Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 20 Identitas pahlawan.


__ADS_3

Hari melelahkan berlalu, kini di pagi hari, setelah kami selesai makan makan, semua pergi ke tempat kerja masing-masing.


Tidak terkecuali aku yang akan berangkat pagi sekali, agar memiliki waktu yang longgar supaya jelajah dungeon bisa Lancar.


Sambil berjalan bersama Akira ke guild, aku ingin membeli beberapa skill yang sangat kubutuhkan, itu baru kusadari sekarang, yaitu regenerasi mana,mp dan hp, agar ketika habis maraton berjam jam aku tidak terlalu lelah.


Sebagai ras vampir, aku sedikit beruntung, karena ras vampir terkenal dengan ahli sihirnya, sehingga banyak skill yang bisa kubeli hanya dengan 10.000 koin.


___________________________________


Nama : Lilias Coksumbar.


Ras : vampir.


Level : 70.


HP : 6300/6300 [90%]


MP : 12600/12600 [90%]


SP : 12600/12600 [90%]


Skill :


-kesucian (sharity) [90%]


-kemalasan (sloth) [90%]


-kerakusan (gluttony) [90%]


-nafsu (lust) [90%]


-Manipulasi darah. [90%]


-Manipulasi elmen. [90%]


-Atlit bumi. [90%]


-Pencak Silat. [90%]


-Deteksi. [90%]


-Langkah bayang. [90%]


-Transformasi kelelawar. [90%]


-Regenerasi HP. [90%]


-Regenerasi MP [90%]


-Regenerasi mana [90%]


Element:


air,kegelapan.


koin : 2.038.000


[Status] [Quest] [Shop] [Inventori]


___________________________________


'Um, level 70 kah, tanpa skill pride munkin aku masih level 35, sekarang aku setara rank S di guild, skill ruller benar benar OP, hanya saja aku lebih suka menggunakan skill bela diriku.'


'Tulisan 90% benar benar mengganggu, aku ingin segera 100%, aku penasaran apa yang akan terjadi.' Gumamku.


Seperti biasa, kami mampir di guild terlebih dahulu, Akira yang akan mengambil misi rank C, dan aku yang akan menuju dungeon.


"Kita berpisah di sini ya, jaga dirimu." Ucap Akira setelah keluar dari guild.


"Iya, kamu juga." Sautku.


Setelah aku keluar dari kerajaan, aku menengok sekitar, dan setelah tidak ada orang yang terlihat, baru aku menggunakan skill maraton dan langkah bayangku.


Munkin hanya maraton, tapi karena disanding dengan kekuatanku yang hebat, aku bisa melesat tajam seperti mobil Ferrari di rpm tertingginya.


"Weooong."


.


Sampai hutan dekat dungeon, matahari belum mencapai puncaknya, ini lebih cepat dari hari lalu, apalagi sekarang aku tidak perlu istirahat jadi langsung saja masuk ke dungeon.


Aku membuka penyamaranku, dan menghirup udara segar, hanya saja kali ini aku tidak mengeluarkan auraku, agar bisa membunuh banyak monster dengan mudah.

__ADS_1


Ketika aku masuk lebih dalam, aku melihat monster bundar berwarna biru, monster lemah yang berada di lantai 1 dungeon, lemah cuma rank C belaka.


"Oowh, rimuru ini, kubantay kalian ha." Ucapku mengingat hukuman yang kualami.


Aku mengeluarkan sabit besarku, sebenarnya aku bisa membunuhnya dengan mudah, munkin sekali tebas dua pulau terlampaui.


Tapi dengan rasa kesalku, aku menebasnya berkali kali, lalu menginjak injaknya, lalu membakarnya, lalu meludahinya.


Itu kulakukan berulang kali cukup banyak, bahkan monster yang bukan tipe rimuru pun kena imbasnya, aku terus maju sampai aku berada di ruang yang luas, juga terdapat monster yang besar, di belakangnya terdapat gerbang yang besar pula.


"Kau pasti bosnya ya, sepertinya aku butuh skill apresial."


'Sistem, berapa harga apresial.' Ucap dalam benakku.


'Skill Itu tingkatannya di bawah skill ruller, jadi harganya 1jt master.'


'He,(emot batu) dah lah.'


Sebenarnya monster besar di depan terlihat sangat lemah bagiku, jadi tanpa pikir panjang langsung menebasnya dengan sabit ber aura.


"Criiing."


"Eh hilang, apa aku berlebihan." Ucap loli vampir dengan sombongnya.


[Misi utama berhasil, user mendapatkan resistensi suhu berlebih]


'Terlalu mudah, sistem, apa misi utama selanjutnya, langsung saja gih.' Eyelku di batin.


'Baiklah master.'


[Misi utama baru, taklukkan seluruh dungeon cebretan, hadiah sihir dimensi, batas waktu 1 tahun, gagal akan mendapat hukuman 7 hari]


"Woow, ini baru asik, munkin akan mudah bagiku yang telah setara rank S, tapi karena batasnya lama, aku bisa melakukanya sedikit sedikit."


'Mumpung masih sempat, aku akan melanjutkan buruanku, berapa lantai yang dapat kucapai sampai jam 1, kucoba dulu.'


Melihat gerbang tempat monster tadi berdiri, aku yakin itu sebagai jalan menuju lantai berikutnya, aku memasukinya, menelusuri jalan dan tiba di tempat yang berbeda.


Tempat yang sekarang terlihat lebih gelap dan pengap, disini terdapat monster yang seperti goblin, tanpa pikir panjang aku membantainya.


"Stek whus." Suara sabit di dalam gua.


