
Siang hari yang cerah, terlihat seorang perempuan yang berdiri di pinggiran sungai, dia menengok kanan kiri dengan kebingungan.
"Eh, kenapa tiba-tiba menjadi siang, dan ini di mana." Ya itu aku Lilias.
Setelah melihat ke seberang sungai, terlihat seorang laki-laki yang melambaikan tangannya, dan seorang perempuan yang sedang menyebrang.
"Papa! mama!" Teriakku, namun yang dituju tidak mendengarnya.
Perempuan itu yang tidak lain adalah Solaya sedang mendekat ke Agus, yang ada di seberang sungai, setelah sampai di sana Solaya memeluk Agus, dan menghadap ke arahku.
"Papa! mama!" Aku yang sambil meneteskan air matanya terus memanggil mereka.
Teriakan kedua terdengar oleh mereka, namun mereka hanya tersenyum menghadapku, kemudian perlahan menghilang.
Aku yang ada di seberang sungai tidak bisa mengejar mereka yang menghilang.
**
"Papa! mama!"
"Bluk bluk bluk, ughuk-ughuk."
Tiba-tiba Aku membuka mata sudah ada di sebuah kamar mandi, kepalaku dipegang oleh seseorang, dan kepalaku dimasukkan ke bak mandi.
"Bluk bluk bluk."
"Hentikan." Ucapku.
"Kamu sudah bangun ya, kelelawar mesum." Ucap orang di belakangku.
"Ini di mana?" Aku bingung.
Aku melihat sekitar, di dalam kamar mandi aku sedang berdua dengan Akira, Aku yang basah kuyup dan tanpa pakaian.
"Mama?"
"Ayo kita selamatkan mereka." Ucap Akira.
Aku teringat kembali kejadian sebelumnya, aku setelah bermain lato-lato milik taiga kepergok oleh Akira, kami bertengkar sebentar dan aku pingsan setelah melihat surat yang dibawa Akira.
"Mmm." Anggukku yang dengan wajah sedih.
Kami berdiri dan keluar dari kamar mandi, di luar terlihat ada Yuli dan taiga yang sedang menunggu, mereka melihatku dengan heran.
"Sepertinya anda belum benar-benar sadar." Ucap Yuli.
Taiga hanya diam tersipu melihatku.
"Eh." Seketika aku menutupi tubuku dengan kedua tangan.
"Ternyata kamu masih tau malu ya, kelelawar mesum." Ucap Akira yang mata sinisnya menatapku.
Aku segera berlari ke kamar taiga.
"aduh, sakit." Sebelum sampai di kamar, tiba-tiba aku merasa rawaku perih, reflek aku berlutut sambil memeganginya.
"Apa kamu baik-baik saja." Taiga yang terkejut melihatku.
__ADS_1
"Ahaha sakit." Aku dengan senyum canggung.
'Ah, aku lupa mengaktifkan kembali skillku, kalau aku mengaktifkanya apa aku akan kembali menjadi prawan'
Setalah sebentar berpikir, aku kembali mengaktifkan semua skillku, dan segera menuju ke kamar untuk memakai pakaianku yang masih tertinggal di sana.
Aku yang sedang melihat kasur, teringat apa yang telah kulakukan bersama taiga, membuat pipiku kembali memerah.
'Aah, sangat memalukan, aku sampai melakukan itu.'
Setelah memakai pakaian, aku keluar kamar dan menuju tempat tiga orang yang sedang menungguku.
"Oke, aku berangkat, bagaimana dengan kalian." Ucapku.
"Aku ikut, paling tidak, jadi beban sudah lumayan."
"Iya, aku juga."
"Kita harus berhati-hati, karena mereka yang menyiapkan tempat pertemuan munkin di sana sudah ada jebakan." Taiga dengan wajah serius.
"Mmm." Anggukku.
"Yuli-san, kami berangkat dulu."
"Maaf aku tidak bisa membantu." Ucap Yuli, dia dengan perut besarnya hanya bisa menunggu kabar.
"Tidak apa-apa, kamu harus menjaga anakmu."
Aku membuka portal langsung menuju gerbang mansion lama, kemudian memasukinya, dan diikuti oleh Akira dan taiga.
Sesampainya di depan gerbang mansion, kami melihat semua lampu dinyalakan dan ada juga api besar, membuat malam semakin terang.
langsung berteriak, membuat orang lain berkumpul.
'Deteksi.'
Setelah mengaktifkannya, aku menyadari kehadiran banyak orang yang mengelilingi mansionku, dan sepertinya mamaku ada di depan pintu mansion dikawal oleh sepuluh orang yang lebih kuat.
