
Di dalam sebuah kamar, Verdi merasa sangat murka dengan keputusan sang ibu mertuanya. Bagaimana bisa wanita tua itu hendak menikahkan Zeen dalam waktu dekat, terlebih dengan wanita asing.
“Pokoknya aku tidak setuju jika Zeen menikah!” ucap Verdi sambil melonggarkan dasinya. “Apalagi sampai memiliki anak.”
“Terus kita harus bagaimana, Mas? Ibu sama sekali tidak melibatkanku dalam rencana ini.”
“Semua ini karena salahmu, yang tidak bisa mempunyai anak! Jika kamu tidak mandul, pasti anak kita yang akan menjadi pewaris tunggal, bukan si lumpuh itu!”
Sheila mengehela napas sesaknya. Dia tahu betul ambisi sang suami yang ingin menguasai harta warisan orang tuanya. Namun, Sheila tidak bisa melawan, karena berkat Verdi dia bisa hidup sampai saat ini. Satu ginjal yang ada ditubuhnya adalah milik Verdi.
“Kamu tenang saja, Mas. Kita bisa menggunakan cara lain untuk mengusir wanita itu dari rumah ini. Bukankah sebelumnya kita telah melakukan hal seperti itu?”
“Tapi aku tidak percaya cara kita akan berhasil, karena aku melihat jika ibu sangat berpihak pada wanita itu. Entah pelet apa yang telah digunakannya untuk menundukkan ibu.”
Sheila berusaha untuk menenangkan hati suaminya. Dia sendiri pun juga tidak menyukai kehadiran Elena, karena tidak rela jika kelak warisan yang dimiliki oleh orang tuanya akan jatuh pada anaknya Zeen.
***
Tak perlu mengulur waktu lebih lama lagi untuk menyelenggarakan pernikahan Zeen, karena semua telah disiapkan dengan matang. Elena benar-benar terpaksa menikah dengan Zeen demi rumah peninggalan sang ayah dan juga aib ibu kandungnya.
“Kamu cantik sekali, Elen,” ucap Rosemaya saat melihat anak tirinya dengan polesan make up wedding organizer dan juga menggunakan gaun pernikahan yang sangat mewah. Andaikan saja Kevin adalah perempuan, mungkin dia tidak akan menyodorkan Elena untuk menikahi pria lumpuh. Meskipun lumpuh yang penting kaya raya.
“Ibu sudah puas?” Elena mengucap dengan ketus.
“Tentu saja. Siapa yang tidak merasa puas mempunyai besan kaya raya, terlebih calon suami kamu adalah calon pewaris utama.” Rosemaya tertawa pelan seraya menuntun Elena untuk meninggalkan kamarnya, karena sebentar lagi akad akan segera dilaksanakan. “Selagi kamu patuh, aku tidak akan membuka aib ibu kandungmu ataupun menjual rumah peninggalan ayahmu itu.”
Acara pernikahan begitu meriah, tetapi hanya dihadiri oleh orang-orang penting saja. Tak ada karyawan di perusahaannya yang mengetahui jika hari ini bos mereka melangsungkan pernikahan. Semua itu karena keinginan Elena. Dia tidak ingin mendapatkan masalah di kantor, karena menikahi bosnya sendiri yang lumpuh.
__ADS_1
Hari yang seharusnya menjadi hari paling bersejarah ternyata berlalu begitu saja. Setelah Zeen berhasil mengikrarkan sumpah pernikahannya dengan Elena, dia memilih untuk meninggalkan ballroom, dengan alasan tidak enak badan. Namun, sekalipun tanpa sosok Zeen untuk memeriahkan acara pernikahannya, pesta tetap berjalan dengan meriah. Terlebih dihari bahagia itu nenek Amora memutuskan untuk berdansa. Tentu saja acara tidak mati begitu saja tanpa sang pengantin.
“Tuan, apakah perlu saya panggilkan dokter Armada?” tanya Reno saat mengawal Zeen untuk menuju kamarnya.
“Tidak perlu! Tolong jangan ganggu aku, karena aku ingin sendiri.”
“Baik, Tuan. Saya akan pergi. Jika kalian berdua butuh sesuatu, segera hubungi saya,” ujar Reno sebelum meninggalkan Zeen.
“Kalian berdua?” cicit Zeen sambil mengernyit. “Aku hanya ingin sendiri, Ren! Jadi kamu bawa saja wanita itu pergi!”
