
Elena merasa heran saat melihat mobil mewah terparkir di halaman rumahnya, mengingat selama ini tidak ada tamu yang mendatangi rumahnya. Dengan rasa penasaran, dia pun bergegas untuk melihat siapa tamu agung yang datang ke rumahnya.
“Nah itu dia anaknya sudah pulang,” kata Rosemaya saat melihat langkah Elena masuk ke dalam rumah.
Elena menautkan kedua alisnya saat sang ibu datang dan menuntunnya untuk duduk di sofa. “Sayang, ini adalah nenek Mora, calon nenek mertuamu.”
Elena yang tidak tahu apa-apa langsung membulatkan matanya dengan lebar. “Apa? Calon nenek mertua?”
“Diam dan menurutlah jika masih ingin berada di rumah ini!” bisik Rosemaya dengan sebuah ancaman. Seketika Elena langsung diam tanpa ingin memprotes lagi, meskipun merasa penasaran dengan seorang nenek yang ada di hadapannya saat ini.
Siang tadi setelah Reno mencari tahu tentang latar belakang Elena dan tidak ada masalah, nenek Amora menyetujui keinginan Rosemaya yang ingin memberikan Elena untuk dinikahkan dengan cucunya. Bahkan nenek Amora telah memberikan sejumlah uang kepada Rosemaya sebagai tanda sebuah kesepakatan jika mulai hari ini Elena telah menjadi miliknya. Kelak apapun yang terjadi Rosmaya tidak berhak atas Elena lagi.
“Sesuai dengan ucapan ibumu, kamu memang cantik. Aku rasa Zeen tidak akan kecewa dengan pilihanku kali ini.” Nenek Amora tersenyum saat melihat Elena yang duduk tenang di depannya. “Kamu tidak usah tegang, aku tidak akan memakanmu,” lanjutnya lagi.
“Mungkin Elen hanya masih shock saja, Nyonya. Kalau begitu kapan pernikahan akan dilangsungkan?” Rosemaya sudah tidak sabar menjadi bagian dari keluarga nenek Amora.
“Secepatnya.”
“Bu, ini maksudnya apa? Siapa yang mau menikah? Jangan bilang ibu telah menjodohkanku. Bu, ini gak lucu!” protes Elena.
“Elen, maafkan ibu. Hanya dengan cara seperti ini kelak ibu bisa pergi dengan tenang.”
“Bu, maksud ibu apa? Ibu mau pergi kemana?”
“Elen, ibumu sudah cerita semuanya kepada nenek. Untuk kedepannya, kamu tidak usah pikirin masalah pengobatan ibumu, karena nenek yang akan membiayainya. Kalau begitu bisakah kamu ikut dengan nenek saat ini juga?”
Elena masih tercengang dengan ucapan nenek Amora, karena dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Belum sempat Elena membuka membuka mulut, terdengar langkah Kevin keluar sambil menyeret sebuah koper.
“Elen sudah siap untuk pergi sekarang, Nek.”
Mata Elena terbelalak lebar ketika mendengar ucapan Kevin. Tanpa meminta persetujuan darinya, saudara tirinya itu langsung menyerahkan koper yang berisi pakaian miliknya.
“Semakin cepat, semakin baik. Bukankah begitu, Nek?” lanjut Kevin lagi.
Nenek Amora tertawa kecil sambil membenarkan ucapan Kevin. Dia sama sekali tidak merasa ragu pada Elena, meskipun tidak mengenalnya. Dari sorot matanya, nenek Amora sudah bisa membaca jika Elena adalah wanita baik dan penurut.
__ADS_1
“Elen, tolong ikutlah dengan Nyonya Mora. Demi ibu, Nak. Ibu ingin melihatmu bahagia sebelum ajal ibu datang. Elen, anggap saja ini adalah balas budimu pada ibu.” Wajah Rosemaya terlihat mengiba, berharap Elena tidak menolak.
“Tapi, Bu—”
“Nenek tidak akan memaksamu detik ini juga. Mungkin kamu masih butuh waktu. Tapi jangan lama-lama, karena nenek tidak mau melihat cucu nenek larut dalam kesendiriannya.”
“Elen pasti akan ikut Anda sekarang, Nyonya. Iya kan, Sayang?” Mata Rosemaya member sebuah isyarat agar Elena tidak membantah. “Nyonya, aku ingin berbicara sebentar dengan Elena.”
“Ya, silahkan. Aku tunggu di mobil.”
Sepeninggal nenek Amora, Rosemaya langsung membuang napas kasarnya dan segera menarik Elena untuk ke dapur. Begitu juga dengan Kevin yang mengikuti keduanya dari belakang.
“Ibu, lepaskan!” Elena menepis tangan Rosemaya. “Apa maksud Ibu? Kenapa ibu mengatakan kepada nenek itu jika ibu sakit keras. Ibu mau menipunya?”
“Ssssttt ... diam! Elen, dengarkan Ibu baik-baik! Ibu terpaksa melakukannya demi kamu. Sudahlah sekarang kamu harus ikut dengan nyonya Mora dan menikah dengan cucunya, dengan begitu Ibu tidak akan menuntut lagi harta warisan milik ayah kamu yang tidak seberapa ini, tapi jika kamu menolak, Ibu akan menjual rumah ini dan Ibu tidak akan segan-segan untuk menyebarkan aib tentang ibu kandungmu yang ternyata seorang jala.ng!” ancam Rosemaya dengan wajah serius.
