
Tahun-tahun berlalu seperti biasanya, Aileen kini sudah mendapatkan hak-haknya yang selama ini tidak ia dapatkan. Berkat lamaran dari Kaisar, Aileen setidaknya bisa mendapat sedikit kekuasaan. Kini tidak ada lagii yang berani menghinanya secara terang-terangan.
Mengingat kejadian 5 tahun lalu, saat Tuan Ryder menghukum kepala keuangan dengan begitu kejam karena berani melakukan hal tidak terpuji di dalam kediamannya. Kepala keuangan bahkan menderita cacat seumur hidup setelah mendapat perlakuan kejam dari Tuan Ryder.
Hal itu membuat semua orang yang ada di sana berpikiran bahwa Tuan Ryder sudah menerima Aileen sebagai putrinya. Para pelayan yang selalu menghina dan memperlakukan Aileen dengan buruk pun mengurangi sedikit perbuatan mereka, hanya sedikit.
Sementara Aileen kini tubuh menjadi gadis 15 tahun dengan jiwa penguasa kegelapan di dalam tubuhnya, selama bertahun-tahun ia memainkan perannya dengan baik. Tapi, beberapa tahun terakhir Aileen memutuskan untuk tidak bersikap baik hati pada siapa pun yang berani mengusiknya.
Seperti saat ini, Aileen tampak tengah memberi hukuman pada seorang pelayan yang dengan lancang menyebutnya sebagai pembawa sial.
“Kau pikir, kau lebih baik dariku?” ucap Aileen dengan nada dingin yang seakan membekukan tubuh lawannya.
Sang pelayan kini hanya bisa memohon ampun atas kelancangannya setelah mendapat beberapa pukulan dari Aileen.
“Ampuni saya … saya salah, ampuni saya,” ucapnya memohon dengan tubuh yang kini sudah penuh dengan luka.
Aileen sedang tak ingin memaafkan seperti kemarin, karena ia pikir itu tidak menjadi pelajaran bagi mereka yang berani mengusiknya.
“Prajurit!” panggilnya pada prajurit yang berjaga di depan ruangan.
Tak menunggu lama, mereka sudah membungkuk hormat pada Aileen menunggu perintah.
“Bawa pelayan rendahan ini. Kurung dia di penjara bawah tanah dan jangan beri pengobatan atau pun makanan padanya.” Aileen memberikan perintahnya yang langsung dikerjakan oleh kedua prajurit itu.
“Tidak! Jangan bawa aku!! Nona tolong ampuni saya! Nona …,” ucap sang pelayan berusaha lepas dari prajurit yang menyeretnya, tapi tidak akan semudah itu.
Setelah pelayan tersebut di bawa pergi, Aileen pergi dari sana dengan langkah angkuh dan anggun secara bersamaan.
Beberapa pelayan yang menyaksikan kejadian tadi, merasa tubuh mereka gemetar saat Aileen melewati mereka. Jika takut, mengapa tidak mengunci mulutmu dan berhenti mengatakan hal buruk?
Tepat saat ia hendak berjalan ke arah kamarnya, Aileen melihat Via, sang pelayan pribadi berlari menghampirinya.
“Mengapa kau senang sekali berlari, Via?” ucap Aileen saat Via membungkuk dan memberi hormat padanya dengan nafas yang terengah-engah.
“Karena ada sesuatu yang gawat, Nona!” seru Via saat ia berhasil mengatur nafasnya dengan baik.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Aileen dengan wajah yang selalu tanpa ekspresinya.
“Putra Mahkota sedang dalam perjalanan menuju kemari,” ucap Via memberitahu informasi yang menurutnya gawat.
“Lalu?”
“Lalu apa maksud, Nona?” tanya Via balik dengan wajah bingung.
“Ya, lalu apa yang harus aku lakukan?” balas Aileen dengan tenang walau dalam hatinya ia menyumpahi sosok yang di sebut sebagai putra mahkota itu.
“Apa anda akan menyambutnya dengan berpakaian seperti ini?” ucap Via seraya memperhatikan gaun sederhana berwarna hitam yang tengah dikenakan oleh Aileen.
“Memangnya kenapa? Ia tidak istimewa hingga aku harus berdandan dan mengenakan gaun indah hanya untuk menyambut kedatangannya,” ujar Aileen seraya melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
“Tapi ….” Via menghentikan ucapannya menyadari tidak ada gunanya ia mendebat ucapan sang nona.
Via pun dengan langkah gontai mengikuti Aileen.
“Aku akan beristirahat, jika Tuan Ryder menanyakan keberadaanku katakan saja bahwa aku sedang tidak enak badan,” ucap Aileen begitu ia sampai di depan pintu kamarnya.
“Tapi,”
“Baiklah.” Sang pelayan pun hanya bisa mengikuti perintah Aileen dengan patuh.
