
Hari semakin sore, seperti yang sebelumnya kurencanakan, kini aku pulang membawa beberapa jajanan untuk Akira yang sedang sakit, Akira adalah orang yang suka makanan, jadi aku membawa makanan yang kaya rasa, agar Akira kembali semangat.
Aku sampai rumah dan membuka pintu.
"Aku pulang."
"..." Tidak ada jawaban dari dalam.
Aku dengan perasaan yang sedikit tertekan, masuk ke rumah, melewati ruang makan aku melihat gadis yang sedang sibuk dengan urusannya, ya itu Akira.
Kini Akira sedang menghadap banyak makanan di meja, ia makan dengan lahapnya sampai dia tidak sadar dengan kedatanganku.
"Ooh kamu sudah baikan lagi ya, sukurlah." Aku mengeluarkan nafas lega.
"Mmm Lilias, selamat datang kembali, mm." Akira yang melanjutkan makanya.
"Ini, aku bawakan jajan untukmu, dan juga pembalut karena kamu belum punya." Aku memberikan barang yang telah kubeli.
"Uwogh terima kasih."
"Yaudah aku mau mandi dulu."
Aku menuju kamar dan meletakkan semua barang bawaanku, kemudian melepas pakaian dan menggantinya dengan handuk.
Aku menuju kamar mandi, seperti biasanya aku mengisi bak mandi air hangat dan membasuh badan sebelum berendam.
Ketika berendam, aku tidak lupa dengan misi harianku yang telah kulakukan sejak lama, yaitu pemijatan gunung kabar selama 3 menit.
Ya, memang itu misinya, meskipun biasanya aku terus lanjut bermain, sampai rawa-rawa menyemburkan air mancur, tidak terkecuali sekarang, setelah aku bermain di gunung aku juga akan turun ke rawa yang belum tumbuh pepohonan.
[Ding, Quest Utama baru]
"Walah bikin kaget saja, setelah lama tidak ada misi kini datang-datang menganggu."
'Quest.'
Quest utama :
Capai level 100 dalam 6 bulan
Hadiah : Paket kostum Hu Tao (Gensin Impact)
Skill pasif pemakaian: ketika dilihat orang lain, user akan mendapatkan 1 poin sistem per detik.
Gagal : menjadi laki-laki.
'Oe oe oe, hal aneh apa lagi ini, menjadi laki-laki?'
Aku sedikit membayangkan jika memang itu terjadi.
'Tidak tidak tidak, jangan sampai itu terjadi, mana munkin aku mau memegangi burung aneh itu lagi setiap hari.'
'Tapi hadiahnya menarik, hu Tao kah, aku ingin segera memakainya, xixixi.'
Karena terganggu sistem, aku tidak jadi bermain rawa, jadi aku segera menyelesaikan mandiku, dan keluar dari kamar mandi.
Aku menuju kamar dan memakai pakaian favoritku seperti biasa, yaitu pakaian seperti seragam SMA di Jepang, rok hitam dan baju putih.
__ADS_1
Setelah itu menuju ruang makan, karena mulutku menginginkan makanan.
Di ruang makan masih ada Akira yang sedang mengelus perutnya, munkin dia terlalu kenyang, aku tidak peduli, jadi aku cuma makan dengan santai.
"Ne Lilias, apa yang sedang orang tua kita lakukan, kenapa mereka tiba-tiba pergi setelah nikah." Ucap Akira sambil memegangi perutnya.
"Aku tidak tau apa yang sedang mereka lakukan, tapi aku yakin mereka sedang bersenang-senang." Aku sambil mengunyah.
"Eeeh, mereka memang terlihat senang sebelum berangkat, aku jadi ingin menikah." Lanjut Akira.
"Baru saja haid langsung pengen nikah aja."
"Mmm sepertinya akan menyenangkan jika menikah sama paman, aku masih ingat ketika dia menolongku, aaaa....dia sangat keren." Akira memegangi pipinya.
"A a apa! dengan taiga....." Entah apa yang kupikirkan ketika mendengar perkataan Akira, namun mukaku menjadi merah.
"Ja jangan, taiga terlalu tua untukmu Akira."
"Eeeeh, kenapa peduli, asalkan sama-sama mau kan tidak masalah."
'Si Akira ini, ada apa denganya tiba-tiba.'
Percakapan yang tidak bermutu berakhir cepat, setelah makan kami segera tidur, meskipun aku masih memikirkan apa yang dikatakan Akira.
***
Hari baru semangat baru, aku bangun pagi dan diikuti Akira yang juga sekarang sudah terlihat bersemangat.
"Hari ini jadwalnya praktek sihir, kamu berangkat kan." Ucapku.
