Ratu Tomboy Jatuh Cinta Sahabat Selamanya

Ratu Tomboy Jatuh Cinta Sahabat Selamanya
Bab tujuh


__ADS_3

"Try, Siska makan yuk, ? laper nih habis mandangin My Darling Zero," ajak Sisil tiba-tiba. Langsung mata gue besar kayak belalang dengan ajakan Sisil. Perut kosong + makan\= kenyang. Apalagi perut gue yang emang udah laper banget dari tadi dan di tahan- tahan, akhirnya bisa makan gratis.


Sisil selalu bayarin setiap kali makan. Walaupun gue dan Siska mau bayar sendiri, Sisil pasti langsung lari ngacir menuju kasir kayak pembalap Motor GP kelas kakap, yaitu saingannya Rossi. Nah, itulah enaknya temenan sama sisil. Biar anaknya ribut nggak mau ngalah, tapi mau apa aja di beliin dan sebagai gantinya gue harus jadi Bodyguard- nya Sisil. Hehehheehe......


"Okelah," jawab gue kemudian dengan perasaan berbunga-bunga.


"Sil, lo yakin ngikut zero lanjutin sekolah di SMK 7? " tanya Siska di sela berjalan menuju kantin.


"Iyalah, sis. Emangnya kenapa? Kan gue udah bilang nggak bakal biarin Zero digangguin sama cewek h cewek-cewek kota, walaupun zero bukan pacar gue. Tapi gue sayang banget sama dia, melebihi sayang gue sama kalian lah. "


"Apa....!!! " teriak gur meledak, memutus kalimat sisil yang belum sempat diteruskan. "Heeeeh, jangan mentang-mentang lo suka sama zero, sampai kita - kita nih sahabat lengket lo di jadiin nomer dua! " emosi gue meluap bak gunung berapi meletus mengeluarkan lahar panasnya ke muka sisil.


"Try, lo kok jadi marah gitu sih? nyantai aja kali, gue kan cuman bercanda doang. Kalian berdua tuh dah kayak saudara gue sendiri tau, " jawab sisil sambil ketawa ngakak. "Lo lucu banget sampai marah-marah gitu".


" Lo aja yang gila. Ngomong asal muncrat aja," jawab gue ngambek. Gue paling emosi kalau persahabatan kami dibanding- bandingkan sama zero.


"Kalian ini memang nggak ada matinya ya? Berantem mulu. Jadi males gue makan, " sambung Siska. "Lo kan udah janji, Try. Udah, ikut aja kalau sisil masuk SMK 7. Jadi kita bisa sama-sama terus, kan? "

__ADS_1


"Yah, gue janji. Asal dibantu aja bayarin nantinya. " Gue ngalah duluan sebelum Sisil nangis dangdut kayak sazhi.


Sampainya di kantin ternyata sudah banyak siswa-siswi yang ngantri makanan. kantin di sekolah SMP ceria ada empat tempat. Walaupun banyak, masih saja belum mencukupi siswanya yang banyak. Terpaksa kami harus mengantri dulu kayak di tahanan penjara kelas bawah. Duh, ngantri lagi nih. Gue heran banget, yang makan nggak ada habis-habisnya. Padahal udah jam berapa nih.


Sisil melirik jam tangan mungilnya yang berada di sebelah kiri tangannya. "Sudah jam sepuluh kok masih banyak yang makan, ya? " sambungnya pelan


"Kenapa banyak banget sih yang makan Kalau kayak gini gue bisa mati kelaparan. " Gue menggerutu sambil memegang perut yang mulai berdendang ria . Nasib, gue memang punya penyakit sakit perut alias magh. Lambat makan aja penyakit sakit perut gue bakal kambuh dan itu menyiksa kalau nggak cepat-cepat di ganjal sama makanan.


"Sabar Try. Lo tau sendiri kan, sekolah kita ini kyaak apa kalau soal makanan. " sisil mencoba nenangin gue yang udah sangat-sangat kelaparan.


"Kita pulang aja yuk" ajak gue tiba-tiba,


"Dari tadi kek nawarin gue, dasar lo. " Gue langsung cepat- cepat mengambil roti isi dari dalam tas sisil yang berwarna pink , kemudian melahap habis roti isi pemberian sisil.


