
Kediaman Ryder tampak ramai, beberapa orang pelayan bergantian membawa baskom kecil yang sudah penuh dengan air berwarna merah. Sementara di dalam ruangan, seorang pria dengan setia mendampingi istrinya yang tengah berjuang untuk melahirkan buah hati mereka.
Suara rintihan dan hembusan nafas yang sarat akan rasa sakit membuat sang suami berkali-kali memberikan kalimat semangat hingga terdengar suara tangisan bayi memenuhi ruangan tersebut diiringi dengan rasa lega untuk keduanya.
“Oekk … Oekk.” Tangisan sang bayi yang sedang dibersihkan oleh sang tabib wanita kini menjadi alunan nada yang merdu di telinga semua orang, mereka bersyukur atas kelahiran buah hati yang selama ini di nantikan.
Suasana suka ternyata tak berlangsung lama, saat sang tabib menyampaikan jenis kelamin dari bayi tersebut. Wajah sang ayah berubah menjadi datar, tampak raut kekecewaan memenuhi wajahnya.
Tanpa menunggu waktu lama, ia segera pergi dari sana meninggalkan sang istri yang baru saja selesai berjuang.
“Suamiku!” panggil sang istri. Namun, tak dihiraukan oleh sang suami yang kini sudah berada di luar ruangan tersebut dan pergi entah ke mana.
“Nyonya?” ucap sang tabib yang merasa bahwa situasi saat ini tidak bagus untuk sang bayi.
“Singkirkan bayi itu dariku, Tabib!” bentak sang nyonya dengan marah.
Semua orang yang ada di sana pun hanya bisa menaruh rasa kasihan pada sang bayi yang tidak tau apa-apa.
Melihat sikap sang nyonya yang tidak bagus untuk keselamatan sang bayi, dengan segera tabib ia membawanya ke dalam ruangan yang memang sudah dipersiapkan untuknya sejak dulu. Sebelum sang nyonya berpikir untuk melenyapkan bayi tak bersalah itu.
Ketika sang bayi hendak diletakkan di tempat tidurnya, tabib melihat sebuah cahaya terang menyinari tubuh sang bayi. Ia pun melihat sekelilingnya, takut jika ada orang lain yang melihat hal itu dan membuat nyawa bayi di tangannya terancam. Beruntung hanya ada dirinya di sana karena yang lain sibuk mengurus sang nyonya rumah.
“Takdir seperti apa yang akan kau jalani?” gumam sang tabib seraya memperhatikan cahaya tersebut mulai meredup.
Tepat saat cahaya itu menghilang, bayi mungil itu membuka matanya perlahan.
Ia tampak bingung memperhatikan sekitarnya dan wajah wanita dewasa yang ada di hapadannya.
“Selamat datang, Nona. Jika suatu saat nanti anda membutuhkan bantuan, carilah diriku di ujung selatan kerajaan,” ucap sang tabib berbicara seolah bayi itu mengerti apa yang ia katakan.
Ia pun pergi dari sana meninggalkan sang bayi tanpa nama itu seorang diri.
Sementara itu, sang bayi yang seharusnya belum bisa berpikir selayaknya manusia dewasa mulai memperhatikan sekitarnya.
‘Bukankah aku sudah mati? Apa aku bereinkarnasi?’ ucap sang bayi dalam benaknya.
__ADS_1
Pikirannya menerawang jauh tentang kejadian yang menimpanya di masa lalu, kemarahan dan kebencian mulai memenuhi hatinya. Dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya, ia kembali memperhatikan sekitarnya dan tubuhnya sendiri yang sulit di atur.
Sepertinya ia terlahir sebagai seorang bayi, suaranya bahkan terdengar aneh di telinganya sendiri.
Hingga suara derit pintu mengalihkan perhatian sang bayi.
Seorang gadis muda dengan seragam pelayan kini berada di hadapannya dengan wajah yang sepertinya baik.
Perlahan tubuh kecil bayi itu mulai terangkat dan kini sudah berada di gendongan sang pelayan.
“Mulai saat ini, saya akan menjaga Nona dengan baik. Perkenalkan saya adalah Via, tuan memerintahkan saya untuk mengasuh anda dan juga memberi anda nama. Karena tuan dan nyonya tidak ingin melakukan itu,” ucapnya dengan kalimat yang terdengar sendu.
Bayi itu menatap Via dengan wajah polosnya, membuat hatinya teriris. Bagaimana bisa orang tua tidak ingin melihat anak mereka hanya karena tidak berjenis kelamin laki-laki.