Baru bangun kami membenahi tempat tidur, gosok gigi kemudian sarapan.
Seperti biasa kami berangkat melalui portal menuju sekitaran akademi, karena hari ini waktunya praktek, jadi kami langsung menuju tempat latihan.
Tempat latihan ini adalah lapangan terbuka, ada beberapa patung target yang menjadi tolak ukur kemampuan sihir, dan benar saja di tempat latihan sudah ada beberapa siswa yang berdiri menunggu guru.
"Lilias Chan, Akira Chan selamat pagi." Ucap teman sekelas.
"Pagi, Mega chan." Kami membalas sambutan dengan senyuman.
Setelah beberapa hari masuk akademi, tidak munkin kami tidak berkenalan, kami akan berjuang bersama, tentu saja kami harus saling berkomunikasi dengan teman sekelas.
Setelah sedikit lama menunggu, akhirnya datang juga guru sihir kami, Yun Xia.
"Selamat pagi semua, hari ini seperti yang dijanjikan kita akan bermain sihir." Yun Xia membuka pelajaran kami.
"Aku yakin semua di kelas ini memiliki elmen sihir masing-masing, munkin kalian sudah pernah berlatih dengan orang tua kalian, jadi di sini kita akan memperkuatnya."
"Sihir terbentuk dari mana, setiap orang memiliki kapasitas mana yang berbeda, dan besarnya kekuatan sihir tergantung dari seberapa mana yang kalian alirkan."
"Kalian bisa memperbanyak mana kalian dengan berlatih, atau dengan menyerap energi." Yun Xia terus berlanjut.
'Yaa yaaa, ternyata aku tidak membutuhkan pelajaran ini juga, dari awal tujuanku ke akademi memang untuk bermain.'
"Owaaaaah." Mengaup karena semakin mengantuk.
***
__ADS_1
Waktu berjalan membosankan, sampai tiba waktu untuk istirahat, para teman sekelas ku menyebar untuk urusan masing-masing, mulutku sedikit gatal jadi aku memutuskan untuk pergi ke kantin.
"Akira, apa kamu mau ke kantin." Ajakku.
"Tidak ah, aku masih kenyang." Akira geleng-geleng asiap.
"Yaudah aku sendiri saja."
Meskipun tanpa teman, aku masih bisa pergi ke kantin tanpa merasa gelisah, aku tau di kantin pasti banyak murid berkumpul, sebagai gadis tercantik, aku pasti akan menjadi banyak perhatian, tapi aku sudah terbiasa.
Aku pertama kali ini menuju kantin, ternyata kantin ini sangat luas, kantin ini memiliki gedung sendiri, daripada kantin ini lebih pantas disebut pasar, atau dalam bahasa moderenya mall, ya karena ini akademi bukan sekolahan, tentu saja sedikit berbeda, bahkan banyak murid yang berjualan juga.
Aku mencari tempat makan yang cocok, dan menemukan warung sate, tanpa banyak pikir aku makan di sana.
Suasana sedikit mengangguku, aku mendengar banyak orang yang mengagumimu dari kejauhan, namun tidak ada satupun yang berani mendekatiku, aku tidak tau kenapa tapi itu membuatku sakit.
.
.
"Mmm ini enak." Tusuk demi tusuk aku gigit.
Ketika aku sedang makan datang juga orang menghadapku.
"Bolehkah aku makan bersama." Ucapnya.
"Mmm Kazuya? tentu."
Kazuya mengambil tempat duduk di dekatku, karena dia memang niat makan bersama.
Seketika banyak tatapan dan keributan mengarah ke kami.
"Apa mereka berpacaran."
"Mereka sangat cocok."
"Dasar cowok populer, aku ingin mencabut nyawanya."
"Dasar cewek ladchur, berani-beraninya kamu mengambil pangeran kami."
'Brisiknya mereka.'
Sebenarnya suara itu sangat lirih, namun aku bisa mendengarnya dengan jelas karena kepekaan indraku.
***
Dari beberapa meter terdapat seorang pria yang tengah berdiri dengan bingung.
"Siapa yang sedang mereka bicarakan, kenapa mereka terlihat heboh." Ucapnya.
Pria ini menoleh ke sumber kehebohan, dan dia melihat pemandangan yang mengejutkan.
"Lilias? dia, kenapa dia bersama seorang laki-laki, siapa dia." Dia yang bingung, siapa lagi kalau bukan taiga.
Taiga mendengar banyak percakapan dari orang yang melihat Lilias dan Kazuya, mulai dari umpatan hujatan sampai pujian.
'Apa benar Lilias pacaran, benarkah dia suka sama cowok....... yah dia memang seorang cewek sekarang.....tapi kenapa ada yang mengganjal, apa itu.'
__ADS_1