RASA YANG TEPAT DI WAKTU YANG SALAH

RASA YANG TEPAT DI WAKTU YANG SALAH
CATATAN HARIAN KU #2


__ADS_3

Ternyata Aku Cukup Kuat


Hari ini tiba-tiba aku ingat awal mula kita berbicara dengan begitu akrab seakan kita sudah saling mengenal begitu lama. Percakapan yang panjang saat kita pulang dari jungle. Percakapan sederhana yang tidak memiliki ujung, percakapan yang terputus saat kita telah tiba di kampus.


Masih ku ingat jelas saat pertama kali kau bertanya "kok nggak tidur" dan ku jawab "nggak bisa tidur, jadi pengen liat jalan aja"


Entah apa yang kita bahas hingga kita berada di ujung pembicaraan tentang kehidupan kita yang dulu, tentang kamu dan perjalanan cinta mu dulu dan aku dengan perjalanan hidup tanpa mengenal pacaran. Masih ku ingat, saat kau memberikan pujian atas prinsip hidupku yang tidak ingin pacaran sampai tiba saatnya aku menemukan orang yang tepat. Dan masih ku ingat betul ucapan mu yang berjanji pada dirimu sendiri bahwa kau tak akan pacaran lagi. Dan yah aku bangga padamu, sampai saat kita menyelesaikan pendidikan tidak ku dapati kau dengan hubungan haram. Kau masih setia dengan ucapan mu dengan tidak lagi ingin pacaran. Padahal ku tau begitu sulit bagimu bukan? Menahan untuk tidak berpacaran disaat sekeliling kita di penuhi orang-orang yang mengumbar-umbar hubungan mereka.


Mungkin bila bukan karena iman yang ada di hati mu kau pun akan berpacaran, melihat begitu banyak pasang mata yang tertarik padamu aku yakin bila bukan iman pasti kau kembali terjerumus kedalam hubungan itu.


Andai kau tau, dulu aku begitu sulit menebak mu, tak bisa aku membedakan apakah kau suka padaku atau kau hanya nyaman berbicara dengan ku. Masih ku ingat jelas saat kau bercerita padaku tentang wanita yang kau damba-damba orang yang juga ku kenal dan aku tau dia begitu luar biasa. Orang yang memiliki banyak pasang mata yang memandangnya setiap hari.


Masih ku ingat ketika kau berfoto dengannya dan berkata "dari kasih menjadi sepasang kekasih" jujur pada saat itu aku begitu cemburu namun aku masih saja tersenyum padamu dan berkata aku setuju.

__ADS_1


Andai kau tau pada saat itu, ingin sekali ku bertanya mengapa bukan aku yang berada di posisi foto itu. Tapi aku sadar pada saat itu aku memang tak pantas berada di foto itu.


Kau tau dari pertama kita berbicara di bus aku sudah menyukai mu, aku suka sudut pandang mu, aku suka prinsip hidup mu, aku suka kau yang selalu menepati perkataan mu. Andai kau tau.....


Masih ku ingat saat semua teman wanita di kelas kita membahas mu, menceritakan tentang mu yang begitu perhatian kepada salah seorang dari kami. Saat mereka menerka-nerka dan menengetahui bahwa kau menyukai nya. Kau tau aku hanya tertawa walau ada sedikit rasa sedih di lubuk hati ku.


Saat mereka bertanya padaku, karena yang paling dekat dengan mu adalah aku. Dan aku mengiyakan karena yang ku tau kau memang menyukainya.


Dan masihkah kau ingat, saat aku menceritakan hal itu padamu aku sempat fikir kau akan marah padaku karena memberitahu mereka tapi kau tetap tersenyum dan berkata pada ku "mana ada itu ma dulu sekarang udah nggak" masih ku ingat kala kau menjelaskan bahwa kau menjodohkan-nya dengan teman mu yang lain. Aku tak tau apakah kau sedang menguji ku atau hanya sekedar ingin menjelaskan apa yang sedang terjadi.


Kau tau? Aku tak mampu menebak mu, mengapa kau selau mencari ku? Saat kau dalam masalah kau hanya ingin berbicara padaku, saat itu aku begitu mengkhawatirkan mu. Kau tau aku berlari mencari mu namun aku tak menemukan mu dimana pun. Hingga dari lantai atas ruang makan kampus kamu berteriak memanggil ku dan hanya ingin berbicara dengan ku tidak dengan orang lain.