"Benar saja, mereka mengepung mansion, dan jumlahnya ratusan." Ucapku dengan lirih.
"Yang benar saja, apa kita bisa mengalahkan mereka." Ucap Akira.
'Sepertinya kami masuk ke jaring, tapi tidak ada cara lain untuk menyelamatkan mama' Batinku.
Teriakan dari para kesatria tidak kami hiraukan, kami dari gerbang langsung masuk ke halaman, dari seberang halaman terlihat solaya dan sandi yang duduk terikat, mereka dikawal oleh sepuluh orang yang terlihat beda dengan para kesatria.
"Yoo, kamu datang juga ya vampir, siapa ya namamu, Lilias ya." Ucap salah satu sepuluh orang di belakang Solaya.
Solaya yang tadinya merendahkan pandangan mata ikanya, kini terkejut karena mendengar kata Lilias terucap, ia melihat ke depan dan melihat tiga orang berjalan bersama.
"Lilias, kenapa kamu kemari, mereka hanya ingin membunuhmu." Solaya dengan wajah prihatinnya.
"Tenang saja ma, kalian akan kami selamatkan." Ucapku.
"Papa, apa yang telah mereka lakukan pada papaku." Akira terkejut melihat sandi lemas tidak berbicara dan banyak darah di bajunya.
"Mereka!" Taiga terkejut melihat orang di depannya.
__ADS_1
"Ada apa dengan mereka taiga." Ucapku.
"Orang-orang yang mengepung mansion sepertinya para kesatria kerajaan dan penyihir kerajaan, dan sepuluh orang di depan adalah para pahlawan dari berbagai kerajaan, di antara mereka adalah pengguna skill kebajikan." Ucap taiga.
Taiga banyak menceritakan mereka dan kekuatanya kepada kami, seperti yang di ceritakan taiga, di antara mereka adalah gou ji pengguna skill amal, Zhi Zhou pengguna skill ketekunan, Lian min pengguna skill belas kasih
"Ooh, pantesan tau banyak, kukira siapa, ternyata taiga ya, pahlawan dari Sambac, kudengar kamu mengkhianati kerajaanmu." Ucap Zhi Zhou si ketekunan.
"Cih." Mendengarnya, taiga hanya mendecitkan lidah.
"Yah munkin mereka pahlawan di kerajaannya, tapi di antara mereka hanya enam pengguna skill kebajikan." Ucapku.
"Bagaimana kamu tau, padahal dari sesama pahlawan saja banyak informasi yang disembunyikan." Ucap Lian min.
"Yah, karena skill satunya lagi ada padaku, meskipun aku baru melepasnya." Lanjutku dengan santai.
"Hahaha, anak kecil yang lucu, bukanya itu skill kesucian, kenapa anak lucu sepertimu harus ditangkap ya, sayang sekali." Tawa Zhou.
"Yaudah, kalau kamu paham maka lepaskan orang tuaku." Lanjutku.
"Kami memang ingin melepaskaya, namun sudah menjadi kesepakatan beberapa kerajaan untuk menangkapmu dulu, sayang sekali." Ucap diantara pahlawan yang paling tua.
"Apa yang akan kalian lakukan pada anakku." Soalaya yang terikat tidak bisa bergerak bebas, apalagi dengan bayi di perutnya.
Melihat keprihatinan, aku semakin kesal, aura hitam kukeluarkan, aku mengaktifkan skill langkah bayang agar pergerakan tidak terdeteksi, dan maju meninggalkan Akira dan taiga untuk mengambil mama dan ayah.
"Whus."
Namu belum sampai di sana, aku sudah lebih dulu dihadang oleh salah satu pahlawan.
"Sangat cepat." Orang lain yang melihatnya sangat terkejut, karena dari pandangan orang lain dua orang ini tiba-tiba berpindah tempat.
"Kamu cepat juga." Aku sedikit kesal karena kemampuan andalanku tersaingi.
"Kalau kamu ingin bermain, kami siap meladenimu." Ucap dia yang menghadangku.
"Kami?" Aku kembali bingung.
Tiba-tiba lima orang yang tadi hanya menonton kini ikut mengepungku, sekarang aku dikepung oleh enam orang pahlawan, sepertinya mereka para pengguna skill kebajikan, sedangkan empat lainya masih mengawasi mamaku.
"Kalian, jangan biarkan mereka menganggu." Teriak pahlawan pada para kesatria.
Mendengar teriakanya, beberapa kesatria dan penyihir kerajaan mengepung taiga dan Akira, membuat mereka tidak bisa banyak bergerak.
"Kukira bewan, ternyata kepungan." Pojok bibirku terangkat.
Melihat kami terkepung, Solaya dan sandi hanya membuat wajah pucat.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung......