
Benua yang di tempati manusia dan benua beastman dipisahkan oleh lautan yang cukup panjang.
Setelah aku keluar dari wilayah manusia, lebih tepatnya wilayah kerajaan manusia, aku yang naik kreta sedang menuju kota pelabuhan.
Kota ini menjadi tempat terakhir di benua manusia, kota ini termasuk kota mandiri karena tidak masuk bagian kerajaan manapun, dan yang menjadi lebih istimewa lagi adalah, kota ini tidak hanya diitempati manusia, tapi terdapat juga beastman, karena bagaimanapun kota ini menjadi penghubung antara wilayah manusia dan beastman, jadi kota ini harus terbebas dari perselisihan.
"Nona lilias, kita sudah sampai ni, selamat datang di kota kamisato." Ucap seorang supir delman.
"Iya, trimakasih pak sopir." Aku keluar dari kreta dan berpamitan dengan pak sopir.
Setelah berpamitan dan membayar, akupun pergi meninggalkanya dan masuk kota.
Kota ini sangat damai mengingat masuknya tanpa prosedur yang ketat, sepertinya pemimpin kota ini sangat kuat atau sangat disegani sampai tidak ada yang berani membuat kekacauan.
'Tu tunggu, kamisato ? sepertinya nama itu tidak asing bagiku.'
"..."
'Entahlah, lebih baik aku beli makanan buat ngemil di kapal, selagi masih siang aku ingin segera sampai ke benua beasatman.'
Tanpa pikir panjang, aku jalan-jalan di kota sambil mencari bekal untuk perjalanan, menoleh kanan kiri dan memilih banyak makanan.
[poin + 1]
[poin + 1]
[poin + 1]
'Tu tunggu apa ini.' Tiba-tiba banyak poin sistem yang berdatangan, memang sedikit namun tak henti-henti bertambah.
'Ah aku ingat, ini skill pasif dari kustum hu tao.' Pikirku sambil melihat baju yang kukkenakan.
Aku menoleh sekitar, ternyata memang orang orang sedang memperhatikanku, ada yang sampai mlongo.
Bukanya ini merepotkan, kau tau, sekarang aku merasa kalau sistem itu sebagian dari diriku sendiri setelah kedua versi lilias menyatu, jika aku menginginkan poin, tinggal tulis saja berapa juta atau unlimited gitu mudah sekali.
Lagian di dunia ini sebenarnya tidak ada sistem seperti itu, kekuatan seseorang diperoleh melalui kultivasi dan latihan, sistem pada diriku hanya bantuan dari diriku versi lain agar menjadi kuat dengan cepat, sekarang sistem sudah tidak berguna lagi, ya, gak guna.
'Bukankah aku sekarang menjadi mesin pembuat uang?' Batinku ketika melihat uang yang sedang aku pegang, uang tersebut adalah hasil konversi dari poin sistem.
"Bang, tolong bungkus ikan kukus dan pangsit udangnya masing-masing tiga porsi ya."
"Oke dek, silahkan ditunggu." Ucap penjual dengan semangatnya.
Ehehe, Ketika aku mencapa kota pesisir yang dekat laut, aku jadi teringat dengan makanan kesukaanku ketika di Liyue.
"..."
'Oh, tunggu tunggu, sepertinya autor sudah merasa kalau MC kita hutao, bukan lilias, ini gawat, jiwa author sudah mulai terkikis.'
Setelah cukup belanja, aku tidak ingin lama-lama lagi di kota ini, aku ingin segera menuju dermaga selagi masih siang.
Meskipun sebenarnya aku ingin menguak kota kamisato yang menarik perhatianku, tapi kulakukan lain kali saja.
__ADS_1
Tidak sampai lama aku berjalan, tibalah aku di dermaga, terdapat banyak kapal berjejer, sebagian kapal bertulis kamisato express, oke itu pikirkan lain kali saja, lebih baik aku masuk kapal jurusan beastman.
.
.
.
Tanpa prosedur panjang, akhirnya aku naik kapal juga, kapal yang cukup besar bagiku.
Tidak menunggu lama, akhirnya kapal berangkat meninggalkan pelabuhan, banyak orang melambai-lambai kepada saudaranya yang ditinggal.
"Aku berangkat, jaaaneeee." Kira-kira seperti itulah mereka.
"Hey, lihat itu, dia sangat cantik, dan pakaianya tidak biasa, apakah dia orang dari jauh." Beberapa orang di kapal berbisik-bisik tentangku.
"Iya, dia sangat cantik, tidak kalah cantik dengan nona ayaka."
'Tu tunggu, ayaka?.'
"Hey jangan keras-keras, nona ayaka sedang di kapal ini, kalau ketahuan bisa bahaya." Mereka masih berbisik tanpa sadar jika aku mendengarkan mereka.
