
Malam semakin gelap, waktu hampir tengah malam, di suatu kamar yang tanpa cahaya, terdapat dua gadis yang sedang berbaring, si merah terlelap dan si perak masih melamun, dia menatap bulan yang jauh dengan perasaan rumit, siapakah gadis kalem yang baik ini, ya, itu aku, Lilias Coksumbar.
'Tinggal beberapa jam lagi tahun baru, andaikan skill dimensiku bisa menjangkau bumi, pasti aku akan pergi.' Pikirku mengingat perbedaan tradisi.
. Terdengar suara di kepalaku.
'Eh sistem? Bukan, ini bukan suara sistem.'
Aku yang sedang berbaring, Tiba-tiba aku berpindah ke tempat lain, suatu hal baru bagiku selama hidupku di dunia ini, mirip sihir tapi lebih tidak masuk akal kekuatanya, karena bahkan aku yang merasa kuat tidak merasakan sumber kekuatanya.
Tempat yang kujumpai begitu terang, membuatku menyipitkan mata sebentar, dan setelah aku membuka mata aku dikejutkan sosok yang terasa begitu akrab meskipun baru pertama ku jumpai.
"Yo, bagaimana kabarmu." Ucap dia yang di depanku, rambutnya berwarna biru, dan mengenakan baju berwarna biru pula.
"Aqua?" Ucapku.
"Hmm kamu begitu santainya memanggil namaku langsung." Ucap Aqua.
"Yaah, meskipun aku tau kamu Dewi yang baru kutemui , namun entah kenapa sekarang aku merasa akrab denganmu." Lanjutku.
"Begitukah, baguslah." Lanjut Aqua dia tersenyum melihatku.
'Dia terlihat berbeda, entah yang mana sifat aslinya, namun sekarang dia terlihat lebih berwibawa.' Pikirku.
Melihatku diam berpikir, Aqua cuma tersenyum, dia melangkah mendekat ke arahku, menepuk pundakku.
"Sebentar lagi kamu akan mengetahuinya, untuk sekarang lebih baik kita pergi." Ucapnya.
"Ooo, kamu akan membawaku ke mana?"
"Kampungku."
Sedikit sambutan dari Aqua, aku tidak meragukan apa yang ia katakan, meskipun dia kadang terlihat bodoh, namun sekarang ia terlihat seperti Dewi yang hebat.
Aku tidak tau apa yang dia lakukan, tiba-tiba kami menghilang dan berpindah ke ruangan yang terlihat moderen, tempat ini memiliki kulkas, AC dan benda lain yang sudah lama aku tidak melihatnya.
"Selamat datang di rumahku, ini rumah sementara yang kugunakan ketika singgah di bumi." Ucap Aqua.
"Jepang?" Tanyaku.
"Yah, yang penting ke bumi kan, meskipun tidak ke kampung lamamu." Lanjut Aqua.
"Aku kangen kampung lamaku si, tapi tak apalah, munkin lain kali saja." Anggukku.
Setelah sedikit percakapan, Aqua mengambil pakaian yang ada di lemarinya, dia mengganti pakaiannya dan memberikan untuk kukenakan juga.
Karena pakaian yang dia berikan aku tidak bisa memakainya sendiri, jadi Aqua membantu aku mengenakannya.
Kini kami mengenakan pakaian yang sering dijumpai di festival jejepangan, bukan rompi dan senapan, namun sebuah yukata bermotif bunga, Aqua dengan motif berwarna biru, sedangkan yang kukenakan motif berwarna merah.
"Tahun baru harus festival, yok kita pergi." Ajak Aqua.
"Mmm." Anggukku.
Kini Aqua membawaku keluar dari rumahnya, dari luar terlihat jika rumah Aqua ini jauh dari keramaian, membuat suasana rumah tenang.
Aqua menggandeng tanganku, dia membawaku berjalan, aku tidak tau mau kemana tapi aku tetap mengikutinya.
"Lilias, ini pertama kalinya kamu ke Jepang kan, jadi aku yang akan memandumu, munkin tahun depan ketika kamu sudah bisa membawaku ke Indonesia, kamu yang harus memanduku." Ucapnya.
"Kalau memang bisa, pasti kulakukan."
Aqua terus membawaku berjalan lumayan jauh, dan akhirnya kami sampai di keramaian, semakin banyak orang dan mobil berlalu lalang.
Penampilan kami terlihat mencolok bagi banyak orang, dua gadis cantik yang bergandengan terlihat seperti saudara.
__ADS_1
"Kita sampai, hal pertama yang wajib dilakukan di tempat festival yaitu makan-makan." Ucap Aqua.
"Aku mau seblak."
"Eh, tidak ada yang begituan di sini."
"Yaudah aku ikut kamu saja, lagian aku tidak lapar." Lanjutku.
Aqua membawaku berkeliling tempat jajan, kanan kiri kami dipenuhi oleh stand makanan dan mainan.
"Kamu berani mengajakku, pasti bawa banyak uang kan." Aku memastikannya, karena aku tidak bawa uang Yen.