Tak hanya itu, sampai saat ini aku masih bertanya-tanya mengapa kau begitu memperhatikan ku bahkan saat aku makan pada zoom kelas kala itu kau pun tau padahal aku bersembunyi dari balik kamera dan aku yakin tak akan ada yang tau bahwa aku makan pada saat itu. Aku masih tidak tahu mengapa kau begitu baik padaku sampai saat aku belum bergabung di zoom kelas kau menelpon dan mengirimkan pesan WA yang tak terhitung jumlahnya. Aku masih tak mengerti mengapa kau menceritakan segalanya padaku, mulai dari keluarga mu, masa lalu mu, bahkan sampai masalah yang menurutku tak perlu aku tau. Semua kau ceritakan kepada ku seakan-akan aku adalah rumah mu tempat mu bercerita dan menyuarakan seluruh isi hati mu. Bahkan kau menyakinkan ku bahwa hal itu hanya aku yang tau dan tak ada seorang pun yang tau hanya aku saja.

__ADS_1


Mengapa kau menceritakan segalanya padaku? Mengapa kau membuat ku begitu yakin? Mengapa kau membuat ku merasa nyaman dengan mu? Mengapa kau terus memenuhi otak ku? Kau tau betapa tersiksanya aku dan perasaan ku? Apakah kau hanya ingin mempermainkan aku? Mengapa kau begitu tega kepada ku? Atau aku yang terlalu mengganggap semua perlakuan mu dengan berlebihan? Apa kah aku hanya sekedar baper atau memang kau menyukai ku?


Aku tidak memahami mu yang tiba-tiba mengirimkan pulsa dengan nominal yang besar apa lagi bagi kita yang masih duduk di bangku perkuliahan. Tanpa ada penjelasan, tanpa ada ucapan sungguh aku tidak mengerti.


Kau tau aku sudah begitu berupaya melupakan mu tapi kau selalu datang tiba-tiba dan menumbuhkan lagi perasaan ku. Hingga pada akhirnya kau mengirimkan pesan tentang keinginan mu untuk menikah dengan ku, andai kau bisa melihat raut wajah bahagia ku saat itu pasti kau akan langsung tau bahwa aku juga mengingikan mu, kau tau duniaku seakan berubah saat itu. Ku lihat setitik harapan dalam hati ku, ternyata perasaan ku padamu tidak bertepuk sebelah tangan.


Masih ku ingat saat aku bertanya padamu dengan siapa kau ingin menikah, pertanyaan yang selalu ku ulang dan ingin sekali aku tau. Aku selalu berdalih bahwa aku ingin membantu mu agar bisa menikah dengan wanita itu. Hingga saat kau bilang wanita itu adalah aku. Awalnya aku mengira kau bergurau tapi ternyata tidak kau kembali mengulangnya untuk kedua kalinya.


Kau tau betapa bahagianya aku pada saat itu, namun aku tak mampu memberikan mu jawaban Ya. Banyak hal yang masih ingin ku lakukan, ada mimpi yang ingin aku gapai dulu, ada kebahagiaan yang ingin aku rasakan dulu. Dan jujur aku belum siap pada saat itu. Tapi aku berusaha meyakinkan mu agar menunggu ku lebih sabar dan aku hanya ingin melihat kesungguhan mu padaku. Dan ternyata aku melihat kau tak bersungguh-sungguh menginginkan ku.


Kau memberiku harapan seakan-akan kau menunggu ku, kau selalu berusaha mencari cara agar bisa berinteraksi dengan ku hingga aku berfikir bahwa kau masih disana menunggu ku. Saat keyakinan ku begitu kuat padamu tiba-tiba kau menyadarkan ku bahwa aku bukan lah rumah mu. Tanpa ada ucapan, tanpa ada kalimat tiba-tiba aku mendapat kabar bahwasanya kau akan menikah dengan orang lain, kau tau pada saat mendengar kabar itu aku masih berupaya tersenyum dan tertawa menyembunyikan luka hati ku. Kau tau, itu sungguh menyakiti ku apa lagi pada saat kau mengirimkan undangan padaku tanpa menjelaskan apapun. Mungkin menurut mu tak ada yang perlu di jelaskan namun bagi ku berbeda. Andai kau tau betapa hancurnya hati ku saat itu, namun ku tau takdir berkata lain dan aku harus mengikhlaskan mu.


Andai kau bisa membaca tulisan ku, ingin ku bilang padamu terimakasih telah menjadi patah hati yang paling hebat dan pelajaran hidup yang mungkin tak akan pernah ku lupakan seumur hidup ku.

__ADS_1


Saat ini aku pun sadar bahwa aku cukup kuat untuk terlihat baik-baik saja dan memasang senyum terindah ku di depan semua orang. Tapi andaikan kau tau hati ku begitu terluka dan aku tak tau apakah aku bisa kah merapikan hati ku kembali seperti sedia kala.


__ADS_2