Detik itu juga tubuh Elena langsung melemas. Dadanya terasa sesak. Kali ini bukan tentang rumahnya yang ingin dijual melainkan tentang ibu kandungnya yang telah meninggalkan dirinya saat usianya masih tiga tahun. Seorang ibu kandung begitu tega meninggalkan anaknya sendiri demi seorang pria kaya.
“Bagaimana? Kamu pilih yang mana?”
“Bu—”
“Sudahlah tidak usah memasang wajah yang menyedihkan. Sana pergi! Aku sudah muak setiap hari melihatmu, karena kamu tak pernah memberiku uang!” timpal Kevin dari belakang.
Sungguh pilihan yang sangat sulit. Bagaimana bisa ibu tirinya memaksa Elena untuk menikah dengan pria yang sama sekali tak dikenal. Bahkan seolah saat ini Elena sedang diusir paksa dari rumahnya sendiri.
“Enggak! Elen enggak mau, Bu!” Elena menggeleng pelan sambil menahan air matanya agar tidak tumpah.
“Baiklah, kalau kamu tidak mau.” Rosemaya membuang napas kasarnya. “Kevin, ambil sertifikasi rumah ini!”
Kevin yang menyindirkan tubuhnya di dinding langsung mengangguk dengan pelan. “Baik, Bu.”
Elena yang melihat Kevin berlalu hanya bisa membulatkan matanya dengan lebar. “Bu, maksud Ibu apa?”
“Aku akan menjual rumah ini,” jawab Rosemaya dengan santai.
__ADS_1
“Enggak! Ibu enggak bisa menjual rumah ini karena ini adalah rumahku. Rumah ini di bangun dengan keringat ayah! Ibu jangan macam-macam, Bu!”
Rosemaya tertawa pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku tidak peduli.”
Tak berapa lama Kevin datang sambil membawa sebuah sertifikat tanah yang selama ini di simpan rapat oleh Elena. Entah bagaimana bisa surat penting itu ditemukan oleh ibu tirinya.
“Ini Bu.” Kevin langsung menyerahkan surat itu pada ibunya.
Lagi-lagi Elena hanya bisa menggeleng pelan dan memohon agar ibu tirinya tidak menjual satu-satunya peninggalan sang ayah. “Enggak! Ibu enggak boleh menjual rumah ini,” ucap Elena mengiba. “Baiklah, aku akan pergi bersama dengan nenek Mora, tapi Ibu jangan menjual rumah ini. Jika Ibu berani menjualnya, aku tidak akan segan-segan melaporkan Ibu kepada polisi!”
Rosemaya tersenyum kecil saat mendengar persetujuan Elena. Dengan cepat dia pun menuntut Elena keluar, karena nenek Mora sudah menunggunya.
“Meskipun sedikit keras kepala, tapi kamu tetap menjadi anak yang penurut. Tidak sia-sia Ibu merawatmu. Kini saatnya kamu menunjukkan baktimu padaku. Kelak tetaplah menjadi anak yang penurut!”
Di sebuah mobil nenek Amora masih sabar menunggu kedatangan Elena. Sejenak pandangan pertama nenek Amora sudah terpikat pada gadis itu. Sorot matanya yang begitu teduh, membuatnya langsung merasa nyaman dan merasa yakin jika Elena bisa merawat Zeen dengan setulus hatinya.
“Nyonya ... maaf sudah menunggu lama.” Ucapan Elena membuyarkan lamunan nenek Amora.
“Tidak apa-apa. Jadi bagaimana, apakah Elen mau ikut sekarang atau masih butuh waktu?”
“Tentu saja sekarang, Nyonya. Tidak baik mengulur waktu lebih lama, karena lebih cepat lebih baik,” jawab Rosemaya antusias. “Elen, ayo, masuk!”
Dengan berat hati Elena membuka pintu mobil. Saat ini dia pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, demi sebuah rumah peninggalan ayahnya.
“Nyonya, maafkan Elen yang masih canggung, ya. Tapi percayalah jika Elen anak yang baik dan ramah. Mungkin dia masih shock saja.”
“Iya, aku tahu.”
Setelah Elena masuk kedalam mobil, perlahan sopir mulai menjalankan mobilnya untuk meningkatkan pekarangan rumah Elena.
“Bu, apakah kita sudah menjadi orang kaya?” tanya Kevin yang mengagetkan Rosemaya.
“Jangan terlalu cepat bermimpi! Uang ini akan ibu gunakan untuk melunasi semua hutang ibu pada rentenir itu. Tunggu Elen benar-benar menikahi pria lumpuh itu baru kita akan menjadi orang kaya. Ibu tak perlu meminjam uang lagi untuk membeli tas branded,” ujar Rosemaya dengan rasa bahagia. Tidak sia-sia dia mendatangi kantor tempat Elena bekerja yang pada akhirnya mengantarkannya untuk menggali harta karun.
“Baiklah, tapi aku juga minta bagianku. Ibu jangan serakah! Jika bukan karena aku yang menemukan surat rumah ini, ibu tidak akan punya senjata untuk menjinakkan Elen!”
__ADS_1
“Iya ... iya, ibu tahu itu.”
...~To Be Continue~...