja Zeen menyuruh koki untuk memasaknya, akan tetapi Zeen lebih memilih dirinya untuk menyiapkan makanannya.


Jangan bilang kalau saat ini dia sedang menyusun rencana untuk mengerjaiku. Dasar pria angkuh.


“Sebenarnya bisa masak gak sih! Lama banget!” gerutu Zeen yang ikut ke dapur untuk melihat Elena memasak. “Cepat atau aku tinggal!”

__ADS_1


Zeen tersenyum puas saat melihat Elena merasa keterangan karena ingin segera cepat menyelesaikan masaknya. Ternyata mengerjai seseorang tengah malam itu rasanya lebih menyenangkan.


__ADS_2