Reinata

Reinata
Cemburu


__ADS_3

Tiga hari setelah pesan penembakan itu.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Rei. Rei segera membuka ponselnya.


"Rei, makan bakso yuk. Aku jemput bentar lagi ya," bunyi pesan itu.


Rei bimbang antara membalasnya atau tidak. Mana tawarannya menarik lagi. Pas banget lagi lapar. Aah, tapi gengsi. Pasti dia inginkan jawaban dari pesan kemaren pikir Rei.


Tak lama masuk kembali pesan ke ponsel Rei.


"Aku udah di depan"


Rei menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa Rei?" tanya Sari yang sedari tadi memperhatikan Rei.


"Eh, ga pa-pa," jawab Rei canggung.


"Aku keluar sebentar ya," lanjut Rei sambil berjalan keluar kamar.


Sari memperhatikan Rei dengan curiga, ga seperti biasanya tingkah Rei.


Sampai di depan kost, Rei melihat Candra sedang ngobrol dengan Maulana.


Rei menarik napasnya, lalu mendekati mereka.


"Aku udah makan," ucap Rei begitu berdiri di dekat mereka.


Candra yang mendengar suara Rei langsung berdiri.


"Yaaah, , kan akunya belum makan," jawab Candra.


"Yuklah, cuma bakso ini," lanjut Candra memasang wajah senyum penuh harap.


"Tapi bawa Maulana sama Sari ya.." tawar Rei,


"Tawaran bagus, tak boleh disia-siakan. Sekalian dikerjain aja." batin Rei usil


"Oke, ayok Lan ikut, mana Sari nya?” tanya Candra.


"Ada di dalam, tar aku panggil ya," jawab Rei yang segera masuk ke dalam lagi.


"Akhirnya, Lan nanti kamu bawa Sari ya," ujar Candra pada Maulana.


"Tapi, kau yang bayar ya Can. Aku belum dapat kiriman," jawab Maulana sambil cengengesan.


"Aman itu, yang penting misi berhasil." jawab Candra.


Tak lama Sari dan Rei keluar. Dan mereka berangkat naik motor. Di perjalanan mereka hanya diam tanpa bicara.


Terasa canggung bagi Rei, padahal biasanya dia santai jika boncengan dengan cowok.


Toh selama ini teman-teman Rei juga cowok semua.


Entah kenapa dengan cowok yang satu ini Rei tidak bisa santai seperti dengan teman-teman cowoknya yang lain.


Sesampai di Warung Bakso, mereka memilih duduk di pojokan. Rei memilih duduk di bangku pojok yang menghadap ke jalan.


Warung Bakso ini jadi tempat favorit anak-anak sekolah yag kost. Walaupun ramah dikantong, namun tetap enak.


Saat mereka sedang menunggu pesanan datang, mata Rei melihat dua orang cowok masuk ke dalam warung bakso itu.


Rei melambaikan tangannya pada mereka, spontan Candra dan Maulana menghadap ke belakang. Melihat siapa yang disapa Rei.


"Hei Rei, Sar" sapa Ega mendekati meja Rei.


"Sini Ga gabung ama kami," ajak Rei.

__ADS_1


"Ga papa kan Can?" lanjut Rei melihat ke arah Candra.


"Boleh, ga papa. Sini gabung aja." jawab Candra mempersilahkan, walaupun sebenarnya agak kurang senang.


Lalu Ega dan temannya ikut bergabung. Rei, Ega dan Sari terlibat percakapan seru. Mereka membahas tentang Prakerin yang akan mereka laksanakan dalam dua bulan lagi.


Ya, Ega adalah teman Rei dan Sari di Sekolah. Hanya saja mereka beda jurusan, Rei dan Sari jurusan Akuntansi sementara Ega jurusan Pemasaran.


Candra hanya memperhatikan mereka, sesekali ikut terlibat dalam percakapan itu.


Ada perasaan aneh ketika melihat Ega menatap ke arah Rei. Dan Rei bisa tertawa lepas ketika Ega mulai mengeluarkan guyonannya. Yang menurut Candra biasa aja.


Padahal Candra dari dulu memang suka memperhatikan Rei ketika sedang bercanda, tertawa dan berman gitar bersama-sama teman Rei yang rata-rata cowok itu.


Tapi entah kenapa melihat Rei tertawa dan bercanda dengan Ega saat ini membuat Candra merasa tidak nyaman, tidak suka dan jengah melihatnya.


***


"Makasih ya Can udah ngajakin kita makan," ujar Rei ketika mereka sudah sampai di kost.


"Iya sama-sama, terima kasih udah mau diajak keluar juga," jawab Candra.


"Kita pamit ke dalam ya Mas Candra, makasih banget loh traktirannya," ujar Sari permisi ke dalam.


"Iya Sar, sama-sama" jawab Candra sambil tersenyum.


Sari dan Rei beranjak akan masuk ke dalam kost.


"Rei, bisa ngomong sebentar?” cegah Candra.


