Reinata

Reinata
Candra


__ADS_3

Sesampai dikost Rei menceritakan kepada Sari perihal pesan yang diterimanya itu. Mereka berusaha menerka-nerka siapa si pengirim pesan itu.


Kembali masuk pesan dari nomor yang sama.


"Udah sampai kost Rei?" bunyi pesan itu.


Rei dan Sari saling pandang.


"Siapa ya Rei?" tanya Sari yang penasaran.


"Ntah, Rei pun ga tau Sar," jawab Rei.


"Balas aja Rei, tanyain siapa gitu," usul Sari.


"Males ah, biarin ajalah. Ntar bosen berhenti sendiri." ujar Rei cuek.


Ponsel Rei kembali berbunyi.


"Kenapa ga di balas-balas sih Rei pesan aku" tanya si pengirim pesan.


"Balas dong Rei" kembali masuk lagi pesan dari nomor itu.


Akhirnya Rei mulai kesal, langsung dipencetnya panggilan ke nomor itu.


"Halo Rei," terdengar suara cowok di sebrang sana.


"Siapa ini?" tanya Rei tanpa basa-basi.


"Candra, ini Rei kan?" tanya cowok itu.


"Iya, dapat nomor Rei dari mana?" kembali Rei bertanya.


"Dari Maulana," jawab si cowok.


"Maulana?" gumam Rei, yang langsung mematikan panggilan itu tanpa basa-basi.


Rei segera beranjak dari duduknya.


"Kemana Rei?" tanya Sari yang melihat Rei seperti sedang emosi itu.


"Cari Maulana, tu anak mintak dirujak kali." Sungut Rei sambil berjalan keluar kamar hendak mencari Maulana.


Sari mengikuti dibelakang Rei, takut teman se kamarnya itu beneran jadiin Maulana rujak.


Sebelum masuk ke lorong kamar cowok Rei bertemu dengan Ibu kostnya.


"Bu, boleh Rei ke kamar Maulana?" tanya Rei pada Ibu kost.


"Mau ngapain Ina?" tanya bu kost.


"Ada perlu Bu sama Maulana," jawab Rei

__ADS_1


"Itu Maulana di depan sama temannya" tunjuk bu kost ke arah Maulana yang sedang duduk dengan seorang temannya bermain gitar.


***


"Waaah, mau bunuh aku namanya itu Can," gerutu Maulana demi didengarnya Candra menyebut namanya pada Rei.


"Tenang Lan, kan ada aku. Aku tanggung jawab deh," ujar Candra santai.


"Kamu ga kenal Rei sih," gerutu Maulana.


"Udah santai aja. Hayuk lanjut lagi nyanyinya." lanjut Candra sambil kembali memainkan gitarnya.


Maulana sudah tidak semangat lagi, kepikiran Rei pasti marah padanya karena memberikan nomor telponnya pada Candra tanpa permisi terlebih dahulu.


"Maulana..." bentak Rei sambil menepuk bahu Maulana.


Maulana langsung berdiri sambil mengusap-usap bahunya yang agak panas ditepuk Rei barusan.


"Maksudmu apa kasih-kasih no aku sama orang ga bilang-bilang," herdik Rei sambil berkacak pinggang.


"Sabar Rei," Sari berusaha menenangkan Rei.


"Maaf Rei, aku yang maksa Maulana," sahut Canda yang juga lansung ikut berdiri.


"Aku ambil sendiri dari hp Maulana, tadinya Maulana kekeh ga mau kasih nomor kamu. Beneran bukan salah maulana," jelas Candra, ga tega lihat Maulana yang mulai menciut.


"Trus, tau Maulana ga mau kasih no aku. Kenapa kamunya maksa," Sembur Rei menghadap ke Candra.


"Karena mau kenalan sama kamu," jawab Candra sambil memasang senyum termanis.


"Ya ga juga, kamu ga balas-balas pesan aku, kenapa?" sahut Candra.


