
"Kenapa nangis Sar?” tanya Rei ketika masuk kamar dilihatnya Sari sedang menangis.
Sari hanya menggeleng, belum ingin menceritakan pada sahabatnya itu. Rei yang baru tiba dari kampung nya di Desa segera merapikan barang-barang bawaannya, sembari menunggu Sari mau bercerita.
Selesai merapikan barang-barangnya Rei duduk disamping Sari yang masih menangis.
"Kenapa? Berantem ama mas Surya?" tebak Rei. Sari yang di tanya hanya mengganggukkan kepalanya.
Rei menghela napasnya, tadi ketika akan berangkat kembali ke kost Sari dan mas Surya masih baik-baik saja. Sampai di jalan tadi mereka berpisah di dekat simpang SMA karena Rei mengantarkan barang-barang ke kost Sobri terlebih dahulu.
Sobri adalah sahabat Rei dari SD, mereka sama-sama sekolah di kota Kabupaten ini. Hanya saja Sobri bersekolah di STM. Mereka sering pulang ke Desa bersama-sama naik motor Sobri. Seperti sore ini Sobri, Rei, Sari dan mas Surya bersama-sama berangkat dari Desa.
"Mas Surya cemburu sama Yoga, " akhirnya Sari buka suara.
"Lah, kok bisa?" Rei agak kaget mendengarnya.
"Iya, kemaren kan pas mas Surya jemput ada Yoga juga di depan," isak Sari sambil mengusap air mata nya.
"Oalah, , kamu ga bilang kalo Yoga lagi nunggu aku?" tanya Rei, yang merasa kasihan.
"Udah, tapi ya gitulah.. Namanya juga cemburu." Sari menghela napasnya sambil duduk.
Sari teringat kemaren waktu menunggu mas Surya di depan dia sedang ngobrol dan bercanda dengan Yoga. Yoga adalah teman Rei yang juga teman Sari.
Mereka sering main dan kumpul bersama-sama dengan teman yang lain juga. Rei selalu mengajak Sari jika akan keluar, sekedar makan, atau joging bareng-bareng. Jadi Sari merasa tidak ada masalah dengan Yoga yang dianggap juga sudah menjadi sahabatnya.
"Gini nih, yang buat aku tuh males pacaran. Ribet tau ama yang beginian," Cerocos Rei membuyarkan ingatan Sari.
"Kamu itu yang ga tau enaknya, enak tau dicemburuin dan nyemburuin," kelakar Sari yang malah jadi semangat.
"Lah, kalo enak ngapain kamu nangis gitu," cibir Rei sambil memonyongkan bibirnya.
"Hehehehe... Makanya kamu punya pacar biar tau rasanya," jawab Sari malah senyum-senyum.
"Hadeeeuh..." Rei nepok jidatnya ga habis pikir.
"Beneran Rei, kamu punya pacar dong. Masa udah mau naik kelas tiga gini ga punya pacar," ejek Sari, malah jadi semangat bahas pacar buat Rei.
"Iya... Iya... Besok aku punya pacar." jawab Rei sekenanya sambil tertawa. Rei membayangkan rasanya tidak ada satu cowokpun yang menarik perhatiannya.
Eh ada, tiba-tiba Rei teringat anak STM yang saat itu menarik perhatiannya. Cowok putih tinggi berlesung pipit seperti Rei. Yang menjadi lawaannya saat main basket di STM. Sebelumnya Rei tidak pernah melihatnya, menurut Sobri dia anak baru pindahan dari kota lain.
"Hei, malah melamun," Sari menupuk bahu Rei yang sedang bengong.
"Beneran ya kamu besok punya pacar?" todong Sari lagi sambil senyum-senyum usil
__ADS_1
"Iya sari, besok kalo ada yang nembak aku. Aku terima jadi pacarku ya..." Jawab Rei asal, karena dia yakin tidak akan ada seorangpun yang berani nembak dia.
***
"Sar, aku pulang sorean ya," Rei mengirimkan pesan ke nomor Sari.
"Mau kemana?" Tidak menunggu lama Rei sudah mendapatkan balasan dari Sari.
"Mau ngedit dulu, buat besok," balas Rei.
"Okee." kembali Sari langsung membalas pesan Rei.
Rei memasukkan ponselnya ke dalam tas dan melangkahkan kakinya ke ruang pustaka. Disana guru bahasanya sudah menunggu. Yah, ruang pustaka ini sekarang menjadi bascamp terbarunya.
Awal semester kedua kemaren Rei memutuskan masuk jadi Editor di majalah Sekolah. Rei ingin mencoba sesuatu yang baru. Jadilah sore ini dan sore-sore yang lalu dihabiskannya di ruangan editor yang ada di pustaka Sekolah ini.