Rei menghentikan langkah kakinya, memberikan isyarat supaya Sari masuk duluan.


Rei berbalik ke arah Candra.


"Ada apa Can?” tanya Rei.


"Jawaban apa ya?" tanya Rei pura-pura lupa.


"Mau kan jadi pacar aku" lanjut Candra.


"Ehhmmmmm... Gimana ya" Rei menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Candra menatap Rei penuh harap. Dia berharap gadis berambut sebahu yang ada di hadapannya itu bersedia menerima cintanya.


"Gimana Rei?” akhirnya Candra buka suara setelah kurang sabar menunggu Rei yang belum memberikan jawabannya.


"Ya udah, jalani ajalah" jawab Rei sambil berlalu ke dalam meninggalkan Candra yang masih bengong.


Candra masih berusaha mencerna jawaban dari Rei.


"Apa artinya aku diterima sama Rei ya?" tanya Candra pada diri sendiri.


***


"Cie...cie... Akhirnya ada yang udah punya pacar" ledek Sari begitu Rei masuk dalam kamar.


Rei mendelikkan matanya, sambil tersenyum dikulum.


"Udah jadiankan?" todong Sari lagi sambil senyum-senyum.


"Tepatnya, menepati janjiku padamu Sari," ujar Rei tiduran sambil memainkan game di ponselnya.


"Yaaah, setidaknya kamu akhirnya punya pacar." jawab Sari tanpa dosa.


Rei hanya tersenyum menanggapi Sari.


Jujur hati Rei belum merasakan apa-apa pada Candra.

__ADS_1


Sebuah pesan masuk ke ponsel Rei.


[Selamat tidur kekasih hati] diselipkannya emotikon peluk.


Rei hanya tersenyum, tanpa membalas pesan itu.


***


Hari berlalu, hubungan Rei dan Candra masih berjalan dengan baik. Mereka hanya bertemu sesekali, karena Candra sedang sibuk ujian akhir kelulusan.


Mereka lebih sering hanya berbalas pesan saja melalui ponsel.


Malam ini, Rei akan pergi ke rumah kakak kelasnya Mey untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal.


Kak Mey adalah kakak kelas Rei, mereka lumayan akrab. Rei sering menginap di rumah Mey.


Beberapa hari setelah pengumuman kelulusan besok Mey akan berangkat ke Jakarta, maka malam ini Rei akan mengambil beberapa barang di rumah Mey.


Rei minta antar pada Ega yang kebetulan motor. Mereka menuju ke rumak Mey.


Dirumah Mey terlihat ramai orang, tak heran karena orangtua Mey berjualan.


"Aku tunggu disini aja ya Rei," ujar Ega, ketika Rei turun dari motornya.


"Oke, aku cuma bentar kok" jawab Rei lalu berjalan ke arah rumah Mey yang ramai.


"Malam bude, kak Mey ada?" tanya Rei begitu sampai di depan warung.


"Ada di dalam. Masuk aja ndok." jawab wanita paruh baya itu ramah.


Candra melihat ke arah pintu ketika di dengarnya suara yang sangat dikenalnya itu.


Dilihatnya gadis yang berstatus pacarnya itu, lalu Candra melihat ke arah luar. Terlihat cowok yang dari awal mereka pacaran dulu membuatnya tak nyaman.


Kembali Candra mengarahkan pandangannya pada Rei yang semakin berjalan ke arah dalam.


Gadis itu sepertinya terkejut melihat Candra.


Rei tersenyum pada Candra, tetapi lelaki itu hanya melihatnya tanpa membalas atau berkata apapun.


Mendapati Candra yang tak meresponnya, Rei segera berlalu menuju kamar Mey.


"Eh, adek udah datang. Sama siapa?" tanya Mey ketika melihat Rei.


"Sama Ega kak" jawab Rei


"Mana Eganya?" tanya Mey sembari celingukan mencari-cari yang ditanya.


"Di depan Kak, dekat motor" jawab Rei sambil menunjuk ke arah luar.


"Suruh masuklah, makan soto dulu ya. Biar Kak buatkan," lanjut Mey, sambil berlalu ke depan memanggil Ega.


Rei melirik ke arah Candra, lelaki itu masih menatapnya tanpa senyum.


Rei berusaha tersenyum ketika pandangan mereka bertemu. Namun Candra tidak bergeming, hanya menatap tajam ke arah Rei.


"Hei, kok berdiri aja. Sini duduk, udah Kak buatkan soto" suara Mey mengejutkan Rei.


Dilihatnya Ega sudah ada di samping kak Mey yang membawa dua mangkok soto.


Rei duduk menghadap ke meja Candra yang ada di sebrangnya.


Candra masih menatapnya, Rei kembali melihat ke arah Candra. Lama mereka saling menatap dari kejauhan, tanpa suara, tanpa senyuman sedikutpun.


Candra mengalihkan pandangannya. Rei melanjutkan makan sotonya.


Terima kasih mimin, momod. Mohon krisannya juga, agar semakin baik menulisnya.

__ADS_1


__ADS_2