"Males," jawab Rei sambil berbalik badan ke arah dalam.


"Maulana, jangan kamu ulangi lagi ya. Tak rujak kamu nanti," sungut Rei.


Maulana hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecut.


"Rei, balas pesan aku ya. Sekalian balas hati aku juga," goda Candra sambil mengedipkan matanya pada Rei.


Mata Rei melotot melihat ekspresi candra.


"Orang aneh" gerutu Rei, sambil masuk ke dalam kost.


Sari senyum-senyum melihat pemandangan itu.


Didalam kamar Sari masih senyum-senyum penuh arti.


Tak lama ponsel Rei kembali berbunyi. Rei membuka pesan itu.


"Maaf ya Rei, aku yang maksa Maulana. Aku suka sama kamu. Udah beberapa kali aku lihat kamu, dan aku merasa bahagia kalau lihat kamu tertawa dan tersenyum."

__ADS_1


Rei mengerutkan dahinya membaca pesan itu. Mengingat-ingat kapan dia pernah bertemu dengan cowok itu.


Ah, rasanya Rei tak pernah melihat cowok itu. Kembali masuk pesan di ponsel Rei.


"Rei, kamu mau jadi pacar aku? kamu ga perlu jawab malam ini kok. Kalau mau kasih kesempatan kita berdua buat hangout dan saling mengenal dulu" bunyi pesan itu.


Mata Rei membulat membaca pesan itu.


"Orang aneh," gerutu Rei


Sari yang dari tadi memperhatikan ekspresi Rei penasaran pada isi pesan dan si pengirim.


"Candra ya?" selidik Sari.


"Iya, ga jelas nih orang," gerundel Rei sambil memberikan ponselnya pada Sari.


Sari lantas tertawa setelah membaca pesan itu.


"Ih, malah ketawa nih bocah," rutuk Rei mengambil kembali ponselnya yang disodorkan Sari.


"Akhirnya... Rei akan punya pacar juga," kelakar Sari sambil tertawa puas.


"Ih, apaan. Siapa juga yang mau sama dia," cibir Rei sambil memonyongkan bibir bawahnya.


"Aduuuh... Kayak-kayaknya waktu itu ada yang janji ya sama aku," goda Sari sambil menjawil dagu Rei.


Rei yang teringat itu langsung melotot matanya.


"Ya ampun Sari... Please, buat yang satu ini Rei ga nepati janji boleh ya," pinta Rei sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Sari menggeleng sambil senyum-senyum penuh arti.


Rei merutuki dirinya sendiri, kenapa dia kemaren mudah banget ucapin janji itu ke Sari.


Rei mengacak-acak rambutnya sendiri. Aah, andai waktu bisa di putar kembali. Ingin rasanya Rei menarik kembali ucapannya.


Rei bukan tipe orang yang suka melanggar janji. Pasti dia selalu menepati janjinya.


Waktu itu dengan PD nya dia bilang akan terima siapapun yang nembak dia buat jadi pacarnya.


Sekarang menyesali ucapannya. Rei ga nyangka bakal ada cowok yang berani nembak dia.


Kemaren Yandi aja kabur dan ga nongol lagi. Kenapa sekarang malah nongol cowok yang blak-blakan to the point gini.


Coba kalau Yandi yang bilang, mungkin Rei akan mempertimbangkannya. Daripada cowok yang baru di temuinya tadi di depan.


Cowok tinggi, kurus plus hitam manis itu. Jauhlah kalo dibandingkan Yandi...


"Aaah, kenapa jadi banding-bandingin orang sih. Ga ada mending-mendingnya dua-duanya. Yandi yang ganteng juga ngeribetin sama kakak-kakak kelas itu." batin Rei.


Lanjut besok ya gaes...

__ADS_1


Kira-kira Rei bakal nepati janjinya sama Sari ga ya...


Hayo siapa yang masih ingat janji Rei ke Sari...


__ADS_2