"Haaah."
Kapal terus berjalan menjauhi dermaga, hingga daratan mulai terlihat mengecil.
Kapal semakin menjauhi daratan, hingga yang terlihat di sekitar hanyalah lautan.
Aku dengan pancingan dan umpan di tangan mulai beraksi, tentu saja aku masih di bagian paling atas kapal, aku melempar kail yang sudah berisi umpan ke lautan cukup jauh.
Sambil menunggu ikan memakan umpan, aku memakan jajan yang tadi kubeli.
"Hey dek, jangan mancing dari atas kapal, berbahaya, disini ikanya besar-besar seperti monster, nanti adek bisa terseret ke laut." Tiba-tiba datang seorang di belakangku menegur.
Yah, aku terlihat seperti anak kecil, karena memang aku masih berumur 14 tahunan.
"Aman kok pak, aku cukup kuat, ahaha."
"Tapi di kapal sudah ada peraturanya, nanti kamu bisa dimarahi penjaga lho." Dia masih kekeh menegurku.
"Iya iy....eh umpanku dimakan." Pancingan di tanganku mulai dimakan ikan, sepertinya aku medapatkan ikan besar, tarikanya kenceng.
"Waa hahaha, ayo lawan aku ikan, akan ku kukus nanti kamu ya, ahaha." Aku merasa bahagia dengan tarikan tersebut, hingga akhirnya aku mendapatkan ikanya juga.
"Hey kamu! apa kamu tidak tau aturan di sini!" Tiba-tiba aku mendengar seorang perempuan berteriak padaku.
Ketika aku menoleh, aku melihat sudah banyak orang bergerombol menontonku yang asik memancing, aku terkejut, apalagi melihat seseorang yang seperti kukenal meskipun baru pertama ini kumelihatnya.
"Waah, berakhir hidupnya, dia akan dimarahi nona ayaka, padahal dia juga cantik, sayang sekali."
"Kasian, padahal dia imut, tapi dia membuat nona ayaka yang sedingin es marah."
Beberapa orang berbisik ketika melihatku akan ditegur oleh seseorang yang mereka kenal sebagai nona ayaka.
__ADS_1
"Eh?" Ucapku ketika melihat dia.
"Eh?" Ternyata dia juga terkejut.
"Eh, hu tao?"
Sekarang rambutku bukan lagi putih, tetapi hitam dengan semakin coklat keujung, karena untuk penyamaran, tapi tak kusangka aku semakin mirip hutao.
"Ayaya ?" Aku sedikit memiringkan kepalaku.
"Ayaka, kamisato ayaka." Tegas dia.
"Ayayaa, ayaya ayya ya." Aku sangat senang dengan pertemuan ini, aku tidak menyangka akan bertemu warga tyvat.
"Mampus dia, dia malah mengejek nona ayaka." Orang yang melihatnya berbisik tentangku lagi.
'Eh tyvat? kenapa bisa?'
Tanpa kusangka, ayaya berlari menghampiriku kemudian langsung memelukku.
"Akhirnya aku bertemu dengan orang dari duniaku, meskipun kurang kenal." Ucapnya.
'Ini aneh, apa yang terjadi di sini, seharusnya duniaku ini tidak menerima reinkarnasi dari tyvat, bahkan dari bumi pun jarang, aku sangat tau itu, karena aku sendiri adalah dewi dunia ini, dan juga akulah yang mereinkarnasikan makhluk hidup, meskipun sekarang sedang digantikan oleh aqua.'
"Eh ada apa dengan nona ayaka, apa mereka saling mengenal." Ucap seseorang yang melihat kami berpelukan.
'Aqua, oyy aqua.' Aku mencoba mengirim telepati kepada aqua, aku tau seharusnya dia sedang mengawasi dunia ini.
"..."
'Apa yang terjadi, kenapa dia tidak merespon, ini gawat, jika tidak ada yang mengawasi proses reinkarnasi atau perpindahan dunia bisa gawat, entah berapa banyak orang dari dunia lain bakal mengacau di duniaku.'
"Hu tao, apa kamu juga berpindah ke tempat ini?" Ucap ayaya yang sudah melepasku.
"Berpindah? apa maksudmu?" Aku memiringkan kepalaku.
"Eh, apa kamu tidak terseret oleh kekacauan dan berpindah ke dunia aneh ini." Menanggapi kebingunganku, ayaya terlihat menjadi bingung.
'Ada apa ini, baru chapter satu kenapa masalah sudah rumit.'
Aku menoleh kanan kiri melihat orang sekitar.
"Lebih baik kita bicarakan di dalam saja." Ajak ayaya sambil menarik tanganku.
"Iya."
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1