Lantai demi lantai kubantay dengan cepat, banyak monster berbeda yang kutemui, mulai dari goblin, ogre, orc, slime, lizerdman, Roger Sumatra, banteng merah, kadal gurun, Sigit rendang, terbantai dengan mudahnya.


"Hari ini cukup sampai disini saja dulu, mmm, munkin sudah sampai lantai 20 ya, cepat juga." Aku yang ngomong sendiri.


Dengan masih membawa sabitku, aku sekarang berenjak menuju keluar dungeon, melalui skill deteksi dan Indra seorang vampir, aku bisa bergerak leluasa.


Lantai demi lantai kulalui, dan sampailah di lantai teratas.


Sesampainya lantai atas aku memasukkan kembali sabit yang kupegang, tapi langkahku terhenti karena melihat pemandangan yang menjengkelkan.


"Yo, kita bertemu lagi." Ucap orang yang kutemui didepan.


"Sepertinya kamu sering kesini ya, pahlawan gadungan." Ucapku dengan seringai.


"Di dia, kenapa kita bertemu lagi dengannya." Ucap pengikut pahlawan.


Tidak ada banyak kata keluar dari kami, hanya dengan gerakan tubuh kami, kami saling memahami apa yang akan kami lakukan.


Melihatku yang sudah memasukkan senjata, pahlawan juga meninggalkan senjatanya, munkin dia juga berpikir kalau bela diri kami tidak terfokus pada pedang.


Tanpa aba aba dari wasit, kami maju bebarengan.


"buk tok dek tak." Brisiknya suara pukulan kami.


Bertarung dengan skill bela diri sangat menyenangkan bagi kami, jadi di antara kami tidak ada yang menggunakan sihir.


Kami saling mengukur kemampuan tubuh kami, kami berpikir menggunakan pedang itu sedikit membosankan, karena bela diri Indonesia tidak tervokus pada pedang.


Kami berhenti sejenak mengambil jarak.


"Kemampuanmu membuatku nostalgia, sebenarnya darimana kamu tau gerakan itu." Ucap pahlawan heran.


Yang dia tau hanya dialah yang bisa menggunakan skil ini, tapi bagaimana bisa ada orang lain, apakah ada orang lain yang sepertiku.


"Nee, apa kamu juga dari Indonesia." Lanjut pahlawan.


Mendengarnya membuatku berpikir keras.


'Apa bagaimana dia?, jadi pahlawan ini orang Indonesia, apa dia juga reinkarnator sepertiku.'


"Kamu ?, jadi kamu orang Indonesia ya." Ucapku dengan mata sipit.

__ADS_1


"Sudah kuduga, bisakah kita berbicara sebentar." Lanjut pahlawan melepas kewaspadaannya.


Mendengar perkataanya, membuat tubuhku bergidik dan trkikih ringan.


"Hahahahahahahaha, setelah kau membunuh orang tuaku, kau masih ingin berbicara." Aku yang menutup separuh muka dengan tangan dan menghadap ke atas dan tertawa lepas.


Mendengar ocehannya hanya membuatku semakin menjadi jadi, aku menatap tajam pahlawan di depanku dengan mata merah bercahaya, mengeluarkan sabit besarku kembali.


"Kau ingin bicara?!! temuilah ayahku di alam kubur, dan minta maaflah bnagast." Aku yang mulai menyerangnya.


"Baiklah jika itu maumu."


Pahlawan dengan posisi kuatnya dan mengeluarkan banyak aura, dan disusul olehku juga.


Pengikut pahlawan hanya bisa menghindar dengan ketakutan, bahkan berada di sekitar pertempuran membuat mereka sesak napas.


Saat ini aku mengeluarkan banyak aura pada sabitku, suara ledakan keras tercipta dari kedua senjata yang bertemu.


"Sepertinya membunuhmu hanya dengan fisik tidak cukup ya, coba kau terima yang ini."


Aku memasukkan elmen kegelapan dalam sabit besarku, membuat sabit terlihat sangat menakutkan.


Pahlawan yang melihatnya dia juga bersiap dengan skillnya, entah apa skillnya hanya dia yang tau.


Kami saling bersiap untuk kelanjutannya, aku maju dengan cepat ,tapi pahlawan juga menghindarinya, dan ketika aku mengincar kepalanya.....


.


"Tanggg." Pecahan besi terdengar.


.


"Jlebbb." Suara tusukan.


.


.


Sebenarnya sabitku tidak mencapai kepalanya, karena dia menghindar, tapi dengan aura kegelapan, helem yang dikenakanya hancur, dan terjatuh.


Seketika aku kaget dengan wajah yang terlihat di depanku, membuatku tiba tiba hilang fokus dan aku menjatuhkan senjataku.


Sampai membuat kesempatan bagi pahlawan untuk menusuk perutku dengan pedangnya.


Aku melihat wajahnya yang tidak asing, membuatku mengingat kehidupan duluku, aku yang seorang wibu pemalas selalu dijauhi banyak orang.


Sangat sedikit yang bisa kuanggap teman.


Aku sering kesepian.


Hanya ditemani waifuku yang tidak nyata.


sampai hadir seorang membuatku mengerti arti dari sebuah pertemanan.


Membuatku sadar akan kehidupan sosial.


Membuatku sadar akan arti kehidupan.


Denganya, aku melakukan banyak kegiatan, meskipun aku masih malas melakukanya, tapi dia masih mau berteman denganku.


.


"Taiga ??." Ucapku dengan wajah penuh kejutan.


Melihat reaksiku, pahlawan terdiam dengan mata melebar.


"Kamu...... kenal aku."


Apa yang terjadi sedang terjadi, pedang taiga masih menancap di perut Lilias, dan kedua wajah mereka berdua masih saling menatap cukup lama.


"Oggh." Darah keluar dari mulutku.


.


.


.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2