Ia sendiri bingung, mengapa nonanya sangat tidak menyukai Putra Mahkota? Padahal Putra Mahkota itu dengan tampan dan juga ramah.
Via pun memutuskan untuk berjaga di depan pintu kamar sampai ada seseorang yang di utus untuk memanggil nonanya.
Sementara di dalam kamarnya, Aileen ini sedang berada di dalam ruangan sihir yang dibuatnya. Ia sedang meningkatkan kekuatannya dengan menyerap energi alam yang ada di sekitarnya, walaupun energi alam di sana tidak terlalu besar.
“Mengapa manusia itu senang sekali menganggu waktuku?” gumam Aileen seraya memejamkan matanya.
“Para manusia menjijikkan ini benar-benar menganggu!” ucapnya marah seraya membuka matanya kembali.
Entah apa yang membuatnya tiba-tiba marah, tapi dengan cepat Aileen segera keluar dari ruangan sihirnya dan mendudukkan diri di sebuah kursi yang memang ada di kamarnya.
__ADS_1
Ia tampak duduk dengan tenang karena tidak ada ekspresi apapun yang terlukis di wajah cantiknya. Namun, Aileen jelas sedang merasa marah saat ini. Ia menunggu seseorang yang akan membuka paksa pintu kamarnya sebentar lagi.
‘Manusia kurang ajar!’ batinnya marah.
Benar saja, tak lama kemudian keributan terdengar di depan kamarnya hingga tak menunggu lama seseorang mendobrak pintu kamarnya. Tepat saat itu pula, Aileen melemparkan serangannya pada sosok yang tak tau malu itu.
“Arghh!” pekiknya saat merasakan sebuah kristal es menghantam dirinya dengan kencang.
Tubuhnya terlempar ke arah tembok dan memuntahkan seteguk darah.
‘Dia beruntung kali ini,’ batin Aileen melihat bahwa yang mendobrak pintunya hanyalah seorang prajurit biasa.
Kericuhan terdengar dari beberapa pelayan yang terlihat panik, mereka dengan segera membawa prajurit yang terluka itu menuju ruang kesehatan. Sementara beberapa orang masih berdiri di depan kamar Aileen tanpa membuka suara sedikit pun.
“Apa mau kalian?” ucap Aileen dengan aura kemarahan yang menguar dari tubuhnya, ia sendiri tak ingin menahan apapun.
Seakan tersadar, mereka segera mengalihkan perhatian pada Aileen yang sedang duduk dengan angkuh menatap mereka.
“Aileen, Putra Mahkota datang untuk bertemu denganmu,” ucap Tuan Ryder yang berada di sana, mungkin ialah pelopor pendobrakan pintu itu.
“Bukankah pelayanku sudah menyampaikan sesuatu pada kalian?” ujar Aileen dengan aura yang semakin mengerikan.
Siapa yang senang jika ada orang yang membuka paksa kamarnya? Bukankah mereka adalah bangsawan terhormat, tapi mengapa kelakuannya lebih buruk dari anjing?
“Saya sudah menyampaikan pesan nona, tapi Tuan dan Yang Mulia memaksa masuk,” ucap Via menjelaskan keadaan sebenarnya tanpa merasa takut pada dua orang berkuasa yang berada di hadapannya itu.
“Apa kalian tidak punya sopan santun? Beginikah sikap seorang yang akan menjadi pemimpin negeri?” ucap Aileen dengan nada remeh di belakangnya.
Putra mahkota yang sejak tadi diam pun tampak geram, ia melangkah maju untuk menghampiri Aileen yang masih duduk dengan angkuh. Namun, langkahnya terhenti saat menyadari ada sebuah penghalang yang mencegahnya masuk.
“Apa itu menghalangimu, Yang Mulia?” ejek Aileen melihat Putra Mahkota bahkan tidak bisa menembus penghalang buatannya.
“Kau! Aku akan melaporkan penghinaanmu pada ayahku!” ancam Putra Mahkota berusaha membuat Aileen takut.
“Benarkah? Kalau begitu aku juga akan melaporkan perbuatanmu yang memaksa masuk ke kamar seorang gadis dan merusak pintunya dengan sengaja,” sahut Aileen berusaha menahan rasa ingin membunuhnya.
__ADS_1
“Aileen! Jaga ucapanmu! Jangan membuat malu keluarga dengan sikap burukmu itu!” ucap Tuan Ryder berusaha membela sang putra mahkota. Ia tidak ingin tujuannya menjadi besan kaisar musnah karena sikap Aileen yang tidak baik.
“Baiklah, Tuan Ryder. Kau bisa membawa Putra Mahkota pergi sebelum aku sendiri yang akan membuatnya pergi dari sini!” tegas Aileen, ia sudah tidak memiliki kesabaran untuk pria yang selalu mengusiknya itu.