"Santai, aku kaya, xixi." Aqua dengan bangganya.
"Aku mau permen apel uy, aku lihat di anime kalau festival harus beli itu." Ucapku.
"Tentu, buatlah dirimu senyaman munkin."
Seperti yang Aqua janjikan, akhirnya kami membeli permen apel berwarna merah, kami memakanya sambil berkeliling.
Begitu banyak makanan yang bermacam, dan setiap aku tertarik, aku minta untuk dibelikan, aku tidak takut kekenyangan karena ini rasanya enak.
Selang beberapa waktu, aku merasa bosan berjalan terus, jadi kami duduk berdua sambil memakan takoyaki yang belum habis, ketika kami sedang bersantai, datang dua laki-laki umurnya sekitar 16an menghadap kami.
"Hai gadis cantik, sepertinya kalian cuma berdua, maukah kutemai berkeliling." Ucap salah satu dari mereka.
"Maaf, kami sedang asik berdua." Tanggap Aqua dengan sopan.
"Yaah, baiklah kalau begitu." Ucapnya lesu, tanpa banyak percakapan darinya, laki-laki itu pergi.
"Nee, Lilias." Ucap Aqua dengan bahagianya.
"Haha, kamu membuatnya terpukul." Ucapku.
Selang beberapa waktu, datang lagi beberapa orang yang mengajak kami bermain bersama, mulai dari orang ganteng sampai yang lusuh.
"Enyahlah." Ucap Aqua semakin sopan.
Dan begitulah beberapa adegan yang terjadi, namun dengan cepat Aqua mengusir mereka, aku juga tidak menginginkan mereka, bagaimana tidak mereka tidak tau diri, ingin kencan dengan gadis cantik dengan penampilan mereka.
"Masih ada waktu sebelum kembang api, yok kita keliling lagi." Ajak Aqua.
"Ayo."
Setelah cukup banyak makan, aku mulai bosan dengan makanan, jadi kami bermain dengan permainan ala festival, pertama kami ke tempat jaring ikan.
"Ini keahlianku." Ucap Aqua.
Aqua membayar beberapa uang untuk jaring ikan, Aqua menggunakan keahlian airnya untuk mengatur ketahanan jaring dan membuat ikan bergerak sesuai keinginan Aqua, dan ikan satu demi satu masuk ke wadahnya.
"..." Pemilik stand merasa keringat dingin dengan kerugiannya.
Setelah banyak ikan ia dapatkan, kami melanjutkan keliling mencari permainan lain.
"Haha kamu sangat sadis tadi." Ucapku.
"Xixixi, hebat kan."
Kami berkeliling sampai pada tempat permainan tembak-tembakan, terdapat target berupa boneka yang bermacam.
"Ini giliranku, mana, kasih aku uang." Ucapku.
"Ni." Aqua memberikan beberapa uang padaku.
Aku membeli peluru di stand tembakan, seperti sebelumnya, pemilik stand terlihat senang dengan standya yang laris, apalagi seorang gadis kecil yang datang.
__ADS_1
Aku dengan beberapa peluru, menembakkan ke arah boneka, dan mendapatkan banyak boneka, namun aku masih menyisakanya agar tidak terlalu sadis.
".." Pemilik stand sedih dengan kerugiannya, bagaimana tidak, peluru yang ia jual masih tersisa banyak, padahal boneka tinggal sedikit.
"Laaah kamu sama saja sadisnya." Ucap Aqua.
"Aman aman."
Setelah kami banyak bermain, akhirnya waktu menunjukkan tengah malam, suara panggilan dari speaker terdengar, suara yang memberitahukan detik-detik pergantian tahun.
Kami menuju ke tempat yang paling cocok untuk melihat kembang api.
Hitungan mundur terdengar, dan semua orang bersama-sama beramai bersorak menghitung.
"7."
"5."
"1."
"Dor.....dor....dor....." Kembang api mulai menghiasi malam, di iringi sorakan banyak orang.
"Dor..dor." Kembang api terus berlanjut hingga letusan terakhir yang paling besar.
"Duaar......."
.
.
.
"Tamayaaaaaaaa."
Suara kembang api kian menghilang.
Langit kembali sepi.
Hati orang yang melihatnya merasa seperti kehilangan.
Wajah yang tadinya bersorak kini hanya tersenyum dengan perasaan rumit.
"Lain kali kita main lagi ya." Ucap Aqua.
"Iya, tahun depan kita ke Indonesia." Ajakku.
"Mmm."
"Ini untukmu." Aku memberikan sebagian boneka yang kudapatkan dari permainan.
"Terimakasih." Ucap Aqua dengan senyumnya.
Aqua mendekat ke arahku, kemudian memelukku erat.
"Terimakasih Lilias, karena kamu kembali lagi kepadaku." Aqua dengan perasaan rumitnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.......
{Sedikit pemberitahuan, ini bukan chapter spesial atau apapun, chapter ini memang masuk cerita utama.}