"Makan lo pelan-pelan dong. Nanti kalau tersedak gue nggak nanggung dan nggak bawa air minum., " timpal sisil kemudian. Gue melahap roti roti itu hanya dalam hitungan detik. Tanpa menunggu lama, sisil kemudian menarik tangan gue menuju ke ruang perpustakaan.


"Ayok, sekarang temani gue ke perpus. Gue mau lihat wajah manisnya zero lagi makan hari ini, " ucap sisil centil. Setiba di sana, ruangan perpustakaan yang tadinya sepi berubah drastis jadi ramai banget. Sumpah, persis kayak di pasar malam langganan gue dan temen-temen gue.

__ADS_1


"Ini mah bukan perpus, tapi pasar malam, " kata gue sambil tersenyum tipis ke arah sisil. "O ya, lo nggak bisa mandangin zero lama-lama di sini. Lihat tuh, zero lo dah di kerumunin cewek-cewek gila di ujung sana, " tunjuk gue ke arah segerombolan cewek-cewek yang kayak semut.


"Anjrit!!! " Terdengar suara sisil lagi kesal. "Gue nggak akan pergi. Kok anak- anak nggak pergi daftar sekolah di kota sih? "


"Jangan-jangan mereka ngikut zero masuk SMK 7 juga? " timpal Siska yang semakin menambah kekesalan sisil.


"Kalian berdua diem deh. Ayok ambil buku yang mau di baca masing-masing! " perintah sisil yang langsung bergegas masuk dan ikut berjubel dengan para murid yang lain, Pura-pura mengambil buku yang tertata rapi di lemari perpus. Gue dan Siska terpaksa ngikutin maunya sisil yang sumpah nggak ada kerjaan, demi sahabat yang lagi kasmaran berat.


"Sil lo baca buku apa? " tanya gue dengan mata menatap buku yang di genggamnya dengan erat di tangan sisil dan duduk manis berderet di samping Siska.


"Gue baca buku Fisika lah, " jawab sisil sambil matanya yang lagi cari-cari sosok zero di antara kerumunan gadis-gadis.


"Fisika? " Gue heran dan bingung. "Bukannya itu buku teori tentang kehamilan ya....!!! " ucap gue sedikit nyaring dan berharap membuat mata anak-anak cewek yang berada di ruangan perpus serentak mengarah ke arah sisil yang lagi memegang buku tentang kehamilan. Dan tentunya Zero pun ikut melirik. Sisil menatap ke arah gue. "Lo bilang apa? " tanyanya, tanpa dosa gue menunjuk buku yang dia pegang dan dengan cepat Sisil membaca tulisan yang ada di buku itu.


"Kyaaaa....... kok ada sih buku kayak beginian di perpus....!!! " teriak histeris sisil. Tadi suara gue yang sedikit nyaring dan sekarang yang paling nyaring ialah suara teriakan sisil. Berhasil deh membuat semua mata jadi memandang ke arahnya.


"Heey...., kalian semua pada lihat apa hah, ! ada yang salah sama sisil? Bubaaaaarrr kaaalliiiaaaann..... !!" teriakan gue berhasil menggema ke seluruh ruangan perpus. Nggak usah ribet pakai toak kalau lagi ada upacara ga, cukup pakai suara gue aja dah nikmat hehehee....

__ADS_1


Satu per satu mereka langsung bubar dengan tertib sambil mulut komat-kamit, bak ikan ******. Udah tahu kalau gue dan temen-temen gue paling gak suka di liatin dengan tatapan sinis. Ruangan perpustakaan yang sebelumnya ramai berubah langsung sepi kayak di kuburan umum dekat rumahnya bang toyib, artis di kampung gue itu. Zeto bangkit menatap gue dan berjalan dari kursi pemerintahannya ke arah kami bertiga. Mata tajamnya menatap gue si biang keributan karena punya suara kayak singa, melebihi teriakannya Sisil. "Kenapa! nggak suka sama sikap gue barusan? " tanya gue jutek dengan wajah jutek bete, nggak mau menatap balik mata zero.


__ADS_2