"Siang Bu," sapa Rei ramah
"Siang Rei, sendirian?" tanya Ibu Vera yang bersiap-siap akan pulang
"Iya Bu, nanti Eka nyusul. Dia mau pulang ke kost dulu katanya" jawab Rei
"Sudah makan belum Rei?" tanya bu Vera memastikan sebelum pulang.
"Belum bu, nanti Eka sekalian bawakan makan siang,"
"Iya bu, hati-hati dijalan ya bu." ujar Rei sambil mencium tangan Bu Vera.
Bu Vera mengangguk dan tersenyum. Rei menunggu Bu Vera menghilang di depan pintu pustaka. Setelah Bu Vera tak terlihat lagi, Rei menutup pintu Pustaka itu.
Rei masuk ke ruang editor majalah sekolah, mulai mengidupkan komputer yang da di hadapannya. Sedang serius mengedit untuk penerbitan majalah sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Hai boleh kenalan?" Bunyi pesan itu.
Setelah membaca pesan dari nomor yang Rei tidak kenal itu, Rei kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa membalas pesan itu.
"Hai nama kamu Rei ya?" Kembali nomor itu mengirim pesan. Rei hanya melihat sekilas tanpa niat untuk membalas pesan tersebut.
Tak lama ponselnya berdering, Rei melihat nama di ponselnya "Eka" nama itu yang tertera. Rei beranjak dari bangkunya, berjalan ke depan pintu pustaka membukakan pintu untuk Eka yang sudah berdiri disana dengan tentengan cemilan cepuluh cebelas yang pasti tak kan habis dimakan mereka berdua.
Kemudian mereka berdua terlihat serius menyelesaikan pekerjaan merek, sembari sesekali berdiskusi dan bercanda. Sementara ponsel Rei tak henti-henti memberikan tanda bahwa ada banyak pesan yang masuk. Namun Rei belum ada niat untuk membukanya apalagi membalasnya.
***
Sesampainya di kost Rei langsung bersih-bersih badan. Setelah selesai baru Rei melihat ponselnya.
__ADS_1
Begitu banyak pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Rei membuka dan membaca pesan-pesan itu. Semuanya sama, intinya ingin berkenalan dengan Rei.
Baru Rei akan meletakkan ponselnya itu, tiba-tiba berdering. Rei melihat nama yang tertera Yona. Rei mengangkat telpon itu.
"Rei, temenin ke minimarket yuk. Ibu suruh belanja nih," ajak Yona tanpa basa-basi.
"Hayuk, aku tunggu di kost ya," jawab Rei.
"Oke." sahut Yona langsung menyudahi panggilannya.
"Sar, Rei mau ke minimarket sama Yona. Mau nitip ga?" tanya Rei pada Sari yang sedang menyetrika baju.
"Beliin mie instan ya," jawab Sari.
"Oke." ujar Rei sambil berjalan keluar kamar.
Ketika di minimarket Rei dan Yona berkeliling mencari pesanan sesuai dengan catatan yang diberikan Ibu yona.
Ponsel Rei berbunyi, sebuah pesan masuk.
"Beli apa Rei?" bunyi pesan itu.
Kening Rei berkerut membaca pesan itu, lalu melihat sekeliling. Mencari siapa gerangan yang mengirimkannya pesan itu.
Kemudian Rei memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Melangkahkan kakinya ke arah rak mie instan.
Di sana berjajar bermacam merek dan rasa mie instan. Rei mengambil beberapa bungkus mie instan kesukaannya dan Sari.
"Jangan banyak-banyak makan mie instan Rei, ga bagus buat kesehatan." kembali masuk pesan dari nomor yang sama.
Setelah membacanya, kembali Rei mengedarkan pandangannya. Tidak dilihatnya seseorang yang sedang memagang ponsel.
"Ngapa Rei?" tanya Yona, ketika dilihatnya Rei celingukan.
"Ga pa-pa Yon, udah siap?" ujar Rei mengalihkan pembicaraan Yona.
"Udah, yuk ke kasir." jawab Yona.
Rei menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berjalan ke arah kasir.
Rei mengikuti di belakang Yona, Rei masih mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru minimarket itu.
Mencari sosok siapa sebenarnya yang mengirimkan pesan pada ponselnya itu. Kenapa dia tau kalau Rei sedang berbelanja dan membeli beberapa mie instan.
***
__ADS_1
Siapa ya si pengirim pesan itu...
Tunggu di part selanjutnya ya readers...