“Baiklah, saya sudah memikirkan nama yang indah untuk anda. Aileen Nazareth Ryder, yang berarti seorang gadis cantik yang bermandikan cahaya suci. Apa anda menyukainya?” ucap Via seolah bayi yang baru saja diberi nama itu mengerti.
Bayi yang kini bisa dipanggil dengan nama Aileen itu tersenyum polos seakan menyukai namanya.
“Wah, kau sangat cantik bayi kecil.” Via pun mulai menjalankan tugasnya dengan tulus.
Sementara Aileen kecil memendam perasaannya agar ia bisa bersikap selayaknya bayi normal.
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa Aileen kecil kini sudah berusia 10 tahun. Ia tumbuh menjadi gadis yang menawan dan sangat cerdas untuk ukuran gadis seusianya.
Aileen yang kini tengah berjalan sendirian menyusuri taman di kediaman Ryder menjadi bahan hinaan dari para pelayan yang berpapasan dengannya.
Entah apa yang salah darinya, Aileen tak ingin ambil pusing. Yang ia tau hanyalah bersabar hingga waktunya tiba, tidak akan ada pengampunan untuk orang-orang yang sudah melukainya.
Sebagai mahluk rendahan, mereka bahkan tidak tau bagaimana cari menghormati orang dengan status yang lebih tinggi dari mereka.
Saat ini Aileen tidak sedang memikirkan rencana balas dendam dan yang lainnya, ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menjadi seorang gadis yang bisa menghancurkan seluruh kerajaan tanpa usaha yang terlalu keras. Karena ia tau, saat ini kecantikan adalah sebuah pedang dan dapat menghancurkan dunia.
“Nona! Tuan memanggil anda untuk datang ke ruangannya,” ucap Via yang sudah lelah berkeliling mansion untuk menemukan tuannya.
“Apa maksudmu? Tuan Ryder tidak mungkin memanggilku, ia bahkan tidak sudi untuk melihat wajahku.” Aileen tak percaya dengan apa yang disampaikan pelayannnya.
__ADS_1
“Aku tidak sedang bercanda, Nona. Tuan benar-benar memanggilmu.” Via berusaha meyakinkan sang nona, karena ia tidak berbohong.
Aileen mengerutkan keningnya dalam, masih tak percaya dengan ucapan Via.
“Aku berani bersumpah! Tuan bahkan memintamu mengenakan gaun yang bagus,” lanjut Via dengan wajah frustrasi karena tuannya tak kunjung percaya.
“Baiklah, aku akan mempercayaimu,” Aileen akhirnya berusaha mempercayai ucapan Via.
“Syukurlah, sekarang ayo kita kembali dan bersiap.” Tanpa menunggu persetujuan dari Aileen, Via dengan segera menarik Aileen agar segera kembali ke kamarnya dan bersiap.
Dengan pasrah Aileen mengikuti langkah Via.
Kini Aileen sedang memandangi wajahnya di cermin besar yang ada di kamarnya, ia menatap aneh pada pantulan dirinya di sana.
“Bukankah ini terlalu berlebihan? Aku hanya akan menemui Tuan Ryder di ruang kerjanya, bukan ingin berpesta, Via.” Aileen menyampaikan isi hatinya.
“Apa maksud anda berlebihan? Ini adalah dandanan normal gadis bangsawan di luar sana sehari-hari, nona saja yang selama ini selalu mengenakan gaun sederhana.” Via menyangkal ucapan Aileen dengan yakin, karena faktanya memang seperti itu.
“Huh! Baiklah, aku akan mengikuti keinginanmu hari ini,” ucap Aileen pasrah.
“Ayo kita pergi,” ucap Via segara menggandeng tangan Aileen menuju ke luar kamar.
Tepat saat hendak menuruni tangga, Via melepaskan pegangannya pada Aileen dan berjalan di belakangnya selayaknya seorang pelayan.
Aileen pun mulai menuruni tangga dengan anggun serta wajahnya yang sangat cantik walau tanpa ekspresi di dalamnya.
Mengabaikan para pelayan yang kembali menggunjing dirinya, Aileen lebih memilih untuk mengabaikan mereka karena ada hal yang lebih penting sekarang.
Ia menghentikan langkahnya di depan pintu ruang kerja Tuan Ryder.
Tok tok tok
Sura ketukan terdengar saat Aileen mengulurkan tangannya ke arah pintu hingga tak menunggu waktu lama, pintu pun terbuka. Menampilkan seorang butler yang juga tangan kanan Tuan Ryder.
“Silakan masuk, Lady Aileen.” Ucap sang butler mempersilakan Aileen memasuki ruangan.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Aileen saat ia mendapati seseorang yang dikenalnya berada di dalam sana bersama Tuan Ryder.
“Sudah lama sekali, ya?”