“Tapi saat ini Nona Elen adalah istri Anda, Tuan.”
“Tidak peduli! Yang menginginkan pernikahan ini adalah nenek sang penguasa itu, jadi berikan saja wanita ini pada nenek!”
Ucapan yang begitu menyakitkan, tetapi Elena berusaha untuk tetap biasa saja. Sudah menjadi konsekuensi jika kehadiran tidaklah diinginkan oleh Zeen yang saat ini telah resmi menjadi suaminya.
“Ren, aku tidak apa-apa. Tolong pesankan aku kamar,” ucap Elena pada Reno.
Helaan napas terdengar begitu berat keluar dari mulut Reno, tetapi pria itu tetap menganggukkan sebagai jawabannya. “Kalau begitu mari ikut dengan saya.”
Malam yang seharusnya menjadi malam pertama untuk pasangan suami istri itu tidak berlaku untuk Zeen, karena malam ini dia memilih mengurung diri di dalam kamar hotelnya. Dia tidak peduli dengan panggilan Elena dari luar yang ingin mengantarkan obat untuknya.
“Zeen, tolong buka pintunya. Aku tahu kamu membenciku, tapi tolong jangan abaikan kesehatanmu. Aku hanya ingin mengantarkan obat untukmu,” teriak Elena dari luar.
Namun, sayangnya Zeen sama sekali tidak tertarik untuk merespon ucapan Elena. Dia memilih tetap santai di kursi rodanya sambil memainkan ponselnya.
“Zeen, tolong buka dan kita bicarakan masalah pernikahan ini! Aku tidak mempunyai maksud apa-apa dan aku hanya terpaksa untuk menikah denganmu. Semua ini murni bukan keinginanku!” teriak Elena lagi.
__ADS_1
Sejenak Zeen terdiam dengan pandangan tertuju pada pintu. Entah mengapa kali ini dia tertarik dengan ucapan Elena. Tanpa pikir panjang lagi Zeen memencet sebuah tombol yang ada di kursi rodanya agar bisa berjalan sendiri menuju ke pintu.
“Masuk!” ucapnya dengan ketus setelah membuka pintu.
Elena tersenyum lebar saat berhasil membujuk Zeen untuk membuka pintu kamarnya. “Zeen, aku minta maaf karena harus menikah denganmu. Sebenarnya aku—”
“Sudahlah! Aku sudah tahu niatmu mau menikah denganku. Kamu hanya mengincar hartaku saja kan?” tuduh Zeen.
Bola mata Elena langsung membulat dengan lebar. Tak sedikitpun dia berpikir sampai kesana, karena tujuan Elena mau menikah dengan Zeen hanya demi rumah peninggalan ayahnya serta aib ibu kandungnya.
“Zeen, kamu ngomong apa? Aku tidak sejahat itu! Aku menikah denganmu juga karena paksaan dari nenekmu!” tegas Elena.
Zeen tersenyum sinis. Sudah banyak wanita yang mendekatinya hanya mengincar hartanya saja, jadi tak ada ada alasan Zeen untuk memiliki pemikiran yang sama.
“Jangan pikir setelah menikah denganku kamu bisa hidup enak. Kamu pikir aku akan menganggapmu sebagai seorang istri? Tidak! Jangan bermimpi!” tegas Zeen.
Elena benar-benar tidak tahan lagi dengan tuduhan untuknya. Sekalipun dia miskin, tetapi dia tidak gila harta.
“Aku tidak peduli dengan tuduhanmu, karena aku sama sekali tidak tergiur dengan hartamu. Aku menerima tawaran pernikahan ini karena nenek yang memaksaku. Jika kamu keberatan, silahkan salahkan nenek!”
“Jangan bawa-bawa nenek! Coba saja kamu menolak dengan keras, pasti nenek tidak akan berharap padamu. Semua ini tetap salahmu, mengapa kamu mau menyetujui keinginan nenek? Bukankah kamu bisa menolaknya?”
Seketika Elena terdiam. Memang benar apa yang dikatakan oleh Zeen, seharusnya dia bisa menolak dengan keras agar tidak terjadi sebuah pernikahan. Namun, dia terpaksa menerimanya karena dia juga sangat terdesak dengan ancaman ibu tirinya.
“Kenapa diam? Benarkan apa yang aku katakan?”
...~To Be Continue~...
__ADS_1